subscribe: Posts | Comments

Bhagawad-Gita, Kitab Suci Penganjur Perang dan Kekerasan?

0 comments

Ada sekelompok orang yang menyebut Sri Krishna sebagai tokoh yang tidak bermoral, karena memaksa Arjuna berperang di medan perang Kuruksetra. Padahal, menurut mereka, Arjuna telah tegas-tegas menolak terlibat dalam pertempuran yang akan memaksanya membunuh kakek, guru, kerabat dan sanak saudara yang ia hormati dan ia cintai! Benarkah Bhagavad-gita semata-mata mengajarkan perang dan kekerasan? Pelajaran moral apa yang terkandung dalam perintah Sri Krishna yang menegaskan bahwa Arjuna tetap harus berperang?

“Saya sudah muak dengan agama. Saya malas membaca kitab suci lagi. Termasuk baca Bhagavad-gita. Bukankah justru gara-gara ayat-ayat  suci itu manusia saling berperang?” cetus seorang teman dalam sebuah diskusi di ashram. Kebetulan dia baru pertama kali itu hadir dalam acara pendalaman Bhagavad-gita yang kami lakukan rutin setiap hari minggu siang.

Setelah bhajan dan arati, kami memilih sebuah sloka, membacanya bersama-sama, lalu membaca ulasannya. Biasanya kami memilih satu sloka tertentu yang relevan dengan tema yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Kemudian diikuti dengan sesi diskusi. Saat itulah, teman Hindu tadi menyela dan memberikan pendapatnya yang agak mengejutkan itu. Selama ini kami mengenalnya sebagai mahasiswa yang juga terlibat aktif  di sebuah LSM yang mengupayakan dialog dan perdamaian antar agama.

Kawan itu lalu minta ijin untuk menjelaskan latar belakang pernyataannya itu.  Semua orang tahu, katanya memulai cerita, bahwa pertikaian di Timur Tengah telah berlangsung puluhan tahun. Pertikaian antara Israel dan Palestina, misalnya,  terus saja berlanjut. Padahal berbagai upaya perdamaian sudah dilakukan, tapi tetap saja konflik itu tak kunjung berakhir. Bulan-bulan terakhir ini, konflik itu justru makin meluas dan menyeret negara-negara lainnya.

“Saya pribadi berpendapat bahwa konflik itu tidak akan pernah selesai. Soalnya, kalau mau jujur, konflik itu diilhami dan dilandasi oleh perintah-perintah kitab suci masing-masing agama kelompok yang bertikai itu” sambungnya, lalu terdiam sejenak sambil memandangi kearah kami. Suasana jadi hening. Kami yang berjumlah sekitar dua puluh orang dalam aula itu, mulai mengerti kearah mana pembicaraannya.

Dia lalu melanjutkan, bahwa sampai kapanpun, konflik di Timur Tengah itu tidak akan pernah berakhir secara tuntas. Karena, kedua belah pihak mendasarkan perjuangannya kepada perintah kitab suci agama mereka. Dalam kitab suci itu, diakui atau tidak,  ada  pemaparan tentang sejarah pertikaian antar nenek moyang mereka, disertai klaim bahwa pihak merekalah yang dilindungi dan dikehendaki oleh Tuhan. Dendam itu terus akan berkobar di dada generasi penerus mereka masing-masing, terlebih setelah mereka membaca kitab sucinya. Bukankah sejak kelahirannya, tiga agama  yang sama-sama berasal dari Nabi Ibrahim itu memang selalu bertikai ? Bukankah kalau hanya dibaca secara tekstual, apa adanya, banyak ayat yang seolah mengajarkan dan membenarkan kekerasan kepada umat lain? Karena itu, selama masing-masing kelompok masih berpegang teguh pada apa yang tersurat dalam kitab-kitab mereka, selama itu  pula jalan perdamaian masih jauh dari harapan. Kami merasakan adanya kebenaran dalam penuturannya.

“Tadinya saya masih menaruh harapan. Kitab-kitab Hindu pasti tidak begitu. Hindu khan terkenal agama yang cinta damai, penuh toleransi. Saya pikir sikap orang Hindu yang umumnya toleran itu pasti karena pengaruh ajaran kitab sucinya. Lalu saya coba pelajari kitab suci Hindu.  Maksudnya sekalian ingin memperoleh pencerahan dan pengetahuan rohani…” kisahnya panjang lebar.

Kebetulan waktu itu, lanjutnya, Bhagavad Gita lah yang paling mudah dia temukan. Susah menemukan kitab yang lainnya. Dia lalu mulai membuka halaman-halaman kitab suci itu dengan penuh semangat.

“Tapi saya bingung dan kecewa berat. Baru baca bab satu dan bab dua saja saya sudah ngeri. Saya tidak jadi meneruskan membacanya “ ujarnya mengenang penyebab kekecewaannya.

“Lho, ngeri? Baca kitab suci kok malah ngeri? Mengapa begitu?” seorang teman lain bertanya heran.

“Ah…, ternyata Bhagavad gita itu tidak pantas disebut kitab suci. Masak sih kitab suci kok isinya menganjurkan perang dan pembunuhan…Lagi pula disabdakannya khan di medan perang?”

Dia berkesimpulan bahwa semua kitab suci sama saja. Mengajarkan kekerasan, padahal seharusnya menciptakan kerukunan dan perdamaian.

Kawan itu  lalu mulai mengkritik Krishna penyabda Bhagavad gita. Menurutnya, Krishna adalah seorang tokoh yang tidak punya moral, karena  memaksa Arjuna untuk membunuh kakek, sanak keluarga dan gurunya sendiri. Padahal Arjuna sudah menolak untuk berperang, dengan dalih yang sangat manusiawi dan menjunjung nilai-nilai ahimsa. Bukankah ahimsa adalah dharma tertinggi menurut Weda? Tapi Krishna terus membujuknya dengan sebuah tawaran iming-iming yang menggiurkan. Lalu dengan fasihnya, kawan tadi  mengutip terjemahan sloka 2.37 Bhagavad-gita, menyebut sloka itu sebagai tawaran yang kekanak-kanakan.

“Wahai Arjuna, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga, atau engkau akan menang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangun dan bertempurlah dengan ketabahan hati…”

“Nah, kalau Krishna mendesak Arjuna untuk membunuh Bhisma, Drona, dan para Kaurawa yang masih sanak saudara sendiri hanya demi masuk surga, apa itu bukan amoral namanya?”

Jelaslah bagi kami, mengapa teman tadi akhirnya emoh membaca Bhagavad-gita. Argumennya memang cukup kuat, dan tuduhan bahwa Bhagavad-gita mengajarkan perang dan kekerasan itu sudah sering pula dilontarkan orang yang membaca Bhagavad-gita sekenanya saja. Jadi, kawan itu bukan orang pertama yang mengkritik perintah Krishna kepada Arjuna.

***

Bhagavad-gita dikenal sebagai simbol kedamaian dan pencerahan batin. Mahatma Gandhi menyatakan “Bhagavad-gita adalah sumber kedamaian bagiku. Manakala keputusasaan datang menghampiri, aku membuka lembaran-lembaran Gita dan selalu kutemukan ayat yang memberikan pengharapan.”

Meski demikian, Gandhi sendiri, penganjur ahimsa (anti kekerasan) yang termashyur itu juga mengakui bahwa beberapa sloka dalam Bhagavad-gita itu penuh misteri dan pemaknaannya tidak  mungkin dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Misalnya, dalam Sloka 18.17 Sri Krishna menyatakan bahwa kegiatan membunuh sekalipun dapat bersifat rohani, dan merupakan salah satu bentuk yoga  : “Orang yang tidak digerakkan oleh keakuan palsu dan kecerdasannya tidak terikat, tidak membunuh, meskipun ia membunuh orang di dunia ini. Ia juga tidak terikat oleh perbuatannya”.

Dalam karyanya Anasakti Yoga, Gandhi mengomentari ayat di atas sebagai berikut : “ Makna ayat-ayat Bhagavad-gita ini tampaknya didasari pada  cita-cita ideal di dunia hayalan, yang sulit ditemukan contohnya di dunia nyata  ini”.

Karena alasan itulah, sebagian orang bahkan terang-terangan menuduh Krishna sebagai tokoh provokator yang tidak cinta damai. Anggapan demikian  itu sering disebarluaskan oleh orang non Hindu untuk memojokkan kitab-kitab Hindu. Menurut mereka, Gita tidak pantas dijadikan pedoman moralitas, karena jelas-jelas bertentangan dengan semangat cinta damai dan anti kekerasan.

Benarkah anggapan itu? Benarkah  selama ini Bhagavad-gita telah menjadi sumber inspirasi bagi tindak kekerasan ataupun pembunuhan yang mungkin dilakukan oleh umat Hindu yang ekstrim? Haruskah kita menghentikan kegiatan membaca Bhagavad-gita, seperti yang dilakukan oleh aktivis perdamaian tersebut?             Kalau sabda Krishna hanya berdasarkan pada sebuah keadaan ideal yang tidak praktis bagi kehidupan nyata kita saat ini, masih perlukah kita mendasarkan hidup kita pada ayat-ayat Bhagavad-gita?

Orang yang menetapkan standar moralitas menurut ukuran mereka sendiri, pasti akan meragukan kesimpulan Krishna dalam Bhagavad-gita tersebut. Karena itu, marilah secara obyektif memahami mana yang tergolong  kekerasan dan mana yang bukan kekerasan. Barulah kita bisa menyimpulkan, apakah Krishna memang benar-benar provokator bagi tindak-tindak kekerasan  seperti yang dituduhkan orang selama ini.

Banyak orang yang lupa, bahwa percakapan rohani antara Krishna dan Arjuna yang disebut sebagai Bhagavad-gita itu sebenarnya  adalah  bagian dari kitab yang lebih besar, yaitu Mahabharata. Walau sering dibaca sebagai buku yang terpisah, sesungguhnya Bhagavad Gita yang terdiri dari 18 bab itu adalah text bab 25 s/d bab 42 dari  Bhisma Parva. Bhisma Parva adalah salah satu dari 18 parwa Mahabharata.  Untuk dapat memahami secara benar amanat Bhagavad-gita, kita harus memahami pula secara utuh  kitab Mahabharata. Dengan demikian kita bisa memahami  apa yang melatarbelakangi terjadinya perang di Kuruksetra, dan tujuan disabdakannya Bhagavad-gita

Kalau kita mengikuti kisah Mahabharata, sebelum perang di Kuruksetra terjadi, sebenarnya segala upaya damai telah diupayakan. Para Pandawa berhak meminta kembali kerajaan Indraprastha, yang memang hak milik sah mereka. Namun para Kaurawa menolak  permintaan mereka. Lalu, para Pandawa mengalah, dengan hanya meminta lima desa sebagai tempat tinggal. Sebagai ksatriya, tugas mereka adalah pelindung dan administrator pemerintahan. Karena itu, mereka merelakan kerajaan sah mereka, dan hanya meminta wilayah seluas 5 desa agar tetap dapat menjalankan tugas dan kewajiban sebagai ksatria.

Duryodana yang serakah menolak mentah-mentah permintaan itu. Dengan congkak ia bahkan mengatakan “Wahai Pandawa, jangankan lima desa, tanah seluas ujung jarum pun tidak akan aku relakan untuk kalian.”

Segala upaya damai masih tetap diupayakan. Bahkan, tanpa diminta oleh siapapun, atas kehendak dan inisiatif-Nya sendiri sebagai seorang awatara,  Krishna  bertindak sebagai duta perdamaian. Krishna telah menunjukkan ‘niat baik’ sebagai pihak yang cinta damai. Krishna pergi ke Hastinapura dan membujuk para Kaurawa agar mau berdamai dengan para Pandawa. Tapi apa yang terjadi? Dengan congkaknya, Duryodana justru memerintahkan prajuritnya untuk menagkap Krishna. Saat dikepung oleh balatentara Kaurawa itu, Krishna telah menunjukkan identitas-Nya yang sejati, dengan menampakkan wujud wiswarupa Nya. Toh, Duryodana tetap menghendaki perang terjadi, karena ia merasa yakin dengan jumlah tentaranya akan mampu mengalahkan Pandawa. Jadi, siapa yang gemar perang?

Kalau benar Krishna memang gemar berperang, penganjur pembunuhan, dan merestui tindak kekerasan, mengapa Krishna mengagungkan ahimsa sebagai “sifat mulia, sifat agung yang tumbuh dari pengetahuan yang benar” setidaknya tiga kali dalam Bhagavad-gita (Bhagavad-gita 10.5, 13.8, dan 16.2)? Krishna mendukung sepenuhnya perintah Weda : ahimsyat sarva-bhutanam : ‘Jangan melakukan kekerasan kepada makhluk hidup manapun.”

Perlu kita catat pula, bahwa walaupun sabda dan argumen Krishna dimaksudkan untuk semua orang, namun dalam konteks ini, perintah Krishna untuk bertempur khususnya ditujukan kepada Arjuna. Adalah bodoh kalau kemudian ada orang yang  membenarkan tindakan kirminalnya hanya dengan mengutip misalnya ayat “sang roh tidak dapat dibunuh ataupun dapat membunuh” tanpa memahami konteks makna ayat seperti itu.

Sebuah tindakan tergolong kekerasan atau bukan kekerasan, ditentukan oleh prinsip tugas dan wewenang.  Dalam sistem sosial Weda, Arjuna dan para Pandawa lainnya adalah para ksatriya.  Kata ‘ksatria’ sendiri dalam dalam bahasa Sanskerta berarti ‘orang yang melindungi dari bahaya’. Menjadi tugas para ksatriya untuk melindungi masyarakat dari serangan musuh. Sama halnya dengan tugas TNI melindungi rakyat Indonesia dari serangan apapun.

Menurut Bhaktivedanta Swami, dalam kitab Weda disebutkan, ada enam musuh yang harus dilawan dan bahkan boleh diberikan hukuman mati, yaitu : 1) orang yang meracuni; 2) orang yang membakar rumah orang lain; 3) orang yang menyerang dengan senjata mematikan: 4) orang yang merampok kekayaan orang lain; 5) orang yang menyerobot tanah milik orang lain; dan 6) orang yang menculik istri orang lain.

Duryodana dan saudaranya telah melakukan enam jenis kejahatan tersebut. Duryodana telah meracuni Bhima, pernah berusaha membakar Pandawa dan Kunti, bibinya sendiri dengan menjebak mereka  di istana kardus. Kaurawa telah merampas kerajaan para Pandawa (Indraprastha), telah berusaha merebut Drupadi dan ingin menjadikan wanita itu sebagai budak. Walau upaya perdamaian telah dilakukan, Duryodana tetap ngotot ingin berperang, karena yakin bahwa bala tentaranya yang jauh lebih banyak jumlahnya akan mampu mengalahkan Pandawa. Jadi, menurut anjuran Weda, Duryodana sudah memenuhi syarat sebagai musuh yang harus dilawan dan boleh dihukum sampai mati.

Sebelum peperangan, Krishna memberikan pilihan kepada Pandawa dan Kaurawa. Mereka dipersilahkan memilih salah satu : pasukan Krishna yang tak terkalahkan,  atau memilih diri Krishna yang tidak akan ikut bertempur. Demikianlah. Ketika kedua belah pihak itu akhirnya harus berhadapan di medan Kuruksetra, para Pandawa memilih Krishna sebagai penasehat mereka, sedangkan Duryodana tergoda untuk memilih bala tentara kerajaan Mathura. Krishna bertindak sebagai kusir kereta perang Arjuna.

Di sinilah mulainya Bab Pertama kitab Bhagavad-gita. Saat melihat kakek, guru, kerabat, dan sanak saudara  berdiri berhadapan siap bertempur, Arjuna terduduk lemas, badannya gemetar, busur dan panah  terlepas dari tangannya. Ia memutuskan untuk tidak bertempur, dengan memberikan argumentasi berdasarkan ajaran-ajaran moralitas menurut Weda sebagai pembenaran. Baginya, lebih baik menjadi pengemis dan hidup sebagai peminta-minta, daripada menanggung dosa besar akibat membunuh orang- orang yang patut dihormatinya.

Arjuna juga beralasan bahwa apabila para suami terbunuh, maka hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita keluarga akan ternoda, dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah  keturunan yang tidak diinginkan (Gita 1.40). Peperangan adalah selalu salah bagi orang yang mampu berpikir secara jernih. Lebih baik menempuh jalan non kekerasan.

Mendengar semua argumentasi Arjuna itu, sambil tersenyum Krishna berkata :

“Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal” (Gita 2.11).

Menurut pengertiannya, kekerasan bukan hanya menyangkut kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan terhadap mental. Termasuk pula pelanggaran terhadap pelaksanaan hak asasi manusia. Kekerasan yang dilakukan oleh Duryodana tidak hanya menyangkut kekerasan fisik semata. Ia telah menghalangi hak warga kerajaannya untuk hidup berdasarkan prinsip ketuhanan. Dalam sebuah pemerintahan kerajaan, biasanya warga kerajaan menganggap seorang raja sebagai wakil Tuhan di dunia. Seorang raja wajib memberikan kesempatan penuh warganya untuk dapat mengembangkan kehidupan spiritual dan kesadaran kepada Tuhan.

Selama ini, para Kaurawa telah banyak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dharma. Karena itu, sebagai ksatriya, tugas Arjuna sudah jelas. Jauh dari sekedar  gemar berperang, Krishna memerintahkan Arjuna untuk menjalankan tugasnya. Tapi Arjuna adalah ksatria yang lembut hati, berhati mulia dan tidak ingin melakukan pembunuhan itu. Krishna lalu mengingatkan Arjuna tentang hakekat diri manusia, tentang hakekat sang roh. Bahwa roh tidak akan pernah terbunuh dalam keadaan manapun. Kalau orang mau membaca sampai habis Bhagavad-gita dan tidak hanya berhenti sampai bab 2, orang akan memahami segala misteri kehidupan ini. Bhagavad-gita bukan hanya berbicara tentang kekerasan.

Mungkin orang masih akan memprotes. Tindakan Arjuna adalah sebuah pembalasan dendam, dan penghukuman terhadap Duryodana tetap saja merupakan tindak kekerasan dan patut dicela.

Tapi, apakah pemaksaan atau pembunuhan selalu berarti kekerasan yang tercela? Dan apakah perilaku yang tampaknya bersahabat selalu berarti non kekerasan? Saat mengamputasi anggota badan pasien, seorang dokter bedah mungkin dianggap bertindak sadis, dan orang awam bisa saja mengambil kesimpulan ‘betapa sadis dan biadabnya tindakkan dokter itu’. Tetapi tindakan dokter bedah itu tidak melanggar hukum. Mengapa? Karena ia menjalankan tugas yang telah ditetapkan baginya. Tindakan amputasi ataupun operasi yang dilakukannya  yang tampaknya penuh kekerasan  justru bertujuan baik, menyembuhkan sang pasien.

Sementara itu, seorang teman mungkin berusaha menghentikan kebiasaannya mabuk atau merokok. Kalau kemudian, atas nama sikap persahabatan, saya menawarinya minuman keras ataupun rokok, tindakan saya yang tampak bersahabat itu sebenarnya adalah tindakan kekerasan. Selain menyebabkan gangguan kesehatan akibat minuman keras dan rokok yang saya berikan, barangkali saya juga bisa disebut melanggar kebebasan teman itu untuk menjalani pilihan hidupnya. Adanya peraturan dan disertai sanksi denda bila merokok di tempat-tempat umum, adalah salah satu bukti bahwa merokok adalah salah satu tindakan yang membahayakan.

Atau, anggap ada seorang polisi yang menolak melakukan kekerasan saat tugas mewajibkannya melindungi seseorang dari serangan perampok. Maka, tindakan polisi melakukan non kekerasan itu, dengan sendirinya adalah pelanggaran terhadap hak warga negara untuk memperoleh perlindungan.

Seorang anak yang baru sadar setelah menjalani operasi berat, mungkin akan menangis meraung meminta makanan karena rasa haus dan lapar. Tapi dokter tidak menuruti kemauan anak itu dengan tidak memberinya makanan.  Memberikan makanan kepada anak dalam kondisi seperti itu justru merupakan tindakan kekerasan.

Contoh-contoh tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita, betapa tidak mudah menentukan mana yang kekerasan  dan mana yang bukan kekerasan menurut standar moralitas buatan manusia. Karena itu, kita membutuhkan sebuah standar moral absolut yang melampui standar relatif benar-salah dan baik-buruk di dunia ini.

Sekali lagi, pertempuran di medan perang Kuruksetra merupakan pilihan terakhir yang tidak dapat dihindari lagi. Bagi Arjuna, penolakannya bertempur dilandasi oleh kemuliaan hati dan sifat welas asihnya yang besar. Tapi, kalau Arjuna meninggalkan medan perang itu, apakah para Kaurawa akan menganggap Arjuna sebagai ksatria berhati mulia? Tidak! Mereka akan menganggap Arjuna sebagai pengecut.

Marilah kita simak sloka 2.30 s/d 2.38 agar dapat memahami secara utuh alasan Krishna meminta Arjuna tetap bertempur :

“Wahai putra keluarga Bharata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. Karena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun. Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang ksatriya,  hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu engkau tidak perlu ragu-ragu.

“Wahai Arjuna, berbahagialah para ksatriya yang mendapat kesempatan untuk bertempur seperti itu tanpa mencarinya, kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga bagi mereka”

“Akan tetapi, kalau engkau tidak melaksanakan kewajiban dharma-mu, yaitu bertempur, engkau pasti akan menerima dosa akibat melalaikan kewajibanmu, dan dengan demikian kemashyuranmu sebagai ksatriya akan hilang”

“Orang akan selalu membicarakan engkau sebagai orang yang hina, dan bagi orang yang terhormat, penghinaan lebih buruk daripada kematian”.

“Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemashyuranmu akan menganggap engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja, dan dengan demikian mereka akan meremehkan engkau”

“Musuh-musuhmu akan menjuluki engkau dengan banyak kata yang tidak baik dan mengejek kesanggupanmu. Apa yang dapat lebih menyakiti hatimu daripada itu?”

“Wahai Putra Kunti, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga atau engkau akan menang perang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunlah dan bertempur dengan ketabahan hati”

“Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah  dengan demikian, engkau tidak akan dipengaruhi oleh dosa.”

Jadi, Arjuna mendapat perintah langsung dari Tuhan untuk membinasakan para Kaurawa. Tugasnya hanyalah bertempur, hanya sebagai alat, sekedar menjalankan kewajiban, tanpa mengikatkan diri kepada hasil tindakannya. Inilah sesungguhnya ajaran yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai “sepi ing pamrih, rame ing gawe”.

“Karena itu, bangunlah. Siap-siap untuk bertempur dan merebut kemashyuran. Kalahkanlah musuhmu dan menikmati kerajaan yang makmur. Mereka sudah dibunuh oleh apa yang Kuatur, dan engkau hanya dapat menjadi alat dalam pertempuran, wahai Savyasaci” (Bhagavad-gita 11.33).

Sekali lagi, Arjuna hanya berperan sebagai instrumen atau alat, agar upaya penegakan prinsip-prinsip dharma yang dilakukan oleh Sri Krishna tampak wajar dan’rasional’ dalam pandangan manusia biasa. Padahal sebenarnya, para ksatria itu telah dibunuh oleh Krishna sendiri. Hal itu tampak dalam uraian Arjuna tentang apa yang dilihatnya setelah ia menerima berkah pandangan mata rohani (caksu divyam) dari Krishna.

“O Wisnu yang berada di mana-mana, ketika hamba melihat Anda dengan berbagai warna Anda yang bercahaya dan menyentuh langit, mulut-mulut Anda yang terbuka lebar dan mata Anda yang besar dan menyala, pikiran hamba goyah karena rasa takut. Hamba tidak dapat memelihara sikap mantap maupun keseimbangan pikiran lagi.  O Penguasa para dewa, Pelindung dunia-dunia, mohon memberi karunia kepada hamba. Hamba tidak dapat memelihara keseimbangan ketika melihat Anda seperti ini dengan wajah-wajah Anda yang menyala seperti maut dan gigi yang mengerikan. Di segala arah hamba kebingungan.”

Semua Putra Dhrtarastra, bersama raja-raja yang bersekutu dengan mereka, Bhisma, Drona, Karna – dan semua pemimpin ksatria di pihak kita – lari masuk ke dalam mulut-mulut Anda yang mengerikan. Hambamelihat beberapa di antaranya tersangkut dengan kepala-kepalanya hancur di antara gigi Anda.

Bagaikan ombak-ombak banyak sungai mengalir ke dalam lautan, seperti itu pula semua kesatria yang hebat ini menyala dan masuk ke dalam mulut-mulut Anda” (Bhagavad-gita 11.25 – 28).

Kembali dalam kehidupan nyata kita. Dalam prakteknya, “kekerasan” sering kita butuhkan untuk memelihara ketentraman hidup masyarakat banyak. Masih ingatkah dengan terbunuhnya gembong teroris Dr. Azahari di Batu, Malang beberapa bulan lalu? Orang dapat saja mengutuk tindakan penyergapan yang dilakukan oleh Detasemen 88 yang mengakibatkan tewasnya orang yang paling diburu itu sebagai tindak kekerasan yang tidak manusiawi. Bagaimanapun itu adalah tindak kekerasan.

Anehnya, beberapa hari setelah peristiwa pembunuhan yang menggegerkan itu, anggota Detasemen 88 justru mendapat penghargaan dan kenaikan pangkat dari pemerintah. Mengapa, karena pembunuhan yang mereka lakukan adalah demi menjalankan perintah negara. Mereka memang mendapatkan mandat dan perintah untuk itu. Tapi sebaliknya, sering kita dengar pula kabar pemecatan atau pemberian hukuman terhadap anggota TNI atau polisi, karena telah melakukan pembunuhan di luar prosedur. Mereka menggunakan senjata apinya untuk kepentingan pribadi.  Jadi, sama-sama kekerasan dan sama-sama pembunuhan, tapi yang satu mendapat tanda jasa dan kehormatan, yang lainnya berbuah pemecatan dan hukuman. Apa yang membedakannya? Sekali lagi, tugas dan kewajiban.

Dari uraian di atas, kiranya jelas bahwa Krishna bukanlah tokoh tak bermoral yang doyan perang dan gemar kekerasan. Bhagavad-gita bukanlah kitab yang bisa digunakan sebagai pembenaran untuk tindakan kriminal yang dilakukan seseorang. Kita boleh lega, karena selama ini, belum pernah kami mendengar ada orang Hindu yang melakukan agresi atau peperangan dengan umat agama lain dengan alasan menjalankan perintah Krishna dalam Bhagavad-gita.

Lagi pula, kalau benar Bhagavad-gita adalah kitab penganjur perang dan kekerasan, mengapa seorang tokoh anti kekerasan seperti Mahatma Gandhi selalu membawa-bawa Bhagavad-gita kemanapun beliau pergi? Mengapa semakin banyak orang dari berbagai belahan dunia kini memeluk agama Hindu berawal dari membaca Bhagavad-gita? Tentu saja, yang harus kita lakukan adalah membaca Bhagavad-gita dengan didasari kerendahan hati, dibaca menyeluruh dengan bantuan bimbingan guru spiritual yang telah memahami amanat rohani kitab suci itu. Kita butuh kehadiran seorang guru atau dosen bahkan untuk mengerti dan memahami ilmu pengetahuan material sekalipun. Apalagi untuk memahami dan menghayati misteri pengetahuan rohani seperti yang terkandung dalam Bhagavad-gita.

Jadi, sayang sekali kalau kawan Hindu tersebut tidak pernah lagi membaca Bhagavad-gita hanya karena belum memahami secara benar amanat rohaninya. Mungkin dia belum pernah membaca komentar Dr. Edwin H. Powell, seorang professor sosiologi State University of New York yang menyatakan sebagai berikut : “Kalau memang kebenaranlah yang berhasil, seperti yang ditegaskan oleh Pierce dan para pengikut filsafat pragmatisme, maka pasti ada kebenaran dalam Bhagavad-gita Menurut Aslinya, sebab para pengikut ajarannya memperlihatkan ketenangan dan keriangan  yang jarang ditemukan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini yang pada umumnya hambar dan  keras”. Banggalah menjadi Hindu!

Dikutip dari Tulisan Suryanto, M.Pd 

Facebook : Kang Surya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

%d bloggers like this: