Agama Hindu atau Agama Bali?

Beneh-benehan ngaba raga di Jawa nah Gung, iraga nak maagama Bali, eda engsap ring kawitan, perajini ngastiti bhakti ditu nyen nah (Baik-baik bawa diri di Jawa ya Gung, kita ini beragama Bali, jangan lupa dengan leluhur, rajin-rajin sembahyang disana ya)”. Kira-kira seperti itulah pesan kakek saya ketika berpamitan saat akan merantau ke Jawa pada tahun 2003 silam. Pesan yang sangat mulia dari seorang tetua yang hendaknya selalu diingat.

Namun ada sebuah kata-kata yang tertanam jelas dalam ingatan saya, yaitu “Agama Bali”. Kenapa para tetua kita di Bali lebih nyaman menyebut agama yang mereka anut sebagai agama Bali? Dilihat dari sejarah pengakuan keberadaan agama Hindu di Indonesia, harus kita akui bahwa pada awalnya yang diakui hanyalah agama dan kebudayaan yang hanya ada di Bali. Sehingga para pemuka agama di Balipun membentuk perhimpunan yang disebut Parisada Hindu Bali. Namun karena menyadari bahwa Hindu tidak hanya ada di Bali, tapi juga ada di daerah lain di Indonesia, akhirnya Parisada Hindu Bali berubah nama sebagaimana saat ini, yaitu Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Hanya saja sudah selayaknya kita kembali bertanya, apakah benar kita adalah penganut Hindu? Ataukah lebih tepat disebut penganut agama Bali atau Hindu Bali? Kenapa saya bertanya seperti itu? Karena pada kenyataannya sampai detik ini, kita sebagai penganut Veda masih terlalu Balisentris. Kita menggunakan tolak ukur penilaian kehinduan berdasarkan parameter-parameter yang diterapkan di Bali. Kita sibuk membangun pura di luar Bali dengan menggunakan bahan-bahan dan arsitektur yang di import dari Bali. Berbagai peralatan upacara, banten dan pemangkunyapun kita import dari Bali. Sering kali kita mengesampingkan budaya setempat dimana disana sebenarnya sudah ada Hindu yang memiliki corak yang berbeda dari Bali. Apakah tindakan kita melakukan Balinisasi Hindu sudah benar?

Implikasi tindakan Balinisasi ini ternyata cukup komplek. Saya pernah mendengarkan keluhan seorang pemuda Hindu Jawa di salah satu pura di Yogyakarta yang intinya mengatakan bahwa dia merasa terasing di daerahnya sendiri. Dimana untuk menjadi Hindu, dia harus mengikuti adat Bali, membuat canang dan peralatan upacara yang tidak sesederhana apa yang diajarkan leluhurnya. Melakukan banyak upacara-upacara dan semuanya itu harus bercermin terhadap masyarakat Bali. Saya yakin bahwasanya masyarakat Hindu di luar Bali yang berpikir seperti itu bukan hanya dia seorang.

Namun ternyata tanda tanya besar juga muncul dari banyak kalangan orang Bali sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang bertanya-tanya tentang stastus Hindu mereka. Apakah mereka menjadi Hindu harus mengikuti adat istiadat yang ada di Bali ataukan boleh menggunakan cara lain?

Bagaimana tidak, Hindu di Bali memiliki dasar-dasar ajaran yang seolah-olah dapat berdiri sendiri. Hindu di Bali memiliki kitab suci, yaitu Lontar Catur Veda Sirah yang meskipun merupakan turunan dari Narayana Upanisad tapi memberikan pembenaran yang cukup tentang dasar kepercayaan orang Bali. Disamping itu, Hindu Bali juga memiliki lontar-lontar lain yang tidak kalah lengkapnya jika disejajarkan dengan Al-kitab atau Al-Qur’an. Semua upacara-upacara yang berlangsung di Bali didasarkan pada lontar-lontar ini.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, apakah orang Bali yang beragama Hindu harus melakukan ritual-ritual yang ditetapkan oleh lontar-lontar dan tradisi saat ini? Jawaban pertanyaan ini sangat penting, karena pada kenyataannya saat ini sebagian masyarakat Bali sudah tergerus oleh modernisasi, tuntutan kebutuhan yang semakin berat, rutinitas dan kesibukan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Disaat penghasilan pas-pasan, kebutuhan untuk menyekolahkan anak dan biaya hidup yang tinggi harus bersaing dengan biaya upacara adat yang tidak bisa ditawar-tawar, yang manakah yang harus di dahulukan? Haruskan mereka mengesampingkan pendidikan anak mereka dan mendahulukan upacara agama? Ataukah harus menjual tanah warisan leluhur beserta “turus lumbung” dan pura keluarga yang ada diatasnya kepada para investor non-Hindu yang berani membeli dengan harga tinggi? Sungguh merupakan suatu dilema yang tidak mudah. Sehingga tidaklah mengherankan jika banyak orang Bali saat ini yang hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri, pantai-pantai indah telah dikuasai inverstor asing dan orang Bali hanya dijadikan “buruh” di kafe-kafe dan hotel-hotel di daerahnya sendiri. Dan yang paling menyedihkan, sangat banyak orang Bali yang mulai berpaling dan berpindah keyakinan hanya karena tidak sanggup mengikuti tuntutan kebutuhan upacara.

Terdapat aturan yang saya rasa aneh dan sangat urgen diperbaiki dalam sistem adat dan juga mindset orang Bali. Jika kita perhatikan awig-awig/aturan desa adat kita. Maka sebagian besar menetapkan bahwasanya yang menjadi warga desa adat dan yang wajib menyungsung pura dan dengan semua iuran-iuran serta “ayahan (kegiatan gotong royong)” yang menyertainya adalah mereka yang beragama Hindu yang memiliki leluhur yang berasal dari desa adat bersangkutan. Permasalahan akan muncul bagi mereka yang merantau ke luar desa adat bersangkutan dan di daerah tempatnya merantau juga dikenakan iuran serupa. Sehingga mau tidak mau keluarga perantau ini harus menanggung dua beban sekaligus. Jika keluarga perantau ini tidak bisa memenuhi kewajibannya dalam “ngayah” di desa adat leluhurnya akibat tuntutan pekerjaan atau kewajiban di daerah barunya, maka sering kali warga adat mempergunjingkan mereka dan entah karena sentiment pribadi pernah ada kasus dimana warga perantau ini sampai “kutang banjar (tidak diakui lagi sebagai anggota desa adat)”.

Namun ironisnya, para pendatang non-Hindu yang bertempat tinggal di desa adat bersangkutan diterima dengan sangat terbuka dan bahkan warga ini sering kali tidak dibebankan berbagai mancam iuran dan “ayahan” sebagaimana warga desa adat lainnya yang beragama Hindu. Dengan kata lain, meski sama-sama menempati wilayah kekuasaan desa adat yang sama, tapi warga Hindu Bali memiliki beban yang jauh lebih berat dari warga non-Hindu. Jika kasus ini terjadi di desa yang masih homogen, saya kira tidak akan banyak implikasinya dengan tatanan desa adat setempat, tapi bagaimana jika hal ini terjadi di kota seperti di Denpasar dimana populasi penduduk asli dan pendatangnya sebanding? Tidakkah warga Hindu Bali yang “cerdas” akan tergiur keluar dari adat atau menjadi warga non-Hindu agar dapat lepas dari kewajiban-kewajiban desa adat? Toh juga mereka memiliki hak yang sama sebagai warga di sana kan?

Di komplek perumahan tempat saya tinggal di Jakarta, setidaknya terdapat 20% warga minoritas yang beragama Kristen, Buddha, Cina dan termasuk saya, Hindu dan selebihnya adalah Muslim. Namun yang menarik disini dan saya rasa perlu dicontoh oleh adat di Bali adalah prihal iuaran wajib yang dikenakan ke warga non-muslim. Dalam kartu iuran bulanan RT/RW, disana dengan jelas tertera pengalokasian dana iuran tersebut. Yang sangat mengejutkan, kenapa 30% iuran tersebut dialokasikan untuk kas Musola dan Masjid? Bukankah warga non-Muslim yang jumlahnya tidak dapat dikatakan sedikit tidak memiliki kepentingan apa-apa terhadap tempat ibadah tersebut? Pengalokasian dana tersebut memang disetujui oleh warga non-muslim akibat kegigihan pengurus RT/RW dalam melakukan lobby door to door terhadap warga non-Muslim. Pertanyaannya, tidakkah hal ini dapat diterapkan di Bali untuk mempertahankan eksistensi Hindu Bali dengan desa adatnya? Bukankah dengan penerapan hal seperti ini juga akan meringankan beban iuran warga adat? Jika di komplek perumahan dimana seluruh warganya adalah pendatang baru saja bisa diterapkan, kenapa di Bali yang pada dasarnya seluruh tanah sudah masuk dalam suatu desa adat tertentu secara turun temurun tidak mampu bertindak seperti ini? Apakah karena toleransi? Kenapa hal ini hanya diterapkan kepada non-Hindu? Sementara jika ada warga yang menerapkan ritual Hindu dengan corak yang berbeda dengan yang diterapkan di desa adat sering kali dipergunjingkan dan bahkan ada kalanya mereka dikucilkan.

Sampai disini kita sudah dihadapkan dengan 3 problem besar, yaitu prihal bagaimanakah standar wajah Hindu sesungguhnya. Apakah harus seperti yang kita lakukan saat ini? Bagaimana menyikapi gejolak modernisasi dimana kesibukan semakin besar, kebutuhan hidup semakin mahal dan juga biaya upacara adat yang semakin menjadi-jadi? Apakah awig-awig desa adat yang selama ini menjaga keutuhan Hindu di Bali masih relevan, mengingat saat ini ada indikasi awig-awig itu sangat merugikan eksistensi desa adat dan Hindu itu sendiri?

Jika kita mengaku sebagai agama Hindu Bali yang eksklusif, saya rasa upacara-upacara adat yang saat ini kita lakukan tidak perlu diperdebatkan lagi, karena semua itu sudah tertulis dengan jelas dalam lontar-lontar yang kita miliki. Paling-paling yang dapat kita perdebatkan hanyalah prihal upacara yang tergolong nista, madya dan utama saja. Hanya saja untuk upacara adat yang dilakukan saat ini, yang tergolong “kanistaning nista” pun ternyata memakan biaya yang tidak sedikit. Apakah tidak ada yang lebih murah lagi?

Untuk membahas hal ini, mari sesaat kita lepas dulu belenggu “nak mulo keto (memang sudah begitu)” dari otak kita. Mari lepaskan jubah “Hindu Bali” kita sesaat, pandanglah Hindu secara gelobal dan mari cari petunjuk-petunjuk ritual Hindu langsung dari sumbernya yang otentik, yaitu sloka-sloka Veda itu sendiri.

Dalam Bhagavad Gita 9.26 disebutkan; “patraḿ puṣpaḿ phalaḿ toyaḿyo me bhaktyā prayacchati tad ahaḿ bhakty-upahṛtam aśnāmi prayatātmanaḥ, Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau air dengan cinta bhakti, Aku akan menerimanya”. Jadi dari sloka ini pada dasarnya untuk menyembah Tuhan tidaklah sulit. Yang pertama yang harus kita miliki adalah rasa cinta bhakti yang tulus kepada beliau dan dengan media persembahan hanya berupa daun, bunga, buah atau air saja Beliau sudah menerimanya. Dengan demikian haruskan mempersembahkan persembahan yang mewah dan mahal?

Namun demikian, saya tidak mengatakan bahwa aturan dan persembahan yang mahal dan mewah yang kita lakukan di Bali salah. Malahan aturan, bebantenan dan sejenisnya itu memiliki nilai yang sangat tinggi dan didalamnya terdapat nilai “rasa” dan kreatifitas yang luar biasa. Namun bagi mereka yang memang benar-benar tidak mampu membuat banten, tidak mampu melakukan upacara-upacara dengan seni dan biaya tinggi bukan berarti tidak bisa menjadi Hindu kan? Bukankah tidak terdapat satu sloka Veda-pun yang mengharuskan kita melakukan yajna dengan biaya tinggi kan?

Bahkan dalam  Vishnu Purana 6.2.17, Padma Purana Uttara Kanda 72.25 dan Brhan-Naradiya Purana 38.97, disebutkan: “dhyayan krte yajan yajnais  tretaram dvapare’rcyam  yad apnoti tad apnoti kalau sankirtya kesavam, Pahala kerohanian apapun yang dicapai melalui meditasi pada masa Satya-Yuga, melalui pelaksanaan yajna pada masa Treta-Yuga, dengan memuja Arca-vigraha-Nya pada masa Dvapara-Yuga, pahala serupa juga bisa dicapai pada masa Kali-Yuga hanya dengan mengumandangkan nama-nama suci Kesava. Jadi dari sloka ini, Veda juga membenarkan jika umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan meski hanya dengan mengucapkan nama-nama suci Beliau baik melalui nyanyian (sankirtana) ataupun dengan berjapa. Sloka-sloka pembenaran atas hal ini dapat anda baca lebih jauh pada kutipan-kutipan sloka yang saya tuliskan pada artikel sebelumnya, yaitu “Hari-Nama Sankirtana”.

Dengan demikian, haruskan kita mengeluarkan uang jutaan mahkan milyaran rupiah hanya untuk berbagai macam bebantenan? Kenapa uang sebanyak itu tidak digunakan untuk membangun sekolah Hindu, Pasraman dan sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia Hindu? Tidak bisakah berbagai macam upacara besar tersebut digantikan dengan sarana yang sederhana dan dengan pelantunan nama-nama suci Tuhan lewat kekidung, geguritan atau palawakya?

Padahal kalau kita memandang kilas balik budaya Bali ke belakang, sesungguhnya wajah budaya Bali 100 tahun yang lalu sangat berbeda dengan yang ada saat ini. Pergerakan budaya Bali sangatlah dinamis. Cara berpakaian orang Bali jaman dulu dengan sekarang jauh berbeda, jika dulu ke pura hanya dengan menggunakan kain jarik dan bertelanjang dada, sekarang kita telah menggunakan jas safari. Buah-buahan persembahan yang dulu menggunakan hasil pertanian setempat, sekarang sudah digantikan dengan berbagai buah-buahan import yang mahal. Pawai ogoh-ogoh baru tercipta pada tahun 80-an dan berbagai arsitektur tempat sucipun telah mengalami modernisasi. Melihat dari kenyataan ini dan dengan didorong oleh tekanan modernisasi yang menerjang Bali, tidakkan evolusi budaya dengan perubahan pola pikir, kebiasaan dan upacara yang mengarah pada simplicity demi ajeg Bali dan ajeg Hindu dapat kita lakukan? Toh juga jika kita mengaku sebagai agama Hindu, Veda tidak pernah menyalahkan kesederhanaan seperti ini kan?

About Ngarayana
Simple living high thinking

30 Comments on Agama Hindu atau Agama Bali?

  1. Saya sangat tertarik dan tulisan ini juga mewakili apa yang saya rasakan selama ini.Masalah adat, Agama dan Kedudukan warga Bali dan Non Bali di Bali.
    Masalah adat yang menurut saya masih sangat ketat (perlu di revisi sesuai jaman kekinian)merupakan dilema bagi kita generasi muda yang satu sisi harus memenuhi kebutuhan hidup dan di satu sisi harus mengikuti acara-acara adat yang beragam.Implikasinya adalah jika diikuti maka kita akan lebih sering absen di kantor dan membawa citra buruk pada SDM Hindu yang di cap terlalu banyak / sering meliburkan diri.Kalo tidak diikuti maka kita akan di kucilkan secara adat oleh banjar dimana kita tinggal.Banyak sekali kasus-kasus adat dan perpidahan agama karena beban adat di Bali.Kesannya sesama orang Bali saling intip sedangkan dengan orang Non Bali di sambut luar biasa termasuk terbebas dari adat trus dimana penerapan konsep menyama brayanya?? .Dalam persepsi saya bila hal ini tidak disikapi dengan arif maka akan banyak generasi muda yang tinggal di luar bali ato yang mengadu nasib ke kota untuk bersaing di dunia kerja dengan pekerja non Bali akan kesulitan dan tidak tertutup kemungkinan pindah Agama termasuk saya.Kasarnya begini buat apa kita ngotot di Hindu bila kita tidak di terima ato malah di kucilkan bahkan untuk menguburkan mayat aja susah mending kita jadi Orang Non Hindu saja kewajiban sama,gak perlu ribet,dan tetap beragama.
    Untuk masalah agama sy juga sepakat masih terlalu Balisentris dan rame di upacara.Apa tidak bisa disederhanakan karena biaya untuk beragama Hindu lebih besar di banding agama lain contoh ini hanya sekedar wacana misal kita punya 3 pura desa (kena iuran dan bikin banten),blom di merajan, hari raya lain dan banten sehari-hari berapa biaya yang keluar untuk bantennya saja plus buah importnya setiap bulan di luar upacara manusa yadnya.Bila kita sederhanakan ato menjalankan Hindu spt di India apa itu sesuatu yang salah ato menjadi aneh sendiri di Bali ? Mungkin itu yang membuat Hindu Bali terlihat Rumit, susah dan mahal.
    Sedangkan masalah kedudukan warga bali di Bali terutama SDM Hindu banyak yang hanya mampu di level bawah krn dinilai tidak loyal kpd perusahaan (akibat sering bolos/ijin) dan tidak bs menempati top management krn tidak berani di promosikan ke luar (takut ngalahin adat)sehingga banyak di kantor-kantor swasta jabatan level menegah ke atas diisi orang luar yang dinilai lebih loyal padahal secara skill dan performance sama bahkan kita bs lebih.Sy juga sepakat di Bali sekarang warga pendatang sangat di permudah sedangkan warga Bali sendiri di persulit contoh kecil untuk kipem di denpasar antara yang Bali dan Non Bali bayarnya sama padahal kita ini ber KTP bali kalo begitu kenapa kita tidak pake KIPEM saja tidak usah pake KTP karena yang berlaku adl KIPEM/KIPPS.
    Harapan saya semoga banyak generasi muda spt anda yang merantau/memulung ilmu di luar bisa lebih terbuka menyikapi permasalahan yang ada dan bisa menjadi pemikir dan konseptor perubahan Hindu di Bali menjadi agama yang Sederhana,Indah dan tidak mahal dan menjadikan Manusia Bali yang santun dalam menyama beraya.

    Salam

    Yudistira
    Smasta 98

  2. menurut Anda, darimana datangnya budaya “Hindu Bali” seperti sekarang ini?
    Siapa yang “berwenang” menyederhanakan atau membuatnya menjadi rumit?
    Lalu salahkah jika perbedaan desa kala patra yg umum terjadi dalam Hindu itu lalu diperdebatkan?

    saya pribadi menghargai berbagai coraknya, hanya saja memang tak dapat dipungkiri, banyak polemik yg mungkin timbul dari perbedaan2 persepsi tersebut.

    tapi saya yakin, jika umatNya bisa saling menghargai, kenapa tidak?
    tak ada alasan berkekhawatiran berlebih kan?

    atau solusinya, buat saja konstitusi baru, kesepakatan besar bersama seluruh umat Hindu di muka bumi..
    hehehehehehe

  3. Om Swastiastu

    Wah ini Sangat menarik untuk kita diskusikan dan kita coba kupas lebih dalam lagi, mengingat hal ini demi generasi2 Hindu mendatang yang tentunya sudah sangat jauh berbeda kondisinya dengan sekarang.

    Saya juga merasakan hal ini karena saya juga merantau untuk mencari nafkah keluarga, berhubung saya bersaudara banyak, sehingga untuk tinggal di desa sangat sulit untuk menutupi kebutuhan hidup nantinya, karena Tanah yang mestinya bisa kita jadikan lahan pertanian atau perkebunana saja sudah tidak ada lagi, bahkan sebagai tempat tinggal saja sudah saling berhimpitan, bagaimana nanti 15-25 tahn mendatang, sungguh sangat tidak terbayang gimana kondisinya.
    Kebutuhan hidup sangat semakin tinggi termasuk biaya kesehatan dan pendidikan anak2, dan harus dibebani dengan biaya biaya adat yang tidak kalah tingginya…, serta tidak adanya lapangan kerja yang cukup di daerah kita, jadi kita harus merantau ke kota yang lebih besar seperti Denpasar.

    Hal lain mengenai buah buahan yang kita jadikan aturan, kadang saya pernah beranggapan kok pemborosan sekali ya…., dimana buah buahan yang kita haturkan kadang kadang terbuang, atau busuk karena saking banyaknya, misalnya kalo hari raya, terus ada piodalan yang berdekatan jaraknya.

    Padahal alangkah baiknya buah buah itu bisa kita makan habis tanpa tersisa, seolah kita nunas merta dari apa yang sudah kita haturkan kepada-Nya, sama halnya kita nunas tirta “wasuh pada BELIAU).

    Dan mengenai anggapan terhadap SDM Hindu di bali saya sangat sependapat dengan bli yudistira, bahkan saya punya pengalaman sendiri di tempat saya bekerja, dimana ada saudara kita mau di Promosikan menjadi seorang Manager malah menolak, karena alasan adat, padahal kemampuannya sudah tidak diragukan lagi, dan akhirnya ya….tetep jadi anak buah dan buruh di daerah sendiri.

    Jadi intinya bagaimana kira kira caranya agar hidup beragama hindu di Bali itu bisa tetep lestari dan tentu tidak Mahal

    Jika ada yang tidak berkenan mohon di maafkan…

    Om Santih Santih Santih Om

  4. Om Swastiastu

    @ yudistira

    Salam kenal bli, ternyata anda kakak angkatan saya di SMA I Tabanan ya?

    @ Dek Sri;

    Kok kayaknya pertanyaan dek ini ga nyambung ya? Kasi bli solusi atas pertanyaan yang bli lemparkan dunk dek, masak dek nanya bali lagi… he..he..

    Budaya kita saat ini lahir dari proses yang sangat panjang. Melihat dari penggunaan uang bolong yang berasal dari cina, dan sejarah terpentuknya sanggah-sanggah dalam pura keluarga oleh Dhanghyang Nirarta dan juga bukti-bukti yang memperlihatkan bahwa sebelum budaya bali seperti sekarang ini sebelumnya sudah ada budaya bali yang asli (bali aga) dan terdapat juga budaya yang dibawa oleh pendatang majapahit dengan agama Sivaisme, Vaisnava, Saktisme dan bahkan agama Buddha. Jadi budaya Bali dapat dikatakan sebagai akulturasi berbagai aliran kepercayaan dan budaya. Dan Bali modern saat ini juga tentunya adalah hasil evolusi budaya bali hasil akulturasi tersebut dengan berbagai budaya yang masuk ke Bali saat ini. Bli pernah melihat di negara terdapat padmasana tetapi berlambangkan salib, ternyata yang punya orang Bali yang menjadi kristen. Nah ini salah satu akulturasi juga…. sekarang terserah kita, mau dibawa kemana budaya bali. Apakah tetap dengan kehinduannya atau dirubah seperti kasus padmasana dengan salib tadi.. :-)

    Yang berwenang menyederhanakan dan membuat rumit tentunya kita kan? Kitalah subjek dalam budaya kita sendiri, dan dengan bercermin pada ajaran kita, Hindu dengan Veda sebagai pegangannya seharusnya kita mampu mengaplikasikannya “senyaman” kita masing-masing. Jika ada orang yang suka membuat yajna yang besar karena dia mampu secara material dan juga waktu, itu sangat bagus. Tapi bagi mereka yang tidak mampu, maka masyarakat yang lain seharusnya tidak mempermasalahkannya dan membolehkan dia melakukan upacara yang sesederhana mungkin. Tentunya sebagai ujung tombak disini adalah para pemimpin umat, seperti PHDI dan para pedanda. Setahu saya di gianyar sekarang sudah ada seorang pedanda yang bersedia muput upacara baik itu pernikahan maupun sejenisnya hanya menggunakan 1 dulang canang. Tentunya hal ini merupakan trobosan dan pengiritan yang luar biasa kan?

    @Dek5U4R
    Kita bisa mulai dari mana ya bli ya?

  5. @ Ngarayana
    Salam kenal juga senang membaca tulisan anda yang mampu memberikan jawaban / pemahaman / perbandingan ats pertanyaan dan dinamika yang ada di masyarakat Bali khususnya.Dan sebagai kakak kelas di SMA 1 Tabanan saya bangga dengan anda jadi tetap menulis dan share buat kita ya :-)
    Kembali ke masalah Adat memang saat ini sy dengar ada revisi thd awig-awig desa adat di tiap desa dan sy rasa itu awal yang bagus bila revisi ini bs mengakomodir baik warga Hindu yang di desa tsb maupun warga Hindu yang mencari nafkah di luar.Karena sebelumnya yang terjadi dan sering kita baca di Harian lokal adalah bentuk-bentuk pengucilan thd keluarga/warga yang merantau ke luar atas nama nafkah dan kebutuhan hidup yang semakin tinggi sehingga yang menjadi prioritas adalah pemenuhan kebutuhan hidup dan adat menjadi nomor 2 dengan hanya sesekali hadir memenuhi kewajiban adat.Sebenarnya menurut saya tidak ada yang salah dengan merantau krn kita bs mandapat ilmu,menambah wawasan dan mengharumkan Bali dari luar.Contoh ketika sy baca web ini yang kaya informasi dan berguna/sbg sumbangsih buat semeton Hindu sy tertarik kemudian bertanya siapa sih Ngarayana ini dan ketika sy tahu ini orang Bali dan adik kelas sy pula jelas sy bangga (semoga yang lain dan daerah asalnya juga bangga).Saya yakin dengan kondisi ekonomi global yang sekarang apabila kita hanya sebagai penonton dan tidak bs bersaing dengan SDM luar maka SDM kita akan kalah bersaing ato hanya menjadi penonton kesuksesan orang lain.Pemahaman saya (maaf kalo salah) awig-awig tsb di buat pd kondisi seluruh masyarakat di wilayah tsb bermukim dan mencari nafkah hanya di wilayah tsb sehingga setiap acara adat kehadiran warganya menjadi wajib dan akan di kenai “salah” bila tidak hadir dan ini memungkinkan pada kondisi saat itu. Nah kondisi sekarang ketika beban ekonomi menjadi tinggi,persaingan kerja sangat kompetitif dan tuntutan hidup semakin kompleks sehingga baik dari segi tempat tinggal dan tempat mencari nafkah tidak bs lagi diakomodir oleh wilayah tsb.Kondisi ini membuat warga kita merantau ke luar dan tidak bs aktif di adat dimana sebetulnya kehadiran bs di ganti dg Bayar ayahan (ngompog dll)yang bs digunakan sebagai kontribusi thd uang kas adat tp tetap ada pergunjingan dan secara tidak tertulis menuntut kehadiran (saling intip).Inilah kemudian yang berujung kepada pengucilan,pelarangan penguburan (syukur ada krematorium sbg salah satu solusi)dan bentuk-bentuk sanksi sosial yang lain.Kasus pindah agama tidak bs dihindarkan akibat dari permasalahan ini (semoga kedepannya tidak muncul lagi) ketika sy bekerja di Sumbawa di suatu wilayah di Dompu ada Masjid Al Mualafah di desa Nanga Tumpu yang disungsung orang Bali yang tidak kuat dengan beban adat dan agamanya kemudian disponsori untuk pindah ke wilayah tsb.Di salah satu Dusun (pengangahan) kalo gak salah sebelum desa Wangaya Gede Penebel menuju ke arah Pura Batukaru ada Gereja megah dengan style Bali yang juga di sungsung oleh orang bali yang terhimpit secara ekonomi dan tidak bs lagi mengikuti adat dan Agamanya.
    Pertanyaannya adalah sudahkah awig-awig mengakomodir situasi ini ?
    agar tidak ada lagi bentuk-bentuk sanksi sosial dan janganlah mereka di kucilkan sampai pindah agama serta meninggalkan adat.Kenapa tidak di buat suatu aturan yang bs mengikat dan merangkul mereka kembali toh mereka juga saudara kita.
    Untuk masalah Yadnya di pura mungkin banyak yang ingin mengaturkan sesuatu dengan penuh bhakti dan keikhlasan sesuai kemampuan berdasarkan ajaran Veda tetapi yang masih terjadi adalah ada semacam aturan tidak tertulis ato standar yang tidak kelihatan sehingga banten maupun persembahan kepada Tuhan selalu mengikuti standar di tempat tersebut krn tidak ingin terlihat aneh sendiri ato menjadi bisik-bisik tetangga.Misal pada Galungan kemaren banyak komentar para ibu yang “menodai” keikhlasan dari persembahan tsb.Mungkin banyak diantara kita yang mendengar keluhan para ibu “Wah harga cepernya mahal,bunga mahal dan canang juga mahal tp “terpaksa beli” kudiang men dll, belum lagi buah dan isin bantennya.Sy yakin kalo nggak terpaksa beli ato hanya ngaturang semampunya dengan buah dari kebun sendiri ato isin alas bagi yang punya kebun pasti nggak PD alias sing juari seakan-akan standarnya harus apel,pear dll.
    Semoga lebih banyak sulinggih/pedanda,PHDI dan generasi muda yang bs memberikan pencerahan sehingga standar yang tidak kelihatan tsb bs terkikis dan terjadi perubahan Hindu dan Adat Bali ke arah yang lebih baik.
    Semoga Pikiran yang Baik datang dari segala Penjuru
    Ini sekedar Opini maaf bila ada salah kata atau tulisan yang tidak berkenan.

  6. @ngarayana
    Wah ini dia yang menjadi Tanda Tanya BESAR juga buat saya dan tentunya bagi kita generasi muda Hindu, karena sudah begitu…kompleks dan sudah menjadi tradisi dan budaya bagi orang Hindu Bali umumnya dan kita khususnya, sehingga darimana kita mulai pun masih belum menemukan jalan, kalo dari diri kita atau keluarga, bagaimana pandangan masyarakat sekitar kita, atau penglingsir2 yang ada di daerah kita, dari situ saja sudah sulit memulai, apalagi mencakup Umat Hindu se Bali yang notabene sangat uniq dan berbeda satu sama lain sesuai Desa Kala Patra mereka.

    Mudah mudahan ada dari pembaca yang lain yang dapat memberikan masukan………ASTUNGKARA

    Suksma
    OSSSO

  7. aku kebetulan orang yang jawa yang beragama Hindu, menurut saya kita memang harus menyesuaiakan dengan budaya setempat dan waktu yang ada, dan kalo ada benturan kita kembalikan dan merujuk saja weda… contohnya sesaji, jika kita memang merasa sesaji yang ada terlalu beribet, kita lihat saja weda, gimana aturan mengenai sesaji. misalnya tidak ada aturan, harus pakai canang khan, kenapa kita tidak belai tempat bunga dari logam to apa??? ya ga?? pisss man, aku orangnya moderat…

  8. Om Swastyastu,

    Sepertinya diskusi ini menarik sekali. Tiang sebagai orang bali dan beragama Hindu dan kebetulan juga merantau ke luar bali sangat merasakan hal ini.
    Seperti yang dikatan oleh beli Ngara, kita harus mulai dari mana ?
    Menurut tiang yang pertama, jelas kita harus mulai dari diri kita sendiri, masing-masing individu sebagai umat hindu kita harus mulai belajar dan memahami veda itu sendiri. Tiang berterima kasih sekali sama bli Ngara, karena web site ini, tiang bisa mendapatkan pengetahuan lebih dalam tentang Hindu.
    Yang kedua, setelah kita memahami Hindu dan veda, langkah selanjutnya mungkin kita mulai untuk menyelaraskan antara hindu dan budaya/adat yang sekarang berlaku di bali. Budaya/adat dan hindu di bali, sangat sulit di bedakan, mana budaya/adat dan mana hindu. Dan tidak jarang kita lihat aturan budaya atau adatlah yang meng-intervensi aturan agama Hindu dalam hal ini veda, bukankah ini seharusnya terbalik ? budaya dan adatlah seharusnya yang bercermin kepada aturan hindu/veda.
    Dan sekali lagi “Desa Kala Patra” selalu dijadikan pembenaran. “Desa Kala Patra” selalu diartikan aturan keagamaan (Hindu/veda) di tiap tempat adalah berbeda. Menurut tiang seharusnya “Desa Kala Patra” diartikan seperti ini :
    – Desa = tempat
    – Kala = waktu
    – Patra = Surat/tertulis (disini bisa kita artikan veda)
    Kalau ini diartikan seharusnya : dimanapun dan kapanpun aturan didalam veda harus dilaksanakan sesuai dengan apa yg tertulis didalamnya karena apa yang tertulis didalam veda adalah kebenaran yang tertinggi dan tidak dapat di ganggu gugat.
    Yang ketiga, kita harus bersatu. Sekarang ini kita di bali masih saja mempermasalahkan tentang soroh, klen, wangsa, kasta. Bahkan yang paling parah, para sulinggih (mpu, pedanda, bujangga, rsi) juga mengkotak-kotakan diri, sampai-sampai ada istilah tri sadaka dan sarwa sadaka. Lupakan itu semua, mari kita bersatu.
    Yang keempat, PHDI sebagai jembatan antara masyarakat (Hindu) dengan para sulinggih (mpu, pedanda, bujangga, rsi) harus mampu menjembatani.
    Selama ini tiang lihat PHDI belum berfungsi secara maksimal, seharusnya PHDI bisa menyediakan sumber-sumber pengetahuan tentang veda yang autentik. Para sulinggih (mpu, pedanda, bujangga, rsi) juga jangan pelit terhadap ilmu. Selama ini ajaran veda di bali selalu diturunkan seperti ajaran ilmu silat. Guru punya 10 jurus, paling maksimal muridnya dikasi 7 jurus, yang 3 jurus lagi disimpan sampai mati. Kalau sistemnya seperti ini mana bisa maju.

    Matur Suksma

  9. lalu sebenarnya untuk apakah sebenernya bebantenan (misalnya) yg beraneka ragam dan unsur tsbt diciptakan?
    apakah tidak memiliki arti tertentu yg menyimboliskan unsur upacara dan upakara itu sendiri?
    yakin nie, gpp klo kita minimalisasikan saja?
    saya sie setuju aja Bli, tp alasan saya subjektif, soalnya saya ga bs mejejaitan, gtw bebantenan, tapi katanya hal2 itu merupakan tetamian yg mesti dilestarikan?
    kan wenten biasane yening iraga mepeluasan nika, yen napi je wenten kirang bebantenan misalne, jeg wenten mpun kekewehan/sakit sane katiban ring iraga, punapi nika sujatinne Bli?

    oya, semoga kali ini comment tiang ga nyaplir ya, hehehhee…
    malu jg mempermalukan diri sendiri..
    hehehehe.
    suksma sedurungnyane.

  10. dede narayana // November 6, 2009 at 1:03 pm //

    Hare Krishna Prabhuji,

  11. @ desri

    Om Swastiastu Dek Sri

    Bebantenan dibuat adalah sebagai wujud bhakti persembahan kepada Tuhan. Apakah banten yang mewah di Bali salah? Tidak, jika banten mewah dan penuh seni tersebut dibuat dengan rasa tulus dan penuh cinta bhakti kepada Tuhan. Tetapi akan menjadi salah jika banten tersebut dibuat dengan “ngedumel” dan perasaan tidak iklas atau hanya karena ego dan tidak mau dipandang rendah oleh masyarakat.

    Tentu banten dan asesorisnya memiliki arti tertentu. Pernah memperhatikan ceniga? kadang setiap saya melihat ceniga, saya teringat dengan “jaganat” yaitu perwujudan wajah Krishna. Karena perwujudan ceniga dengan jaganat memiliki kesamaan, yaitu menyerupai bentuk wajah dengan mata, hidung dan mulut. Demikian juga dengan contoh-conoh banten lainnya yang melambangkan kemakmuran dan sebagainya. Kesemua bebantenan ini jika kita telusuri dari sejarah Bali, maka dapat kita temukan pola upacara dan jenis banten dan sesajinya yang berubah… pernah lihat sesaji yang di isi dengan rokok? Padahal saya yakin bahwasanya rokok tidak populer pada jaman Bali tempo dulu kan? Kenapa sekarang ada sesaji rokok? Bukankah itu perubahan buadaya? Sekarang adalah merupakan pilihan kita untuk membawa budaya Bali kita ini. Apakah ke arah yang dapat mendukung masyarakatnya dan mempertahankan Hindu, ataukah melanjutkan segala hal meskipun negatif dengan konsekuensi kehilangan pengikut.

    Mengenai sakit atau sejenisnya yang muncul dengan alasan kekurangan banten dan sejenisnya adalah karena kita lebih menitik beratkan pada pemujaan kepada “rancangan” atau pelayan Tuhan seperti para mahluk penjaga tempat suci, dewa-dewa dan kita malahan melupakan Ia Yang Maha Kuasa. Padahal Tuhan dalam Bhagavad Gita telah menegaskan bahwa Ia akan memberikan apapun yang penyembah-Nya perlukan dan menjaga semua yang penyembah-Nya miliki jika memang penyembah ini berbhakti dengan tulus kepada Tuhan. Pada kenyataannya kita lebih sering disibukkan pada caru yang ditujukan pada butakala yang sejatinya lebih rendah dari kita dari pada sujud bhakti kepada Tuhan kan?
    Benar tidak seperti itu? teman-teman yang menguasai magis mohon bantuannya menjawab hal ini ya…

    @ Dede Narayana

    Hare Krishna
    Dandavat prabhuji..

    salam kenal ya..

  12. OSA
    ikutan nimrung dong….

    Yadnya melalui bebantenan yang dibuat dengan tulus iklas baik dengan seni atau apapun sebagai wujud cinta kita kepada Hyang Maha Kuasa itu baik sekali tetapi apakah harus dengan cara besar2 an ? apakah Tuhan meminta begitu ? itu ditujukan untuk siapa ? apa gak sebaiknya uang itu dipakai untuk intelentualitas masyarakat hindu dibali ( saya setuju apa yang dikatakan sdr. ngarayana )

    kita lihat korban suci di india itu simple sederhana tepatguna /efektif. hal yang positif kenapa kita gak tiru tentunya sesuai dengan ajaran Weda
    bukannya kita ke-india2an dan meninggalkan budaya….tatepi harus sesuai dengan makna..
    dibali sering kita dengar kalau kekurangan banten maka ada yang duka/ marah. siapa yag marah ?. apakah Tuhan? saya rasa tidak. beliau tidak akan menimbang besarannnya tetapi lebih kepada keiklasan dan makna.

    sakit karena kekurangan banten itu saya rasa tidak ada kecuali sejarahnya didasarkan atas sesangi ( janji ) setiap upacara. menurut sya tingkat kesadaran kita akan sejatinya kesadar didalam diri itu kurang. contoh api, kedalam diri diibaratkan mebangkitkan semangat didalam diri untuk selalu memuja Beliau. air, kedalam diri ibarat kesucian kita punya lautan tanpa tepi yang bisa menyucikan diri melalui meditasi tentunya didasarkan atas perbuatan susuai ajaran agama tidk perlu dengan jalan melukat besar2an. buah, kedalam diri yaitu hasil buah perbuatan yang kita persembahkan kehadapan Hyang Kuasa.

    minta info dong, ada gak ya t4 memperdalam kedalam diri sesuai ajaran Weda di jakarta.

    shanti

  13. OSSA…

    menurut saya pendapat sodara yudistira ada benarnya sebegitu rumitkah agama hindu kita ini? Sebenarnya tidak jika mau melakukan dengan iklas dan tulus..”apapun yang kau persembahkan padaKu walaupun daun sekalipun dengan tulus iklas maka aku akan datang padamu..”(bhagawadgita).

    1. Di Bali sangat susah di bedakan AGAMA dan ADAT , karena sudah berbaur menjadi satu.ini juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rumit.
    2. kepentingan Yadnya sangat tinggi. hingga orang-orang bali sampe menjual warisan untuk melakukan yadnya..
    3. Pendatang yang masuk kebali gampang sekali, tidak dikenakan ayah-ayahan dll padahal meraka hidup dan makan di tanah kita, kalo nyame beraye kita belum upacara , adat-istiadat dll paling tidak lumayan repot,
    ini mestinya awig-awig adat berlaku bagi semua termasuk pendatang.
    contoh: Galungan dan Kuningan yang baru-baru ini Mana ada PENJOR-PENJOR yang terpasang bagi pendatang!! terutama badung PENJORnya bisa dikatakan sedikit..
    4. Aspek-aspek itulah yang memberikan bagi mereka berkata APAKAH BALI AKAN TETAP HINDU? kelemahan-kelemahan Hindu di BALI perlu kita reformasi sesegera mungkin untuk generasi Hindu kita yang akan datang..
    5. Silakan Baca di blog saya http://kebangkitan-hindu.blogspot.com/
    tentang Aspek-Aspek Kelemahan Hindu.

    mungkin itu saja pendapat yang saya bisa berikan…

    om shanti-shanti-shanti om…

  14. OSA

    CONTOH
    SETIAP DESA/BANJAR HARUS ADA YANG BERANI MEMPELOPORI…MISALNYA KEMATIAN, KALO YANG PUNYA KEMATIAN ORANG BERLEBIH ( SUGIH ) HARUS DIPELOPORI DENGAN MELAKUKAN PENGABENAN SEHEMAT MUNGKIN SESUAI ATURAN KITAB SUCI. SEHINGGA TIDAK ADA SELOGAN ” YO GEN NGABEN GEDE MASA TYG NGELAH/SUGIH NGABEN CENIK”. KALO PUN MASIH ADA UANG BERLEBIH BISA PELOPORI DENGAN NYUMBANG KE BANJAR ATO T4 LAINNYA YANG MEMUNGKINKAN UANG TERSEBUT LEBIH BERGUNA. TYANG RASA ITU LEBIH TEPAT GUNA DAN SESUAI DENGAN ESENSI YADNYA.

    KALO YANG PUNYA KEMATIAN ITU PAS PASAN /MISKIN JADI GAK PERLU UTANG ATO JUAL TANAH. CUKUP DENGAN ACARA ALIT DAN ITU BISA URUNAN BANJAR.
    INSPIRASI INI TANG AMBIL DARI BANJAR SUNANTAYA /PENEBEL TABANAN, BALI “KETURUNAN KUKUH” (CUKUP DENGAN BANTEN SENGIU DAN LAIN-LAINNYA DAN TIDAK MEMAKAI JEMPANA ATAU WADAH)

    TANPA MENGURANGI RASA HORMAT MOHON MAAF BAGI SAUDARAKU “KUKUH” BUKANNYA TYG BERMAKSUD JELEK TETAPI SEMUA PROSESI PENGABENAN TERSEBUT TYANG AKUI SANGAT BAGUS. KARENA MENINGGAL MASUK SURGA/MOKSA BUKANNNYA KARENA ACARANYA YANG BESAR TETAPI ATAS DASAR PERBUATAN DAN KARMANNYA DIDUNIA DAN ANAK YANG SUPUTRA YANG DAPAT MENDOAKAN LELUHURNYA AGAR TEAMPUNI DOSA-DOSANYA.

    SUKSMA

  15. Om Swastyastu

    Senang sekali membaca comment saudara-saudaraku yang penuh keterbukaan dan sharing pendapat tentang realita “Agama Hindu ato Agama Bali”
    Artinya makin banyak saudara-saudara SDM muda Hindu yang peduli serta berbagi pengetahuan dan membawa perubahan yang positif,semoga makin banyak para sulinggih dan cendikiawan Hindu yang memberikan pencerahan / pemahaman tentang Veda melalui berbagai media.Karena tanpa ada pencerahan melalui media maka perubahan akan berjalan lambat terbatas pada pribadi-pribadi.Seperti halnya trend berpakaian ke pura kenapa cepat sekali menjangkiti umat kita krn banyak di blow up media semoga demikian halnya dengan pencerahan Agama dalam konteks Veda.
    Selama ini yang kita jalani masih sebatas ritual yang diikuti dan dijalankan secara turun temurun sesuai kebiasaan di desa/tempat tsb sehingga sering apabila kita bertanya jawabannya “Nak mule keto” dan itupun kita jalani dengan tulus ikhlas.Alangkah lebih indah bila ritual tsb didasari oleh ajaran Veda sehingga makin meningkatkan pemahaman,srahda dan Bhakti umat Hindu terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
    Saat ini dengan kondisi global spt sekarang sudah mulai banyak diadakan ngaben masal,sulinggih yang muput dengan cara sederhana,dan upakara-upakara yang sederhana dengan tanpa mengurangi makna ritual dan kebersamaan diantara umat Hindu serta hemat secara ekonomi.
    Tiada yang kekal selain perubahan itu sendiri semoga Agama Hindu dan Adat Bali berubah ke arah yang lebih baik.

    Semoga Pikiran yang Baik datang dari segala Penjuru”

    Om Shanti,Shanti,Shanti Om

  16. dede narayana // December 11, 2009 at 6:58 am //

    Saudara Srid dan yudistira , salam kenal
    Apa yang anda bilang, memang benar adanya. Kalau ingin mengajegkan Bali harus dimulai dari ” ajeg ” kan dulu ajaran Veda,dan tingkatkan SDM nya karena Bali terus diincar dari segala penjuru,
    Suksma, Hare Krsna.

  17. SETIAP DESA/BANJAR HARUS ADA YANG BERANI MEMPELOPORI…MISALNYA KEMATIAN, KALO YANG PUNYA KEMATIAN ORANG BERLEBIH ( SUGIH ) HARUS DIPELOPORI DENGAN MELAKUKAN PENGABENAN SEHEMAT MUNGKIN SESUAI ATURAN KITAB SUCI. SEHINGGA TIDAK ADA SELOGAN ” YO GEN NGABEN GEDE MASA TYG NGELAH/SUGIH NGABEN CENIK”. KALO PUN MASIH ADA UANG BERLEBIH BISA PELOPORI DENGAN NYUMBANG KE BANJAR ATO T4 LAINNYA YANG MEMUNGKINKAN UANG TERSEBUT LEBIH BERGUNA. TYANG RASA ITU LEBIH TEPAT GUNA DAN SESUAI DENGAN ESENSI YADNYA.

    Tyang sangat sepakat dengan kata2 ini. nanti pun klo meninggal tyang ingin diaben dengan acara yg sederhana berdasarkan veda. sisa uangnya kita sumbangin untuk nyame (sodara) yg butuh beasiswa atau yadnya suci. (mungkin ini termasuk surat wasiat ya..he.he.)

    tapi akan muncul pertanyaan. apakah ada pendeta hindu yg mau memuput ngaben dengan banten sederhana seperti itu??? jika ya dimana???
    setidaknya di kabupaten A ada, diB ada.

    sedikit sharing, pas ngaben kakek awal bulan kemaren, banyaknya uang habis tuk nguling, nampah, trus banten yg pas diaturin eh sudah maong….sedikit kecewa. tapi itulah realita. hanya berdoa agar roh kakek diberkati.

    btw prabu, ada tidak yadnya suci khusus untuk mendoakan orang meninggal??? jika tyang melakukan nama sankirtana ke kakek, tyang merasa tdk berkualifikasi untuk itu (msh kotor). mohon penjelasan???

    trims.

  18. tapi akan muncul pertanyaan. apakah ada pendeta hindu yg mau memuput ngaben dengan banten sederhana seperti itu??? jika ya dimana???
    setidaknya di kabupaten A ada, diB ada.

    INSPIRASI INI TANG AMBIL DARI BANJAR SUNANTAYA /PENEBEL TABANAN, BALI “KETURUNAN KUKUH” (CUKUP DENGAN BANTEN SENGIU DAN LAIN-LAINNYA DAN TIDAK MEMAKAI JEMPANA ATAU WADAH)

    HAL INI ADA DI BR SUNANTAYA KHUSUSNNYA KELUARGA KUKUH CUKUP DENGAN BANTEN SENGIU DAN LAIN LAIN TANPA WADAH/ JEMPANA ( MAAF SAUDARAKU )

    APAKAH YANG MENINGGAL MASUK SORGA, MOKSA ATAU NERAKA SIAPA YANG TAHU ?
    APAKAH KETURUNANNYA SAKIT2AN ? SAMPAI SEKARANG SAYA LIHAT BAIK-BAIK SAJA.
    TETAPI YANG BISA KITA LAKUKAN HANYA MELIHAT PERJALANAN HIDUPNYA..APAKAH SERING BERBUAT BAIK ATAU TIDAK.. KALO PERBUATANNYA BAIK MAKA KOMENTAR DARI MASYARAKAT ” CEPET BENAR PERGINNYA YA PADAHAL BELIAU SANGAT BAIK ” ATAU SEBALIKNYA KALO CENDRUNG BURUK ” PANTES JE MATI NAK JELEME NAKAL.

    PERNAH MENDENGAR CERITA ORANG TUA MOHON KOREKSINNYA KALO KITA MENINGGAL ROH KITA PERGI KEPURA DALEM. DEWA SIWA/ DEWI DURGA MEMINTA SAUDARA EMPAT KITA MENCEGAT PASPINTU MASUK PURA DAN SAUDARA EMPAT KITA BERTANNYA ” SIAPA IBU BAPAKMU ? KALO KARMA KITA BAIK MAKA KITA BISA TAHU BAHWA DEWA SIWA/DEWI DURGA ADALAH IBU BAPAK KITA. KALO KARMA KITA BURUK MAKA KITA TIDAK TAHU SIAPA IBU BAPAK KITA.

    ARTINNYA TIDAK ADA PERTANNYAAN “NGABEN APO JATME ANI TEKE NE ? ” ATO ” KUDO NELAHAN CELENG, ANGON NGABEN ?” KARENA ITU SIFATNYA MATERIAL.
    KITA BISA MASUK SORGA KARENA HASIL PERBUATAN BAIK DAN HANYA ANAK YANG SUPUTRA YANG DAPAT MEMOHONKAN AMPUN LELUHUR YANG TELAH MENINGGAL. JADI TIDAK ADA BANTEN GEDE, CELENG GEDE, ATO GEDE GEDE YANG LAINNYA.

  19. @ dino

    Semua orang punya kualifikasi dan boleh mengucapkan nama suci Tuhan.. sama sekali tidak ada batasan akan hal itu. Tidak ada orang yang tidak berkualifikasi mendekati Tuhan.. bahkan semua mahluk hidup layak menyembah dan mengucapkan nama suci Tuhan.

    Mendoakan jiva leluhur setahu saya tidak beda prinsip dengan apa yang kita lakukan di bali, hanya saja tentunya dengan sangat sederhana, yaitu hanya dengan mendoakan dan menghaturkan prasadam (makanan yang telah di persembahkan) ke hadapan leluhur baik melalui fotonya atau mungkin di kuburannya. Dengan kita menjadi anak yang sadar akan Tuhan / anak yang suputra, maka leluhurpun pasti akan diselamatkan juga.

  20. thx bli,
    menyejukkan mendengar penjelasannya…..
    semoga mampu menginspirasi kita semua.

  21. Om Swastiastu..

    Slm Knl bli….
    Saya ingin bertanya bli, ada seorang spiritual yg mengatakan kalo sehabis sembahyang kita harus berdoa dl ke kawitan & leluhur, sehabis itu baru Ke Ida Shang Hyang Widi.
    Apa benar kalo sehabis sembahyang kita berdaoa dulu ke kawitan & leluhur baru ke Ida Shang Hyang Widi?? Mohon penjelasannya.

  22. @ nyta

    Om Swastiastu

    Salam kenal juga ya…

    Dalam sastra Veda ada istilah dasa anu dasa, pelayan dari pelayan. Sebagaimana yang sudah sering saya kutipkan, Sri Krishna mengatakan kepada Arjuna dalam Adi-Purana, Mahabharata; “Ye me bhakta janah partha na me bhaktas ca te janah, wahai Partha, orang yang berkata dirinya adalah bhakta Ku, sesungguhnya bukan bhakta-Ku. Mad bhaktanam ca ye bhakta te me bhaktata mamatah, tetapi orang yang berkata bahwa dirinya adalah bhakta dari bhakta-Ku, dia lah bhakta-Ku yang sebenarnya”.

    Dalam hal ini ada istilah “Manava Seva, Madava Seva (Melayani Manusia sama dengan Melayani Tuhan”. Artinya kita berusaha melayani setiap mahluk hidup dan menghormati mereka tetapi dengan kesadaran penuh bahwa kita memuja Tuhan YME.

    Istilah kawitan di sini mungkin berbeda dengan Hindu di luar Bali. kalau di luar Bali, pada saat memuja Tuhan, ada doa-doa yang juga di tujukan pada guru-guru dalam garis perguruan dan kepada para Bhakta-bhakta Tuhan yang agung.

    Jadi menurut pemahaman saya, sembahyang dan memohon petunjuk dari leluhur di kawitan, para dewa atau guru kerohanian kita dalam sembahyang kepada Tuhan adalah tindakan yang tepat. tetapi memuja Tuhan secara langsung juga tidak salah, tetapi permasalahannya, apakah kita sudah memiliki kualifikasi untuk itu? Ataukah kita masih memerlukan bimbingan dari para Bhakta Tuhan, seperti para guru kerohanian, leluhur dan para dewa?

  23. Md sankarsan // December 16, 2009 at 11:54 am //

    memuja dewa atau leluhur jika dalam rangka untuk menunjang bhakti, untuk meningkatkan sraddha kita kepada Tuhan ya substansinya benar. tapi kenyataannya banyak pemimpin umat yang masih keliru antara kedudukan dewa, leluhur dan Tuhan, mereka mengacaukan, sehingga membingungkan umat sendiri. solusinya kembali ke Weda dengan rumusan guru, sadhu dan sastra. diBali kita terlalu banyak mewarisi budaya raja-raja yang feodal, ya kalo rajanya dibimbing orang suci yang menguasai weda, suci,dan taat pada prinsip-prinsip kitab suci, tapi kenyataannya kita banyak diwarisi budaya yang tidak bersumber dari weda, dan malahan sebagian besar yang kita warisi adalah kebiasaan buruk sang raja seperti, Maaf “tajen” raja yg suka poligami, banyak selir sehingga menumbuhkan keturunan yg menjadi banyak soroh di Bali. untuk direnungkan……………..

  24. Nonametruth // October 6, 2010 at 6:02 pm //

    Agama Hindu atau Agama Bali???? Wah kalau atheis bodoh ini disuruh beragama, enakan agama Bali aja, made in Bali, ha ha ha. itu artinya, orang-orang Agama Bali yang mengeluh mau enaknya saja, susahnya nggak mau. Klo adat, itukan kebersamaan, klo mau sendiri, emang ada yang ngelarang, tapi jangan ikut dapat bagian, gitu aja koq repot. Maunya bagian saja, nggak mau susahnya. klo nggak dikasih ngubur, kubur dirumah aja, koq repot, ha ha. Atau pindah aja ke agama lain, kan nggak ada Undang-Undang yang ngelarang. Klo pengen tetep, ya harus jalanin tanggung jawab dong. Atau biar lebih gampang, atheis aja, selesai. Gitu aja koq repot.

    JANGAT ADAT BALI YANG DIRUBAH UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI. Ubahlah diri anda jika anda nggak kuat. jangan merubah dunia. Buktinya, hanya di Bali Hindu ajeg sampai saat ini, daerah lain???? KO semua. Di India tempat lahirnya aja, sudah mulai kalah angka lawan muslim, ntar ronde ke 10 aja KO, ha ha ha.

    Saya ingat, ntah artikel yang mana, Ngarayana bilang, Belanda ngelarang misionarisnya menyebarkan Kristen di Bali, klo nggak Hindu di Bali udah hancur (Bunuh diri ala Hindu di Bali). Itu artinya, mereka (penjajah) aja menghargai Hindu Bali karena adatnya. Klo cuma pake bunga, nari-nari, nyanyi, nabuh ketipung, pastilah udah dihancurin. Buktinya, di India saja, diserang, ha ha.

    Tapi terserahlah, klo anda sanggup rubah aja, palingan jadi tambah hancur, atheis kayak saya sih asik-asik aja, ha ha

  25. Nonametruth // October 6, 2010 at 6:13 pm //

    Eitsss buat dede narayana, jangan kelewatan bicaranya, Bali bukan cuma milik anda, ajegkan Bali dengan ajegkan Veda???? Trus atheis kayak saya yang lahir di Bali apakah tidak berhak di Bali????

    Yang bener, ajegkan Hindu di Bali dengan mengajegkan veda, silahkan!!!!!

    Lagian, itu kan pendapat orang perantau, klo orang yang gak merantau kayaknya nggak banyak deh yang berpandapat gitu. Trus, nggak ada koq larangan klo nggak mampu, saya aja orang Bali, nggak pernah pakai upakara apa-apa, tetap nggak ada yang ngelarang, anda aja yang ngerasa sendiri, klo mesalah mebanjar, kan beda lagi, itu kesepakatan, ubah awig-awig desa anda, bisa deh santai, nggak ngeluarin duit, enakan bli pulsa atau HP tipe termahal dan terbaru, he he

  26. Samaranji // October 7, 2010 at 12:15 am //

    Assalamu’alaikum.

    Mohon ijin ikutan bli,,,
    dari sisi nama, kayaknya lebih universal “sanathana dharma” deey ketimbang nama “hindu”.
    Maaf jika dirasa diskusi kalian terganggu.

    Wassalam.

  27. Emang ada ya budaya dan adat yang kekal? Perasaan sejak awal Nusantara ada sampai sekarang yang ada cuman perubahan. Dulu moyang kita berpakaian daerah yang paling banter pake sejarik kain, sekarang pada pake pakaian neciz and seksi atau pake pakaian arab. Di Bali juga gitu. Dulu pada pakai kain seadanya, susunya kelihatan, terus sekarang kalau ke pura pake jas safari. Tidak ada yang kekal bunk, yang kekal itu hanya perubahan itu sendiri dan nilai-nilai universal agama tentunya.

  28. Nonametruth // October 7, 2010 at 1:03 pm //

    Saya rasa pendapat Made, agak keliru, nilai agamapun sepertinya nggak kekal De, buktinya, nilai-nilai agama Hindu di Jawa, udah beralih ke nilai-nilai agama Islam, Seorang atheis bodoh seperti saya ini hanya berpendapat yang kekal itu cuman Yang Maha Kuasa, apaun dinamai oleh manusia, apapun dilabeli Agamanya, yang kekal hanya yang maha Kuasa. Maaf klo pendapat saya bodoh dan bagi orang yang mempelajari dan percaya veda sebagai pembuat huru hara atau setan atau iblis, tapi saya makin bangga, karena sebetulnya mereka belum tentu lebih baik dari saya.

  29. bukannya kalo ternyata perubahan itu membuat kita menjadi lebih baik malah lebih bgus,,kalo tidak suka kan alngkah lebih baiknya mengatakan di bagian mananya yg tidak berkenan,, sehingga adu argumennya jd lebih baik,,,, jgn kyak punya kepribadian ganda disatu sisi mengatakaan kalo diri sendiri bodoh tp di sisi lain mengatakan orang lain jg bodoh,,

  30. nak_bagus // October 8, 2010 at 8:41 am //

    Bagi saya, apapun label agama di KTP-nya, selama pondasi dharma dipegang dan dia percaya pada Tuhan, maka dia dapat dikatakan sebagai penganut Veda. Veda tidak pernah membatasi umatnya harus memuja Tuhan dengan cara ini dan itu dan menyalahkan cara-cara yang lain. Orang Hindu di Bali memuja Tuhan dengan mencakupkan tangan, orang Hindu jawa dengan meditasi dan laku spiritual, orang India dengan bhajan dan agni hotra, orang Kristen dengan menyanyi dan orang islam dengan sholat. Jika semua itu dilakukan tanpa bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran, bisa mengasihi semua mahluk hidup dan sikap toleran, mereka sudah ada dalam keluarga besar Sanatana Dharma

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



%d bloggers like this: