Bagan bagian-bagian kitab suci Veda

Seberapa luaskah kitab suci Veda?

Untuk mengetahui bagannya secara detail silahkan download di link ini.

Veda menetapkan bahwa ia hanya bisa dipelajari dan dimengerti secara sabda-pramana, mendengar dari sumber  yang  benar dan sah yaitu dari para Acarya (guru kerohanian) secara parampara ( proses menurun/deduktip) dalam garis perguruan (sampradaya) sah dan jelas sebagaimana ditegaskan dalam Bhagavad Gita 4.2;  “evaà paramparä-präptam  imaà räjarñayo viduù  sa käleneha mahatä  yogo nañöaù parantapa” dan Bhagavad Gita 4.32; “evaà bahu-vidhä yajïä  vitatä brahmaëo mukhe karma-jän viddhi tän sarvän  evaà jïätvä vimokñyase”. Karena itu, Veda disebut sruti, pengetahuan yang diperoleh dari mendengar; dan smrti, pengetahuan yang diingat dari cara mendengar.

Kebingungan mempelajari Veda yang sangat luas tersebut? Ikutilah perintah Bhagavad Gita dengan mencari guru kerohanian yang dapat dipercaya dan belajarlah dari beliau.

Special Thanks for Rama (rama_putra_iswara@yahoo.com) yang telah meredesign bagan Veda ini.

About Ngarayana
Simple living high thinking

53 Comments on Bagan bagian-bagian kitab suci Veda

  1. ksatria batu // December 28, 2009 at 10:55 am //

    seumur hidup belum tentu bisa tuntas mempelajari weda. stephen knapp butuh 30 thn belajar sebagian weda. artikel2 d web ini byk mendasarkan pada BG dan SB saja sudah dahsyat, gmn kalo semua weda digunakan pasti sgt dahsyat…..

    terus berkarya

  2. yg ada di kitab agama lain pasti ada di Veda, tp yg ada di Veda belum tentu ada di kitab agama lain…

  3. Rama Ki Jay // December 29, 2009 at 1:44 pm //

    Wah, kitab lain dapat dipegang dengan dua jari dengan memegang tali pembatasnya… tetapi siapa yg bisa memegang Veda dgn dua tangan yg tebalnya satu perpustakaan…

  4. Wah.. menarik sekali. Waktu kuliah saya pernah mendapat bagan seperti ini, tapi lupa sumbernya. Saya diberi oleh dosen.

    Btw, apa bagan dan pembagian veda ini sudah valid dan dibenarkan menurut parampara ya? dan akan lebih menarik lagi kalau ada penjelasan dari masing-masing bagian itu yang lebih detail. seperti apa itu Purana, Upanisad, Kalisantarana Upanisad dll.

    Suksma Prbu Ji.
    Hare Krsna.

  5. Rama Ki Jay // December 31, 2009 at 12:50 pm //

    Gambar bagan itu dikutip dari kalender Bali tahun 1999, bagan tersebut dibuat oleh Sanatana Dharmasrama Surabaya. Ada sedikit keterangan penting di dalamnya…

  6. mantap bang…

  7. dmn sy bs menemukan Guru Kerohanian yang dapat “dipercaya”?
    trm ksh

  8. @desri
    untuk mendapat guru kerohanian memang tdk mudah apalagi kita tinggal di Indonesia.Menurut tradisi Veda salah satu syarat menjadi guru kerohanian adalah orang tersebut telah menempuh tingkatan Sanyasi dalam catur asrama,sedangkan Hindu di Indonesia blm ada satu orangpun yg telah menempuh tingkatan sanyasi ini.Jika anda sungguh2 n serius untuk mencari guru kerohanian cobalah berdoa pd Hyang Widhi dan yakinlah pd suatu saat anda pasti dipertemukan dg guru kerohanian yg anda cari.Bisa jg anda belajar/ikut sampradaya Hare Krisna, karna kelompok ini memiliki guru2 kerohanian yg dpt dipercaya,yg datng dari India untuk memberikan karunia diksa/inisiasi kpd setiap orang yg tentunya sudah memenuhi syarat.Maaf anda tinggal dimana?
    suksme

  9. sy tinggal di Bali..
    jika harus mll perguruan spt itu, sampradaya apa saja yg bs sy ikuti?

    apa yang diajarkan disana, dan syarat apa yg harus sy tempuh?
    trims

  10. @ desri
    coba kunjungi situs ini http://gaurangga.wordpress.com.Cari alamat ahsram yg terdekat dg tempat anda,syaratnya anda mau datang kesana dan bertanya.
    suksme

  11. dede narayana // February 1, 2010 at 5:26 pm //

    @ Desri
    Salam kenal, untuk wilayah denpasar alamatnya di Jl.Tukad Balian 108 Denpasar, sedangkan di kab.Badung ada di Behe Mengwi dan di Gerih, Abian semal, juga ada di Gianyar , Tabanan, Klungkung dan yang sedang dibangun di Negara/Jembrana dan Singaraja.
    suksma.

  12. saya awam, kitab veda ini dikarang oleh siapa, dan apakah seluruh umat hindu punya veda yang sama, dan bagaimana konsep ketuhan agama hindu

    terima kasih

  13. @efendy
    kitab Veda dikarang oleh Apauruseya,atau Tuhan sendiri,kitb veda luas,umur manusia ga akan cukup bwt mempelajari smw veda,tapi cukup Bhagavad Gita,yg merupakan Veda shidanta,atau kesimpulan dari semua veda,hampir smw orang Hindu memiliki kitab ini.

    yang jelas, Tuhan menurut Hindu imanen(bhagavan),sekaligus transenden(brahman),ada dimana mana dan melingkupi(vyapi vyapaka nervikara) segalanya,layaknya matahari,bhkan kandang babi pun di sinarinya..kurang lebih begitu.
    Suksma.

  14. vadanti tat tattva-vidas
    tatvam yaj jnanam advayam
    brahmeti paramatmeti
    bhagavan iti sabdyate
    Kebenaran yang paling utama yang maha mutlak diinsyafi dalam tiga tingkatan yaitu : Brahman yang tidak berbentuk pribadi, Paramatma (Roh Yang Utama yang berada dalam diri setiap mahluk hidup) dan Bhagavan yaitu Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa Yang Asli . (Bhagavata Purana 1.2.11).

  15. @Agunk
    Beli agung saya kurang Paham maksud berikut
    “kitab Veda dikarang oleh Apauruseya,atau Tuhan sendiri” lalu bagaimana cara transfer ke manusia sehingga menghasilkan Veda yang begitu banyak dan luas, lalu apakah terconfirmasi secara sah bahwa Veda Bhagavad Gita sebagai veda kesimpulan dan siapa yang punya otoritas ini.

    Mohon penjelasannya
    dan terima kasih sebelumnya

    damai selalu lebih baik

    Terima kasih

  16. @efendi
    kitab Veda merupakan ‘apauruseya sabda’maksudnya Veda merupakan suara rohani yang tidak berasal dari manusia biasa,tetapi dari Tuhan sendiri,melalu para inkarnasinya seperti Rama Avatar,Krishna Avatara dll,serta melalu para utusannya,seperti Maha Rsi Narada Muni,Maha Rsi Krishna Dvipayana Vyasa Deva,Maha Rsi Brighu,dll.

    ‘paramparam praptam’ hendaknya pengetahuan suci Veda ini diterima/di transfer dari ‘parampara’ atau garis perguruan yang dibenarkan,seperti gaudya vaisnava,sakta,rudra-sampradaya dll.

    mengenai pertanyaan anda yg trakhr,sudah trjwb di web ini,ada artikel trkait,yg brjdul ‘menghadapi tantangan global dengan bhagavad gita’

    untuk lbih jelasnya,tanyakan pd sdr.ngarayana,krn beliau lbh menguasai Veda ktmbng saya yg bru mncoba mnelaah Veda yg maha luas..

    salam damai selalu..
    Love & Light.

  17. @Desri
    Salam kenal desri. memang benar untuk mencari seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya memang sulit. dikatakan bahwa atas karunia Tuhan kita bisa bertemu dengan seorang guru kerohanian dan atas karunia guru kerohanian kita bisa bertemu dengan Tuhan. Kita mesti berdoa dengan hati yang tulus kepada Tuhan agar Beliau mempertemukan kita dengan seorang guru kerohanian yang bonafide. dalam caitanya caritmrta madhya 8.128 disebutkan
    kiba vipra, kiba nyasi, sudra kene naya
    yei krsna-tattva-vetta, sei guru haya
    “Tidak menjadi soal apakah dia seorang brahmana, sudra, atau sannyasi, kalau dia mengerti ilmu pengetahuan tentang Tuhan, ia bisa menjadi guru kerohanian yang sempurna dan dapat dipercaya.”
    Tidak disebutkan dalam sastra manapun kalau guru kerohanian itu harus sannyasi. Bahkan di jaman Kali ini kita harus berhati-hati memilih guru sannyasi. dikatakan juga bahwa jika seorang sannyasi hanya bermimpi saja tentang wanita dia sudah dianggap jatuh. Apalagi dekat dengan dengan seorang wanita.
    Di India banyak guru yang grhasta. Di Indonesia pun, atas karunia Tuhan sudah ada seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya yang berada dalam salah satu garis perguruan sampradaya. Beliau masih grhasta. Ini memang untuk pertama kalinya terjadi di Indonesia, sehingga orang mengira tidak ada seorang guru yang grhasta. Beliau ditunjuk oleh guru sebelumnya untuk mengajarkan misi pengetahuan Weda ini di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia. Kalau Desri memang serius ingin mempelajari kerohanian, bimbingan dari seorang guru kerohanian mutlak diperlukan. Berdoalah sama Tuhan, jika Desri memang serius Tuhan akan menunjukkan jalan. Dalam Bhagavad-gita 4.34 disebutkan:
    tad viddhi pranipatena pariprasnena sevaya
    upadeksyanti te jnanam jnaninas tattva-darsinah
    “Cobalah mempelajari kebenaran dengan cara mendekati seorang guru kerohanian. bertanya kepada beliau dengan tunduk hati dan mengabdikan diri kepada beliau. orang yang sudah insaf akan dirinya dapat memberikan pengetahuan kepadamu karena mereka sudah melihat kebenaran itu.”
    Ini juga yang saya katakan sebagai karunia besar. Tuhan telah mengirimkan utusan Beliau untuk mengajarkan pengetahuan Weda ini di Indonesia, sehingga kita tidak mengalami kesulitan dalam hal berkomunikasi atau bertanya tentang Weda kepada seorang guru kerohanian. Saya juga ingin berbagi pengalaman. Saya merasa bersyukur sekali kepada Tuhan, saya bisa bertemu dengan seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya. Setiap harinya beliau memberikan bimbingan kepada kami dan pengetahuan rohani Weda. Di Bali ada tempat belajar Weda di Ashram Sri-Sri Krishna Balarama, jl. padang galak gang penyu dewata III kesiman denpasar Bali. Terima kasih. Semoga Tuhan melimpahkan karunianya kepada kita semua.

  18. Menganai garis perguruan yang bonafide mungkin bisa di baca di artikel “Sampradaya

    Seorang guru harus jelas asal-usulnya. Berdasarkan Srimad-Bhagavatam 6.3.21, terdapat empat sampradaya yang paling utama, yaitu Brahma Sampradaya, Sri (Laksmi) Sampradaya, Ludra (Siva) sampradaya dan Catur Kumara (Sanaka) sampradaya. Dalam Padma Purana disebutkan, “sampradaya-vihina ye mantras te nisphala matah, Seseorang harus berlindung dan menerima pengetahuan rohani melalui salah satu empat sampradaya tersebut, jika tidak mantra atau inisiasinya tidak akan berguna.

    Sang guru kerohanian juga harus bisa mengendalikan dirinya dalam satu garis lurus, yaitu perut, mulut dan kemaluan…
    Sri Upadesamrta 1; “ vaco vegam manasah krodha-vegam jihva-vegam udaropastha-vegam etan vegan yo visaheta dhirah sarvam apimam prthivim sa sisyat, Seseorang yang mampu mengendalikan keinginan bicara, kehendak, kemarahan dan lidah, perut dan kemaluan dapat menerima murid dari segala penjuru dunia.

    Narada Pancaratra; “na ca mantra upajivi syanna capya arco upajirikah na aniredita bhogas ca na ca nirdyah niredika, Jangan pernah menerima inisiasi/guru spiritual dari mereka yang menjadikan guru spiritual sebagai profesi, Jangan memakan makanan yang tidak dipersembahkan pada Tuhan, dan jangan mempersembahkan apa yang tidak direkomendasikan oleh kitab suci”.

    Jadi berhati-hatilah dalam memilih guru…. Jangan sampai kita berguru dari seorang yang lepas dari aturan kitab suci…

    Seorang guru yang memiliki istri? Seorang Siksa guru yang mengajarkan dan mengenalkan kerohanian kepada kita tidak masalah masih terikat pada hal duniawi, tetapi jika seorang Diksha Guru maka dia harus benar-benar tidak terikat pada hal duniawi… Jika seseorang masih menikmati hubungan badan dengan istrinya, terikat pada anak-anaknya dan keluarganya, apakah dia layak kita jadikan guru Diksha kita?

    Mohon dicermati lagi… jaman kali memang jaman yang membingungkan… :-D

    Salam,-

  19. Mohon menerima sembah sujud saya
    seseorang yang masih “menikmati” hubungan badan dengan istrinya, terikat pada anak-anaknya dan keluarganya, memang tidak layak kita jadikan guru Diksha kita.
    Tapi mohon berhati-hati juga, jangan menghina penyembah-penyembah Tuhan yang sudah menyerahkan dirinya untuk mengajarkan tentang kemuliaan nama suci Tuhan. Srila Bhaktivinoda Thakur sudah menjadi guru diksa pada waktu beliau masih grhasta. Apa kita berani menyatakan beliau tidak bonafide?
    Kita juga harus berhati-hati memberi penilaian terhadap seorang penyembah. Sri Nityananda Prabhu pernah kelihatan keluar dari kedai minuman. Apa kita berani menyimpulkan sendiri apa yang Beliau lakukan? Sri Caitanya Mahaprabhu pernah memarahi para brahmana yang menghina penyembahNya yang sedang minum-minuman keras. Bagaimana? Seorang brahmacari, grhasta, vanaprasta dan sannyasi jika dia menjalankan swadharmanya masing-masing mereka sama kualitasnya. Siapapun itu jika dia “menikmati” tentu bersalah, karena yang Maha Penikmat adalah Tuhan.
    Mohon juga berhati-hati mengenai “keterikatan”.
    Kita diajarkan bahwa seorang grahasta hanya melakukan hubungan suami istri jika dia ingin mempunyai putra yang sadar akan Tuhan. Seorang grahasta yang mengikuti aturan lebih hebat daripada seorang brahmacari atau sannyasi yang memikirkan wanita. Hati-hatilah, apa kita bisa tahu pikiran orang?
    Inilah jaman Kali, banyak juga sannyasi penipu.

    Vanca kalpa

  20. rauh, ketut // February 3, 2010 at 12:35 pm //

    mohon maaf, saya ikut nimbrung dikit.
    kayakna mas orang hare krsna ya?
    kalo masalah guru saya rasa tidak bisa dilihat dari penampakan luar. apakah dia grahasta atau sanyasin. begitu juga orang yang terikat juga tidak bisa dilihat dari statusna dimasyarakat. bahkan sanyiasin aja banyak yang jatuh dan malah menikahi muridnya.
    setahu saya maharesi Vyasa adalah grahasta, advaita acarya juga grahasta, Bhaktivinoda takur sebelum jadi babaji beliau grahasta saya tahu karena saya banyak baca buku-bukuna prabhupada.dalam bukuna prabhupada tidak ada disebutkan bahwa seorang guru harus sanyiasi. belum tentu grahasta itu lebih terikat. ramananda raya grahasta tapi dia penyembah yang agung. bahkan sri caitanya menganjurkan jangan bercita-cita jadi sanyasin. jadi menurut sya tergantung sejauh mana dia bisa mengikuti aturan dari asrama darmanya.
    saya pikir boleh entah dia grahasta atau sanyiasin yang terpenting dia sudah menyerahkan hidupnya dalam pengabdian pada tuhan sehingga dia sudah bebas dari ikatan patut kita hormati dan boleh menjadi guru.
    tergantung kita sekarang mau jujur mengakui kemajuan orang lain pa tidak.
    kalo saya lebih baik saya berguru grahasta asal dia jujur dan hidupnya telah diabdikan pada tuhan dari pada sanyiasin tapi menipu. bahkan ada saya baca di bukunya prabhupada ada cerita maharaja bharata yang penyembah agung tingkat bhava biasa jatuh karena kasih sayang pada kijang.
    saya juga lihat diinternet banyak guru sanyiasi yang ada skandal dengan wanita. bahkan ketika saya ikut ratrayatra gabungan direnon ada sanyiasi yang dilayani oleh muridnya yang perempuan? ini tanda apa?
    coba cari di internet tentang guru-guru di IskCon, dari sana banyak saya lihat guru-guru grahasta. atau kalo lebih jelas tanya ke gurumu di Iskcon berapa orang yang jadi guru tapi masih grahasta.
    saran saya hati-hati ngasi komentar. salah-salah bisa kita yang salah. sebagai orang yang sedang berusaha mencari kebenaran itu kita harus tunduk-hati, dan memberikan hormat pada siapapun.
    bahkan anda sendiri bilang diatas bahwa
    Sri Upadesamrta 1; “ vaco vegam manasah krodha-vegam jihva-vegam udaropastha-vegam etan vegan yo visaheta dhirah sarvam apimam prthivim sa sisyat, Seseorang yang mampu mengendalikan keinginan bicara, kehendak, kemarahan dan lidah, perut dan kemaluan dapat menerima murid dari segala penjuru dunia.

    Narada Pancaratra; “na ca mantra upajivi syanna capya arco upajirikah na aniredita bhogas ca na ca nirdyah niredika, Jangan pernah menerima inisiasi/guru spiritual dari mereka yang menjadikan guru spiritual sebagai profesi, Jangan memakan makanan yang tidak dipersembahkan pada Tuhan, dan jangan mempersembahkan apa yang tidak direkomendasikan oleh kitab suci”.
    apa salahnya seorang grahasta jadi guru kalo dia sudah bisa mengendalikan hal yang diatas. dan juga dia menjadi guru tidak untuk nyari uang?
    apa hebatnya sanyiasi tapi tidak bisa mengendalikan hal diatas dan menjadikan sanyiasi untuk mencari ketenaran, pengikut, dan kenikmatan indria apalagi sampai menikmati hub seks. kan lebih baik saya milih yang grahasta.
    sekali lagi saya sarankan hati-hati ya? baik dalam bertindak, berkata, atau berpikir pa lag milih guru? jangan berpikir orang lain itu bodoh-bodoh sehingga mudah ditipu. makanya jangan belajar sasatra setengah-setengah. He………
    pakai kecerdasanmu, dan bhudimu karena itu ajaran hare krsna disebut bhudiyoga. jangan pakai keinginanmu untuk tenar dan menyesatkan orang-orang.
    loka samastha sukino bhavantu……
    om santih-santih-santih.

  21. Dandavat saya pada semua rekan-rekan di forum ini…

    Perdebatan mengenai seorang guru sanyasin dan grahasta dan juga guru barat dan guru timur sudah cukup lama terjadi..
    Saya sendiri tentunya menaruh hormat sedalam-dalamnya untuk kriteria-kriteria yang disampaikan oleh “Priti” dan juga “Rauh, ketut”. memang jauh lebih baik mengikuti jalan hidup seorang Grahasta yang menjalani kehidupannya berlandaskan atas swadharma dari pada mengikuti seorang Sanyasin yang munafik.

    Setiap orang memang harus melakukan swadharmanya masing-masing sebagaimana disampaikan dalam Vishnu-Purana 3.8.9 disebutkan: ”Varnasrama caravata purusena parah puman visnor aradhyate pantha nanyat tat tosa karanam, Sri Vishnu di puja dengan melaksanakan secara benar tugas pekerjaan masing-masing berdasarkan prinsip–prinsip lembaga sosial-spiritual varnasrama. Karena itu, setiap orang hendaklah menuruti aturan lembaga ini, sebab tidak ada cara lain lagi untuk menyenangkan Beliau”.
    Lebih lanjut juga dikatakan; “Varnasrama vibhagasah svanusthitasya dharmasya samsidhir hari tosanam, manusia dikelompokkan kedalam varna dan asrama sesuai dengan tugas pekerjaannya masing-masing untuk mencapai kesempurnaan hidup dengan menyenangkan Sri Hari” (Bhagavata Purana 1.2.13).

    Sehingga dengan demikian terdapat 4 tingkat kehidupan spiritual (catur asrama) yaitu:
    1. Brahmacari (masa belajar menuntut ilmu pengetahuan spiritual.
    2. Grhastha (masa hidup bekeluarga).
    3. Vanaprashtha (masa hidup lepas dari keluarga dan tinggal di hutan), dan
    4. Sannyasi (masa hidup bebas dari kemelekatan pada kehidupan material dunia fana).

    Nah, dalam menjalankan tugas kewajibannya, maka veda menegaskan akan profesionalisme. ”Sreyan svadharma viguna na prakyah svanusthitah para dharmena, adalah lebih baik melaksanakan pekerjaan sendiri walaupun tidak sempurna dari pada melaksanakan pekerjaan orang lain dengan sempurna. Sebab, jivanti sadyah patati jatitah, orang yang bekerja tidak sesuai dengan tugasnya sendiri, melanggar aturan (kitab suci) dan disisihkan dari golongan sosialnya”(Manu Smrti 10.7)
    Dan juga ditegaskan berulang kali dalam Bhagavad Gita oleh Sri Krishna; “Sreyan svadharma vigubah paradharmat sva nusthitat, jauh lebih baik melaksanakan tugas-pekerjaan sendiri meskipun tidak sempurna dari pada melaksanakan tugas-pekerjaan orang lain. Sebab, sva dharma nidhanam sreyah para dharmo bhayavahah, mati dalam melaksanakan tugas pekerjaan sendiri lebih baik dari pada melaksanakan tugas-pekerjaan orang lain karena berbahaya menunuruti pola hidup orang lain; dan svabhava niyatam karma kurvan napnoti kilbisam, bekerja sesuai dengan sifat dan watak sendiri tidak terkena reaksi dosa” (Bhagavad Gita 3.35 dan 18.47).

    Sehingga dikatakan setiap golongan dapat mencapai kesempurnaan hidup dengan bekerja secara professional dan mempersembahkan hasil kerjanya sebagai yajna kepada Tuhan, “Svakarmana tam abhyarcya siddhim vindati manavah, dengan mempersembahkan (hasil) kerjanya sendiri (sebagai yajna) kepada Tuhan, sang manusia mencapai kesempurnaan hidup” (Bhagavad Gita 18.46)

    Sehingga dengan dasar ini, menurut saya maka jika kita masih memilih menjalankan kehidupan sebagai Brahmacari atau Grahasta, maka lakukan tugas kewajiban seorang Brahmacari dan grahasta dengan profesional, jangan mengambil tugas kewajiban seorang Sanyasin.
    Demikian juga bagi seorang Sanyasin, sudah seharusnya mengambil tugas dan kewajiban seorang Sanyasin dengan profesional… jangan malah Grahasta..

    Bagaimana dengan para Maha Rsi yang juga grahasta? Seperti Vyasa Deva?
    Sepengetahuan saya, Prabhupada pernah menjelaskan bahwa ada 2 jalan dalam menapak spiritual.

    1. Jalan pasti, yaitu dengan cara hidup membujang seumur hidup… dengan jalan ini seseorang pasti akan sampai pada dunia rohani.. hanya saja jalan ini bukan jalan aman dan sangat rawan jatuh.. mereka yang berhasil menapak jalan ini tanpa jatuh di jaman kali adalah orang luar biasa.

    2. Jalan aman, yaitu dengan mengikuti jenjang varna ashrama dharma mulai dari brahmacarya, grahasta, varnaprasta dan sanyasin/bhiksuka sesuai dengan sastra.

    Para Maha Rsi yang kita kenal kebanyakan menapak jalan aman, yaitu pernah Grahasta dan setelah itu melakukan Vanaprasta dan akhirnya menjadi seorang guru kerohanian setelah menjadi Sanyasin…
    Kalaupun ada Maha Rsi Sanyasin yang masih hidup dekat dengan keluarganya, tetapi dia sudah tidak melakukan tugas kewajiban sebagai seorang Grahasta, tetapi secara profesional melakukan tugas dan kewajiban seorang Sanyasin.

    Pada jaman ini memang benar, sangat banyak mereka yang mengaku Sanyasin, tetapi tidak punya kualifikasi dan juga tidak menjalani hidup sanyasin di manapun dan digaris perguruan manapun. Di tempat saya di Tangerang Selatan, baru saja kemarin ada kasus seorang Kyai yang dikenal sangat fanatik akan maksiat sudah tertangkap basah menyodomi 10 santrinya…

    Karena itu, saat ini saya hanya bisa berpendapat, gunakan kata hati kita dalam meilih guru dan perhatikan dengan baik calon guru yang kita pilih.. apakah memang benar berkualifikasi atau tidak… tentunya patokan yang paling valid dalam memilih guru adalah sastra Veda itu sendiri.

    Saya tidak berani menyinggung nama orang perorang dalam forum ini, karena saya juga takut aparad… Jadi jika pendapat saya ini memang keliru, mohon diluruskan.. dan saya mohon maaf sebesar-besarnya untuk anda yang merasa tersinggung.

    vancha kalpa tarubhyas’ ca krpa sindhubhya eva ca
    patitanam pavanebhyo vaisnavebhyo namo namah

    Pelayan anda,-

  22. rauh, ketut // February 3, 2010 at 2:02 pm //

    mohon maaf.
    jadi sy cuma berharap kita jangan memberikan komentar yang mengarah pada pemikiran yang sesat. harus hati-hati. jangan inginnya kita berbuat baik tapi jadinya buruk. jangan suka membuat gaduh masyarakat yang tenang. biarkan mereka memilih jalannya dengan kata hatinya seperti yang anda bilang.
    untuk masalah melaksanakan tugas saya setuju tapi harus dibedakan antara catur asrama dan catur warna walaupun saling berkaitan.
    kalo masalah melaksanakan tugas itu berkaitan dengan catur varna dimana tugas brahmanalah untuk mengajarkan pengetahun rohani. coba baca lagi bhagavad gita tentang catur varna. tidak ada sangkut pautnya dengan apakah dia masih grahasta atau sanyasi.
    sedangkan catur asarama adalah tingkatan-tingkatan atau tahapan-tahpan dalam menempuh kehidupan spiritual;
    bahkan kalo dia snyiasi belum menjamin dia bisa mengajarkan kalodia masih terikan dengan kenikmatan material. bagi saya sanyiasi adalah tingkatan lepas dari ikatan material, bukan hanya sekedar formalitas semata. henya stelah didiksa sanyiasi tidak menjamin bahwa dia sudah lepas dari ikatan. buktinya banyak sanyiasi yang jatuh. makana harus dibedakan atara tingkatan kewajiban dan tahapan dalam melangkah menuju spiritual. bagi sya walaupun dia grahasta tapi kalo dia sudah melepaskan ikatan material sepenuhnya dialah sanyiasi. seperti suka deva gosvami yang tidak pernah diksa sanyiasi bahkan upacar kelahirannya pun tidak. dan yang terpenting seorang guru harus di perintahkan/ direkomendasi oleh gurunya. bukan hanya sekedar formalitas diksa. kalau gurunya sudah menyuruh menjadi guru maka dia adalah guru walaupun dia masih grahasta.
    bahkan prabhupada sendiri memberi penjelasan terhadap sloka Kiba Vipra…….” bahwa intinya tidak menjadi soal dia grahasta, sanyasi, brahmacari….. asalkan dia memiliki pengetahuan kesadaran krsna yang lengkap dia bisa menjadi guru seluruh dunia. kalo ndak salah ini saya temukan di penjelasan srimad bhagavatam tapi saya lupa skanda. dan ayatnya.
    jangan sampai anda pengikut prabhupada malah tidak mengikuti ajaran prabhupada. atau anda mengganggap penjelasan itu salah. anda bisa melakukan kesalah terhadap beliau. karena anda pengikutnya.
    dan sekali lagi jangan suka menganggap bahwa orang lain salah. diri anda yang benar. cobalah tunduk hati. seperti dalam nyanyian vaisnava kalo ndk salah bukuna berjudul song of Vaisnava lagu Trinad api Snicena…..
    belajarlah kitab suci dengan sungguh-sungguh dan tunduk hati. jangan kembangkan kesombongan dan keangkuhan karena itu sifat asura. Dambho Darpo………. (Bhagavad gita)
    begitu juga bagi teman-teman yang masuk, koment dan membaca di sini. hati-hati. gunakan kecerdasan anda untuk memilah.
    Loka samastha sukino bhavantu.
    jaya Sri Rama, Jaya Sitarama, Jaya Laksmana, Jay Hanoman………
    trimakasiH. salam Hormat. dan
    om santih-santih-santih om.

  23. vancha kalpa tarubhyas’ ca krpa sindhubhya eva ca
    patitanam pavanebhyo vaisnavebhyo namo namah

    Terima kasih atas tanggapannya. Saya hargai sekali tulisan2 Prabhu di Web ini. Cuma karena ada komentar yang kurang pas saya jadi ikut terlibat dalam forum ini. namun coba kaji lebih dalam lagi bahwa “seorang guru diksa itu tidak harus sannyasi”. Siapapun bisa jadi guru jika dia memang telah ditunjuk oleh gurunya. Ini kan berarti mengikuti perintah guru. Bukankah hebat jika ada seorang yang masih grahasta, kemudian ditunjuk untuk melanjutkan tugas untuk mengajarkan sebagai guru kerohanian, kemudian demi melaksanakan perintah dari gurunya tersebut dia melaksanakan pertapaan seorang sannyasi? Berkeliling kemana-mana demi mengajarkan ajaran Weda ini dan mengangkat jiwa-jiwa yang jatuh ini!Inilah makna mengendalikan diri yang dimaksud. Saya pernah dengar Srila Bhaktivinoda Thakur (yang adalah seorang guru grahasta) mengatakan bahwa :”Seorang grahasta carilah guru grahasta”. Sandipani Muni, guru dari Sri Krishna adalah seorang grahasta bukan?
    Oh ya mudah-mudahan kita selalu diingatkan dengan ayat yang menyatakan “kita bukan brahmana, kita bukan ksatria, kita bukan vaisya, kita bukan sudra, kita bukan brahmacari, kita bukan grahasta, kita bukan vanaprasta, kita bukan sannyasi, kita bukan apapun kita hanyalah pelayan daripada pelayan pengusa para gopi itu (Sri Krishna)”

    Semoga dengan dedikasi kita masing-masing Tuhan bisa menerima pelayanan kita dan mau menempatkan kita di debu kaki padmaNya.

  24. rauh, ketut // February 3, 2010 at 2:11 pm //

    Cara Trbaik Cari guru Mengangislah kepada tuhan, karena hanya beliaulah yang tahu mana guru yang benar-benar guru.
    kalo anda suka menipu, atau ingin ditipu maka anda akan diberikan guru penipu. jika anda jujur dan tulus kepada tuhan maka anda akan dikirimkan seorang guru yang bonafide.
    itu kata-kata teman saya yang ia baca dari buku guru vandana, pelajaran Srila Gour Govinda. Katanya.
    Bagi teman-teman bhakta hare krsna mohon maaf jika saya salah ngutip Ok.
    tolong aajari saya ngucapin mahamantra yang benar. saya tertarik tpi saya lupa mantranya.

  25. Dear all…

    maaf ikut nimbrung sedikit…

    perdebatan mengenai guru yang sangat menarik…

    Saya ingen bertanya 1 hal disini… Jika seseorang Grahasta melakukan pelepasan terhadap ikatan keduniawian, apakah itu tidak sama artinya dengan hidup Sanyasin? Dalam artian “guru grahasta” yang bonafide pada dasarnya adalah sama dengan guru sanyasin…

    gitu aja kok repot…

  26. kalau seorang guru grahasta tetapi tetap mencari duit buat menghidupi keluarganya… itu mah tidak dapat dikatakan melepaskan kehidupan duniawi… ya ga?

  27. @Priti an rauh Kt
    mangalam bhavatu sarvada
    semoga kesejahtraan selalu menyertai kita
    maaf sedikit pengen berbagi.
    varnasrama adalah tingkatan hidup masyarakat yang dimaksudkan untuk kita yang berada di dalam badan,khususnya bagi roh yang terikat dan kadang kadang bukan kadang kadang lagi tapi biasanya bahan orang suci yang murni pun masih mengikuti Varnasrama. namun perlu dipahami itu bukan tujuan tertinggi kita. tujuan tertinggi kita adalah “gopi bhartuh pada kamalayor dasa dasa anu dasa” menjadi pelayan dari pelayan pelayan penguasa para gopi, Sri nandana Krsna yang merupakan narayana sendiri.
    dengan kata lain, secara singkat, varnasrama itu sendiri masih bersifat material. jadi apakah seorang sanyasi, vanaprastha, Grhstha, , brahmacari,brahmana, ksatria, vaisya dan sudra, semuanya tidak layak menjadi guru kalau mereka bukan penyembah murni dan penyembah murni bukan Sanyasi, grhastha, sudra brahmana dll, tetapi mereka biasanya mengambil kedudukan sebagai salah satu didalam kalangan masyarakat. jadi apakah seorang sanyasi, grhastha maupun yang lain lain bisa menjadi guru diksa asalkan mereka mengajarkan tentang krsna. guru diksa mungki saja bukan penyembah murni, tapi mereka mesti mendapatkan pergaulan dengan penyembah murni. guru diksa Srila bhaktivinod thakur bahkan menentang Bhaktivinod thakur tapi guru siksanya, Srila jagannth B M, adalah guru siksanya. Krsna bukan guru diksa Arjuna tapi krpacarya adalah guru diksa Arjuna, tetapi tetap arjuna menghormati guru diksa.
    Bhaktivinod thakur tidak pernah merejek guru diksanya yang tidak binafide, meskipun sudah mendapat guru siksa yang bonafide. beliau tetap menerima dan menghormatinya. hanya orang yang tamak dan gila hormat yang mengajrkan orang lain untuk merejek guru diksa seseorang dan meminta mereka untuk diksanya kembali. diksa haya sekali tapi siksa berkal kali. tida pernah ada diksa 2 kali di dalam garis perguruan Bramma gaudia vaisnava sampradaya kecuali kalau guru diksanya nyata2 menyeleweng dan terbhukti dengan jelas.
    saya ingin bertanya kepada priti tentang apa yang dilakukan oleh yang menyebut diri sebagai guru tapi mengijinkan dan bahkan menerapkan hal seperti itu, atas dasar apa seorang guru berani mendiksa murid seorang guru yang masih exist? Srila prabhupada sendiri tidak mau melakukan itu ketika ada murid dari saudaranya mau minta diksa dari beliau. dan beliau menjadi sangat tidak suka ketika itu dilakukan oleh saudara yang sama. seorang guru harus bertindak sesuai dengan tindakan acarya sebelumnya dan berdasarkan sastra.
    saya sangat setuju dengan saran anda disini siapapun bisa menjadi guru apakah grhastha dll. dari 12 mahajana hanya 4 yang brahmacari naistiki sedangkan 8 yang lain semua grhastha, tetapi mereka semua mahajana.
    seorang dari acarya agung daru Sri Sampradaya, menegaskan guru diksa hanya sekali seterusnya guru siksa.
    kalau mau berdiskusi lebih banyak lagi, hubungi saya di krsnabalarama22@yahoo.com
    saya berharap kita bisa membagi bagi pengalaman.
    Om gurudevaya namah

  28. Dear all…
    ikutan ya….
    pendapat diatas semuanya benar,siapapun boleh jadi guru kok dak ada yg ngelarang,tetapi kalau kita berada dalam satu organisasi,apalagi iskcon yg dirikan oleh Prabhupada,Setahu saya,sejak Prabhupada menjadi pendiri Acharya iskcon murid2 beliau yang berhak memberikan inisiasi/diksa adalah murid2 beliau yg sudah pd tingkatan sanyasi yg tentunya sudah diakui oleh lembaga iskcon yg berwenang.Kalo diluar iskcon sy tdk tahu.Sanyasi jatuh, prabhupada bilang itu biasa karna jaman kali tapi sanyasi yg bisa bertahan itulah yg luar biasa.Sanyasi yg jatuh tdk lagi berhak menerima diksa murid,tp dia tetap bisa sebagai pengajar.ini sedikit yg saya tahu dr iskcon yg didirikan Prabhupada, jadi dalam iskcon yg didirikan Prabhupada tdk ada guru diksa yg grahasta,sedangkan guru siksa siapa saja bisa.
    suksme

  29. @wawan
    maaf, saya tidk tahu ini siapa, tapi sbelum menulis tlong pastikan dulu. GBC membenarkan adanya guru yang Grhastha di ISKCON. saat ini ada puluhan guru Grhastha di ISKCON. Salah satunya adalah Bhurijana Prabhu,murid Srila Prabhupada yang tingal di Vrndavan orang kelahiran USA. sudah tentunya guru di ISKCON harus secara resmi direkomendasi di ISKCON. Guru siksa saya, HG Gopi parana dhana Prabhu, salah satu dari murid senior srila Prabhupada dan seorang penerjemah di BBT dari sanskrit ke ingris yang sangat dihormati di ISKCON saat ini, yang telah melanjutkan terjemahan buku2 para gosvami adalah seorang grhastha dan beliau diakui dan diterima oleh GBC sebagai guru diksa dan diijinkan untuk mendiksa murid.
    ini bukan berarti saya menndukung guru yang grhastha yang mendiksa murid dari seorang guru yg terhormat dan lebih lebih yang masih exist meskipun ada banyak isu ttng beliau di internet. kita tidak bisa memakai internet sebagai landasan kebenaran karena saya tau isu tersebut dibikin oleh orang orang yang tidk bertanggung jawab. ini hanya sekedar informasi agar anda nanti tidk dimati kutu dalam berargument tentang guru grhstha di ISKCON. saya harap bisa dimaklumi maksud saya.

    Paling tidak kalau mau mengikuti atau kalau mengklaim sebagai pengikut Srila prabhupada, kita mestinya menerima guru yang secara resmi direkomendasi oleh Srila Prabhupada. Srila Prabhupada bilang kalau GBC adalah badan beliau, tidak berbeda dengan beliau dan telah menyerahkan wewenang sepenuhnya untuk menentukan siapa yang bisa menjadai apa. jadi hanya yang secara resmi direkomendasi oleh GBC yang patut diterima dn menjadi guru di ISKCON, kalau diluar itu, mungkin ada banyak guru namun mereka adalah “GORU” kata srila Prabhupada. memang banyak juga yang bonafide di luar ISKCON, namun mereka semua menjalani apa yang diuraikan di dalam Sasrtra. cuman kalau kita ingin mengikuti Prabhupada maka ikuti beliau atau badan yang ditunjuk oleh beliau. that’s all
    Sri Krsnabalaramabhyam namo namas te

  30. Gorgovinda // February 4, 2010 at 10:16 am //

    Sepertinya yang menjadi perdebatan di sini adalah prihal pecahnya dan keluarnya sebuah Ashram yang berposisi di padang galak akibat adanya perbedaan pandangan. Dan setelah saya cari-cari tahu, ternyata Ashram di padang galak tidak lagi tergabung dalam ISKCON Internasional, tetapi mereka membentuk organisasi sendiri, yaitu iskcon-indonesia. Sementara yang resmi berhubungan dengan ISKCON Internasional ada dalam naungan SSampradaya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI), yang terdaftar resmi dengan nomor: 220/ 113/ KBPM/ ORG.

    Saya copas artikel dari blog http://gaurangga.wordpress.com/about/

    Perkumpulan Hare Krishna, atau yang secara internasional dikenal dengan nama ISKCON (International Society for Krishna Cons-ciousness/ Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional), didirikan pada tahun 1966 oleh Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, biasa dikenal dengan nama Srila Prabhupada. Perkumpulan ini melanjutkan sebuah tradisi spiritual purba yang mengakar pada Bhagavad-gita dan kitab-kitab Veda, kitab wahyu tertua yang dikenal umat manusia. Bhagavad-gita diakui sebagai buku filsafat yang tiada bandingannya di dunia ini dan dipelajari oleh tokoh-tokoh besar dunia seperti Einstein, Thoreau, Kant, Gandhi, Bung Karno sampai mantan personil The Beatles mendiang George Harisson. Bhagavad-gita dan kitab-kitab Veda lainnya menyatakan Sri Krishna, yang pernah turun ke bumi ini lima ribu tahun silam dan memperlihatkan kegiatan rohani-Nya yang menakjubkan, sebagai Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa (sosok pribadi Tuhan). Tujuan ajaran ini adalah untuk membangkitkan kembali kesadaran Krishna, atau cinta kasih rohani kepada Tuhan, yang saat ini sedang berada dalam keadaan terpendam di hati setiap insan. Perkumpulan ini dikenal luas sebagai perkumpulan Hare Krishna karena latihan utamanya yakni pengucapan maha-mantra: Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare. Mantra ini berasal dari kitab Kalisantarana Upanisad, salah satu bagian dari kitab-kitab Veda (Yajur Veda).

    Sri Caitanya Mahaprabhu

    Sekitar lima ratus tahun silam (tahun 1486), Sri Krishna sendiri secara khusus turun ke bumi sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu, di Mayapur, salah satu desa di sudut kota Navadvipa di Benggala, India, untuk memperkenalkan cara pengucapan maha-mantra ini, yang disebutkan dalam kitab suci sebagai cara pencerahan atau cara meditasi yang paling mulia dan paling efektif untuk keadaan zaman seperti sekarang ini (zaman penuh perselisihan/ Kali-yuga).

    Keluar dari India, tersebarluas ke seluruh dunia

    Ajaran mulia ini tersebarluas ke seluruh dunia atas jasa Srila Prabhupada yang pada tahun 1965 meninggalkan India menuju Amerika Serikat untuk menyampaikan ajaran ini ke dunia Barat. Ajaran spiritual yang sangat ilmiah ini langsung memikat banyak pemuda Amerika yang frustrasi dengan kemapanan materialisme di Amerika Serikat. Mereka menekuni ajaran ini di bawah bimbingan Srila Prabhupada sebagai murid-murid beliau dan pada gilirannya mereka menyebarluaskan ajaran ini ke seluruh pelosok dunia. Di Indonesia perkumpulan Hare Krishna mulai dikenal sejak awal tahun 1980-an yang diperkenalkan oleh murid-murid Srila Prabhupada tersebut. Di Indonesia, perkumpulan Hare Krishna bernaung di bawah Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI), yang terdaftar dengan nomor: 220/ 113/ KBPM/ ORG.Praktisi dan kegiatannya

    Siapa pun, dari latar belakang apa pun, dapat mempraktikkan latihan kesadaran Krishna menurut kemampuan masing-masing, sesuai pemahaman yang diperoleh. Seseorang hanya perlu menerima informasi tentang ajaran ini, mempelajarinya dengan saksama, dan bila tertarik dapat mulai menjalaninya. Pengetahuan filsafat dan teknis latihan diperoleh dari buku-buku karya A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, dari pergaulan/ pertemuan rutin dengan sesama praktisi dan dari bimbingan guru-guru spiritual (sannyasin) yang merupakan murid-murid langsung Srila Prabhupada. Guru-guru spiritual ini berkeliling dunia menyampaikan ajaran ini dan secara rutin juga berkunjung ke Indonesia. Praktisi yang ingin memprak-tikkan latihan secara intensif bisa tinggal di Ashram-Ashram Hare Krishna yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, sebagai brahmacari atau siswa membujang. Sedangkan bagi yang tidak tinggal di Ashram bisa mempraktikkan kesadaran Krishna di tempat tinggal masing-masing. Sebagian besar praktisi perkumpulan Hare Krishna adalah orang yang berumah tangga yang berlatih kesadaran Krishna di rumah masing-masing bersama anggota keluarga, dan sekali seminggu pada hari yang disepakati, berkumpul di Ashram terdekat untuk mengadakan pertemuan mingguan. Latihan utama dalam perkumpulan Hare Krishna ini adalah meditasi pengucapan nama-nama suci Tuhan (maha-mantra Hare Krishna) baik melalui kirtana (menyanyi bersama-sama) maupun japa-yoga (mengucapkan sendiri dengan sarana tasbih atau japa-mala).
    Inisiasi, atau penerimaan sebagai murid
    Bagi praktisi yang sudah menekuni sampai taraf tertentu, mereka dapat mengajukan diri untuk diterima sebagai murid atau sisya oleh salah seorang guru spiritual dalam perkumpulan Hare Krishna, dan kemudian menekuni lebih lanjut ke jenjang pemahaman yang lebih tinggi. Bagi praktisi yang telah diterima sebagai murid (sudah menerima diksa), empat hal berikut merupakan prinsip yang akan dipegang teguh seumur hidupnya yakni 1) tidak makan daging, ikan dan telur, 2) tidak berjudi, 3) tidak menggunakan bahan-bahan yang memabukkan (minuman keras, obat terlarang, dsb.), dan 4) tidak berzinah.
    Buku-buku pengetahuan spiritual
    Buku-buku karya Srila Prabhupada mengungkap pengetahuan spiritual yang bersifat universal secara ilmiah, sehingga memikat orang dari berbagai latar belakang dan agama. Buku-buku ini telah menjadi bahan referensi di universitas-universitas di seluruh dunia. Salah satu buku karya Srila Prabhupada yang paling populer adalah BHAGAVAD-GITA MENURUT ASLINYA. Telah ada ratusan edisi Bhagavad-gita tersebar di seluruh dunia, namun hanya BHAGAVAD-GITA MENURUT ASLINYA yang mampu secara nyata mengubah hati pembacanya untuk kemudian menekuni kehidupan spiritual secara lebih intensif.
    Pemujaan Arca
    Di Ashram-Ashram Hare Krishna dilakukan pemujaan kepada Arca Tuhan, atau wujud rohani Tuhan yang termanifestasi secara nyata. Pemujaan Arca sama sekali bukan pemujaan berhala. Sesuatu disebut berhala jika ia lahir dari hasil angan-angan atau imajinasi manusia tentang Tuhan yang kemudian diwujudkan. Setiap manusia akan mengimajinasikan wujud yang berbeda-beda sesuai pemikirannya, dan hasil imajinasi manusia yang penuh keterbatasan itu dapatlah disebut berhala. Tetapi Arca Tuhan sama sekali berbeda dengan itu. Wujud Arca Tuhan diuraikan secara rinci di dalam kitab-kitab suci Veda India purba, kitab-kitab suci wahyu tertua yang dikenal umat manusia. Jadi wujud Arca Tuhan sama sekali tidak bisa disebut berhala. Mengenai pemujaan kepada Arca Tuhan, itu adalah seperti mengeposkan surat melalui kotak/ bis surat yang dipasang dan disahkan oleh kantor pos. Walaupun kotak surat berada jauh dari kantor pos, surat yang dimasukkan ke dalamnya pasti akan sampai ke kantor pos dan kemudian diantarkan ke tujuannya. Demikian pula, wujud Arca yang direkomendasikan oleh Tuhan sendiri melalui kitab-kitab suci tidaklah berbeda dengan Tuhan sendiri dan Tuhan menerima segala persembahan kita melalui wujud tersebut.

    Gerakan kesadaran Krishna juga memiliki beberapa ashram yang terdapat di berbagai tempat, antara lain:

    1. Ashram Sri Sri Gauranga Sankirtana, Jln. Tukad Balian No.108, Renon, Denpasar. Telp: (0361) 7424193.
    2. Kunjavihari ashram, jalan celuk no 16X, Desa Paksebali kecamatan Dawan Kab. Klungkung Bali
    3. Ashram Sri-Sri Radha-Rasesvara, Jln. Tanah Putih, Gg. Tanah Ayu, Blumbungan, Sibang Gede, Abiansemal, Badung. Telp: (0361) 7459110.
    4. Ashram Sri-Sri Nitai-Gaurangga, Banjar Sayan, Baleran, Desa Werdi Buana, Mengwi. Telp: (0361) 7445629.
    5. Ashram Sri-Sri Radha-Madhava, Desa Siangan, Bitera, Gianyar. Telp: (0361) 7449279.
    6. Ashram Kiskendha Krishnaloka, Lingkungan Br. Wani, Desa Gadungan, Selemadeg Timur, Tabanan. Telp: 08124602212.
    7. Pusat latihan Bhakti-yoga, Jl. Gempol, Banyuning, Singaraja. Telp: (0362) 22750.
    8. Gaurangga Bhakti-yoga Center, Jln. Ahmad Yani, No. 484, Amlapura, Karangasem. Telp: 085237814625.
    PUSTAKA BHAKTI-BHAGAVATA
    Perwakilan Resmi BBT Indonesia
    Jln. Tukad Yeh Penet, No. 22, Renon, Denpasar-BALI
    Telp: 081338319315, email: PustakaBhaktiBhagavata@gmail.com, anantavijaya@yahoo.com

    -Surabaya (031) 5932343, Malang (0341) 580186, Yogya (0274) 449962, Bandung (022) 7566194, Puncak, Bogor (0251) 253213, Jakarta (021) 5383873, 3454562, Kalimantan (051) 322653, Lombok 081805751081, Tolai, Sulawesi Tengah (0450) 26024, Kendari, Sulawesi Tenggara (0401) 325504.

  31. Hare krishna
    Dandavat

    Sebagai seorang yang masih sangat junior, saya hanya bisa mengatakan bahwa hubungan guru dan murid adalah hubungan yang bersifat pribadi dan tidak boleh dipaksakan.. Jadi jika kita merasa bahwa guru grahasta lebih baik buat diri kita pribadi, ya terima guru tersebut dengan kerendahan hati dan sikap pengabdian. Namun jika merasa guru sanyain adalah yang cocok buat kita maka berserah dirilah dan menerima ajaran suci beliau. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Sri Chaitanya; Murid yang benar-benar bonafide sudah pasti akan dipertemukan dan di arahkan kepada guru yang juga bonafide oleh Sri Krishna..

    Yang pasti menurut pemahaman setelah saya membaca “ISKCON laws” (ISKCON laws dapat di download di situs-situs ISKCON), seorang guru kerohanian harus memiliki kualifikasi minimun sbb;
    1. Disetujui sebagai guru dhiksa
    2. Bebas dari 6 jenis yang tidak diinginkan (kamini-kancana/keinginan seksual, harta dan kekayaan, pratistha/ambisi pribadi, nisiddhacara/bertentangan dengan prinsip-prinsip vaisnava, Kuti-Nati/berdiplomasi/berprilaku ganda, puja/keinginan untuk ibadah pribadi, Laba/keuntungan duniawi)
    3. Mampu mengajarkan kepada masyarakat umum
    4. Mahir dalam kitab suci.

    Jadi untuk menghindari aparad dan tumbuhnya ego sebagai yang merasa memiliki guru paling benar.. mari serahkan semua ini kepada tingkat bhakti kita.. semoga Krishna mengarahkan kita kepada guru yang benar-benar bonafide.

    Haribolo…

  32. hmmm, pertanyaan saya yang saya kira memilki jawaban singkat ternyata jauh dari kata sederhana, sekaligus menciptakan “ruang” dalam sisi spiritual saya pribadi..

    saya kira saya mengerti, bahwa tak sembarang dan tak sesederhana yang saya bayangkan, meniti jalan spiritualitas, yang tdk hanya bertumpu pd teori semata, namun mendalami/mengamalkan ajaran NYA.

    saya kira, saya dapat mengerti seoranng Guru seperti apa yang dapat menuntun saya meniti jalan tersebut..

    selama ini saya memang belum pernah memohon dengan sungguh2 untuk menemukan Guru kerohanian yg “bonafide/berkualitas” (meskipun saya kurang suka dengan istilah ini sebetulnya). semoga saya dapat menemukan Guru kerohanian sebagai penuntun, yang dianugrahkan/dengan tuntunan Tuhan..

    terima kasih atas penjelasan dari Saudara/i skalian,sangat bermanfaat bagi saya..

  33. @desri: guru spiritual itu bs datang pada anda sesuai karma anda… Tunggu saja. hehe
    guru spiritual yg brasal dr 4 sampradaya sah d indonesia maaybe cm ISCKON aj (Brahma), klo Rudra saya pikir sdh trputus.. : )

  34. ‘Hamba lahir dalam kebodohan yang paling gelap, lalu guru kerohanian hamba membuka mata hamba dengan pelita pengetahuan. Hamba bersujud dengan hormat kepada beliau.”

    Mohon menerima sembah sujud saya kepada semuanya…

    Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada saudara nyoman yang telah berbaik hati membenarkan pernyataan saya bahwa “guru tidak harus sannyasi” yang mana ini memang sesuai dengan sastra.

    Sebelumnya saya juga mengharapkan kepada semua yang sering terlibat dalam forum seperti ini, janganlah sembarangan memberikan komentar dimana kita belum tahu pasti kebenarannya. Masalahnya ini menyangkut kehidupan rohani. Jangan sampai karena kesalahan kita walaupun “cuma bercanda” menyesatkan perjalanan jiwa seseorang. Media internet seperti ini bisa kita manfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan rohani. namun hendaknya kita tetap berhati-hati, supaya keuniversalan Weda yang seharusnya membuat kita bangga menjadi Hindu tidak menjadi boomerang buat kita karena penafsiran-penafsiran yang diberikan oleh orang-orang yang belum berkualifikasi dalam hal itu. Pernyataan Wawan tentang Guru yang harus sudah sannyasi itu membuat saya ikut ngasi komen dalam forum ini.

    Untuk saudara Made, berhati-hati juga. Jangan terlalu cepat nanti memberi penilaian terhadap seseorang, apalagi seorang guru. Walaupun guru saya yang grahasta, tidak lagi mencari nafkah untuk keluarganya karena sibuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru kerohanian, saya tidak akan berani memberi penilaian jika nanti saya bertemu dengan seorang guru grahasta yang masih kelihatan mencari uang untuk keluarganya. Hal itu sebenarnya sah-sah saja, sepanjang uang itu dipakai untuk menghidupi keluarganya untuk tetap dalam bhakti kepada Tuhan dan dipakai untuk membantu misi pengajaran Weda ini. Lagipula dia masih grahasta, lain kalau sannyasi yang melakukan seperti itu. Mengumpulkan uang, bahkan punya “bank account” sendiri. Gimana coba? Tapi sebaiknya kita cari jalan aman yaitu “diam”, kalau kita memang tidak tahu kebenarannya.
    Guru saya tidak pernah mengajarkan kami untuk menghina siapapun. Beliau mengajarkan: “Lihatlah bahwa semua makhluk ini sedang melakukan pelayanan kepada Tuhan! Tumbuhan memunculkan bunganya agar bisa kita petik untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Dengarlah burung-burung bernyanyi, suaranya membuat tempat ini menjadi Vrndavan.” Beliau juga mengatakan: “Kalaupun ada yang menghina kita, berterima kasihlah karena kita diingatkan bahwa kita memang hina dihadapan Tuhan, jadi kita bisa lebih tekun melayani Tuhan.” Beliau hanya mengajak kami untuk “krsna katha”.
    Seorang “guru kerohanian” bukan hanya julukan. Beliau adalah utusan Tuhan. Semenjak lahir kehidupannya sudah diatur oleh Tuhan. Orang masih bisa merencanakan kehidupannya apakah dia akan brahmacari, grahasta ato sannyasi, tapi orang tidak boleh bercita-cita untuk menjadi guru. Guru saya menjadi guru karena perintah dari gurunya. Syukurlah atas karunia Tuhan sebelum beliau mengambil tugas sebagai guru, beliau punya sedikit usaha sehingga setelah bertugas sebagai guru, keluarganya masih punya nafkah karena beliau sekarang tidak lagi bekerja. Usahanya kini diteruskan oleh putranya.
    Sebelum bertugas sebagai guru pun beliau sudah sibuk mengajarkan. ke desa-desa, ke daerah pegunungan, dan setiap kali dikasi dana punia, beliau kembalikan untuk pengembangan di masing-masing tempat itu, bahkan menyumbang lagi. Kini beliau serahkan hidupnya kepada Tuhan. Dana punia yang diberikan, sering beliau kembalikan lagi atau dipake untuk program di ashram. Kami sendiri malu, karena jarang memberikan beliau dana punia.
    Guru saya dengan kesederhanaannya hanya memikirkan bagaimana memberitakan ajaran Weda ini ke seluruh pelosok-pelosok desa dan kota di Nusantara ini bahkan mungkin juga ke luar negeri. Walaupun mendapat tantangan dari berbagai belah pihak, beliau berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya bagaimana menyampaikan ajaran Weda ini. Beliau punya keyakinan yang besar: “Saya hanya menjalankan tugas untuk misi Tuhan, Tuhan pasti melindungi”. Kini PHDI sudah menerima beliau. Beliau sudah bisa menyampaikan ajaran murni Weda ini di Pura-Pura. Masyarakat di Jawa yang rindu akan ajaran kerohanian meneteskan air mata mendengarkan wejangan beliau dan bertanya; “Andakah orang suci dari Bali yang menurut ramalan, yang akan membangkitkan ajaran Hindu di Nusantara ini?.” Beliau hanya menjawab; “Saya tidak tahu. Saya hanya menjalankan tugas saya. Itu adalah kuasa Tuhan”.
    Seorang guru bukan manusia biasa.Kita juga tidak bisa membandingkan; guru yang ini kenapa tidak sehebat guru yang itu? Narada Muni bisa terbang ke seluruh alam semesta, sedangkan Guru-guru sekarang terbang berkeliling dengan pesawat, berani mengatakan mereka tidak sama bonafidenya? Sama Saja! Kenapa? Karena kita yang jadi muridnya juga tidak bisa terbang. He he he. (rilex dulu ya!!!)
    Tuhan mengutus Yesus untuk mengajarkan sesuai dengan kapasitas sebatas itu, Nabi Muhhamad, Sripad Sankaracarya bahkan Budha Sendiri mengajarkan hanya sebatas misi beliau. Tuhan sudah punya rancangan sendiri, kita yang kecil ini, jalan saja lurus ke depan tidak perlu megkritik siapapun. Mohon karunia dari semua penyembah agar kita bisa mencapai tujuan kehidupan kita yang tertinggi pulang ke kerajaan Tuhan.

    Untuk Ngarayana, saudara nyoman juga sudah menjawab: guru grahasta itu ada, atau tidak harus jadi sannyasi baru jadi guru. Itu pengklasifikasiannya berbeda. Mengenai sloka yang anda pilih dari Narada Pancaratra: :Jangan pernah menerima inisiasi/guru spiritual dari mereka yang menjadikan guru spiritual sebagai profesi”. Itu benar! Saya pun tidak mau punya guru seperti itu. Itulah sebabnya banyak guru-guru jatuh (yang artinya memang bukan guru utusan Tuhan, karena guru tidak pernah jatuh) setelah banyak dapat uang dari muridnya berhenti jadi guru dan membuka usaha. Atau ada juga yang menjadikan muridnya sapi perahan. Namun hati-hati juga menilai. Kadang ada juga guru yang kelihatannya mengumpulkan uang dari murid-muridnya, tapi kalau dipakai untuk tujuan rohani, jadi rohani kan?
    Oh ya anda juga mengatakan “hati-hati memilih guru, gunakan kata hati!” Ada sloka yang lebih tepat dalam hal ini : “…Dari berjuta-juta makhluk hidup yang mengembara itu, seorang yang sangat beruntung mendapat kesempatan untuk bergaul dengan seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya atas karunia dari Krishna. Dengan karunia baik dari Krishna dan guru kerohanian, orang yang demikian menerima biji pelayanan bhakti.” (CC. Madhya Lila 19.151).
    Mengenai pengendalian diri dan keterikatan itu letaknya di hati dan pikiran. Sri Caitanya menangis ketika ayah Beliau berpulang, dewi Kunti juga menangisi kematian Karna. Apakah mereka terikat? Wiswamitra pernah makan paha anjing karena lapar, apa beliau tidak bisa mengendalikan diri? Tapi temen-temen jangan mengambil keuntungan disini ya! Kita harus tetap hidup dalam kesucian dengan mengikuti 4 pantangan, Karena kita bukan Wiswamitra. He he he (rilex lagi…).
    Mengenai “Seorang guru harus jelas asal-usulnya.” Kalau penjelasannya mengenai catur sampradaya benar! Memang harus ada dalam garis parampara. Namun kalau asal-usul kehidupannya belum tentu. Rsi Walmiki sebelumnya adalah seorang perampok sebelum beliau menulis kitab Ramayana. Tapi kalau setelah menjadi guru, orang itu melakukan pelanggaran prinsip tanpa alasan yang jelas yang dibenarkan dalam sastra, itu yang perlu dipertanyakan.
    Tapi kami disini bersyukur karena kami tahu jelas asal-usul guru kami, bahkan kegiatannya bisa kami awasi setiap hari. Bagaimana kalau guru kita jauh hayooo?
    Jadi kesimpulannya disini jangan menghina siapapun apalagi penyembah-penyembah Tuhan. Sekarang terserah! Mau pilih guru grahasta, sannyasi itu karma kita dan tabungan bhakti kita masing-masing. Jangan saja mengkritik! Itu saja kok repot! (benar ga De). Dan Rauh ketut benar (hebat juga dia, tapi ko ga tahu maha mantra sih?!” kita harus menangis memohon karunia untuk mendapatkan seorang guru kerohanian.
    Saya menyampaikan ini bukan karena ketersinggungan, tapi kalau ada orang yang menyampaikan hal yang keliru, trus saya diam, salah juga kan?
    Ok deh! untuk Ngarayana teruslah menulis ya! Saya juga banyak mengambil referensi dari tulisan prabhu. Ga susah-susah nerjemahin. Sama-sama untuk melayani Srila Prabhupada. Thank’s for Bagan Vedanya.

    Untuk saudara kita Nyoman, sekali lagi saya beterima kasih atas tambahan penjelasannya untuk kita semua. Saya ikut terlibat di forum ini karena permasalahan bahwa “Guru tidak harus sannyasi!”. Hal ini sudah selesai.
    Tapi prabhu menanyakan masalah baru kepada saya. Saya tidak punya wewenang untuk menjawabnya. Saya hanya pelayan dari pelayan dari pelayan Tuhan. Menurut saya yang berhak menjawabnya adalah guru yang mendiksa sebelumnya, guru yang mendiksanya sekarang dan yang didiksa. Jawabannya ada di hati mereka dan hanya Tuhan yang tahu. Lagipula itu terlalu luas untuk dibahas ini. Itu urusan beliau-beliau. Saya takut membuat kesalahan. Saya tidak ingin kemajuan rohani saya terhambat. Guru saya selalu mengajarkan kami untuk mencintai para penyembah Tuhan bahkan seluruh makhluk hidup. Saya tidak ingin melanggar perintah guru saya.
    Prabhu juga menuliskan kata-kata Prabhupada: “GORU”, Prabhupada berhak berkata seperti itu! tapi kami, guru kami akan marah besar kalau kami ikut-ikut berkata seperti itu. Beliau mengajarkan kepada kami untuk selalu ikut ajaran Sri Caitanya Mahaprabhu:
    “Hendaknya seseorang memuji nama suci Tuhan dengan sikap rendah hati, dengan menganggap dirinya lebih rendah daripada rumput di jalanan; hendaknya ia lebih toleransi daripada sebatang pohon, bebas dari segala rasa bangga yang palsu dan bersedia memberi segala hormat kepada orang lain. Dengan sikap seperti itulah seseorang dapat memuji nama suci Tuhan senantiasa.” (Sri-Sri Siksastaka ayat ke tiga).
    Mohon maaf, kami disini semua masih belajar, khususnya saya, agar bisa menjadi pelayan dari pelayan dari pelayan Tuhan.

    Untuk Desri, senantiasa berdoa kepada Tuhan. Mudah-mudahan atas karunia Beliau Desri bisa bertemu dengan seorang guru yang bisa menuntun perjalanan sang jiwa ini.

    Sekali lagi untuk semua saya mohon maaf.

    vanca kalpatarubhyas ca krpa sindhubhya eva ca
    patitanam pavanebhyo vaisnavebhyo namo namah

  35. Sembah sujud di kaki padma Sri-Sri Guru dan Srila Prabhupada.

    Memang sangat-sangat benar secara administrasi ISKCON-INDONESIA tidak berada di bawah ISKCON internasional. Saya rasa itu sah-sah saja karena kita berada di bawah naungan NKRI. Dimana di dalamnya ada Departemen-Departemen yang mengatur dan Lembaga-lembaga keagamaan yang diotoritaskan seperti, Departemen Hukum dan HAM, Depag, Depdagri dan PHDI. ISKCON-INDONESIA telah mendapat ijin resmi yaitu:
    1. BADAN KESBANG & LINMASDA 220/218/KBPM/Org
    2. DEPARTEMEN HUKUM & HAM C-235.HT.01.02.TH2006
    3. DEPARTEMEN DALAM NEGERI 19/D.III.3/III/2006
    4. DIRJEN BIMAS HINDU DEPARTEMEN AGAMA RI DJ.V/Dt.V.1/1/BA.01.1/141/2006
    5. PHDI PUSAT 351/Parisada P/VIII/2009
    6. PHDI BALI 02.Perm/Parisada Bali/XIII/2005

    Suksma

  36. Saya sudah mengikuti diskusi ini dari awal, sangat menarik. Terima kasih kepada semeton yang sudah mau membagi pengetahuannya.
    Saya sempat searching di internet tentang “guru”. Mungkin link berikut ini bisa menambah wawasan kita.

    http://www.harekrsna.com/philosophy/gss/guru/what_is_guru.htm

    Matur Suksma

  37. Dear all…
    vanca…
    oke, saya mungkin ketinggalan informasi,maklum masih tahap belajar,kalo sekarang di ISKCON ada guru “diksa” yg grahasta.Saya gak mempersoalkan kalo itu sudah mdapt mandat dari pihak yg berwenag,seperti GBC dalam ISKCON. Tapi kalo ada guru, apakah dia sanyasi/grahasta yang memberi diksa/inisiasi pada seseorang,yang orang trsbut sudah didiksa/diinisiasi oleh guru lain,apakah ini jg dibenarkan???Apa ada sastra yg merekomendasikan hal ini?mohon karunianya untuk menjelaskannay.

  38. rauh, ketut // February 5, 2010 at 10:13 am //

    @gorGovinda
    slam hormat!
    Mohon maaf kalo komentar saya membuat salah satu pihak tidak nyaman.
    saya hanya ingin menegaskan bahwa dari buku-buku prabhupada yang saya baca tidak ada kriteria guru harus sanyiasi. begitu juga dalam buku-buku sai baba.
    untuk masalah adanya iskcon indonesia dan sakkhi, saya ndak ngerti. tapi bagi saya itu urusan mereka. bagi saya orang mendirikan organisasi entah apa namanya, yang penting dia tujuan jelas dan ijinnya jelas kenapa tidak.
    untuk masalah perbedaan pandangan, saya jadi ingin tahu. apa sih perbedaan pandangan yang dimaksud. karena sya denger2 keduanya sama-sama hare krsna dan memakai buku prabhupada sebagaia acuan.

    jaya sri rama, jay sita rama, jaya laksmana hanoman.
    loka samastha sukuni bhavantu.
    ………………………….

  39. @ priti and wawan
    Priti menulis:
    Tapi prabhu menanyakan masalah baru kepada saya. Saya tidak punya wewenang untuk menjawabnya. Saya hanya pelayan dari pelayan dari pelayan Tuhan. Menurut saya yang berhak menjawabnya adalah guru yang mendiksa sebelumnya, guru yang mendiksanya sekarang dan yang didiksa. Jawabannya ada di hati mereka dan hanya Tuhan yang tahu. Lagipula itu terlalu luas untuk dibahas ini. Itu urusan beliau-beliau. Saya takut membuat kesalahan. Saya tidak ingin kemajuan rohani saya terhambat. Guru saya selalu mengajarkan kami untuk mencintai para penyembah Tuhan bahkan seluruh makhluk hidup. Saya tidak ingin melanggar perintah guru saya.

    tangapan: kalau itu merupakan keraguan kenapa tidak ditanyakan kepada guru anda? apa jawaban dari guru anda? kita diajarkan untuk menghormati setiap orang dengan ajaran Trnad api sunicena… dst namun ingat Sri Caitanya, yang mengajarkan ini langsung memanggil Sudarsan Cakra untuk membunuh Jagai Madhai karena kesalahannya terhadap Sri Nityananda. kita tahu guru adalah represenative sri NItyananda. apakah anda akan berdiam diri kalau guru anda dihina oleh orang yang mengepostkan dirinya sebagai guru? lebih lebih lagi guru yang dihina adalah guru siksa dia dulu yang mmberikan pergaulan pada masa orang itu masih bhakta?? jadi ini pertanyaan saya, dengan mendiksa murid dari seorang guru yang masih exist tidak adalah sama dengan menghina guru tersebut.
    ingatah apa yang dilakukan oleh Sri Hrdoy caitanya ketika mendengar dari para pejiarah yang datang ke Vrndavan bahwa dukhi Krsna Das yang merubah nama diksanya beliau menjadi marah. sudah tentunya Hrdoy caitanya menjadi tenang setelah mengetahui nama itu dirubah oleh Srimati Radharani, namun siapakah kita yang berani mendiksa murid yang sudah diksa dari guru kerohanian yang berasal dari parampara dan mendapat wewenang oleh bada Srila prabhupada sendiri. apakah itu akan memuaskan prabhupada atau malah mengecewakan beliau. paling tidak denga cerita kemaren yang saya kutip tentang prabhupada, beliau sangat kecewa. kenpa mempertanyakan kebenaran takut membuat kesalahan? apakah anda tidak takut nanti akan tidak bisa menjawab kalau pertanyaan ini mncul lagi di saat orang yang harus menjawab sudah tiada?
    saya secara pribadi sudah pertanyakan ke kedua belah pihak, dan jawaan yan saya terima sangat jelas. namun saya berharap anda mau belajar dari kenyataa ini kalau anda memang serius untuk belajar.
    maaf kalau saya sangat keras dalam hal ini, karena ini menyangkut vaisnava aparadh yang nanti akan menjad-jadi. saya sama sekali tidak menghina siapapun tapi saya mempertanyakan kebenaran dan ingin mengetahui dengan jelas. kenapa murid HH KCS mhrj, seorang guru yang bonafide yang direkomendasi oleh GBC di diksa kembali?
    o kalau misalnya beliau tidak berkualifikasi, kenapa tidak dibawa dan diajukan ke GBC??? kenapa main hakim sendiri??

    WAWAN!! sastra melarang menginisiasi diksa kepada murid dari guru yang masih exist, bahkan guru yang sudah jatuh sekalipun kadang kadang orang tidak ngambil diksa lagi melainkan langsung guru siksa saja. asalkan guru siksa mapun guru diksa hadir secara pribadi, bukan hadir lewat ajaran dan buku saja. lewat buku buku dan ajaran kita bisa menerima siksa namun itu tidak cukup tanpa kita mendapat pergaulan langsung paling tidak pernah mendapat pergaulan langsung meski hanya sesaat.

  40. @Nyoman
    Makasih jawabannya.Hb

  41. “Hamba lahir di dalam kebodohan yang paling gelap, lalu guru kerohanian hamba membuka mata hamba dengan pelita pengetahuan. Hamba bersujud dengan hormat kepada beliau.”

    Sembah sujud saya kepada Srila Prabhupada, guru parampara dan semua Vaisnava.

    Sembah sujud saya kepada semua yang ikut terlibat di sini.

    @Nyoman
    Pernyataan saya yang anda kutip ulang itu bukan menunjukkan keraguan di hati saya. Tiada sedikitpun keraguan di hati saya mengenai apapun yang dilakukan oleh guru saya. Sebelum saya memohon karunia diksa dari beliau, saya menangis mohon karunia dari Srila Prabhupada agar beliau menuntun saya menemukan guru yang akan membimbing saya untuk melakukan pengabdian di kaki padma Srila Prabhupada.

    Saya rasakan sendiri perjalanan rohani saya, dimana saya dulu tidak menyukai Sri Krishna, dulu saya sangat mempercayai filsafat mayavadi, saya hampir dibaptis di Gereja dan hampir juga memutuskan untuk memohon diksa dari guru yang lain. Banyak teman-teman saya meninggalkan saya setelah diksa, banyak yang memandang kasihan kepada saya karena mereka menganggap saya salah memilih guru, bahkan ada yang dengan sindiran mengatakan “orang yang ingin ditipu akan bertemu guru penipu”. Tetapi terimalah dengan besar hati bahwa siapa yang ingin ditipu dan siapa yang penipu sebenarnya hanya Tuhan yang tahu.

    Sikap tidak mau menjawab saya terhadap kasus diatas bukan karena ketidaktahuan saya. Kesalahan yang saya maksud bermakna luas. Banyak yang akan membaca tulisan ini. Saya khawatir terhadap orang-orang yang tidak mengerti ketika mereka membacanya, menafsirkan lain terhadap apa yang sebenarnya dimaksud. Anda sendiri telah salah mengartikan maksud saya.

    Anda mengatakan sudah menanyakan sendiri kepada dua belah pihak. Kepada siapa anda sudah bertanya? Apa anda sudah menanyakan sendiri kepada yang didiksa? Anda menyuruh saya bertanya kepada guru saya. Untuk apa? Kenapa tidak anda sendiri yang datang dan menanyakan kepada beliau? Jika anda memang ingin tahu kebenarannya, silakan datang, tanyakan sendiri! Tahukan alamatnya?

    Guru saya sekarang sibuk sekali. Banyak program di ashram dan keliling mengajarkan. Saya sendiri, kalau bukan karena Wawan salah memberikan komentar, lebih baik saya gunakan waktu saya untuk mengucapkan nama suci Tuhan, daripada berdebat dengan kepala panas dan lupa melaksanakan sadhana bhakti kita kepada Tuhan.

    Pengetahuan rohani itu luas. Kita tidak bisa mengukur kualitas rohani seseorang. Tidak bisa juga kita melihat siapa yang paling sempurna mengikuti petunjuk Srila Prabhupada. Jangan juga menilai seseorang dengan membandingkannya dengan kemampuan kita sendiri. Kita yang bodoh orang lain belum tentu bodoh. Untuk pertama kalinya diantara jutaan manusia di Indonesia ada seorang yang menjadi guru kerohanian, lalu kita mengatakan itu tidak mungkin? Kuasa Tuhan tidak bisa kita ukur.

    Terima kasih atas perhatiannya yang ingin saya tetap maju dalam rohani. Saya pun akan mohon karunia anda untuk itu. Saya juga tidak ingin terlibat dalam vaisnava aparadha yang akan menghancurkan bhakti saya. Saya memohon karunia dari Tuhan Sri Krishna melalui kaki padma guru saya.

    Sebagaimana Ngarayana mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh ego, saya ucapkan terima kasih banyak. Namun sejauh pemahaman saya, tidak ada salahnya seorang murid yang mengagungkan gurunya, bahkan merupakan suatu kewajiban bagi seorang murid untuk memuji gurunya dan mempunyai keyakinan yang besar terhadap sabda-sabdanya. Mungkin banyak guru-guru di luar yang lebih dari guru saya, namun ijinkanlah saya untuk memuji guru saya dan menempatkan beliau dalam posisi yang tinggi di hati saya. Bagi saya pribadi (ini penting bagi seorang murid) dalam hati saya terus tanamkan bahwa “guru sayalah yang paling hebat”, karena beliau yang mau menyelamatkan jiwa saya. Beliau yang membasuh jiwa saya dengan pengetahuan rohani. Apa yang mesti saya pakai untuk membalas semua ini? Berkali-kali kelahiran pun tidak bisa. Rasa bangga ada juga yang bisa dipakai untuk melayani Tuhan, contohnya dimana Hanuman melilitkan ekornya sebagai tempat duduk dan membuatnya lebih tinggi dari Rahwana untuk menunjukkan kebesaran Sri Rama.

    Saya menganggap bahwa ISKCON-INDONESIA adalah warisan Srila Prabhupada untuk kami. Dengan inilah kami akan melakukan pelayanan untuk beliau. Tuhan Sri Krishna adalah milik seluruh alam semesta, demikian juga Srila Prabhupada adalah milik seluruh dunia. Mudah-mudahan beliau berkarunia menjadikan kami debu yang kecil di kaki padmanya.

    Mengenai pertanyaan Wawan, saya hanya mau menjawab sebatas bahwa: memang benar orang tidak boleh mendiksa orang yang sudah didiksa. (mengenai adanya hal seperti yang diungkap di atas silakan tanyakan kepada yang bersangkutan. Ada pertimbangan yang luas akan hal itu dan perlu keberuntungan untuk mengetahui kebenarannya).

    Mudah-mudahan diskusi kita mengenai “guru” ini bermanfaat untuk kemajuan rohani kita semua.

    Mohon maaf saya sampaikan sebesar-besarnya. Saya rasa ini adalah tanggapan saya yang terakhir. Saya sudah menjawab semuanya. jika ada yang merasa belum puas silakan datang langsung dan bertanya ke sini. (bisa ke alamat yang saya sebut di atas) Jika nanti ada yang mengajukan pertanyaan lagi dan saya tidak menjawabnya, ini karena saya ada kesibukan untuk hal-hal yang lebih penting. Urusan saya sudah selesai. Terima kasih.

    vanca kalpatarubhyas ca krpa sindhubhya eva ca
    patitanam pavanebhyo vaisnavebhyo namo namah

  42. ikut lagi ah.
    ni apa sih yang didebatkan?
    permasalahan awalna kan tentang guru apakah grahasta atau sanyasin? kan sudah dapat dimengerti bahwa guru tidak mesti sanyasin. kok sekarang malah meluas sampai urusan organisasi? GBC, Iskcon Indonesia, Sakki apalah lag tu?
    kayakna ni perdebatan antara sesama orang hare krsna. sya jadi bingung, kok antara keluarga sendiri berdebat. apa hanya karena beda organisasi.
    kalo menurut saya. kalo masalah diksa mendiksa, saya berpikir orang bisa diksa beberapa kali itu sah-sah saja. mungkin dia tidak cocok dengan guru itu, atau dia melihat bahwa gurunya jatuh sehingga dia ngambil diksa lg.lo masalah guru yang bonafied menurut saya dia harus di tunjuk/diperintahkan/diangkat oleh gurunya. ajarannya sesuai dengan ajaran gurunya(tdak Menyimpang). dan mengikuti aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam kitab suci. misalnya kalo dia sanyiasi harus melepaskan segala jenis ikatan termasuk wanita atau keluarga. kalo grahasta dia harus ikuti aturan grahasta dan abdikan hidup sepenuhnya untuk kerohanian (Bukan grahamedi). kalo masalah harus disahkan oleh GBC saya rasa tidak ada disebutkan di kitab suci manapun. Bahkan dari perjalanan prabhupada. beliau menjadi guru bahkan Acarya bukan karena di angkat oleh GBC dari organisasi Bhaktisidanta. bahkan ketika beliau Mendirikan ISKCON, tidak diakui oleh organisasi gurunya. lalu apakah ISKCON ini tidak Sah menjadi pelanjut parampara dari Bhaktisidantha?
    prabhupada ketika ditanya oleh wartawan sejak kapan dia jadi seorang guru. beliau jawab sejak guru saya memerintahkan saya. jadi jelas bukan?
    saya yang hanya suka membaca-baca buku beliau mengerti. masa kalian yang ikut organisasinya prabhupada tidak mengerti?
    bukankah GBC dibentuk untuk membantu dalam proses pengajaran, yaitu mengatur-dan memanajement kegiatan pengajaran? apakah ada tulisan atau surat prabhupada yang merekomendasi agar GBC mengangkat guru? sejauh yang saya baca dari buku prabhupada lilamrta tidak ada hal itu. kalo sekarang GBC mengangkat guru sepertinya tidak sesuai sastra? lalu apa pungsi guru-guru kalo yang ngangkat guru berikutnya harus dari GBC? sya berpikir hanya gurulah yang tahu siapa muridnya yang cocok jadi pelanjutnya, bukan sebuah badan organisasi.
    saran saya, daripada sibuk memperdebatkan masalah ini kenapa ndak sama-sama sibuk menyebarkan ajaran veda. kan masyarakat jadi cepat tahu veda.biar dari Sakkhi, Iskcon indonesia, Gaudya math, sai baba atau apalah namanya. asal jangan nanti Veda nya dipelintir menyesuaikan keinginan kita. ini yang salah. kalo diveda disebutkan “A” bilang saja A. jangan mengada-ngada.
    anda terus sibuk berdebat. orang lain akan ngambil untung tahu? coba cek berapa orang yang sudah pindah agama karena tidak mengerti dan memahami veda?
    “kalo sudah punya mobil sendiri, pake aja mobil sendiri jangan ngurusi mobil yang lain” kalo punya organisasi urus saja organisasimu jangan ngurus organisasi orang lain.
    atau biar aman berajapa sajalah yang bayak…………………
    biar dambho, darpo, kama kroda dll yang jelek2 cepat hilang. biar trinad api………….. cepat tumbuh. dan biar dunia ini aman.
    loka samasta Sukhino Bavantu!
    om santih-santih-santih.

  43. Maaf numpang lewat,… Kayaknya diskusi ini semakin seru!!!

    Saya sebagai orang awam kok jadi bingung, bapak Wawan mengatakan bahwa seorang guru harus diangkat/mendapat mandat dari GBC.. GBC Itu apa ya???
    Kalo ISKCON saya tahu, yaitu Organisasi yang didirikan oleh Prabhupada.
    Yang saya bingungkan!!! Apa benar kalo jadi guru kerohanian harus diangkat/di akui oleh GBC???? Tolong beritahu saya,.. “Dikitab suci mana dan sloka berapa yg menjelaskan seperti itu? Apakah GBC sudah dikenal di Kitab Suci???”
    Apakah hal ini juga berlaku di Indonesia??? Kalo berlaku, berarti pinandit-pinandita diBali tidak sah dong! Jangan-jangan Dahyang Niratha, Empu Kuturan, dll,.. yang di puja-puja di bali tidak sah, dan Pura-pura serta ajaran yang didirikan oleh beliau tidak sah juga. Berarti Hindu di Bali tidak sah dwonk,.. Krn tidak ada persetujuan dr GBC.
    Kalo ini di terapkan di bali bisa kacau!!! “Untuk masyarakat Bali tolong hati-hati ya,…!!” Saya pikir, sebenarnya seseorang bisa jadi Guru kalo sudah di sahkan/di tunjuk oleh gurunya, makanya di kenal system Aguron-guron ato bahasa Sansekertana Guru Parampara. Kalo memang harus disahkan/di angkat oleh GBC, apakah Narada, Vyasa Deva, Muhamad, Yesus atau resi-resi mulia yang kita kenal di bali juga diangkat Oleh GBC?
    Bahkan setahu saya Prabhupada menjadi guru bukan karena dia di sahkan oleh GBC. Walaupun Pada waktu itu sudah ada GBC dalam organisasi gurunya.
    Bagi Saya, Kalo seseorang sudah ditunjuk, atau diperintahkan oleh gurunya untuk menjadi Guru maka dia adalah pelanjut berikutnya & Dikatakan SAH(dr segi Rohani). Itu krn,.. seorang Guru dgn pengelihatan Rohaninya tau pasti bahwa Muridnya yg mana nantinya yg akan bisa melanjutkan misinya. Itulah yg disebut Parampara.
    Sekali Lagi yang ingin saya tanyakan. “Di Kitab Suci mana, Skanda berapa, Sloka berapa yang menyebutkan bahwa Guru kerohanian dikatakan Sah & Bonafide jika dia sudah disahkan atau di angkat oleh GBC??????????”

  44. Swastyastu

    @Nyoman, GorGovinda, Wawan
    Inilah saya rasa permasalahannya kenapa “Priti” tidak mau mengungkap permasalahan ini di muka umum. Kita semua sama-sama ingin menjadi penyembah Tuhan. Karena tingkah laku kita orang menilai negatif terhadap organisasi yang telah didirikan Prabhupada gimana? Tampilkan prilaku seorang penyembah! Buat Tuhan Sri Krishna terpuji di mata orang dengan tingkah laku kita. Sekarang coba lihat! Silakan jawab sendiri!!!

    Yang lain yang ikut membaca diskusi ini mari kita khusuk berdoa kepada Tuhan.

  45. @agus, rauh, priti
    GBC adalah suatu badan yang dibentuk oleh Srila prabhupda untuk melanjutkan misi beliau setelah beliau berpulang. maf GBC itu dibentuk oleh Srila Prabhupada dan belum ada sebelum beliau. iya memang guru tidak harus disahkan oleh GBC tapi di ISKCON, itu harus. meskipun bonafide dan penyembah murni, mereka tidak akan membuat kegaduhan dengan menerima murid sebelum disahkan oleh GBC. itu aturan di dalam ISKCON yag ditetapkan oleh Srila prabhupada, masalah di luar organisasi ISKCON, apapun itu dan bagaimanapun itu, mereka punya hak tersendiri dan bukan berarti mereka tidak bonafide. saya berbicara tentang di dalam organisasi ISKCON.
    Kitab Veda tidk menyebutkan GBC tapi kepribadian Veda menyebutkan dengan tegas melalui wakilnya yaitu guru kerohanian, ini kutipan Srila prabhupada:
    Now to give me relief, the GBC members… I shall expand into twelve more so that they can exactly work like me. Gradually they will be initiators. At least first initiation. You must make advance. That is my motive. So, in that way I want to divide it in twelve zones. And we have to make more propaganda throughout the whole world. Now if you think that the world is so big, twelve members are insufficient, then you can increase more than that and make the zone similarly divided. It is world affair after all.
    “Sekarang untuk memperingan atau mengurangi beban saya, para angota GBC…saya akan memperluas 12 lagi sehinga mereka bisa bertindak persis seperti saya. Berangsur angsur mereka akan mendiksa. Paling tidak mendiksa pertama. Kalian harus memajukan diri, itulah keinginan saya. Karena itu saya ingin membagi menjadi 12 bagian ( Zone). Kita hendaknya mempropagandakan di seluruh dunia, dan sekarang kalau anda pkir dunia ini terlalu besar maka 12 itu belum cukup dan membuat bagian dengan pembagian yang sama. Ini merupakan urusan atau tugas dunia” (Los angles 25mei 1972)
    ini pernyataan prabhupada

    iya guru bisa melihat siapa yang akan menjadi guru tetap saat ini,kita mendengar kabar dari INdia, banyak orang yang ingin jadi guru mengatasnamakan perintah guru tanpa ada bukti nyata dan bahkan ada yang membual. kadang kadang juga dengan disuruh mengajarkan itu bukan berarti disuruh mendiksa murid yang sudah didiksa. sekali lagi saya mau menegaskan, kalau memang kita ingin bilang apa yg dikatakan oleh kitab suci, maka mari kita bila seperti it. jelas sekali kalau mendiksa murid orang yang sudah diksa adalah salah dan mengecewakan seorang acarya agung sprti Srila Prabhupada, kenapa masih lakukan itu??
    terus sekarang tolong berikan saya bhukti sastra yang menyebutkan ada ijin untuk mendiksa murid yang gurunya masih exist??

    “Satyam Eva Jayate” kenapa kita takut mengungkap kebenaran di dpan umum? kalau memang ini kebenran maka harus diungkap. apakah kita mau membungkus buah busuk dengan pembungkus kado mahal?? mungkin orang akan terharu tapi begitu mereka masuk kalau mereka melht ini, dimana kita tempatkan muka kita?
    lebih lebih dari itu, ini bukan pertengkaran tapi mempertemukan permasalahan dan mencari jalan [pemecahan bersama dan saling menambah wawasa. ingat dengan adanya forum ini, masalh guru Grhstha dan sanyasi menjadi clear. sudah tentunya dalam diskusi pasti ada kepanasan, tapi kita harus ahli mengambil point positif.
    saya minta maaf kalau saya kadang kadanag keras, tapi ini bukan kalimat saya tapi kalimat sastra. saya hanya mengulagi dan mempertanyakan.
    pertanyaan saya. saya merasa diri saya juga orang jatuh, tapi saya punya keyakinan kalau kata sastra tidak pernah salah.

    @ sada siva
    iya tingkah laku dan etika memang mennetukan dlm hidup spiritual, tapi apakah tingkah laku dalam menangapi kenyataan dengan terbuka kurang lebih baik daripada menangapi kenyataan dengan sembunyi sembunyi? saya merasa orang akan lebih kagum kalau kita mau terbuka dengan keadaan kita bukan dengan menyatakan oranisasi ini paling baik tapi nyatanya setelah melihat ke dalam tdk spt apa yang kita sampaikan. lebih baik diketahui apa adanya, ya ngak.
    mangalam bhavatu sarvada
    om Ramakrsnabhyam namah

  46. bhagirath // February 7, 2010 at 1:54 pm //

    @ smuanya
    maaf ikut ikutan di tengah jalan, maafkan kalau saya keliru. bantu perbaiki saya.
    saya hrap yang namanya Kt Rauh itu sahabt saya yg disingaraja dulu. lo bener, senang ketemu lagi.
    perbedaan pendapat selalu ada di dalam setiap individu karena mereka semua individu dan pasti ada perbedaan. kita tidak akan pernah satu, tapi kita satu mencari Krsna sebagai Kepribadian tuhan yang maha esa.
    kalau saya bilang patung garuda itu hanya sayap dan ekor, sedang kan orang lain bilang bukan, patung garuda tidak sayap dan ekor, tapi sayap dan mulut runcing, apakah ada yang salah?? beda pendapat tapi pandangan dari sisi yag berbeda namun benda yang sama dan uraian yang benar.

    masalah!!masalah!!! dan masalah!!! huhhh, dimana kita tidak akan ada masalah? kemanapun, apakah di dlm kesadaran Krsna maupun di luar,, maslah akan selalu ada di dunia ini, tapi di dalam kesadaran Krsna kita tau cara memcahkan permasalahn berdasarkan sastra di bawah bimbingan para senior dan guru kerohanian. jadi apakah orang tau kita bermasalh ataupun tidak, itu sendiri adalah maslah. sekarang mampukah kita tidak dibuat stress oleh maslah itu?? itu yang terpenting. saya setuju dengan prabhu sada siva, lihat ke dalam. namun masalahnya kalau kita lihat kedalam sendirian, kita hanya akan melihat WAH KOK SEMUANYA BEGINI?? HANYA SAYA YANG BENAR,!!!! kita tidak akan bisa bercermin kalau cermin hati kita masih kotor. saya berusaha sejak tahun 92, dan saya yakin sudah banyak yang lebih dulu dari saya, disini saya ingin mengungkapkan isi hati saya, saya masih merasa diri saya benar dan orang lain harus ikut saya. karena itu saya perlu guru dan bimbingan para senior saya. biar mereka yang menilai saya, gimana caranya??? ya dengan bersama mereka-mereka itu senantiasa. Sadhu sanga dengan vaisnava. dan sudah tentunya ada usaha dari dalam untuk memperbaiki diri. 50% USAHA 50% BERKAT, complete 100%

    scara pribadi saya menghormati orang yang dimaksud karena orang itu adalh guru siksa saya yang mendidik saya dulu, namun berhubungan dengan maslah mendiksa orang yang sudah diksa, itu 100% salah paling tidak berdasarkan apa yang pernah saya baca dan pelajari dan pertanyakan kepada guru saya di gurukul di Vrndavan, tapi tidak ada salahnya guru orang india, orang barat, orang timur, orang bali orang apapun, asalkan mereka tidak orang hutan saja,, he he he (KAPI VAIRAGYA). untuk diksa lagi bagi orang yang sudah diksa, itu harus ada penyampaaian kepada gruu bersangkutan dengan alasan yang tepat. namun guru yang beretika tidak akan mendiksa murid dari seorang guru yang masih exist melainkan hanya akan menerima sebagai murid sebatas siksa. itu aturan standar etika vaisnava
    karena kalau kita kembali lagi guru harus orang INdia, kemal lagi kena penyakit kulit. kulit hitam, kulit merah, kulit sawo matang kulit jeruk kulit mangga dan moga aja ngak ada yang bilang nanti wayang kulit .. ya ngak. krsna kan hanya wayang kulit, ngapain percaya Krsna,,, wah bahaya itu brother an sister!!!!

    menjadi guru di ISKCON harus dibawah GBC, seratus persen benar, namun janga lupa ISKCON hanya salah satu bagian dari salah satu 4 Sampradaya yang masih ada. saat saya di INdia, masih ada banyak sadhu bonafide yang berasal dari keempat sampradaya ini dan mereka mengajarkan. tapi kalau mau mengikuti Prabhupada,ikuti GBC, karena itu permntaan beliau. saya suka dengan kutipan dari Nyoman. makasi, saya mencari kutipan ini dari dulu. bukan hanya 12 tetapi bahkan lebih banyak. nah bagaimana kalau GBC salah???? ini pertanyaan yang bagus tapi konyol. BC mewakili Prabhupada, tapi kalau dalam usahanya mereka salah, maka jangan kira Srila prabhupada akan diam, beliau akan datang untuk memperbaiki. kalau kita tulus, ” sarvasya ca aham hrdi sanivistho” Krsna akan menggiring kita dari dalam hati kita. sudah tentunya kalau sudah nyata nyata kita lihat guru melangar satra dan kita tidak pertanyakan penjelasannya kepadanya terus masih mengagungkan mereka, ya salah kita jangan salahkan Krsna atau Srila Prabhupada.
    kesimpulan pendapat saya: kalau mau mengikuti ISKCON, ikuti GBC dan Prabhupada sudah berjanji untuk menjamn kita dan kalau mau diluar itu, mungkin ya atau mungkin tidak, sekarang sebagai makhluk individu, kita pilih sendiri.

    Jay Krsna Balarama
    sri gurudevam saranam mama
    om suabyai namah
    Varnasrama kijay

  47. Om Swastyastu,

    Saya KECEWA!!!

    Saya adalah seorang mahasiswi dimana saya mengambil mata kuliah yang lumayan berat dan kami sekerluarga sibuk, sehingga perlu sedikit ketenangan. Saya dan orang tua pernah beberapa kali datang ke pesraman yang ada di Denpasar. Ayah saya membeli buku Bhagawad Gita dan sampai sekarang kami sering baca bergilir di rumah. Kenapa di rumah? Karena kami sekeluarga belajar tidak ingin menjelekkan ataupun mendengar orang lain dijelek-jelekan, apalagi di tempat pesraman. Demikianlah kenyataannya saat kami berkunjung ke sekian kalinya ke salah satu pesraman di sekitar Denpasar, kami ditanya; “Kemana saja biasanya Bapak?” (Tanyanya kepada ayah saya). Ayah saya menjawab; “Itu pesraman yang ada di Padang Galak” Langsung salah satu dari mereka berbicara yang tidak mau saya ungkapkan di sini, salah satu kata mereka yang saya ingat; “Oh yang disana di luar iskon!” dan saya adalah orang awam yang ingin mencari ketenangan dan SANGAT-SANGAT ingin belajar. Jadi ibuk saya cepat kasi kode Ayah saya untuk cepat-cepat pulang.
    Nah saat kejadian itulah kami sementara belajar membaca Bhagawad Gita di rumah.
    Saya searching di internet tentang “bagan-bagan Veda” eh ada, tapi ternyata ada perdebatan di sini, yang membuat saya semakin KECEWA.
    Di sini saya Cuma mau bertanya, sebenarnya apa yang anda ingin cari dalam hidup ini? Apalagi anda yang sama-sam begitu hebatnya dengan penampilan filsafat-filsafat atau yang disebut sloka-sloka dalam Weda.
    Kalau anda berpikir guru anda paling hebat atau paling pengikut prabupada, knpa anda tidak pake untuk diri anda sendiri? Kita hidup tidak sendiirian di dunia ini. Banyak beragam manusia dengan beraneka kemampuan masing-masing.
    Kita tidk akan pernah bisa menyamakan apa yang kita yakini kepada setiap orng, jika itu terjadi anda akn trus tidak tenang karena anda mau menang berdebat. seperti kata saya di atas, apa yang anda cari? Karena kemarahan dan egois, anda semua akan rugi. Kenapa rugi? Karena satu anda ditertawakan dan kedua anda akan sakit karena amarah anda.
    Apa yang akan kami contoh dari anda? Ayah saya kasi saran sebelum menceramahi orang, ceramahi dulu diri sendiri dan belajarlah saling menghormati apapun kemampuan orang. Kalo anda blng guru anda apa istilahnya “bonafide” atau hebat, cintailah guru anda, jngan seebaliknya mengejek guru oran lain. Kadang-kadang sering kita lihat dalm kenyataan yang diejek bisa jadi lebih hebat. Maka dari itu kita jangan habiskan wktu untuk menilai orang lain tetapi pergunakanlah waktu untuk memperbaiki diri, sling menghargai dan menghormati. Saya baca ada istilah, ditipu atau tidak beruntung. Orang ditipu atau tidak beruntung hanya Tuhan yang tahu. Karena kalau saya bilang hanya guru saya yang paling suci, hanya saya paling ikut Prabupada, guru lain begini begitu. Yang bilang begitu kan anda. Orang lain belum tentu.
    Kalo itu terus diperdebatkan. Kasiiiiian deh anda-anda.

    Om Santih Santih Santih Om

  48. @Dewi

    perdebatan itu perlu saudari Dewi,karna perdebatan adalh salah satu cara kita untuk mendapatkan “Kebenaran” dan merupakan pembelajaran yg bagus bagi kita2.Jadi jgn kecewa! Yang penting berdebat dg kepala dingin dan tentunya didasari dg sastra.halo !!! Saudari Desri masih ikutan menyimak kan? ambil hikmahnya ya!

  49. @ Dewi
    disini bukan masalah mengejek atau menjelekkan, tetapi mencari kebenaran. kita ambil yang positif saja. ketenangan?????? apa arti ketenangan sekarang kalau ktia tidak akan tenang untuk berkal kali kehidupan?? kalau dengan berdiskusi seperti ini kita akan mendapatkan cara untuk menghindari maslah yang akan kita hadapi masa yang akan datang,kenapa takut untuk tidak tenang dalam satu kehidupan.
    saya merasakan keenangan disini sering sekali membawa keresahan di masa yang akan datang. kita hidup sebagai manusia memang untuk tujuan mengekang diri. mengekang diri berarti tidak tenang,, yang ngak. ketidak tenangan sementara yang akan membawa kebahagiaan yang sejati yang kekal.

    masalah orang luar ISKCON maupun tidak, itu tidak menjadi masalah sama sekali asalkan kita bisa melakukan pengabdian sici bhakti kepada Bhagavan Sri Krsna atau sri Narayana. mohon direnungkan, di asrama hare Krsna ada ribuan orang di seluruh dunia dan untuk menjaga semuanya sangat sulit agar bisa semua bertinda sesuai dengan yang diinginkan, tapi kita harusnya jangan menghindari pergaulan Vaisnava hanya karena satu atau dua orang saja. mungkin itu adalah ujian dari tuhan untuk melihat ketabahan kita mencari beliau dengan cara bergaul dengan para penyembah.
    jadi mohon jangan hindari pergaulan dengan para penyembah atau para vaisnava karena tanpa pergaulan mereka kita tidak akan mampu bertahan lama di rumah. untuk mencari kebenaran sangat sulit, ada banyak godaan.

    Hare Krsna
    insignificant servant of all vaisnavas
    Bhagirth ds

  50. Om Sai Ram

    Saya kemarin dikasi tahu oleh teman saya Dewi masalah murid yang sudah didiksa lalu didiksa lagi oleh guru lain. Saya dimintai pendapat. Begini, saya di Sai sudah lama dan beberapa temen2 sy ada ke Hare Krisna. Jujur, awalnya memang saya kesel, tapi setelah saya pikir2 bhw prjlanan rohani setiap org punya jalan sendiri2. kalo sy menegur temen sy yang ke Hare Krisna, apa sy tdk egois? Sedangkan saya sdang bljar mengendalikan smua hal2 yng buruk yang datang dri pikiran saya. Mngkin temn saya yang ke Hare Krisna ada keingintahuan mereka apa yg ada di Hare Krisna. Akhrnya sy stiap ktemu teman sy yang ke Hare Krisna sy brsalaman dan sampai skrang kami bertman baik. Mnurut sy kalo seorng murid mencari guru lain knapa diperdebatkan? Apalagi organisasinya dah lain. Kcuali di dlm organisasi yang sama terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan peraturan organisasi baru perlu dibicarakan, itupun dg hati yang tetap saling menjaga stiap kata2 krn kalo itu organisasi rohani, di atas bumi ini masih bnyak sad ripu yang perlu penanganan yg serius (tetap dengan cinta kasih) seperti bagaimana kita bs menhentikan judi, minuman keras (alkohol), orang2 slingkuh dll, untk membuat Bali ini bersih dari hal-hal sperti itu. mngkin tidak 100% hilang tapi paling tidak bisa membuat aura Bali lebih rohani. Tapi kalo orang2 rohani bertengkar aduuuuuh…. Saya yang pertama malu. Bagaimana kita bs bertemu Tuhan?
    Sbenarnya ibuk ato bapak yang menulis dimana tulisannya menyuruh yang ingin tahu knapa diksa lagi dengan guru lain, sudah disuruh menanyakan langsung kepada yang bersangkutan, karena itu bukan haknya dia. Saya pribadi membenarkan karena etika seorang murid ya… memang begitu. Sperti di sekolah biasa, kita ke sekolah hanya mencari ilmu saja, masalah ada murid baru yang diterima di sekolah kita itu urusan guru. Entah knapa dia pindah itu tidak pantas kita tanyakan ke guru karena itu bukan urusan kita. Mungkin tanyakan kepada yang bersangkutan.

    Kita blajar rohani semua permasalahan yg menimpa kita, kita berdoa saja dan tenangkan diri dulu sambil berpikir bagaimana sebaiknya kta bersikap, karena Tuhan akan mencatat dan menilai setiap gerak dan kata-kata kita.

    Demikian tulisan sy. Bukan maksud menggurui.

    Om Sai Ram

  51. Kepada semua sepuh dan yang tahu sejarah pecahnya ISKCON di Indonesia, saya harap bersedia menceritakannya secara mendetail agar kita-kita ini yang baru menapak dan mencoba memahami ajaran filsafat Prabhupada tidak bingung…

    1. Kenapa Ahram Krishna Balaram di Padang Galak memisahkan diri?
    2. Kenapa sekarang tidak disatukan saja?
    3. Apakah ashrama Padang Galak mendasarkan ajarannya pada Prabhupada ataukah tidak?

    Mohon penjelasan sepuh-sepuh semua…. kebingunangan saya mungkin juga di rasakan oleh temen-temen yang lain yang membaca blog ini. Oleh karena itu kewajiban anda-anda yang paham betul untuk menceritakan kronologinya..

    Ditunggu bro and sister tulisan kronologi sampai ashram ini memisahkan diri..

  52. @made
    dak perlu di kupas disini saudara made,coba bro tanya ke asram Gaura Hari Gianyar pd prabhu Wiswambara/prabhu Kisora,mungkin mereka bisa menjelaskannya.

  53. Olderiarifia // May 10, 2012 at 9:40 pm //

    Kok dikit penjelasannya n’ aku tetep gak ngerti

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



%d bloggers like this: