Di kantor, saya sering dijuluki herbivora, istilah beken untuk Vegetarian kali ya… Sebagian orang memandang pola hidup vegetarian adalah polah hidup yang bagus. Atasan saya memuji pola hidup saya dengan mengambil benang merah antara penyakit gula yang beliau derita dengan kebiasaan hidup sehat ala vegetarian. Tapi lain halnya dengan seorang senior saya yang seorang muslimah yang memandang pola hidup vegetarian adalah hal yang sangat bertentangan dengan sunah nabi dan tidak sesuai dengan islam.

Benarkah pandangan ini? Untuk mencari jawaban tentang pandangan ini saya melakukan penelusuran pada beberapa situs-situs di internat dan beberapa literatur lain yang menguraikan tentang ajaran-ajaran islam. Hasilnya memang sungguh-sungguh mencengangkan. Hampir tidak ada pernyataan dari orang muslim modern yang mendukung tentang vegetarian. Yang ada hanya dua kubu, kubu yang netral terhadap pola hidup vegetarian dan kubu yang mengharamkan vegetarian.

Meski terdapat beberapa tokoh Islam Vegetarian:, yaitu antara lain Muhammad Rahiim Bawa Muhyinudiin (Guru Sufi dan Sastrawan.Sri Lanka), Rabiah Al Adawiyah Basri (Sufi wanita legendaris. Persia), Ibnu Sina, Avicenna (Tokoh kedokteran dan Ilmuwan Islam.Persia.) Abdul Qadir Al Jaelani: (Guru Besar Sufi. Pendiri Tarekat Qadiriyah. Persia), Ibnu Arabi (Ahli Ilmu Islam dan Master Sufi. Spanyol), (Muhammad Al Ghazali (Sarjana Sastra Islam. Persia),  Hazrat Nizamuddin Aulia (Master Sufi. Guru Spiritual dari Hazrat Chisti, India), Hazrat Muhyinuddin Chisti (Pendiri Orde Chisti. India), namun sayangnya dari tokoh-tokoh ini sebagian besar adalah sufi, yang menurut  beberapa sumber dikatakan bahwa sufi adalah ajaran Hindu yang dibalut dengan wajah Islam. Oleh karena itu Zaynab, seorang sufi wanita abad ke 9 yang di hukum karena menolak makan daging. Bahkan dalam beberapa tafsir dijelaskan bahwa seorang Muslim yang menjadi vegetarian dapat dianggap keluar dari Islam dan menjadi orang Kafir atau menyerupai Kafir, membuat perkara baru (bid’ah), mengingkari hukum yang Allah tetapkan dan mengingkari nikmat Allah.

Melihat kenyataan ini apa benar Islam mengharamkan vegetarian?

Menurut kalangan Islam ortodok, dalam kaedah fikih semua yang merupakan masalah adat, seperti makan, minum, pakaian, maka semuanya adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya. Kaedah inilah yang selanjutnya mendasari masalah makanan, seperti dikatakan tadi, pada dasarnya, memakan suatu makanan seluruhnya adalah halal sampai ada dalil syar’i yang menjelaskan bahwa makanan itu haram. Misalnya, diharamkan untuk memakan tikus, kodok, binatang yang bertaring atau binatang yang bercakar yang cakarnya itu digunakan untuk memangsa.

Sehingga dengan dasar pemikiran diatas, kaum Islam ortodok selanjutnya menjadikan ayat berikut sebagai pengukuhan atas pembenaran mereka. Ayat QS. Al Maidah [5]: 88 dan (QS. An Nahl [16]: 66) dijadikan pembenaran bahwasanya setiap hal yang tidak dilarang/diharamkan adalah halal dimakan.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5]: 88)

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An Nahl [16]: 66)

Namun jika kita mau jujur, dalam kedua ayat ini tidak ada perintah untuk memakan daging binatang dengan cara di bunuh, melainkan hak untuk dapat meminum susunya.

Lebih lanjut dalam hadis Nabi Muhammad disebutkan;

“Satu perbuatan baik yang dilakukan kepada seekor binatang sama pahalanya seperti bila dilakukan kepada manusia, sementara tindak kekejaman kepada seekor binatang sama buruknya seperti bila dilakukan kepada seorang manusia”

“Allah tidak akan mengasihani siapapun, kecuali kepada mereka yang mengasihi mahluk lain. Dimana ada sayur yang melimpah-limpah, sekumpulan besar malaikat akan turun ke tempat tersebut.

Lebih jauh Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen, seorang Sufi Islam mengatakan;

“Pada suatu ketika rasul Allah berkata kepada keponakannya, ‘Ali, “Oh ‘Ali, kamu semestinya tidak memakan daging. Jika kamu memakan daging selama 40 hari, maka kualitas itu akan masuk ke dalam dirimu. Tindakan-tindakan itu akan masuk ke dalam dirimu. Darah mereka akan masuk ke dalam dirimu. Kualitas-kualitas mereka dan tindakan-tindakan mereka akan masuk ke dalam dirimu. Karena itu, kualitas kemanusiaanmu akan berubah, kualitas welas asihmu akan berubah, dan intisari tubuhmu akan berubah. Oh ‘Ali, tidak seharusnya kamu makan daging. Kamu harus hilangkan itu. Jangan makan itu.”

Jadi, apakah Vetetarian haram?

Ya, jika anda mendasarkan pikiran anda atas dasar dogma bahwasanya segala sesuatau diciptakan untuk manusia dan semuanya boleh dilakukan selama tidak ada larangan dari Allah melalui Al-Quran.

Tapi jika anda berpikir lebih cerdas dan mengkaji secara lebih dewasa maka tentu jawabannya akan berbeda bukan?

Referensi:

Kitab Fathur-Rabbani dan Ja’ala Kawathir oleh: Abdul Qadir Al Jaelani.
Come To The Secret Garden oleh M.R Bawa Muhyinudin.
Richard C. Foltz: dalam kajian berjudul Is Vegetarian Un-Islamic?

http://muslimah.or.id/aqidah/vegetarian-dalam-timbangan-islam.html

http:// hiduplebihmulia.wordpress.com

Jilbab Wanita Muslimah, Syaikh Nashiruddin Al Albani.

Taisirul Karimirahman, Syaikh Abdurrahman As Sa’di.

Fadhilah IPTEK – Islam: Trying to be The Real Moslem, Nanung Danar Dono, S.Pt, M.P

www.islamicconcern.com
www.ivu.com

%d bloggers like this: