Beberapa tahun yang lalu di sebuah stasiun radio bergema sebuah statemen unik dari seorang Bali yang sudah “diselamatkan” dan saat itu bahkan menjadi Pendeta di komunitasnya. Dia berdoa kepada Tuhan Yesus agar suatu saat Yesus bisa di stanakan di Pura Tanah Lot. Bagi saya, ini adalah sebuah statemen yang sangat keras. Tetapi anehnya hampir tidak satupun umat Hindu Bali yang bergeming dengan pernyataan ini. Seolah-olah mereka mengamini statemen tersebut.

Begitulah dari waktu ke waktu Bali “digempur” habis-habisan. “Pura” yang sengaja dibangun untuk menstanakan Yesus dibangun di mana-mana. Padmasana dimodifikasi dengan mengukir lambang salib di atasnya. Pelangkiran tidak lagi bersimbol Swastika, Ong Kara atau Acintya, tetapi sengaja diganti dengan lambang salib. Kidung-kidung wargasari yang mengagungkan Sang Hyang Widhi juga diganti dengan Tuhan Yesus. Tapi meskipun begitu gencarnya aksis ini dilakukan, tetap saja warga Bali hanya terdiam lemah. Sebagian orang Hindu Bali bangga dengan apa yang dilakukan para misionaris tersebut karena menurut mereka para misionaris menghormati adat istiadat setempat sehingga meskipun agama berganti, tetapi budaya Bali tetap ajeg. Sebuah kebanggaan yang menarik untuk dikaji. Apa benar dengan tetap mempertahankan “ornamen kebalian” tetapi dengan mengganti “jiwa” ajaran Hindu tersebut akan membuat Bali tetap ajeg? Apa benar tradisi Bali yang ada saat ini memang karena Bali itu sendiri dan bukan karena didasarkan pada filosofi Veda? Harusnya warga Bali yang memiliki kebanggaan semu seperti itu menyadari bahwa pelangkiran, pelinggih, padmasana, ukiran yang umumnya berkisah pada Ramayana dan Mahabharata serta berbagai macam tari, seni tabuh dan sebagainya yang sangat adiluhur tersebut tidak akan pernah ada jika tidak dijiwai oleh ajaran Veda. Jika ada usaha merubah budaya yang sarat dengan ajaran Veda, apakah itu artinya secara tidak langsung mereka juga sedang berusaha mendistorsikan ajaran Hindu? Mari gunakan hati kecil kita masing-masing untuk mencari jawaban masalah ini.

Krama Bali di tanah kelahirannya sendiri memang sedang terdesak baik dari segi agama, budaya, ekonomi dan bahkan pemukiman. Fakta di lapangan memperlihatkan sebagian besar hotel-hotel, restauran, dan sarana pendukung pariwisata yang ada di Bali adalah milik kaum pendatang. Orang Bali hanya menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Mereka hanya topeng monyet yang sedang asyik menari demi sebuah pisang. Sementara penikmat sebenarnya adalah tuannya. Servei terakhir memperlihatkan bahwa krama Bali Hindu yang tinggal di Denpasar saat ini hanya sejumlah 40% saja. 60%-nya adalah pendatang dan non-Hindu. Menurut data yang lain yang sering didengungkan di beberapa milis muda Hindu nasional dikatakan bahwa 40% penduduk pulau dewata saat ini bukanlah Hindu. Nilai 40% ini terdiri dari komposisi warga pendatang dan krama Bali yang sudah hijrah dari Hindu. Umumnya krama Bali yang pindah agama memilih untuk menjadi Kristen atau Katolik. Jadi sudah sangat jelas bahwasanya krama Hindu Bali saat ini sudah sangat terdesak dari segala lini kehidupan.

Lalu apa penyebab krama Hindu Bali kalah bersaing dengan kaum pendatang? Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekalahan ini. Secara umum ada 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang bersumber dari diri kita masing-masing antara lain adalah karena kita lengah, manja, apriori, terbuai oleh sanjungan (belog ajum) dan jaga gengsi. Sedangkan penyebab dari luar setidaknya ada 2, yaitu para pendatang yang jauh lebih militan, tanah banting dalam menghadapi hambatan; dan adanya oknum-oknum tertentu di kalangan krama Bali yang mementingkan diri sendiri mengeruk keuntungan melalui upacara agama.

Oknum-oknum pengeruk keuntungan ini kita sebut saja sebagai istilah “Guru Belog Megandong”. Disebut “Guru” karena beliau gigih mengajarkan berbagai upacara yang meriah dan hura-hura. Disebut  “Belog” (Bodoh) karena tidak tahu atau tidak mampu mengentaskan kemiskinan, malah sebaliknya menyebabkan Krama Bali semakin banyak jatuh miskin. Disebut “Megandong” karena memberatkan Krama Bali, yaitu dengan menarik keuntungan melalui upacara keagamaan. Krama Bali didorong-dorong agar tulus berkorban, berkorban dan berkorban untuk Sang Hyang Widhi katanya. Tetapi oknum itu sama sekali tidak pernah ikut berkorban, malahan dia mengorbankan Krama Bali itu sendiri.

Guru Belog Megandong yang telah diberi kedudukan terhormat oleh Krama Bali, semestinya gigih menolong Krama Bali yang miskin agar bisa hidup layak. Tetapi nyatanya beliau tidak pernah peduli dengan orang miskin. Semiskin apapun Krama Bali jika mohon petunjuk untuk melakukan upacara, maka Guru Belog Megandong selalu mendorong agar upacaranya meriah. Sebab dengan upacara yang meriah ada alasan untuk menarik “daksina” yang lebih besar. Mirip seperti makelar tanah, jika tanah yang dimakelari lakunya lebih mahal, maka persenan “daksina”-nya pun tentu lebih besar pula. Krama Bali yang polos dan lugu tidak mengetahui politik ini karena dikemas dengan rayuan yang muluk-muluk.

Krama Bali masih saja tunduk kepada Guru Belog Megandong ini karena Krama Bali terlalu baik, polos dan lugu. Kepolosan Krama Bali dimanfaatkan sebagai budak turun temurun. Agar Krama Bali rela diperbudak, maka Guru Belog Megandong memakai dua senjata yang cukup ampuh, yaitu “indoktrinisasi dan intimidasi”.

Indoktrinisasi adalah suatu cara memasukkan ajaran kepada orang lain untuk mencuci otak orang yang mendengarkannya. Orang-orang yang diindoktrinisasi lama kelamaan akalnya tidak berfungsi sehingga mereka percaya membabi buta terhadap ajaran itu. Guru Belog Megandong biasanya memakai mitos atau dogma yang dikaitkan dengan agama Hindu agar umat Hindu cepat menerimanya.

Sedangkan intimidasi adalah menekan dan menakut-nakuti agar mental orang yang diintimidasi jatuh, tidak percaya diri, rendah diri (minder), ketakutan dan menurut seperti kerbau yang dicolok hidungnya. Orang-orang yang diintimidasi menjadi amat ketergantungan dengan Guru Belog Megandong. Guru Belog Megandong dianggapnya dewa penyelamat oleh mereka yang pikirannya selalu dihantui oleh bayang-bayang ketakutan. Dengan demikian, setiap mereka akan melakukan upacara pasti mohon petunjuk kepada Guru Belog Megandong. Pada waktu mereka memohon petunjuk, disitulah Guru Belog Megandong merekayasa “politik daksina” dimasukkan pada upacara dengan cara menggelembungkan tingkatan upacara. Upacara yang semestinya boleh dilakukan dengan biaya hanya Rp. 300.000,- dimarkup menjadi Rp. 3 juta. Karena umat ketergantungan dengan beliau, ya mau tidak mau menurutinya walaupun dengan jalan berhutang berupacara.

Salah satu contoh indoktrinisasi dari Guru Belog Megandong sebagai berikut; “Jika anda mau berkorban suci melakukan upacara yadnya dengan tulus iklas untuk Sang Hyang Widhi maka anda akan mendapatkan pahala kemakmuran, keselamatan, ketentraman, dan kedamaian. Semua dresta, gering dan penyakit niskala akan hilang dari pekarangan rumah anda”. Karena dikatakan untuk Sang Hyang Widhi dan dengan iming-iming niskala maka dengan sendirinya Krama Bali bersemangat mengorbankan apa saja yang dimilikinya. Ada yang mengorbankan tanah, ternak, perhiasan, bahkan ada dengan jalan pinjam kredit di Bank untuk biaya upacara dengan harapan mendapat pahala seperti yang disebutkan oleh Guru Belog Megandong. Tetapi “lacur”, setelah upacara selesai, lama menunggu-nunggu yang datang bukannya pahala, tetapi tagihan hutang dan kesulitan ekonomi.

Semua ini terjadi karena korban suci yang dilakukan “nyaplir”, melenceng dari apa yang seharusnya. Guru Belog Megandong mengatakan untuk Sang Hyang Widhi, tetapi prakteknya untuk para Bhuta Kala, untuk memuaskan panca indria, untuk pameran kebaktian dan sekian persen untuk Guru Belog Megandong berupa daksina. Bahkan tidak jarang Guru Belog Megandong malahan meningkatkan pendapatannya dengan jalan jualan banten. Sehingga otomatis sebenarnya korban yang dilakukan Krama Bali sebagian besar untuk si Guru Belog Megandong itu sendiri. Apa benar banten seabrek yang dipersembahkan dan akhirnya hanya menjadi sampah itu untuk Sang Hyang Widhi atau para dewa? Dalam Upanisad disebutka; “etad evamrtamdrstva trpyanti, para dewa sudah puas hanya dengan melihat “tirta amerta” yang ditempatkan pada mangkuk tanah kecil”. Kalau banten itu ternyata salah tujuan, pantes kalau Krama Bali hanya bisa “angkih-angkih” tanpa hasil. Banten dibuat dengan mengekspoitasi alam dan dengan berbagai hutang. Pohon kelapa dipangkas habis daunnya, tanaman dan binatang langka malahan dikorbankan tanpa ada usaha konservasi, tetapi ujung-ujungnya hanya dijadikan makanan ulat dan bakteri di tempat sampah. Bukankah ini sebuah bentuk menyia-nyiakan mahluk hidup lain? Katakanlah bahasa kasarnya sebagai “pembantaian”. Padahal kitab suci sudah mengatakan kalau tujuan yadnya adalah untuk kesejahteraan seluruh mahluk hidup dan bukan manusia saja, apa lagi hanya untuk Guru Belog Megandong. Jika manusia membunuh binatang dan membabat tumbuh-tumbuhan tanpa tindakan konservasi, apakah dapat tindakan itu dikatakan meyadnya? Bukankah itu sebuah tindakan kejahatan bahkan kepada Hyang Widhi sendiri karena Hyang Widhi adalah Isvarah sarva bhutani, ada pada setiap mahluk hidup. Beliau lah ayah seluruh mahluk hidup.

Kata yadnya berasal dari bahasa daivivak atau bahasa dewa. Guru Belog Megandong tidak mengerti bahasa dewa, sehingga dengan salah mengerti, dia juga akhirnya salah melaksanakannya. Krama Bali yang pada umumnya juga tidak mengerti dengan bahasa dewa, menyangka Guru Belog Megandong sudah tahu bahasa dewa, sehingga dengan lugu mengikuti Guru Belog Megandong yang salah. Disini letak melencengnya pengorbanan Krama Bali yang menyebabkan mereka payah tertatih-tatih. Nafasnya “angkih-angkih” (terengah-engah) menggendong sang Guru Belog Megandong.

Menganai contoh masalah intimidasi yang dilancarkan oleh Guru Belog Megandong untuk melancarkan aksinya adalah sebagai berikut:

  1. Jika anda tidak melaksanakan upacara ngenteg linggih 30 tahun sekali, maka tidak ada dewa atau bethara melinggih di merajan anda”. Orang yang otaknya sudah dibius dengan dogma-dogma menjadi ketakutan mendengar penjelasan itu karena mereka merasa sudah lebih dari 30 tahun tidak melaksanakan upacara ngenteg linggih. Dengan demikian mereka memaksakan diri melakukan upacara ngenteg linggih dengan biaya ratusan juta rupiah. Bahkan di salah satu desa pekraman ada yang menghabiskan biaya sampai 2,6 Milyar rupiah. Secara terpaksa mereka menjual apa saja yang dimiliki. Beberapa diantaranya bahkan berhutang dengan harapan agar “Dewa malinggih di Merajannya”. Tetapi Krama Bali yang cerdas dan mengerti dengan “tattva vyapi vyapaka nirvikara” dan “sarva jagat pratistanem” yang artinya Sang Hyang Widhi ada di mana-mana dan hadir di semua tempat seantero jagat raya ini, maka mereka tertawa geli mendengar pernyataan Guru Belog Megandong yang nyatanya tidak ada “Dewa malinggih di Merajan”.
  2. Kalau kurang banten-nya, saya tidak berani muput. Kalau ada orang lain yang berani muput, silahkan risikonya ditanggung sendiri”. Orang yang otaknya sudah dicuci oleh Guru Belog Megandong menjadi ketakutan, sehingga terpaksa memaksakan diri membuat banten sebanyak yang disuruh oleh Guru Belog Megandong. Walaupun dengan jalan berhutang membuat banten demi mau disahkannya upacara tersebut oleh Guru Belog Megandong. Namun apa yang terjadi setelah upacara selesai? Pikiran sang empunya upacara tidak pernah tentram karena dihantui oleh bayang-bayang hutang. Hutangnya belum lunas, istri melahirkan, dan anaknya sakit sehingga memaksanya menambah hutang baru. Hutang kedua belum lunas, tiba waktu saat sang anak yang baru dilahirkan harus melaksanakan upacara satu bulan tujuh hari, tiga bulanan, otonan, potong rambut, odalan di Merajan, odalan di pura Dadya, odalan di pura Desa, lalu Galungan, Kuningan, Buda Wage Kalawau, Pagerwesi, Nyepi dan sebagainya. Dapat dibayangkan kondisi Krama Bali yang perekonomiannya pas-pasan. Apa jadinya jika beragama hanya diajak melaksanakan upacara melulu? Apakah tidak akan membuatnya miskin materi dan juga miskin pengetahuan spiritual? Tentu saja Krama Bali yang cerdas dan memahami Widhi Tattva tidak mau tunduk dengan gertak sambal guru belog mabet ririh. Krama Bali yang cerdas mengerti bahwa seberapapun umat mampu membuat banten asal dilandasi dengan sikap pengorbanan yang tulus iklas atas dasar cinta kasih bhakti, maka Sang Hyang Widhi Wasa akan menerimanya. Sang Hyang Widhi tidak ada mengharuskan manusia membuat banten yang banyak. Seberapapun kemampuan umat, maka sejumlah itulah yang seharusnya dipersembahkan. Yang penting adalah sikap bhakti yang tulus. Banten yang dibuat dengan perasaan tertekan sama saja menghaturkan racun dan tidak akan diterima oleh-Nya. Guru Belog Megandong mengatakan takut muput karena bantennya kurang tujuannya adalah agar daksina-nya bisa lebih banyak. Tentu saja lebih masuk akal menarik daksina lebih besar jika bantennya banyak bukan?
  3. Kamu orang Sudra tidak boleh muput upacara. Sang Brahmana baru boleh. Sekarang memang banyak orang pintar, tetapi bukan berarti boleh”. Krama Bali yang akalnya sudah terbius oleh dogma ini rela dirinya direndahkan sehingga tidak berani menyelenggarakan upacara jika tidak dipuput oleh Guru Belog Megandong. Mereka mengira upacaranya tidak akan diterima oleh Sang Hyang Widhi jika tidak dipuput oleh sang Guru Belog Megandong. Bahkan karena cap Sudra yang diberikan, Krama Bali sampai kehilangan kepercayaan diri, minder dan menganggap diri rendah sehingga mau saja diremehkan, dikata-katai kasar dan dijadikan budak oleh Guru Belog Megandong. Tetapi tentu saja hal ini tidak berlaku bagi Krama Bali yang cerdas. Mereka sudah pasti tidak mau tunduk pada politik akal busuk seperti itu. Mereka berusaha membaca lontar-lontar dan kitab suci Veda yang ada. Berusaha mengerti tentang banten, cara melakukan upacara dan puja-mantranya. Setelah tahu caranya, maka mereka mampu melakukannya sendiri. Mereka ingin merdeka dalam berhubungan langsung dengan Sang Hyang Widhi tanpa harus dikekang oleh Guru Belog Megandong. Jika Guru Belog Megandong atau oknum Krama Bali lainnya merendahkan soroh “jaba” dan meninggikan soroh “ida bagus”, maka oknum ini sebenarnya dibenci oleh Dewa Bayu karena melanggar hukum agama yang salah satunya tercantum dalam Manawa Dharmasastra VII.20. Veda sendiri mengatakan “vasudaiva kutumbakam, semua mahluk hidup bersaudara”. Jadi mereka yang melakukan diskriminasi seperti itu pada dasarnya adalah orang yang durhaka terhadap Veda. Mereka adalah orang-orang sok pintar tetapi sujatinya sangat bodoh. Sistem wangsa yang ada di Bali bukanlah buah dari ajaran Hindu, tetapi buah ajaran feodalisme tokoh-tokoh Guru Belog Megandong ini. Veda tidak pernah mengatakan kedudukan Brahaman, Ksatrya, Vaisya dan Sudra ini berasal dari keturunan. Berkali-kali Veda menegaskan bahwa hal ini muncul dari guna (sifat) dan karma (pekerjaan) orang yang bersangkutan. Mau dia keturunan Brahmana atau Kesatriya, kalau tingkah lakuknya hanya judi dan mabuk-mabukan, sejatinya dia hanyalah kaum candala yang kedudukannya lebih rendah dari keempat golongan (catur varna) yang diakui Veda. Banyak tokoh-tokoh kita yang memiliki kedudukan terhormat, diakui sebagai Brahmana, duduk di Parisada, di Departemen Agama atau di organsiasi adat yang mengaku mampu “ngalinggihan Veda” tetapi perbuatannya sangat sering melanggar sloka-sloka suci Veda. Inilah para tokoh “musang berbulu ayam”. “Politik daksinanya” ibarat musang, Veda ibarat bulu ayam dan soroh sudra adalah ayam. Walaupun si soroh sudra dilecehkan oleh si Guru Belog Megandong tetapi mereka tetap setia dan hormat kepada Guru Belog Megandong. Jadi sebenarnya soroh sudra inilah yang berbudi pekerti luhur, yang berusaha mempraktikkan Veda meski tidak tahu isinya. Sementara si Guru Belog Megandong adalah soroh licik, prikik dan menjadikan Veda hanya sebagai kedok.
  4. Jika Krama Bali tidak melakukan pecaruan tertentu, maka Bali akan hancur”. Pernyataan Guru Belog Megandong yang berlagak maha tahu akan masa depan Bali membuat Krama Bali yang tidak tahu-menahu ajaran kitab suci Veda amat ketakutan mendengar kata “Bali akan hancur”. Mereka mengira Bali ini akan benar-benar hancur lebur jika pecaruan seperti yang disuruh Guru Belog Megandong tidak dilaksanakan. Padahal pernyataan itu hanya akal-akalan agar proyek politik daksinanya Guru Belog Megandong jalan terus. Karena jika Krama Bali mengadakan caru besar-besaran, tentu daksinanya juga lumayan besar. Proyek seperti ini menguras banyak tenaga, waktu dan biaya sampai milyaran. Akibatnya perekonomian Krama Bali semakin payah, belum lagi menghadapi tantangan global yaitu antara lain; tantangan perekonomian yang semakin mencekek leher; tantangan kesehatan yang biayanya mahal; tantangan pendidikan yang semakin tidak terjangkau; dan tantangan moral yang semakin amburadul. Sungguh amat kasihan kepada Krama Bali yang mendapat tekanan dari dua arah, yaitu dari dalam oleh Guru Belog Megandong dan dari luar oleh para pendatang yang merampas sumber-sumber rejekinya bersamaan dengan tekanan tantangan global diatas. Tantangan dua arah yang menjepit inilah yang mungkin menyebabkan kasus bunuh diri di Bali semakin banyak terjadi. Ada yang bunuh diri karena tidak mampu membayar hutang, ada yang bunuh diri karena tidak mampu membayar biaya pengobatan, bahkan ada yang gantung diri karena tidak sanggup membayar biaya sekolah. Koran daerah seperti Bali Post dan Radar Bali hampir setiap hari menghadirkan kasus bunuh diri, percekcokan, perkelahian, sengketa, pembunuhan dan kejahatan Krama Bali yang dipicu oleh masalah ekonomi. Jadi pembunuhan dan kehancuran Bali pada dasarnya bukan karena Bhuta Kala, tetapi oleh tingkah polah Krama Bali itu sendiri yang telah dicekoli sang Guru Belog Megandong.

Dampak buruk indoktrinisasi dan intimidasi Guru Belog Megandong menyebabkan mental Krama Bali miskin. Dari mental yang miskin menyebabkan mereka miskin harta benda. Setelah miskin menjadi susah, kecewa, menyesal, menggerutu, jengkel, marah campur aduk. Kondisi seperti itu membuat frustasi, depresi, mudah salah paham, mudah diasut, akalnya lumpuh bahkan sampai ada yang struk. Akal yang lumpuh tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kehidupan yang terdesak menimbulkan persaingan kepentingan yang menimbulkan percekcokan dan berbagai bentuk sengketa. Pada umumnya bersengketa merebut harta warisan, tanah orang lain bahkan dewasa ini sampai pura dan kuburan pun ikut disengketakan. Inilah akibat tanah yang terus dijual kepada pendatang hanya untuk menutupi biaya upacara yang mencapai lebih dari sembilan digit angka. Hanya karena penggunaan nama “Bagus, Gusti, Agung” dan sejenisnya oleh orang yang dicap sudra diributkan sampai tega mengusir saudaranya sedharma. Padahal pemberian nama itu tidak akan merugikan masyarakat. Inilah yang disebut “kirik marebut entut” (mentog berebut kentut). Begitulah sebagian kecil dampak buruk ajaran-ajaran Guru Belog Megandong.

Karakter Krama Bali sebenarnya baik dan sudah terkenal ke manca negara. Orang Bali dikenal ramah, jujur, mudah senyum, sosial, kreatif dan produktif. Tapi itu dulu. Jaman sekarang karena telah terindoktrinisasi dan terintimidasi oleh Guru Belog Megandong, akhirnya mental Krama Bali merosot menjadi “belog ajum, belog mabet ririh, belog pengkung, apriori, prejudis, lengit dot begak, manja, tidak produktif dan konsumtif”. Mereka yang mengalami degradasi moral seperti ini tidak menyadari dirinya semakin jauh dari Sang Hyang Widhi yang secara otomatis juga menyebabkan mereka semakin mudah terkena tipu, baik oleh Guru Belog Megandong maupun oleh para penipu lainnya.

Memang tidak semuanya demikian, masih banyak orang Bali yang baik. Tetapi apa daya, rusak susu sebelanga hanya karena nila setitik. Salut untuk Krama Bali dan para “surya”-nya yang masih bagus. Semoga mereka yang membaca tulisan ini tidak ikut tersinggung.

Kritikan yang ditujukan kepada beberapa oknum pemimpin spiritual kita di Bali ini mungkin terkesan pedas. Tapi kritikan ini saya tulis bukan karena dilandasi perasaan benci kepada tokoh Guru Belog Megandong ini, tetapi murni karena cinta dan prihatin. Pada jaman dahulu, saat sistem pendidikan tidak seperti saat ini, bapak ibu guru kita selalu membawa garisan kayu atau bahkan cemeti rotan. Murid yang tidak serius belajar dan mengakibatkan tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan guru harus menerima pukuran garisan kayu atau rotan tersebut. Memang terkesan menyakitkan, tetapi faktanya hampir semua murid berhasil lulus dengan memuaskan. Jaman sekarang sistem mengajar seperti itu sudah tidak dipakai lagi dengan alasan HAM. Tapi nyatanya saat ini kasus nyontek saat ujian malah merebak. Padahal jaman dulu tidak ada murid yang berani menyontek. Meski dikatakan saat ini murid-murid dikatakan lebih pintar karena terekspose teknologi, tapi nyatanya setiap kali ujian nasional, berita satu sekolah muridnya tidak ada yang lulus sudah biasa. Inilah akibat sikap yang terlalu memanjakan. “Pintar” karena teknologi boleh saja, tapi kalau “educare” yang bisa menumbuhkan moralitas tidak terbangun akhirnya korupsi, penipuan dan kejahatan lainnya merajarela. Begitu juga kritikan pada Guru Belog Megandong ini mungkin bagaikan cambukan kepada murid-murid tadi. Tetapi tujuannya murni agar membuat mereka sadar dan tidak terus-menerus minta digendong. Agar tidak terus menerus memberatkan Krama Bali.

(Bersambung….. ke artikel: “Guru Belog Megandong, Krama Bali Angkih-Angkih – Bagian 2“)

Ditulis ulang dengan sedikit perubahan berdasarkan tulisan Jero Mangku Wayan Suwen dalam karyanya berjudul: “Gurunya Belog Megandong, Krama Bali Angkih-angkih – Kiat Pan Lagas: XVII”


%d bloggers like this: