Debat, salah satu metode pembelajaran terpenting dalam Veda

Salah satu ciri khas orang Hindu dan orang Bali pada khususnya adalah ketidaksukaannya pada perdebatan. Semboyan “do ngaden awak bisa (jangan mengira diri bisa)” selalu menjadi pembenaran parsial bagi mereka. Apa lagi dalam masalah keyakinan dan sistem filsafat, mereka akan cenderung berargumen bahwa semuanya bergantung pada diri masing-masing dan menurut mereka tidak ada gunanya memperdebatkan keyakinan orang lain. Mungkin hal ini jugalah yang menyebabkan mudahnya orang Bali menerima perbedaan yang disodorkan oleh agama lain. Dalam suatu proses pernikahan beda agama contohnya, untuk menghindari perdebatan orang Bali akan lebih cenderung mengatakan bahwa Tuhan yang dipuja dan tujuan agama lain tersebut sebenarnya sama, hanya saja cara sembahyang mereka saja yang berbeda. Dengan dasar pemikiran ini akhirnya tidak urung menyebabkan banyak orang-orang Hindu yang pindah keyakinan. Namun sangat ironis disaat toleransi ke luar dengan prinsip ke-“samaisme”-an ini begitu diagung-agungkan beberapa oknum dari mereka malahan sangat suka mengobok-obok keanekaragaman yang ada pada Hindu itu sendiri. Berbagai sentimen negatif dan tuduhan tidak beralasan sering kali dilayangkan kepada berbagai sampradaya dan garis-garis perguruan yang nampak bertolak belakang dengan Hindu mainframe yang ada di Indonesia. Sering kali tidak ada dialog, diskusi, debat atau paling tidak anggapan bahwa Tuhan yang dipuja oleh corak Hindu yang berbeda itu adalah Tuhan yang sama tetapi dengan cara yang berbeda sebagaimana toleransi yang mereka kembangkan ke masyarakat di luar Hindu. Sering kali mereka memberikan vonis tidak pantas terhadap warga yang dianggap “menyimpang” ini. Banyak kasus mereka yang menjalankan ritual diluar Hindu mainframe dijadikan warga kedua dan bahkan diasingkan dari desa adatnya. Mereka harus hidup dalam berbagai intimidasi dan tuduhan-tuduhan negatif yang sangat jarang dipecahkan dengan proses diskusi dan perdebatan positif.

Kalaupun dewasa ini terjadi proses diskusi dan debat masalah keyakinan, sering kali forum debat itu hanya dijadikan ajang pamer kepintaran dan egoisme. Jarang yang bisa menjadikan debat sebagai media pencari kebenaran. Sering kali debat hanya menjadi media pembenaran yang belum tentu kebenarannya. Setiap orang berusaha berargume, berlogika, dan mengungkapkan bukti yang selalu subektif tanpa mau menghiraukan objektivitasnya. Sehingga tidak hayal jika perdebatan yang dilakukan pada akhirnya hanya merupakan debat kusir yang bukannya memecahkan masalah dan menemukan kebenaran yang dicari, tetapi menjadi sumber masalah baru yang sering kali menjadi lebih besar dari masalah aslinya.

Pada dasarnya ajaran Veda sangat mengagung-agungkan perdebatan dan logika. Dengan perdebatan pengikut-pengikut Veda diajarkan berpikir kritis dan menghindari sikap dogmatis. Dengan perdebatan ajaran Veda bisa diturunkan dan dilestarikan dari satu generasi ke generasi lainnya. Dan dengan perdebatan juga, ajaran Veda bisa disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Karena itulah satu dari enam dasar filsafat Hindu (Sad Darsana) dilandasi oleh ilmu logika dan metodologi debat. Kata Darsana/dharsanam berasal dari urat kata drs yang berarti melihat atau memandang. Dalam hubungan ini dharsanam berarti pandangan tentang kebenaran. (Sumawa, 1993 : 4). Kitab Nyaya Darsana atau juga dikenal dengan sebutan Tarka Veda yang ditulis oleh Rsi Gautama dalam satu dari enam kitab Darsana yang khusus membahas masalah logika dan perdebatan. Nyaya sendiri mengandung arti ilmu tentang logika dan kedayagunaan, sedangkan Tarka Veda berarti pengetahuan diskusi atau perdebatan. Dalam kitab ini diajarkan empat jalan dalam mencari kebenaran, yaitu Pratyaksa pramana (observasi langsung), Anumana pramana (ilmu penyimpulan), Upamana Pramana (ilmu perbandingan) dan Sabda pramana (kesaksian).

Dalam memahami pengetahuan Vidya (spiritual) dan Avidya (material), seorang penganut Veda pada dasarnya harus berani berargumen dan tidak menghindari perdebatan. Hanya saja tentunya perdebatan disini haruslah didasarkan pada empat pondasi sebagaimana disampaikan dalam kitab Nyaya Darsana. Seperti contohnya jika seorang penganut Veda memperdebatkan suatu filsafat ketuhanan, maka sudah seharusnya peserta debat berargumen dan mengungkapkan bukti-bukti argumennya dengan memperhatikan obeservasi/pengamatan langsung yang dia lakukan terhadap pengalaman mistik pribadi dan pernyataan-pernyataan otoritas (dalam hal ini sloka-sloka kitab suci Veda). Dia juga harus memperhatikan kesaksian-kesaksian yang disampaikan oleh mereka yang bisa dipercaya yang memang dianggap sudah mengetahui dan mencapai kebenaran itu. Dengan mengacuhkan apa yang disampaikan lawan debat, dia harus mampu melakukan perbandingan, melogikakannya dan akhirnya menyimpulakan semua itu secara objektif. Menurut Nyaya Darsana, seseorang peserta debat juga harus menyadari bahwa perdebatan yang dia lakukan adalah untuk meperoleh kebenaran, bukan pembenaran atas argumennya.

Salah satu tokoh kerohanian Veda yang dapat dijadikan contoh penerapan ideal prihal perdebatan ini adalah Adi Sankaracharya. Adi Sankaracharya dikenal sebagai salah seorang acarya atau guru spiritual besar di seluruh India, karena jasanya merestorasi ajaran-ajaran Veda setelah terdesak oleh perkembangan ajaran Buddha di India. Dengan melakukan perjalan keliling India dan berdebat dengan berbagai pemimpin sampradaya, garis perguruan dan sekte yang lain, beliau membubarkan praktek-praktek keagamaan yang menyimpang dari ajaran Veda, dan menegakkan kembali prinsip-prinsip ajaran Upanisad. Selama masa hidupnya yang sangat singkat, yaitu hanya selama 32 tahun, apa yang telah dicapai dan dihasilkan oleh Adi Sankaracharya adalah sesuatu yang sangat luar biasa.

Sankaracharya berdebat dengan para ahli filsafat Buddha, Sankhya, serta pengikut filsafat Purva Mimamsa, dan membuktikan dirinya mampu memenangkan seluruh perdebatan tersebut. Sankaracharya kemudian ingin berjumpa dengan Kumarila Bhatta, pendukung terkemuka filsafat Purva Mimamsa pada jaman itu. Namun Kumarila Bhatta sedang terbaring menanti ajalnya, lalu mengarahkan Sankara kepada Visvarupa, muridnya yang paling mumpuni. Visvarupa dikenal pula  sebagai Mandana Misra, tinggal di kota Mahismathipura, di wilayah kerajaan Maghada.

Perdebatan antara Sankaracharya dengan Visvarupa berlangsung secara  unik. Yang bertindak sebagai hakim dalam perdebatan itu adalah istri Visvarupa sendiri yang bernama Bhagirati. Bhagirati adalah seorang wanita yang sangat terpelajar. Taruhan dalam perdebatan filosofis itu memiliki konsekuensi seumur hidup bagi mereka masing-masing. Persetujuan mereka sebagai taruhan adalah sebagai berikut. Bila Visvarupa menang dalam perdebatan, maka Sankaracharya harus meninggalkan kehidupannya sebagai seorang sannyasa, dan harus menikah dan hidup sebagai orang yang berumah tangga. Sebaliknya, bila Sankaracharya menang, maka Visvarupa harus meninggalkan kehidupan rumah tangganya, dan harus menjadi seorang sannyasa dan menjadi murid Sankaracharya.

Perdebatan besar itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dalam perdebatan itu, akhirnya Visvarupa harus mengakui kehebatan Sankaracharya. Ia kemudian menjadi murid Sankaracharya, dan menempuh kehidupan baru sebagai seorang sannyasa. Visvarupa menerima nama sannyasa Sureshvara Swami, dan meninggalkan seluruh kekayaan dan kenyamanan hidup yang dimilikinya. Selanjutnya ia mengikuti kemanapun guru barunya itu pergi mengembara, dan menimba pengetahuan rohaninya. Sikap-sikap mulia seperti Visvarupa  dan Sankaracharya inilah yang harusnya menjadi tauladan bagi segenap umat Hindu di dunia.

Dalam tradisi pendidikan tradisional Hindu, Gurukula yang masih eksis sampai saat ini dapat kita jumpai betapa pentingnya pelajaran debat dan berlogika sebagaimana tertuang dalam Tarka Veda. Hal ini dapat kita lihat dari kurikulum pendidikan yang diterapkannya. Sebagai pondasi awal, para Brahmacari (murid-murid gurukula) harus memiliki nilai-nilai moralitas dan disiplin yang sangat ketat. Mereka harus memegang prinsip hidup sederhana yang harus dijalani  selama seseorang berada dalam tahap hidup sebagai brahmacari atau masa menuntut ilmu. Pendidikan dalam Gurukula biasanya dihabiskan dalam waktu antara 10-12 tahun. Empat tahun pertama pendidikan hanya akan dihabiskan untuk menghafal dan belajar melantunkan sloka-sloka Veda tanpa mereka harus memahami makna dan penafsirannya. Setelah empat tahun pertama, barulah mereka diarahkan memilih salah satu spesialisasi ajaran Veda yang mereka minati dan mulai diajarkan pemaknaan dan penafsiran dengan metode logika dan berdebat.

Kegiatan belajar-mengajar dalam Gurukula dilakukan di dalam ruang kelas yang tanpa dilengkapi kursi dan meja. Guru dan brahmacari sama-sama duduk dilantai beralaskan alas duduk masing-masing. Alas duduk untuk guru lebih tinggi sedikit dibandingkan alas duduk para brahmacari. Brahmacari duduk mengelilingi guru dalam formasi setengah lingkaran,  dimana guru berada di tengah-tengah lingkaran itu. Metode mempelajari kerohanian seperti ini dalam etimologi Veda dikenal sebagai upanisad, yang berarti duduk di dekat kaki guru untuk mendengarkan pelajaran rohani (Achyutan, 1978).

Kepada setiap brahmacari  dibagikan buku-buku pelajaran atau kitab-kitab yang akan mereka pelajari sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan pada masing-masing tahun ajaran. Saat belajar di ruang kelas, setiap brahmacari memegang dan menyimak  kitab yang dipelajari tersebut. Seorang guru memberikan contoh cara melafalkan secara benar setiap sloka dengan cara membacanya baris demi baris sebanyak 3 kali. Para brahmacari menyimak dan memperhatikan pelafalan itu dengan bersungguh-sungguh, kemudian menirukan ucapan guru itu baris demi baris pula. Guru akan mengulang pelafalan itu beberapa kali jika dibutuhkan, yaitu bila dirasa para siswa belum melafalkannya secara benar.

Para guru mengajarkan dasar-dasar bahasa Sanskerta yang mencakup kurang lebih 20 varga (ayat) pada pelajaran pagi hari. Dalam pelajaran sore  harinya, para brahmacari akan melatih menghafalkan apa yang telah mereka pelajari pada pagi itu. Hari berikutnya, guru melanjutkan varga nomor 21 dan prosedur yang sama dilakukakan secara berulang-ulang setiap hari hingga keseluruhan kitab selesai dipelajari.

Untuk mengetahui sejauhmana tingkat penguasaan materi, kegiatan evaluasi atau ujian bagi para brahmacari dilakukan setiap akhir tahun pelajaran. Ujian dilakukan dengan cara seorang penguji akan mulai dengan menyebut akar kata sebuah varga (ayat) tertentu dan brahmacari harus melengkapi ayat tersebut yang umumnya terdiri dari dua puluh baris atau lebih. Brahmacari  yang tidak mencapai tingkat penguasaan tertentu yang telah ditetapkan, tidak diijinkan untuk melanjutkan pendidikannya lagi dan  dikembalikan kepada orang tuanya.

Setelah melampaui tahap empat tahun pertama tersebut, brahmacari diberi kebebasan untuk memilih bidang spesialisasi yang akan ditekuninya lebih lanjut sesuai dengan minat mereka masing-masing. Pada tahap ini, metode belajar yang digunakan bukan lagi menghafalkan dan melafalkan. Brahmacari mulai diajarkan tentang makna dan penafsiran ayat-ayat Weda yang mereka pelajari. Mereka membentuk kelompok-kelompok diskusi sesama brahmacari, melakukan debat dalam bahasa Sanskerta, belajar memberikan ceramah agama dalam bahasa Sanskerta, dan sebagainya.

Untuk memperdalam penguasaan bahasa Sanskerta dan argumentasi, mereka juga menyelenggarakan vagmi sabha. Vagmi sabha adalah pertemuan yang diiikuti oleh siswa-siswa senior, dilakukan dua kali setiap bulan. Dalam pertemuan ini, siswa dilatih untuk berbicara, mengemukakan pendapat dan berdebat dalam bahasa Sanskerta. Dengan sistem pembelajaran seperti ini, tidaklah mengherankan jika para lulusan Gurukula memiliki skill yang tinggi akan penguasaan kitab suci dan kemampuan berdebat yang sangat jauh berbeda dengan mereka yang hanya menganut Hindu secara tradisi.

Di Nusantara, sistem gurukula dan pembelajaran debat serta berlogika ini padam salah satunya mungkin disebabkan oleh arah pengembangan ajaran Hindu. Menurut kajian sejarah, pada masa kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa terdapat sistem pendidikan tradisional Hindu dalam bentuk mandala, patapan, kadewaguruan, karesyan dan padepokan yang pada prinsipnya memiliki banyak persamaan dengan sistem pendidikan tradisional Hindu model ashram dan gurukula yang merupakan bentuk khas pendidikan Hindu di India. Namun seiring dengan perjalanan sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia, sistem-sistem pendidikan tradisional yang mengajarkan Nyaya tersebut tidak dapat dijumpai saat ini. Hal ini terjadi karena terputusnya sistem parampara atau garis perguruan rohani sekte-sekte Hindu yang ada di Indonesia dari garis perguruan asalnya di India, sebagai akibat upaya penyatuan ajaran sekte-sekte itu oleh Mpu Kuturan yang berlangsung pada sekitar abad ke-10 di Bali. Mpu Kuturan memperkenalkan sistem sosial religius baru yang disebut Tri Kahyangan dan desa pakraman yang merupakan bentuk kompromi dari ajaran sekte-sekte tersebut. Disamping itu pada abad ke-15 Masehi Dang Hyang Nirartha memperkenalkan sistem wangsa atau sistem kasta yang membagi masyarakat Hindu di Bali menjadi golongan-golongan tertentu berdasarkan kelahiran dan keturunannya. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kekuasaan kerajaan yang bersifat feodal, dan sebagai upaya untuk mempertahankan ajaran agama Hindu di Bali. Dalam sistem wangsa itu, keluarga dan keturunan Dang Hyang Nirartha menempati posisi sebagai golongan brahmana, keluarga dan keturunan raja menjadi ksatria, dan masyarakat Bali asli diposisikan sebagai sudra, bahkan sebagian diantaranya dianggap out of caste. Keadaan tersebut masih terwarisi hingga saat ini. Penyimpangan terhadap sistem catur warna menurut Weda ini yang berlangsung berabad-abad dan masih terwarisi hingga saat ini tersebut berakibat pada tidak berlangsungnya sistem tatanan sosial religius Hindu yang semestinya menjadi dasar utama penyelenggaraan pendidikan tradisional Hindu sebagaimana lazimnya dalam kebudayaan Weda. Ketiadaan seorang acarya, guru spiritual, brahmana yang berkualifikasi, dan tidak adanya sanyasin yang menjadi guru dan pemimpin spiritual dalam garis perguruan yang dibenarkan menurut Weda, dan terus berlangsungnya pertikaian dalam masyarakat akibat sistem wangsa/kasta ini, secara nyata menjadi faktor pendukung tidak berlanjutnya sistem pendidikan tradisional Hindu yang dahulu pernah berkembang di Indonesia.

Sistem pembelajaran model ashram yang dewasa ini mulai berkembang kembali di Indonesia sebagai hasil reinteraksi dengan pendidikan agama Hindu di India, ternyata menghadapi berbagai hambatan dan benturan dengan tradisi Hindu yang ada di Indonesia. Hambatan itu terjadi karena adanya perbedaan dalam penekanan pelaksanaan aspek keagamaan. Tradisi dan budaya keagamaan Hindu di Indonesia, khususnya di Bali lebih menekankan pelaksanaan aspek ritual yang lebih banyak dipengaruhi oleh adat dan tradisi lokal, dengan lebih banyak berdasarkan kitab-kitab lontar dan babad yang isi ajarannya terkadang sangat bertolak belakang dengan ajaran Veda. Misalnya, dalam tradisi upacara-upacara keagamaan dilakukan kegiatan sabung ayam (tabuh rah) dan judi (meceki), yang dilaksanakan dalam lingkungan tempat suci, dengan dalih pembenaran dari kitab suci. Upacara-upacara keagamaan dijadikan sebagai ajang untuk menunjukkan status sosial seseorang dalam masyarakat, yang sering berakibat pada terjadinya proses pemiskinan. Sementara itu pendidikan dalam ashram-ashram lebih menekankan pada praktek keagamaan yang dilandasi aspek spiritual dan filosofi sesuai ajaran-ajaran Veda. Pendidikan ashram mengajarkan nilai-nilai Ketuhanan yang dilandasi dengan ketulusan hati dan disertai proses-proses penyucian diri yang mengarah pada upaya lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Jadi dari uraian panjang lebar di atas, demi untuk kedewasaan spiritual dan perkembangan umat Hindu dalam menguasai kitab sucinya, marilah kita mulai menghidupkan salah satu cabang Darsana yang sangat penting ini. Jangan takut berdiskusi dan berdebat, tetapi lakukanlah perdebatan dengan berdasarkan aturan Nyaya Darsana yang benar.

Bibliografi:

  1. Putra, Ida Bagus Cahyadi.  Agustus 2010. Tarka Veda: Debat Sehat Cara Hindu. Majalah Raditya edisi 157 #64: Denpasar.
  2. Suryanto, M.Pd. 2004. Problematika Penyelenggaraan Pendidikan  Berbasis Hindu  Di Indonesia: Sebuah Kajian dari Perspektif Pendidikan  Hindu Tradisional Model Gurukula di India. Thesis pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta.

13 Comments

  1. Om Swastyastu,
    Rahajeng Wengi Bli NGara.
    Dalam debat yang dicari adalah kebenaran, namun yang menjadi masalah adalah ketika kebenaran itu tidak datang dari kaum kita. Apa yang harus kita lakukan? apakah kita masih bertahan pada yang salah atau mengakui kesalahan kita dan menuju yang benar? bukankah kebenaran yang kita cari?

    “Jangan menolak suatu kebenaran hanya karena kebenaran itu tidak datang dari kaummu” Swami Vivekananda
    Marilah kita belajar untuk menunjukkan mental seperti itu. kalau tidak, perdebatan apapun tidak akan pernah ada akhirnya!

    Caranya biar pinter adalah dengan belajar dan terus belajar.
    Mari manfaatkan usia muda kita untuk menjadi brahmacari yang baik. Tidak ada istilah dogma dalam Hindu atau agama apapun. Semua hal tentang Tuhan boleh dikaji dan diuji.

    Om Santhi Santhi Santhi Om

  2. Om Swastiastu bli Sutha

    Sebagaimana dicontohkan oleh Adi Sankaracharya dan Visvarupa yang meskipun mereka menghabiskan waktu untuk berdebat selama satu minggu penuh, namun akhirnya Visvarupa mengakui kesalahan logika dan dasar pembenarannya yang menyebabkan dia menyerahkan diri dan menjadi murid Sankaracharya. Demikian juga dalam diskusi di web ini saya harapkan kita bisa belajar seperti itu. Saya mencoba belajar menulis artikel di sini berdasarkan pemahaman yang saya dapatkan. Teman-teman Hindu yang lain juga datang dan berdiskusi di sini berdasarkan sudut pandangang pemahaman masing-masing dan demikian juga saudara-saudara kita non-Hindu juga datang nimbrung dengan membawa konsep mereka masing-masing. Yang saya harapkan dalam berdiskusi dan gontok-gontokan di sini semuanya mematuhi aturan diskusi agar tidak terjadi debat kusir dan hanya mencari pembenaran, yaitu harus berusaha menyampaikan bukti-bukti konkrit berdasarkan Pratyaksa pramana / observasi langsung terhadap isi kitab suci yang kita perdebatkan, dan menyampaikan Sabda pramana / kesaksian dari otoritas yang berhak seperti pendapat para acharya suci dan selanjutnya melakukan Upamana Pramana (ilmu perbandingan) dan Anumana pramana (ilmu penyimpulan) sehingga kebenaran yang dicari itu bisa didapat.

    Jadi untuk kedepannya, sebagaimana sudah bli Sutha sampaikan, mari sama-sama belajar berdiskusi di web ini dan berdiskusilah dengan menyampaikan bukti-bukti yang jelas, bukan sekedar ngomong belaka…

    Salam,-

  3. saya setuju sekali dengan judul artikel ini, jujur tanpa ada artikel2 di web ini, saya `hampir` lupa untuk belajar tentang Hindu kita yang amat berwarna-warni dan indah, namun sayang saya salah satu orang hindu yang sangat `miskin` tentang kesusastraan hindu.

    dan saya minta maaf kalau ketika menyampaikan komentar malah kelihatan sisi emosi dan menunjukkan pembenaran diri, dan kadang menurut kalian saya ngomong dengan tanpa didukung oleh bukti2 otentik (terus terang saya bingung yang mana otentik dan mana yang tidak). tetapi semua yang saya sampaikan merupakan salah satu perwakilan dari pemikiran orang2 bali yang pernah mengerti tentang Veda, merasa dekat sekali dengan Tuhan, sehingga kadang tulisan di web ini saya lihat lebih memojokkan pemikiran orang lain, seperti halnya artikel : Bali menganut Siva Sidhanta?? siapa itu Siva ? kenapa Siva berpenampilan Nyentrik ? dll. apakah itu tidak juga memperlihat ke egoisan seorang penulis ?? mungkin maksudnya benar, tp mungkin karena keterbatasan saya yang salah menilai malah saya lihat itu seperti bentuk pembunuhan karakter, meski saudara Ngarayana menyampaikannya sangat beralasan dan dasarnya pun tidak main2: Veda, Bhagavat Gita, Puranas, dll. (membandingkan kekuatan tuhan/ dewa).

    namun saya masih diliputi kebingungan, seperti halnya sastra2 yg mengutip kebenaran2 tuhan, kadang kalau kita pelajari, satu purana/ kitab suci malah akan menyerang purana yang lainnya, trus mau pake yg mana ?

    mungkin itulah pentingnya debat, asalkan tidak mengutamakan emosi, dan mengharapkan pengakuan bahwa ide pemikiran kita yang paling benar. debat sangat diperlukan, tapi ketika kita berusaha untuk `menghadap` tuhan, semua buku, pemikiran, buku, ide, dll. hendaknya ditutup rapat.

    terima kasih
    Salam,-

  4. @ kidz

    Sususnan kitab suci Veda memang tidak kohern karena memang diperuntukkan untuk umat dalam taraf spiritual yang berbeda sehingga tidaklah mengherankan jika satu purana dengan purana yang lainnya kelihatan saling bertentangan. Jika tidak keberatan, mohon kunjungi juga artikel “Pustaka suci Veda” dan disana saya sampaikan bagaimana sudut pandang saya dalam memahami literatur Veda.

    Salam,-

  5. Subudi /

    Akan sangat disayangkan apabila kita berdiskusi hanya berlandaskan pendapat dan keyakinan pribadi tanpa dasar yang benar. Yang manakah yang benar? Tentu kita harus mempergunakan satu otoritas yang kita anggap “benar” untuk semua orang. Veda sebagai satu bahasa untuk semua mahluk adalah satu otoritas yang tidak terbantahkan yang terangnya seperti matahari yang apabila ada orang yang berusaha menafsirkan Vedanta-sutra dengan pendapatnya sendiri berarti dia sedang menutupi matahari dengan awan khayalannya.

    Bahkan budaya berdebat tentang Kebenaran Mutlak sudah terbiasa dilakukan dari Sri Caitanya Mahaprabhu. (Sri Caitanya, avatara 500 tahun silam)

    Seorang Sarjana besar Kesava Kasmiri akhirnya menjadi pengikut Sri Caitanya yang pada saat itu masih belia setelah mematahkan uraian 100 Sloka yang disusun hampir menyerupai sempurna.

    Sri Caitanya menjadi perintis unjuk rasa damai pertama kali di India demi kepentingan kebenaran kepada Chand Kazi, seorang hakim agung (muslim) di Navadvipa. Setelah melalui diskusi panjang lebar oleh kedua cendekiawan besar tersebut, akhirnya Kazi menjadi pengikut Sri Caitanya dan memberikan kebebasan penuh untuk mengadakan kegiatan Sankirtana (Hari-Nama Sankirtana), menyanyikan Nama Tuhan secara bersama-sama.

    Dalam diskusi spiritual mendalam dengan Sarvabhauma Bhattacarya seorang Pandita Agung yang bijaksana di Kuil Jagannatha – Puri, Sri Caitanya yang seolah-olah seperti Seorang Siswa yang bodoh yang selalu diam, mendengarkan Sarvabhauma Bhattacarya berbicara tentang Vedanta tanpa henti selama 7 hari. Atas pertanyaan Sarvabhauma Bhattacarya kepada Sri Caitanya, kenapa selalu diam dan tidak memberikan respon sedikitpun, Sri Caitanya lalu menjawab: “Tuan, saya dapat mengerti maksud dari sutra-sutra seperti janmādy asya yatah, sastra-yonitvat dan athāto brahma jijñāsā dari Vedanta Sutra, tetapi ketika Anda menjelaskan sutra-sutra tersebut dengan cara Anda sendiri, maka saya tidak mengerti sama sekali. Tujuan dari sutra-sutra tersebut sudah sangat jelas dalam sutra-sutra itu sendiri, tetapi Anda telah melencengkan artinya berdasarkan penafsiran Anda sendiri. Anda tidak langsung mengambil makna sutra-sutra tersebut, melainkan sengaja membelokkannya.” Secara panjang lebar Sri Caitanya Mahaprabhu menjelaskan tentang Vedanta-sutra dan penjelasan atas sloka atmarama kepada Sarvabhauma Bhattacarya yang membuatnya diam seribu kata dan akhirnya dengan berserah diri menjadi pengikut Sri Caitanya Mahaprabhu.

  6. abdiabadi /

    @Subudi
    “akan sangat disayangkan apabila kita berdiskusi hanya berlandaskan pendapat dan keyakinan pribadi tanpa dasar yang benar. Yang manakah yang benar? Tentu kita harus mempergunakan satu otoritas yang kita anggap “benar” untuk semua orang. Veda sebagai satu bahasa untuk semua mahluk adalah satu otoritas yang tidak terbantahkan yang terangnya seperti matahari yang apabila ada orang yang berusaha menafsirkan Vedanta-sutra dengan pendapatnya sendiri berarti dia sedang menutupi matahari dengan awan khayalannya.”

    kalau semua orang berasumsi seperti ini maka tidak perlu ada perdebatan dan pencarian kebenaran karena masing-masing orang akan membenarkan apa yang “diyakininya” yang kristen membenarkan ijilnya, yahudi membenarkan toretnya, islam membenarkan qurannya, komunis membenarkan marxisnya dll dan Sang Adi Sankaracharya akan sia-sia saja berkeliling karena tidak ada orang yang mau diajak berdebat.

  7. Subudi /

    @Abdiabadi: Yang saya sayangkan adalah, dari kalangan kita sendiri yang terkadanag seolah-olah sudah menguasai Veda atas nama “keyakinan pribadi” menganggap sesuatu sudah benar tanpa mau tunduk hati menerima kebenaran sastra Veda.

    Memang tidak menjadi masalah bagi siapa saja mempercayai/meyakini suatu kebenaran versi sendiri karena itu adalah salah satu sifat materi dasar yang dimiliki oleh mahluk bumi. Bungkus-bungkus tebal itu yang selalu mebuat kita nyaman untuk membalikkan hal rohani sesungguhnya di kehidupan kita. Sepanjang kita tidak mau berusaha mencari jawaban atas identitas kita yang sesungguhnya, perdebatan memang akan sangat kecil mencapai titik temu. Tetatpi, tetap perlu perdebatan/diskusi untuk berusaha paling tidak mendekati titik temu (walaupun bukan titik temu).

    Sama seperti Sri Caitanya mahaprabhu, Penjelmaan Dewa Siva: Sripada Sankarãcãrya merupakan misi lanjutan dari Buddha Gautama, merestorasi kembali ajaran Veda yang pernah terbelokkan. Tidak akan pernah sia-sia Beliau berkeliling menyebarkan uraian secara terperinci filsafat Vedanta dengan menyusun ulasan atau tafsiran terhadap Upanisad-upanisad terpenting, Brahma Sutra, dan Bhagavad-gita.

  8. Perlu juga diingat kalau PERBUATAN jauh lebih penting daripada debat ataupun ahli sastra. Orang yang pintar debat biasanya alpa dalam pelaksanaan ajarannya sendiri.
    Walaupun pada akhirnya kita menemukan semua jawaban dalam perdebatan kita, tetapi orang yang mengutamakan perbuatan SUDAH mempraktekkan langsung.
    Apakah ada diantara teman2 yang menunggu agar perdebatannya berakhir baru melaksanakan ajarannya? semoga tidak.
    Saya yakin semua setuju kalau saya katakan Tuhan tidak ditemukan dalam debat (sekalipun debat itu menemukan titik akhir) tetapi ditemukan dalam pelaksanaan.
    maka coba pikir lagi apa yang kita cari dalam debat2 ini? masihkah Tuhan?

  9. Nak_bagus /

    Bli Sutha, bukannya di atas sudah dijelaskan bahwa berdebat tidak sekedar berdebat? tetapi dalam sistem gurukula, seorang siswa yang baru masuk diwajibkan melakukan sadhana spiritual berupa TINGKAHLAKU dan PERBUATAN yang diatur sangat ketat. Baru setelah itu siswa tersebut selama 4 tahun dididik menghafal dan melafalkan kitab suci, setelah itu barulah dia diajarkan makna, penafsiran, berargumen, berlogika dan berdebat. Jadi kalau semua orang melaksanakan aturan main ini saya rasa tidak usah kawatir dengan orang-orang munafik. Walaupun di Kali Yuga ini memang mayoritas manusia adalah munafik ^_^

  10. Saya mulai kenal web ini di tahun 2009. sampai dengan sekarang, selagi ada waktu dan kesempatan saya selalu berusaha menyempatkan diri membuka web ngarayana ini. setelah beberapa lama saya mulai memberanikan diri memberi komentar-komentar singkat, yg sifatnya lebih hanya ‘ngerame-ramein” aja. kemudian berusaha untuk dapat memberi komentar yang lebih berbobot, biar ga cuma asal bunyi tapi juga punya dasar. web ini terbukti efektif (bagi saya) untuk mulai belajar tentang Hindu, agama-agama lain, pengembangan diri, dan kerohanian.

    terus berkarya bro..

  11. agung joni /

    @All

    Om Swastiastu,

    Untuk siapakah sesungguhnya agama jika ia tak boleh diperdebatkan dg seluruh kemanusiaan kita,keluguan,kecerdikan,kekasaran kita dan kelembutan kita. Mengapa umat tak boleh memperdebatkan agamanya,mengapa tabu,mengapa mengotori? Karena agama diturunkan bagi umat manusia,maka ia menjadi sesuatu yg bukan saja boleh tetapi wajib diperbincangkan terus-menerus. Dalih2 yg bertujuan meniadakan perdebatan dg mengatasnamakan kesucian pelaksanaan agama perlu diwaspadai memiliki tujuan2 terselubung yg hanya mengatasnamakan kepentingan umat. Iklim perdebatan justru harus diciptakan,karena mungkin dg itu kualitas pelaksanaan agama dan pemahaman umat menjadi lebih tinggi.
    Sebuah logika pemikiran pada sementara kalangan umat Hindu terasa aneh,bahwa ajaran Hindu (dan pelaksanaannya dlm bentuk upacara) tdk pantas diperdebatkan. Alasannya,segala perdebatan,polemik akan membuat Hindu jadi leteh (kotor,tercemar).
    Logika semacam ini sangant berbahya,sebab bisa mengarah pada pembungkaman dan kebungkaman umat. Pemutusan partisipasi umat bagi pelaksanaan ajaran agama bisa dg cara seperti itu. Ketika umat tdk memiliki lagi keberanian mempertanyakan dan memperdebatkan pelaksanaan ajaran agamanya, saat itulah kejahatan di wilayah agama dimulai.
    Dengan mudah suara umat akan diambilalih dan “diwakili” oleh perorangan atau lembaga yg mengklaim diri memiliki otoritas utk mengatasnamakan umat.
    Itulah yg terjadi selama berabad2 dg ajaran Hindu di Bali. Suatu iklim yg tercipta di masa lampau telah menjadikan umat Hindu tdk memiliki otoritas utk berbicara dan mepertanyakan pelaksanaan ajaran Hindu. Karena hal itu ditabukan dan keberanian menerobosnnya adalah sebuah kelancangan. Otoritas memperbincangkan agama hanya pada mereka yg mengkalim diri sebagai kelompok manusia berharkat melebihi kelompok lainnya. Yg kita warisi kemudian,pelaksanaan ajaran Hindu di Bali menjadi tdk manusiawi,tdk demokratis,bahkan tdk sesuai dg esensi Hindu sendiri. Pemahaman menjadi simpang siur akibat monopoli pengetahuan Weda. Lihatlah berapa besar akibat yg telah kita saksikan akibat konsep warna (pengelompokan manusia lewat profesi) yg diselewengkan. Terjadi kemacetan penafsiran ajaran Hindu yg seharusnya terus menerus diperiksa, disesuaikan dg perkembangan tuntutan,kebutuhan umat dan kondisi zaman.
    Yang terjadi kemudian, umat Hindu beragama lebih bersifat ekspresi,minim melibatkan akal. Sementara itu ketakutan memeriksa dan memperdebatkan ajaran Hindu berubah wujud menjadi keenganan mempelajari sumber asli karena ketiadaan tradisi utk itu,jikapun ada radiusnya sangat sempit dan bersifat monopolistik. Beragama secara ekspresif ini telah mendominasi prilaku beragama Hindu selama ini,dan itu tdk pernah membuat kualitas keberagamaan meningkat kecuali mudah dikendalikan utk ambisi2.Karena dalam kekosongan atau keterbatasan pemahaman ajaran Hindu,jiwa2 yg paternalistik dg mudah terperangkap dlm kendali kehendak pihak lain yg belum tentu benar cita2 kehinduannya.
    Lewat berbagai formalitas keyakinan dan kepatuhan umat kepada ajaran agamanya,banyak konsepsi telah menyeleweng dr esensinya,dan yg menyeleweng itulah yg dipertahankan dan dikejar umat. Kondisi ini diperburuk oleh kemandulan dan pemandulan lembaga2 adat dan agama.Pada gilirannya kita harus dg tenang meskipun sakit, mengakui bahwa pelaksanaan ajaran Hindu di Bali banyak sekali menyengsarakan. Ironisnya upaya2 utk membenahinya selalu berbenturan dg upaya2 utk mempertahankan kondisi itu. Disisi lain masyarakat sering diperdengarkan Hindu yg agung,Hindu yg demokratis,yg menghargai eksistensi manusia,namun disisi lain realitas bertolak belakang dg itu. Sejarah pertumbuhan Hindu di Bali terutama, seharusnya mengajarkan kita,tdk zamannya lagi melepas begitu saja mempercayakan keyakinan bagi yg mengatasnamakan agama dan umat.Maka utk itu tanpa perlu merujuk satu sloka pun sebagai pembenar,perdebatan agama harus dipandang sebagai bagian dari dinamika beragama.Apalagi jika pelaksanaan ajarannya akan menyangkut hari depan agama dan keberagamaan umat.Umat yg tdk memperdebatkan agamanya atau berusaha membungkamkan perdebatan,pantaslah diperiksa kesejatian komitmennya terhadap agama.Reputasi buruk generasi terdahulu tdk mesti dipelihara atas nama tradisi.Di Bali sendiri sudah lama dikennal iklim pablibagan, yg makna dan pelaksanaanya sama dg debat.Maka iklim pabligbagan agama dan pelaksanaannya ajaran Hindu harus dihidupkan terus-menerus.Jika kemudian ada etika ekspresi yg terlanggar,pembenahannya bukan dg cara2 pembungkaman partisipasi.Kondisi yg harus terus diciptakan,jangan sampai umat lengah lagi seperti dimasa lalu dan membiarkan berlalu penyimpangan beberapa pelaksanaan ajaran Hindu hingga berabad2 lamanya.
    Perdebatan itu harus diterima sebagai semacam koreksi atas pelaksanaan ajaran agama. Jika belakangan terkesan umat Hindu dari semua lapisan bangkit keberaniannya utk merebut otoritas perdebatan ajaran Hindu dan pelaksanaanya,mestinya inilah saatnya kita bersyukur setinggi2nya.Karena ini isyarat Hindu tdk akan terpuruk lebih dalam menjadi semacam kelewang di tangan kelompok2 yg gemar membunuh eksistensi lain diluar kelompoknya.
    Terlalu naif jika orang Hindu Bali terus menerus tdk mewaspadai agama sebagai perisai tindakan2 yg tdk lebih dari usaha cari untung atau nafsu menjadi monumental. Suksme

    Om Shanti, shanti, shanti, Om

  12. berdiskusi itu perlu namun sebagai seorang pelajar Veda hendaknya memperhatikan sloka kitab Manawa Dharmasastra sebagai berikut:

    Dyutam ca janawadam ca pariwadam tathanrtam,
    strinam ca preksanalambham upaghatam parasya ca
    (MDs.IV.179)
    Ia (siswa veda) hendaknya menjauhkan diri dari perjudian, MENGHINDARKAN DIRI DARI DEBAT KUSIR,tidak membicarakan kejelekan orang di belakangnya,tidak boleh berbohong,tidak birahi memandang wanita (begitu juga sebaliknya bagi wanita) dan tidak menyakiti orang lain.

    dikutip dari Buku kerja dan swadharma :Studi teks adisastra Hindu

  13. @ All

    Tentu saja untuk menyadarkan seseorang yang belum insyaf akan kekeliruannya dibutuhkan DEBAT. Kalau sesuatu belum diterima akalnya, bagaimana mungkin dia akan mau mengikuti? Yang penting kemudian adalah menghindari debat kusir yang tidak perlu. Semua misionaris pastinya ahli berdebat. Tetapi pemilik para missionaris (Sri Chaitanya Mahaprabhu) adalah yang paling ahli dalam debat.

Leave a Comment

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: