Mungkin belum banyak diantara kita yang mengerti apa itu Catur Veda Sirah. Sebagaimana namanya, kata Sirah yang merupakan bahasa Bali berarti “kepala”. Dengan demikian Catur Veda Sirah adalah merupakan kumpulan mantra-mantra yang dianggap penting/utama dan dikumpulkan kedalam satu kitab/lontar yang selanjutnya disebut sebagai Catur Veda Sirah. Meskipun beberapa sumber menyebutkan bahwa Maha Rsi Agastya yang mendirikan sekta Siva Sidantha yang terletak di Madyapradesh (India Tengah) yang menyusun mantra-mantra Veda yang dianggap penting ini, namun uniknya, Lontar-lontar Catur Veda Sirah hanya dapat dilihat dalam lontar-lontar yang terdapat di Bali.

Lalu bagaimana kedudukan Catur Veda Sirah dalam struktur Veda?

Penelitian untuk mengetahui keberadaan Veda di Bali dilakukan pertama kali oleh sarjana Belanda, R.Freidrich. Dia menjelaskan bahwa terdapat pandita/pedanda memiliki lontar yang terdiri dari 4 buah Samhita, yang aslinya ditulis oleh Rsi Vyasa (Veda Vyasa). Waktu itu Freidrich diijinkan untuk melihat sebuah lontar yang sebenarnya adalah Bramana Purana berbahasa Jawa Kuno.

Kemudian peneliti berikutnya, Burmund dan Kern menemukan kenyataan yang sebenarnya. Mantra yang ditemukan lontar-lontar tersebut adalah mantra yang bercampur dengan bahasa Jawa Kuno adalah mantra ritual dan penjelasannya bersifat mistik dengan latar belakang Sivaisme dengan warna Tantrik. Dan yang mengejutkannya, ternyata mantra-mantra Sanskerta di Bali yang disebut Catur Veda Sirah tidak lain adalah Nârâyanatharvasiropanisad (Narayana Upanisad) yang aslinya terdiri dari 5 bait mantra dan di Bali hanya dikenal 4 bait mantra saja dan kebetulan saja masing-masing bait berakhir dengan : “etadRgveda siro’dhite”.

Sylvain Levi menyatakan: “Apa yang disebut para Pandita di Bali sebagai Catur Veda sujatinya hanya terdiri Narayana Upanishad yang tiap-tiap bagian akhir berisi kata sirah (siro’). Oleh karena itu sering disebut Catur Veda Sirah. Mantra Gayatri yang sumber aslinya adalah Rig Veda 3.62 dan selalu dipetik sesudah kita-kitab Veda, ternyata di Bali sangat berlainan, tidak seorangpun Pedanda yang pernah mendengar dan membaca Mantra Gayatri dari Catur Veda mereka walaupun mereka setiap hari mengucapkan mantra itu dalam upacara Suryasevana”.

Adapun bunyi dari mantram Narayana Upanisad yang asli adalah sebagai berikut;

Narayana Upanisad [1]

om atha puruso ha vai narayano ‘kamayata prajah srjeyeti
narayanat prano jayate
manah sarvendriyani ca kham vayur jyotir apah prthivi visvasya dharini narayanad brahma jayate
narayanad rudro jayate
narayanad indro jayate
narayanad prajapatih prajayante
narayanad dvadasaditya rudra vasavah sarvani chandagmsi
narayanad eva samutpadyante
narayanad pravartante
narayane praliyante
ya evam veda
ity upanisat(e)

Narayana Upanisad [2]

om atha nityo narayanah
brahma narayanah
sivas ca narayanah
sakras ca narayanah
kalas ca narayanah
disas ca narayanah
vidisas ca narayanah
urdhvas ca narayanah
adhas ca narayanah
antar bahis ca narayanah
narayana evedag sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano nirvikalpo nirakhyatah
suddho deva eko narayanah
na dvitiyo ‘sti kascit(e)
sa visnur eva bhavati sa visnur eva bhavati
ya evam veda
ity upanisat(e)

Narayana Upanisad [3]

om ity agre vyaharet(e)
nama iti pascat(e)
narayanayety uparistat(e)
om ity ekaksaram
nama iti dve aksare
narayanayeti pancaksarani
etad vai narayanasayastaksaram padam
yo ha vai narayanasyastaksaram padam adhyeti
anapabruvah sarvam ayureti
vindate prajapatyagm rayas posam gaupatyam
tato ‘mrtatvam asnute tato ’mrtatva asnuta iti
ya evam veda
ity upanisat(e)

Narayana Upanisad [4]

om pratyag anandam brahma purusam pranava svarupam
akara ukara makara iti
tanekadha sametad om iti
yam uktva mucyate yogi
janma samsara bandhanat(e)
om namo narayanayeti mantropasakah
vaikuntha bhuvanam gamisyati
tad idam pundarikam vijnana ghanam
tasmad tadidabha matram
brahmanyo devakiputro
brahmanyo madhusudanah
brahmanyo pundarikakso
brahmanyo visnur acyuteti
sarvabhutastham ekam narayanam
karana rupam akaranam param brahma om

Narayana Upanisad [5]

om pratar adhiyano ratrikrtam papam nasayati
sayam adiyano divasa-krtam papam nasayati
madhyahna dinam adityabhimukho ‘dhiyanah
panca maha patakopapatakat pramucyate
sarva veda parayana punyam labhate
narayana-sayujyam avapnoti
narayana-sayujyam avapnoti
ya evam veda
ity upanisat(e)

Melihat kenyataan ini, Seorang tokoh Hindu etnis Bali, Made Titib menyatakan perlu pelurusan istilah bahwa para pandita kita telah mengucapkan mantra-mantra Veda, yang sesungguhnya diucapkan adalah mantra Stuti Stava para pandita. Sebab, sampai saat ini belum ada bukti ditemukan satu teks pun yang mengenai Veda, dalam arti sesungguhnya yang berbahasa Sanskrit murni. Bahasa Sanskrit memiliki chanda, guru lagu tersendiri, pemenggalan kata yang belum sepenuhnya dimiliki oleh para pandita di Bali.

Di Bali terdapat sangat banyak lontar. Seorang peneliti Belanda, Van Der Tuuk menggolongkan lontar ke dalam enam klasifikasi, yakni:

  1. Kelompok Veda (Mantra/Puja)
  2. Kelompok Agama bersikan Etika, Tatasusila, sasana
  3. Kelompok Wariga/astrologi, tutur, kandha, usada
  4. Kelompok Itihasa, epik, parwa
  5. Kelompok Babad/sejarah
  6. Kelompok Tantri.

Namun demikian, lontar-lontar ini juga sering dikelompokkan dalam 3 kelompok besar berdasarkan isinya, yaitu lontar yang berisi ajaran tatwa, susila (etika) dan agama (upacara).

Lontar yang bersikian tatwa: bhuwana kosa, bhuwana sang ksepa, wraspati tattwa, siwagama, siwaatattwa, gong besi, purwa bhumi kamulan, tantu pagelaran, tatwa jnana, janan sidhanta, sanghyang Mahajnana dan sebagainya.

Sedangkan Lontar yang berisikan tentang etika atau tata susila adalah siwa sasana, resi sasasana, vrati sasana, putra sesana, slokantara, silakrama, nitisastra.

Lontar yang berisikan upacara agama: Lontar Catur Vedhya, wrahaspati kalpa, devata tattwa, widihi tattwa, sundarigama, yama tatwa, yama purana tattwa, mpu lutuk aben, kramaning madhiksa, yajna samskara, kramaning atiwa-tiwa, indik maligia, pateru saji, dharma kahuripan, eka ratama, janmaprawerti, puja kalapati, puja kalih, ekadasarudra, pancawalikrama, indik caru, puja pali-pali, siwa tattwa purana dan lainnya.

Selain itu juga terdapat beberapa lontar lain lagi yang tidak dapat dimasukkan dalam 3 golongan besar tadi, yaitu antara lain;

  1. Lontar Pengayam-Ayam, yang membicarakan masalah sambung ayam, bagaimana memilih ayam aduan, warna ayam dan hari baiknya saat di adu agar menang.
  2. Lontar Dharmaweci (Lontar Pengiwa) yang menguraikan masalah ilmu hitam.
  3. Lontar Pangeleakan, yang merupakan dasar dari keberadaan leak di Bali.

Bagaimana kedudukan lontar yang menganjurkan himsa karma ini? Apakah masih sejalan dengan ajaran Dharma / Veda? Swami Sivananda pernah mengatakan: “Tidak ada pertapaan yang paling hebat selain melakukan Ahimsa.” Jadi, keberadaan tiga lontar ini dalam ajaran di Bali perlu kita pertanyakan.

Jika kita analogikan bahwa Veda yang universal dan turunannya termasuk ajaran Hindu yang tertuang dalam lontar-lontar di Bali sebagai sebuah undang-undang. Maka Veda dapat dikatakan sebagai Undang Undang Dasar dan lontar-lontar tersebut adalah turunan dan penjelasan detail yang dimaksudkan untuk mengerti Veda secara benar. Undang-undang dan peraturan-peraturan yang diturunkan dari Undang Undang Dasar tidaklah mungkin bertentangan. Tapi bagaimana jika lontar-lontar yang seharusnya merupakan turunan dari Veda ini malahan bertentangan dengan induknya, Veda?

Sejarah munculnya lontar-lontar dan pemahaman Hindu Bali yang sekarang cukup panjang. Mungkin hal ini juga ada kaitannya dengan usaha Mpu Kuturan dalam menyatukan aliran dan bahkan agama yang berbeda di Bali. Waktu itu di Bali terdapat aliran Sivaisme, Vaisnava, Sakti, Bairava dan juga ajaran Buddha dan bahkan Cina. Hal ini ditunjukkan dalam Lontar Bali Pulina 4a yang bunyinya sebagai berikut: “Sutrepti punang Bali Pulina tan hana wiyadi tiling manahnya agagitayan, punang para pandita Siwa, Buda lan para Rsi mwang Mpu setata akarya Homa nguncaraken wedannya mwang sehe. Humung kang swaranya genta ngastiti Hyang Widhi mwang para dewa-dewata. Tetabuhan maler meswara sadesa-desa, siyang latri angaci ring Pura-Pura tan papegatan. Kadulurin kidung kakawin.“

Artinya:

“Damailah keadaan Bali, orang-orang yang hatinya terpusat pada isi kidung. Adapun para pandita Siwa, Budha, para Rsi dan Mpu (berarti Sarwa Sadhaka?) senantiasa melaksanakan Agni Hotra (homa) mengucapklan mantra Weda (maksudnya puja-puja stava/stotra?) dan sehe (mantra memakai bahasa hati nurani). Bergemalah suara genta memuja Tuhan Yang Maha Esa dan para dewata, gamelan berbunyi di setiap desa, siang dan malam, berbakti di Pura-Pura tiada putusnya. Upacara ini disertai kidung dan kakawin”

Mungkinkah usaha ini menyebabkan garis perguruan yang menurunkan Veda dari guru ke murid terputus? Ataukan tindakan Mpu Kuturan waktu itu adalah tindakan yang paling tepat untuk mempertahankan Bali agar solid dalam menghadapi gempuran penyerangan Mataram Islam waktu itu?

Terlepas dari itu semua, perlu kita garis bawahi bersama tentang pentingnya mempelajari Veda dari garis-garis perguruan (sampradaya/parampara) dan dari guru yang benar-benar berkualifikasi sebagaimana petunjuk dalam sastra Veda. Veda tidak cukup dipelajari hanya dari buku-buku atau lontar-lontar tertentu, apa lagi kalau lontar tersebut hanya dijadikan barang tetamian yang sakral dan hanya di taruh di tempat suci tanpa pernah di jamah.

Veda juga tidak bisa dimengerti dengan terpisah-pisah. Kita tidak cukup dapat mengerti hanya dengan menghafal rangkuman mantra-mantra Veda yang dianggap penting, tetapi harus dipahami dengan bantuan Vedangga, yaitu;

  1. Siksa (tentang fonetik)
  2. Vyakarana (gramatikal)
  3. Chanda (tentang irama, lagu dan persajakan sloka-sloka veda)
  4. Nirukta (merupakan asal usul dan arti kata)
  5. Jyotisa (tentang astronomi dan astrologi)
  6. Kalpa (tentang cara melaksanakan upacara).

Berkenaan dengan ini, dalam Kitab Vayu Purana I.20, menyebutkan :

Itihâsa Purânabhyam vedam samupabrmhayet

Bibhetyalpasrutad vedo mamayam praharisyati

Artinya;
“Hendaknya Veda dijelaskan melalui Itihasa dan Purana (Sejarah), Veda merasa takut kalau seseorang yang bodoh membacanya”

Veda juga tidak boleh dipahami terpisah. Kita tidak boleh menganggap bahwa Veda Sruti kedudukannya lebih tinggi dari Veda Smrti, tetapi Veda adalah merupakan satu kesatuan yang utuh. Manava Dharma Sastra 2.10 menyatakan:

Sruthistu wedo wijneyo  dharmasastram tu wai smrtih,

te sarwartheswamimasye  thabyam dahrmahi nirbabhau

Artinya;
“Sesungguhnya Sruthi adalah Veda dan Smrti adalah Dharmasastra; keduanya tidak boleh diragukan Karena keduanya adalah sumber hukum suci”.

Mungkin pada waktu itu Catur Veda Sirah dapat menjadikan Bali tetap Hindu, namun sekarang jaman sudah berubah. Apakah dengan mempertahankan ajaran Veda yang kurang lengkap ini akan dapat mempertahankan kehinduan pulau Dewata?

Melihat kenyataan ini, jika anda merasa sebagai putra Bali dan bangga pada Hindu di Bali, maka mari kita benahi tatanan pemahaman Hindu yang benar sebelum Hindu Bali menjadi sejarah karena ditinggalkan oleh putra-putra terbaiknya yang kritis atau yang “paid kaung” dan “paid bangkung” akibat kesalahpahaman terhadap pemahaman ajaran Hindu Bali.

Sumber;

  1. Tulisan Made Aripta Wibawa SH, M.Ag pada Raditya edisi 123
  2. http://www.gosai.com/chaitanya/saranagati/html/vedic-upanisads/narayana-upanisad.html
%d bloggers like this: