Salah satu sifat Tuhan Yang Maha Esa adalah Vidhi, berarti Maha Tahu. Dalam konsep Ketuhanan Hindu di Indonesia, sifat Vidhi inilah yang paling banyak diketahuai. Lalu dengan mengadopsi bahasa Bali dan Cina muncullah frase “Ida Sang Hyang Vidhi Wasa.” Jadilah, nama Tuhan kita adalah “Ida Sang Hyang Widhi Wasa” yang berarti Beliau yang maha mengetahui dan maha kuasa. Tuhan Yang Maha Esa dalam ajaran Hindu disebut dengan ribuan nama, ribuan nama itu adalah nama yang diperuntukkan kepada sifat-sifat, karakter atau aspek kemahakuasaan-Nya yang sangat didambakan oleh umat manusia ( Suryanto, 2006 : 117).

Dalam kitab-kitab Upanisad dikatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan kebenaran yang tertinggi dan maha mutlak. Tak ada kebenaran yang melebihi Beliau. Hal ini sesuai dengan apa yang diuraikan dalam Bhagavad-gita bab 7 sloka 7 sebagai berikut :

mattah parataram nanyat

kincit asti dhananjaya

mayi sarvam idam protam

sutre mani gana iva

 

Artinya : Wahai perebut kekayaan, tidak ada kebenaran yang lebih tinggi daripada-Ku. Segala sesuatu bersandar kepada-Ku, bagaikan mutiara diikat pada seutas tali ( Prabhupada, 1986 : 361).

Segala sesuatu memang bersandar dan tergantung pada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber asli segala sesuatu. Tuhan bersifat maha mutlak dan di luar jangkauan daya pikir filosofis yang paling besar sekalipun. Karena kemahamutlakan Tuhan Yang Maha Esa, maka Tuhan hanya dapat dimengerti atas karunia dari Beliau. Dalam kitab suci Veda terutama Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana memberikan penjelasan yang lengkap tentang Tuhan. Tuhan Yang Maha Esa disebut sebagai kebenaran mutlak yang dapat diinsafi atau dipahami dalam tiga aspek pengertian yaitu : Brahman atau kerohanian yang berada di mana-mana dan tidak bersifat pribadi, Paramatma yang juga dikenal sebagai jiwa utama (Supersoul) yaitu aspek yang maha kuasa yang berada disuatu tempat dalam hati setiap mahluk hidup dan Bhagavan atau kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan dunia ini dan memelihara segala sesuatu . (Knapp, 2005 : 19).

Untuk lebih jelasnya tiga aspek Tuhan Yang Maha Esa tersebut dijelaskan dalam Bhagavata Purana (Srimad Bhagavatam) skanda I bab 2 sloka 11 sebagai berikut :

vadanti tat tattva vidas

tattvam yaj jnanam advayam

brahmeti paramatmeti

bhagavan iti sabdyate

 

Artinya :  Para rohaniwan terpelajar yang mengenal kebenaran Mutlak menjuluki zat yang tidak nisbi tersebut Brahman, Paramatma dan Bhagavan (Prabhupada, 1994 : 109).

Tiga aspek rohani tersebut dapat dijelaskan dengan menggunakan contoh matahari, yang juga mempunyai tiga aspek yang berbeda, yaitu sinar matahari, bola matahari dan penguasa matahari atau Dewa matahari. Orang yang mempelajari sinar matahari adalah murid pada tahap mulai belajar. Orang yang mengerti tentang bola matahari lebih maju dan orang yang dapat masuk ke dalam matahari dan tahu dengan penguasa matahari adalah murid yang paling maju dan tertinggi. Orang-orang yang hanya puas dengan mengerti tentang sinar matahari yaitu sinar matahari yang berada di mana-mana dan cahaya sifat tak pribadinya yang menyilaukan dapat dibandingkan dengan orang yang hanya menginsafi aspek Brahman dari kebenaran Mutlak. Orang yang lebih maju dapat mengenal bola matahari, yang diumpamakan sebagai pengetahuan tentang aspek Paramatma dari kebenaran Mutlak. Orang yang dapat masuk ke dalam inti planet matahari dan mengetahui bahwa ada kepribadian yang berkuasa di planet matahari itu, dapat diumpamakan sebagai orang yang menginsafi aspek Bhagavan dari kebenaran Mutlak. Karena itu, orang yang dapat menginsafi aspek Bhagavan kebenaran Mutlak adalah rohaniwan-rohaniwan tertinggi, kendatipun semua orang yang tekun mempelajari kebenaran Mutlak sedang menekuni mata pelajaran yang sama. sinar matahari, bola matahari dan penguasa matahari itu sendiri tidak dapat dipisahkan satu sama lain, namun para siswa yang masing-masing mempelajari tiga tahap yang berbeda tersebut tidak termasuk golongan yang sama (Prabhupada, 1986 : 71).

Untuk lebih jelasnya, penulis akan menguraikan secara terperinci mengenai tiga aspek kebenaran Mutlak atau Tuhan Yang Maha Esa tersebut, sebagai berikut:

BRAHMAN

Brahman adalah salah satu sebutan yang digunakan dalam Upanisad-upanisad untuk menamakan Tuhan Yang Maha Esa pencipta alam semesta ini. Brahman adalah absolud dalam segala-galanya. Brahman tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya (Swayambhu) dan mengadakan semua yang tampak maupun yang tidak tampak (Cudamani, 1990 : 65). Menurut Adi Sankaracharya segala sesuatu adalah Brahman, Brahman Yang Mutlak sajalah yang nyata, dunia ini tidak nyata dan jiwa atau roh pribadi tidak berbeda dengan Brahman. Brahman tertinggi menurut Sankaracharya tak berpribadi, Nirguna (tanpa sifat), Nirakara (tanpa wujud), Nirvisesa (tanpa ciri-ciri tertentu), Sanatana (tak berubah-ubah ), Nitya (abadi) dan Akarta (bukan pelaku atau perantara). Brahman tidak ada duanya, Esa dan tak memiliki yang lain di sisinya-Nya. Brahman tak dapat digambarkan, karena pengambaran akan menyatakan perbedaan-perbedaan (Masvinara, 1999 : 182).

Berbeda dengan Sankaracharya, Ramanujacharya, Madvacharya dan Caitanya berpendapat bahwa apapun juga semuanya adalah Brahman, tetapi Brahman disini bukanlah sesuatu yang bersifat serba sama, ada perbedaan yang jelas dan nyata antara Brahman dan jiwa. Alam semesta adalah nyata. Jiwa merupakan pelayan abadi dari Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki hubungan yang sama dengan Tuhan, seperti sinar matahari dengan mataharinya sendiri. Sinar matahari walaupun ia memancar dari matahari, ia bukanlah matahari, begitulah halnya dengan jiwa (Sivananda, 1997 : 232).

Brahman merupakan cahaya yang memancar dari badan Tuhan Yang Maha Esa (Brahmajyoti) dan tidak bersifat pribadi. Kenyataan ini dibenarkan oleh Bhagavad-gita bab 14 sloka 27 sebagai berikut :

brahmano hi pratisthaham

amrtasyavyayasya ca

sasvatasya ca dharmasya

sukhasyaikantikasya ca

 

Artinya : Aku adalah sandaran Brahman yang tidak bersifat pribadi, yang bersifat kekal, tidak pernah mati, tidak dapat dimusnahkan, kedudukan dasar kebahagiaan yang paling tinggi (Prabhupada, 1986 : 683).

Kedudukan dasar Brahman adalah keadaan bebas dari kematian, bebas dari kemusnahan, kekal dan bahagia. Brahman adalah awal keinsafan rohani. Keinsafan Brahman (pemahaman bahwa Tuhan Yang Maha Esa sebagai kekuatan yang ada di mana-mana dan tidak bersifat pribadi) secara universal sebagai pandangan dasar tentang konsep Tuhan. Seperti orang yang baru mengetahui sinar matahari belum tahu bola matahari dan penguasa matahari itu sendiri. Aspek Tuhan Yang Maha Esa yang tidak bersifat pribadi (Brahman) dipahami oleh orang-orang yang menempuh jalan Jnana Yoga, yaitu sebuah disiplin keagamaan yang memusatkan perhatian pada ilmu pengetahuan. Keinsafan Brahman merupakan keinsafan terhadap sifat kekekalan (Sat) dari kebenaran Mutlak Tuhan Yang Maha Esa.

Banyak orang yang beranggapan bahwa keinsafan pada Tuhan yang tidak bersifat pribadi (Brahman) merupakan keinsafan yang tertinggi. Kenyataan ini kalau dikaji lebih mendalam tidak sepenuhnya benar, karena orang kebanyakan dalam menyembah Tuhan Yang Maha Esa sangat membutuhkan nama dan rupa yang berbentuk simbol untuk menyembah Tuhan. Bagi orang yang tidak mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Esa bersifat pribadi dalam menyembah Tuhan akan mensimboliskan Tuhan Yang Maha Esa berada di angkasa yang tinggi (Luhuring angkasa). Kesulitan lebih banyak akan dijumpai oleh mereka yang masih dipengaruhi oleh badan wadag dalam menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang tak berwujud atau Nirguna (Wiana, 2005 :14). Hal ini juga dibenarkan oleh Bhagavad-gita bab 12 sloka 5 sebagai berikut :

klesho dhikataras tesam

avyaktasakta cetasam

avyakta hi gatir duhkham

dehavadbhir avapyate

Artinya : Kesukaran pada orang yang pikiranya terpusat pada Yang Tak-termanifestasikan lebih besar, sebab Yang Tak-termanifestasikan sukar dicapai orang yang dikuasai jasmaninya (Pendit, 1995 : 321).

Memang sangat sukar untuk menyatukan jiwa dan memusatkan pikiran pada Tuhan Yang Maha Esa, Yang Tak-termanifestasikan, Yang Tak terpikirkan, lebih-lebih kalau orang tersebut masih dikuasai oleh badan jasmaninya dengan segala macam kebutuhan duniawi selama orang masih hidup dalam dunia ini.

Menginsafi Brahman yang tidak bersifat pribadi (Nirguna) adalah keinsafan yang kurang lengkap terhadap keseluruhan yang Mutlak, karena dalam jalan ini terdapat kecenderungan seseorang akan jatuh lagi, sebab kekekalan yang tak terbatas yang tidak berwujud akan memaksa seseorang untuk mencari hubungan yang alamiah, hubungan yang bersifat pribadi. Dengan demikian terdapat kemungkinan mereka yang menempuh jalan keinsafan Brahman akan terlahir lagi ke dunia ini untuk melanjutkan keinsafan diri mereka. Betapapun sukarnya, barang siapa yang dengan pengetahuan dan latihan-latihan berusaha dengan sungguh-sungguh memuja dan merenungkan secara menyeluruh Yang Tak-termanifestasikan, pada waktunya, pasti akan mencapai keinsafan yang tertinggi.

PARAMATMA

Aspek Paramatma (Roh Yang utama) adalah sebuah konsep pemahaman terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai aspek yang berada disuatu tempat tertentu di dalam hati setiap mahluk hidup (Prabhupada, 1986 : 71). Mahluk hidup dapat tumbuh dan berkembang karena adanya daya hidup di dalam badan yaitu atman. Atman merupakan percikan yang terkecil dari Paramatma (Roh Yang utama). Atman dan Paramatma berada dalam hati setiap mahluk hidup. Itulah sebabnya mahluk hidup dalam hal ini manusia tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Kita bisa membohongi orang lain, mahluk lain tetapi kita tidak bisa berbohong pada diri sendiri karena pada diri kita bersemayam Tuhan Yang Maha Esa sebagai Paramatma.

Keinsafan Paramatma adalah keinsafan tahap kedua terhadap kebenaran Mutlak dan merupakan keinsafan terhadap aspek Cit ( pengetahuan yang kekal) dari Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa sebagai Paramatma adalah kawan abadi bagi mahluk hidup, melalui salah satu bagian yang berkuasa penuh dari Diri-Nya, menemani para mahluk hidup untuk membimbing mereka dalam kenikmatan duniawinya dan memberikan petunjuk supaya mahluk hidup dapat bertindak sesuai dengan kehendaknya (Prabhupada, 1994 : 141).

Nama lain untuk ciri Paramatma Tuhan Yang Maha Esa adalah kala atau waktu yang kekal. Waktu yang kekal menyaksikan segala perbuatan kita, baik maupun buruk, sehingga berbagai reaksi sebagai akibatnya ditakdirkan oleh Beliau (Prabhupada, 1996 : 414). Dalam Bhagavad-gita bab 18 sloka 61 dinyatakan :

isvarah sarva bhutanam

hrd dese rjuna tisthati

bhramayan sarva bhutani

yantrarudhani mayaya

Artinya :  Tuhan Yang Maha Esa bersemayam di dalam hati semua orang, wahai Arjuna, dan Beliau mengarahkan pengembaraan semua mahluk hidup, yang duduk seolah-olah pada sebuah mesin terbuat dari tenaga material (Prabhupada, 1994 : 814).

Aspek Paramatma merupakan tahapan keinsafan yang lebih tinggi dibanding keinsafan Brahman, dengan mempraktekkan Astangga Yoga atau Raja Yoga, seseorang yang menempuh jalan ini menginsafi Tuhan yang berada dalam dirinya dan dimungkinkan untuk maju setahap dalam keinsafan terhadap kebenaran Mutlak Tuhan Yang Maha Esa. Ketika seseorang mencapai tahap keinsafan Paramatma, ia akan menginsafi jenis kesadaran lain, bahwa seseorang akan mencapai esensi pengetahuan rohani (Cit) dari kebenaran Mutlak sebagai tambahan terhadap sifat kekekalan (Sat). Ibarat matahari, orang yang telah sampai pada aspek Paramatma berarti orang tersebut telah mengetahui dengan baik sinar matahari dan bola matahari.

Bahaya yang terdapat dalam menempuh jalan ini adalah kesalahan anggapan bahwa roh individu (Atman) adalah identik dengan Roh Yang Utama (Paramatma), untuk mengklarifikasi hal ini, kitab suci Veda memberikan analogi sebagai berikut : Roh Individu (Atman) dan Roh Yang Utama (Paramatma) ibarat dua ekor burung yang bersahabat yang hinggap di pohon yang sama. Salah satu diantara dua ekor burung tersebut yaitu Roh Individual (Atman) sedang memakan dan menikmati buah yang berada di pohon itu, sedangkan burung yang lain Roh Yang Utama (Paramatma) hanya memandang dan menyaksikan kawannya. Diantara dua ekor burung tersebut, kendatipun mereka mempunyai sifat yang sama, salah satu dipikat oleh buah pada pohon material, sedangkan yang lain hanya menyaksikan kawannya. Roh Yang Utama (Paramatma) adalah burung yang menyaksikan, dan Roh Individual (Atman) adalah burung yang makan. Dan jika suatu saat burung yang makan (Atman) berpaling pada burung yang menyaksikan (Paramatma) dalam cinta bhakti dan pengabdian, maka Roh Yang Utama (Paramatma) akan berkenan menuntun dan mengarahkan pengembaraannya untuk memahami pengetahuan rohani atau keinsafan yang lebih tinggi (Prabhupada, 1994 : 100).

 

BHAGAVAN

Bhagavan berasal dari dua kata Bhaga dan Van, Bhaga berarti kehebatan dan Van berarti yang memiliki. Jadi Bhagavan berarti yang memiliki kehebatan. Menurut Parasara Muni, ayah Srila Vyasadewa, Bhagavan berarti Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki enam kehebatan sekaligus yaitu segala kekayaan, segala kekuatan, segala kemashuran, segala ketampanan, segala pengetahuan dan segala ketidak terikatan. Ada banyak orang yang kaya sekali, perkasa sekali, tampan sekali, terkenal sekali, bijaksana sekali dan sangat tidak terikat, namun tiada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa ia mempunyai segala kekuatan, segala kekayaan, segala kemashuran dan sebagainya sekaligus dan sepenuhnya. Hanya Tuhan Yang Maha Esa yang dapat menyatakan demikian karena semuanya bersumber dari Beliau (Prabhupada, 2001 : 9).

Dalam banyak halaman Bhagavad-gita kata Bhagavan sering disebutkan, seperti “Sri Bhagavan Uvaca” yang berarti bahwa Tuhan Yang Maha Esa atau Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sedang bersabda. Dan kita tahu bahwa Bhagavad-gita berisikan percakapan antara Sri Krsna dan Arjuna yang terjadi di medan perang Kuruksetra. Sri Krsna disebut sebagai Bhagavan dalam banyak halaman Bhagavad-gita yang menunjukkan bahwa Sri Krsna adalah Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Seperti dalam Bhagavad-gita bab 12 sloka 2 yang berbunyi :

sri bhagavan uvaca

mayy avesya mano ye mam

nitya yukta upasate

sraddhaya parayopetas

te me yuktatama matah

 

Artinya :  Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Orang yang memusatkan pikirannya pada bentuk pribadi-Ku dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna(Prabhupada, 1986 : 593).

Yang dimaksud dengan “Ku” dan “Aku” di sini adalah Ia Yang Maha Kuasa, dan ini menunjukkan Sri Krsna sendiri, dan yang dimaksud dengan “orang” adalah kita atau umatnya. ( Wiana, 2005 : 4). Sloka di atas merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan Arjuna mengenai mana yang lebih sempurna memuja Tuhan yang tak berwujud (Brahman, Nirguna) atau yang berwujud (Bhagavan, Saguna). Keinsafan terhadap aspek Bhagavan adalah keinsafan tertinggi terhadap kebenaran Mutlak. Keinsafan ini meliputi segala aspek rohani, yaitu kekekalan (Sat), pengetahuan (Cit) dan kebahagiaan (Ananda) dalam bentuk (Vigraha) yang lengkap. Sifat-sifat tersebut diidentikkan pada Sri Krsna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, kebenaran Mutlak, sumber roh yang utama dan Brahman yang tidak bersifat pribadi. Sebagaimana disebutkan dalam Brahma Samhita 5.1 sebagi berikut :

isvarah paramah krsna

sac cid ananda vigraha

anadir adir govindah

sarva karan karanam

Artinya :  Ada banyak kepribadian yang memiliki sifat-sifat Bhagavan, namun Krsna adalah yang paling tinggi, karena tiada seorang pun yang dapat melampaui Beliau. Krsna adalah kepribadian yang paling utama, dan badan Krsna kekal, penuh pengetahuan dan kebahagiaan, Krsna adalah Tuhan Yang Mahaabadin Sri Govinda dan sebab segala sebab (Prabhupada, 1986 : 72).

Ibarat matahari orang yang telah mengisafi aspek Bhagavan adalah orang yang telah mengetahui sinar matahari, bola matahari dan penguasa matahari atau Dewa matahari, inilah pengetahuan yang paling lengkap dan sempurna.

 Tuhan Yang Maha Esa adalah Saguna dan Nirguna

Dari uraian di atas mengenai konsep Tuhan menurut Bhagavad-gita yang dipahami melalui tiga aspek yaitu : Brahman, Paramatma dan Bhagavan, membuktikan bahwa konsep Ketuhanan dalam ajaran Hindu sangat lengkap. Karena itu tidak salah kalau kita mengatakan bahwa Weda adalah kitab suci yang tertua dan terlengkap, buktinya Tuhan dalam ajaran Hindu berwujud (Saguna) dan tidak berwujud (Nirguna), sedang dalam keyakinan yang lain jelas-jelas Tuhan tidak berwujud bahkan penggambaran wujud Beliaupun dilarang. Sebenarnya sangat jelas kalau dalam Weda Tuhan memiliki sifat Saguna (Tuhan berwujud) dan Nirguna (Tuhan tidak berwujud). Untuk memahami kedua sifat ini dalam menginsafi Tuhan dapat dicapai dengan jalan Yoga, yang dikenal dengan nama Catur Yoga (Empat jalan untuk menghubungkan diri kepada Tuhan). Empat jalan tersebut adalah bhakti yoga, karma yoga, jnana yoga dan raja yoga. Para penganut bhakti yoga dan karma yoga memuja Tuhan yang Saguna sedangkan para jnana yoga dan raja yoga memuja Tuhan yang Nirguna.

Seperti yang penulis utarakan dalam latar belakang masalah di atas mengenai Tuhan berwujud dan tidak berwujud yang masih ditanggapi dengan pro dan kontra di masyarakat, maka penulis mengadakan wawancara dengan beberapa tokoh Hindu mengenai hal tersebut. Dalam wawancara yang penulis lakukan dengan beberapa tokoh umat, penulis mendapat gambaran mengenai masalah tersebut. Wawancara yang penulis lakukan dengan Bapak Drs. Wayan Teja Arthana, seorang Wasi atau Pinandita dan juga ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sleman Yogyakarta, beliau berpandapat bahwa Tuhan dalam Hindu itu berwujud yang disebut Saguna dan tidak berwujud yang disebut Nirguna. Bukti Tuhan itu berwujud menurut Bapak Wayan Teja, sebelum persembahyangan dimulai seorang Wasi atau Pinandita akan ngantep banten atau mempersembahkan sesajian. Dalam ngantep banten ini seorang Wasi atau Pinandita akan mengundang Tuhan, kemudian mencuci kaki Beliau, memandikan Beliau, dipakaikan baju, kemudian di stanakan dan diberi persembahan. Proses ini sebenarnya jelas bahwa umat Hindu sebenarnya memuja Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud, cuma wujud Beliau disimbulkan melalui simbul-simbul seperti daksina dan Beliau di stanakan di Padmasana (bentuk pemujaan Padmasana). Mengapa Tuhan harus disimbulkan, menurut Bapak Wayan Teja, karena kemahakuasaan Tuhan yang maha besar maka tidak semua orang dapat melihat wujud Beliau, dan ini bukan berarti Tuhan tidak berwujud, Tuhan berwujud tetapi karena tidak semua orang dapat melihat wujud Tuhan, maka beliau disinbulkan dan di stanakan di Padmasana.

Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa itu berwujud, siapa sebenarnya wujud Tuhan itu? Bapak Wayan Teja mengatakan bahwa wujud Tuhan itu sesuai dengan Istadewata yang dijadikan obyek pemujaan masing-masing orang. Lalu bagaimana kalau ada yang mengatakan bahwa Rama, Narayana, Krsna adalah wujud Tuhan menurut Hindu. Bapak Wayan Teja menjawab, sejauh yang kita jadikan sebagai acuan adalah konsep awatara, maka benar Rama dan Krsna adalah wujud Tuhan menurut Hindu. Sekarang yang diperlukan adalah bagaimana agar umat memahami hal ini, sehingga tidak terjadi pro dan kontra dalam masyarakat. Itulah sebabnya diperlukan peningkatan kualitas sradha dan pemahaman umat terhadap ajaran-ajaran Hindu dengan lebih banyak membaca kitab suci atau buku-buku agama, mengkaji dan mendiskusikannya sesama umat.

Berbeda dengan Bapak Wayan Teja, Bapak Pande Januraga, seorang dokter yang sedang mengambil spesialis di Universitas ternama di Jogjakarta, beliau mengatakan sejauh konsep Tuhan mengacu pada Bhagavad-gita, maka jelas wujud Tuhan adalah Krsna. Soal percaya atau tidak itu tidak jadi masalah, karena Tuhan tidak disebabkan karena kita percaya atau tidak percaya. Tuhan tetap Tuhan, terlepas kita mempercayainya atau tidak. Dan Yang terpenting saat ini adalah bagaimana umat dapat mendalami ajaran-ajaran Bhagavad-gita dengan baik dan benar di bawah arahan seorang guru yang mengerti Bhagavad-gita, begitu ujar dr Pande.

Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Bapat Putu Putrayasa, seorang pemerhati Hindu dan juga Direktur Mitra Gama Group Jogyakarta. Beliau mengatakan bahwa kosep Tuhan menurut Hindu adalah Saguna (berwujud) dan Nirguna (tidak berwujud). Kalau kita mencari Tuhan Yang Maha Esa dalam Bhagavad-gita, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa Krsna adalah wujud Tuhan menurut Bhagavad-gita. Sekarang kalau di masyarakat banyak umat Hindu yang tidak mengakui wujud Tuhan itu Krsna atau Tuhan Yang maha Esa itu berwujud, bukan karena mereka tidak tahu tetapi lebih dikarenakan karena agama Hindu adalah agama minoritas di Indonesia, dan mayoritas orang beragama di Indonesia lebih mempercayai bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu tidak berwujud.

Dan kalau sekarang umat Hindu mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu berwujud seperti halnya manusia, dilahirkan, kemudian kita membuatkan patung atau arca dan memujanya, maka kita akan dikatakan menyembah patung atau berhala, sirik, menyekutukan Tuhan, dan bertentangan dengan dogma yang ada dimasyarakat. Ketakutan atau rasa malu kalau kita dikatakan menyembah berhala, sirik, menyekutukan Tuhan dan tidak sesuai dengan dogma di masyarakat, maka sebagian besar umat akhirnya mengatakan Tuhan itu ada tetapi tidak berwujud, wujud yang kami buat itu hanya untuk memusatkan pikiran saat kami sembahyang. Padahal menurut Pak Putrayasa orang tidak akan dapat memusatkan pikirannya pada saat sembahyang tanpa mewujudkan sesuatu yang dijadikan obyek pemusatan pikiran. Wujud Tuhan yang kita bayangkan pada saat kita sembahyang itulah sebenarnya wujud Tuhan.

Disamping itu menurut Bapak Putrayasa, sembahyang dengan wujud Tuhan harus dilakukan dengan jalan Bhakti. Melalui jalan bhakti ini seseorang mengaggap Tuhan Yang Maha Esa sebagai Raja dan kita harus melayani Beliau, seperti menstanakan Beliau, memandikan, memberi persembahan dan lain-lain,  sedangkan kebanyakan umat manusia, 20% mengejar nikmat dan 80% menghindari sengsara. Kalau kita membuat wujud Tuhan, kemudian kita susah, ya ngapain, kan lebih baik Tuhan itu tidak kita wujudkan, kita tidak susah dan aman, demikian kata Pak Putrayasa. Orang yang tidak mengakui wujud Tuhan Yang Maha Esa, berarti orang tersebut pemahamannya terhadap Tuhan belum sempurna, karena Tuhan maha sempurna tentunya Beliau bisa berwujud (Saguna),  bisa tidak berwujud (Nirguna), dan ini memerlukan proses yang panjang untuk mengetahui Tuhan yang berwujud, dan itu dilakukan melalui jalan bhakti.

Berbeda dengan pendapat Bapak Suryanto, seorang Dosen Agama Hindu di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan juga seorang penulis mengatakan, bukan hanya dalam ajaran Hindu Tuhan dikatakan berwujud, dalam  kitab-kitab agama lain seperti Injil, Alquran sebenarnya Tuhan juga berwujud. Buktinya ada perkataan kembali disisinya, kembali kepangkuan Bapak, Tuhan murka, Tuhan marah, Tuhan mengasihi dan sebagainya, bagaimana sesuatu yang tidak berwujud bisa mengasihi, membimbing, memangku, marah dan sebagainya. Semua ini hanya dapat dilakukan oleh sesuatu yang memiliki wujud. Bahkan dalam Injil dikatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia secitra dengan Beliau, ini berarti bahwa Tuhan duluan yang ada baru kemudian manusia diwujudkan sesuai dengan wujud Beliau. Ini membuktikan bahwa Tuhan memang berwujud, tetapi wujud beliau sifatnya  rohani.

Jadi pada dasarnya semua kitab suci mengatakan bahwa Tuhan itu sebenarnya berwujud, kalau kemudian ada yang beranggapan bahwa kata-kata kembali disisinya, Tuhan melihat, Tuhan memandang, Tuhan mengasihi hanya kiasan belaka untuk memudahkan kita memahami Tuhan, ini berarti bahwa kitab suci sejak awalnya sudah mengajarkan sesuatu yang bohong. Kalau umat Hindu di Indonesia banyak yang tidak mengakui wujud Tuhan, ini karena di Indonesia lebih banyak berkembang filsafat Sankara yang tidak mengakui bahwa Tuhan itu berwujud. Wujud-wujud Tuhan hanya dipakai sebagai perantara belaka bagi umat kebanyakan dan pada akhirnya wujud-wujud itu tidak lagi diperlukan. Karena itulah disimpulkan Tuhan itu tidak berwujud walaupun dalam Weda jelas-jelas Tuhan dikatakan berwujud.

Menurut Bapak Suryanto kalau kita mau mencari wujud Tuhan dalam kitab-kitab Weda seperti Bhagavad-gita, Bhagavata Purana dan lain-lain maka kita akan menemukan bahwa Krsna adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan Bapak Suryanto mengatakan Rsi Wyasa Dewa dalam Bhagawata Purana Skanda I bab 3 sloka 28 mengatakan …”Krsnas tu bhagavan svayam” … artinya Krsna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang asli. Dan kalau orang sekaliber Rsi Wyasa Dewa, yang kita yakini sebagai penulis kitab-kitab Veda, Itihasa, Mahabharata, Purana-purana dan lain-lain mengatakan bahwa Krsna adalah Tuhan Yang Maha Esa, apakah kita masih tidak mempercayainya, kalau masih, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri. Bhagavad-gita bab 3 sloka 21 menyatakan ;

yad yad acarati sresthas

tat tad evetaro janah

sa yat pramanam kurute

lokas tad anuvartate

 

Artinya : Apa saja yang dilakukan orang besar orang lain akan mengikutinya, contoh apa saja yang diberikannya seluruh dunia akan menurutinya (Pendit, 1994 :96).

Kalau orang besar saja tidak mengakui wujud Tuhan apa lagi orang awam, tentunya wajar banyak orang yang tidak percaya Tuhan memiliki wujud. Mengenai wujud Tuhan menurut kitab suci Weda terutama Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana yaitu Krsna, juga banyak yang tidak mengakuinya, karena orang beranggapan Tuhan tidak mungkin seperti manusia. Untuk anggapan ini Krsna dalam Bhagavd-gita bab 9 sloka 11 menjawab:

avajananti mam mudha

manusim tanum asritam

param bhavan ajananto

mama bhuta mahesvaram

Artinya : Orang bodoh menjelekkan Diri-Ku bila Aku menurun dalam bentuk seperti manusia. Mereka tidak mengenal sifat rohani-Ku sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada (Prabhupada, 1986 : 452).

Sankaracharya adalah orang yang menanamkan pengertian bahwa Tuhan itu tidak berkepribadian (Nirguna), tetapi Sankara terpaksa melakukan itu semua karena kondisi dan situasi semasa Sankara hidup mengharuskan Beliau melakukannya. Namun pada akhir hayat Beliau, Beliau mengatakan kepada semua muridnya:

bhaja govinda bhaja govindam

govinda bhaja mudha mate

samprapte sannihite kaale

nahi nahi raksati dukrinya karane

Artinya: Pujalah Govinda, pujalah Govinda, dan hanya pujalah Govinda wahai orang-orang bodoh yang intelek. Pengetahuan lain yang kau kejar tak akan membantumu saat ajalmu tiba (Pustaka Manikgeni, 2002 : 59).

Walaupun Sankara pada akhir hayatnya mengatakan demikian, tetapi murid-muridnya tidak mau mengikutinya. Govinda adalah nama lain Sri Krsna, ini berarti Sankara sebenarnya mengakui bahwa Tuhan berwujud. Narayana juga nama Krsna, dan dalam mantra Tri Sandya bait ke dua menyatakan bahwa Narayana adalah Tuhan Yang Maha Esa. Mantra Tri Sandya bait ke dua berbunyi :

om narayana evedam sarvam

yad bhutam yac ca bhavyam

niskalanko niranjano nirvikalpo

nirakhyatah suddo deva eko

narayana na dvityo sti kascit

 

Artinya : Ya Tuhan, Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, kotoran, perubahan dan tak dapat digambarkan. Ia yang satu tidak ada yang kedua yaitu Narayana (Pustaka Manikgeni, 2005 :12).

Banyak ayat yang membuktikan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu berwujud, dan wujud Beliau adalah Krsna. Para ahli filsafat seperti Ramanuja, Madva, Nimbarka, Vallabha, Caitanya dan lain-lain juga menyatakan demikian. Bahkan Rsi Narada, Asita, Devala, Vyasa Dewa juga menyatakan hal yang sama. Dalam pewayangan, khususnya wayang Jawa, para Dalang umumnya menyebut Krsna dengan tiga sebutan :

  1. “Krsna Ratu ring Ratu” artinya Krsna adalah raja segala raja. Bhagavad-gita bab 10 sloka 27 juga menyatakan bahwa diantara manusia Krsna adalah Raja (naranam ca naradhipam). Seorang raja yang bijaksana adalah yang dapat menegakkan kebenaran di atas segalanya. Bhagavad-gita bab 7 sloka 7 menyebutkan :

matah parataram nanyat

kincit asti dhananjaya

mayi sarvam idam protam

sutre mani gana iva

Artinya : Wahai Arjuna, tidak ada kebenaran yang lebih tinggi daripada-Ku. Segala sesuatu bersandar kepada-Ku, bagaikan mutiara pada seutas tali ( Prabhupada, 1986 : 361).

  1. Krsna ngerti sak durunge winarah” artinya Krsna tahu sebelum orang bicara. Bhagavad-gita bab 15 sloka 15 menyatakan :

sarvasya caham hrdi sannivisto

mattah smrtir jnanam apohanam ca

vedais ca sarvair aham eva vedyo

vedanta krd veda vid eva caham

Artinya : Aku bersemayam di dalam hati setiap mahluk. Ingatan, pengetahuan dan pelupaan berasal dari-Ku. Akulah yang harus diketahui dari segala Veda, memang Akulah yang menyusun Vedanta, dan Akulah yang mengetahui Veda (Prabhupada, 1986 : 706).

Krsna mengetahui isi hati semua mahluk karena Beliau bersemayam dalam hati semua mahluk sebagai Paramatma.

  1. Krsna duwe gambare jagat” artinya Krsna memiliki gambar alam semesta.

Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa Krsna adalah sumber dunia rohani dan dunia material (Bhangavad-gita bab 10 sloka 8), sehingga wajar kalau beliau memiliki gambar alam semesta. Ada cerita, waktu Krsna kecil, Beliau makan tanah, Ibunya Yasoda, yang melihat Krsna makan tanah kemudian membuka mulut Krsna untuk membuang tanah yang dimakan, tetapi apa yang terjadi, Ibu Yasoda melihat seluruh alam semesta itu berada dalam mulut-Nya, Krsna. Ini pertanda bahwa Krsna adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Besar dan pemilik alam semesta. Namun tidak semua dapat memahami hal ini (Maswinara, 2000 : 102) Karena Tuhan Yang Maha Esa, Maha Segala-galanya, maka Beliau bisa berwujud (Saguna) dan juga bisa tidak berwujud (Nirguna).

Bhakti Yoga cara mendekati Tuhan yang Saguna

Banyak orang beranggapan bahwa jalan bhakti merupakan jalan yang paling mudah dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dibandingkan dengan yang lain. Anggapan ini benar untuk senagian orang tetap[I tidak benar untuk sebagian orang yang lain. Karena kalau memang jalan bhakti ini mudah mengapa tidak semua orang mengikuti jalan ini. Mengapa kita harus mencari jalan yang lain, yang sulit,  kalau jalan yang mudah sudah ada? Ini pertanda bahwa jalan bhakti itu tidak mudah.

Bhakti Yoga  adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, Hyang Widhi Wasa melalui sujud bhakti dengan dilandasi rasa cinta kasih yang mendalam dan dilakukan terus menerus dengan pikiran terpusat pada Tuhan (Tim Penyusun, 2004  40). Dalam bhakti, seorang bhakta (Sebutan pengikut bhakti) mengadakan hubungan dengan Tuhan yang berpribadi (Saguna). Tuhan diwujudkan dalam bentuk Arca atau Pratima yang dipuja dan dilayani seperti layaknya seorang raja. Dengan memuja Tuhan yang berpribadi, seorang bhakta akan menumbuhkembangkan hubungan cinta kasih yang bertimbal balik.

Dalam kitab Bhagavata Purana, atau yang dikenal sebagai Srimab Bhagavatam skanda 7 bab 5 sloka 23, seorang penyembah Krsna yang mulia bernama Prahlada menguraikan sembilan proses bhakti (nava vidha bhakti) kepada Tuhan yang Saguna, kepada ayahnya Hiranyakasipu, sebagai berikut :

sravanam kirtanam visnoh

smaranam padasevana

arcanam vandanam dasyam

sakhyam atmanivedanam

 

Artinya : Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Visnu), dapat dilakukan dengan cara sravanam, kirtana, smaranam, padasevanam, arcanam, vandanam, dasyam, sakhyam dan atmanivedanam.

Kesembilan proses bhakti ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Sravanam bhakti, cara bhakti dengan mendengarkan tentang Tuhan dan lila-Nya (kegiatan-Nya). Contoh : Maharaja Parikesit.
  2. Kirtana bhakti, cara bhakti dengan memuji,
  3. melagukan atau menyanyikan secara berulang-ulang nama-nama suci Tuhan. Contoh : Sukadeva Gosvami.
  4. Smarana bhakti, cara bhakti dengan mengingat-ingat nama dan wujud Tuhan. Contoh : Prahlada Maharaja.
  5. Padasevana bhakti, cara bhakti dengan melayani kaki padma Tuhan. Contoh : Dewi Sri atau Dewi Laksmi.
  6. Arcana bhakti, cara bhakti dengan melakukan pemujaan kepada Tuhan melalui media arca. Contoh : Maharaja Prtu.
  7. Vandana bhakti, cara bhakti kepada Tuhan dengan berdoa, membaca sloka-sloka. Contoh : Akrura.
  8. Dasyam bhakti, cara bhakti kepada Tuhan dengan pengabdian dan pelayanan. Contoh : Hanoman.
  9. Sakhya bhakti, cara bhakti kepada Tuhan seperti hubungan persahabatan atau kawan. Contoh : Arjuna.
  10. Atmanivedana bhakti, cara bhakti kepada Tuhan dengan menyerahkan diri sepenuhnya tanpa mengharapkan sesuatupun bagi dirinya. Contoh :Maharaja Bali (Prabhupada, 1984 : 114).

Sembilan proses bhakti ini, dapat dilakukan oleh seseorang yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya.

Dalam Bhagavad-gita bab sebelas dengan judul ‘Bentuk Semesta’, Arjuna melihat semua perwujudan Tuhan (Vivarupa Tuhan), tapi Arjuna tidak dapat mengerti semua itu, dan Krsna bersabda (Bhagavad-gita bab 11 sloka 54) sebagai berikut :

bhaktya tv ananyaya sakya

aham evam vidho rjuna

jnatum drastum ca tattvena

pravestum ca parantapa

Artinya : Arjuna yang baik hati, hanya melalui bhakti yang murni dan tidak dicampur dengan kegiatan yang lain Aku dapat dimengerti menurut kedudukan-Ku yang sebenarnya, yang sedang berdiri dihadapanmu, dan dengan demikian Aku dapat dilihat secara langsung. Hanya dengan cara inilah engkau dapat masuk ke dalam rahasia pengertian-Ku (Prabhupada, 1986 : 582).

Semua orang dapat mendekati Tuhan dengan berbagai cara, tetapi kalau orang tersebut belum melaksanakan bhakti, maka orang tersebut tidak akan dapat mengerti tentang Tuhan dengan baik. Mengenai keutamaan bhakti, dalam mengerti Tuhan, juga dijelaskan dalam Bhagavad-gita bab 18 sloka 55 sebagai berikut :

bhaktya mam abhijanati

yavan yas casmitattvatah

tato mam tattvato jnatva

visate tad anantaram 

Artinya : Seseorang dapat mengerti tentang-Ku menurut kedudukan-Ku yang sebenarnya, sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, hanya dengan cara bhakti. Apabila ia sudah sadar akan Diri-Ku sepenuhnya melalui bhakti seperti itu, ia dapat masuk ke kerajaan-Ku (Prabhupada, 1986 : 808)

Jalan Bhakti adalah jalan yang dianjurkan untuk jaman ini dalam menghayati, memahami dan mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Banyak sloka dalam Veda, terutama dalam Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana yang menjelaskan keutamaan bhakti. Walaupun demikian kita masih tetap diberikan kebebasan untuk memilih sesuai dengan keinginan kita.

Hal ini dinyatakan dalam Bhagavad-gita bab 18 sloka 63 :

itite jnanam akhyatam

guhyad guhyataram maya

vimrsyaitad asesena

yathecchasi tatha kuru

 

Artinya : Demikianlah, Aku sudah menjelaskan pengetahuan yang lebih rahasia lagi kepadamu. Pertimbangkanlah hal-hal ini sepenuhnya, kemudian lakukanlah apa yang ingin kau lakukan (Prabhupada, 1986 : 816).

 Dalam berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa pada dasarnya ada dua jenis sikap yaitu Apara Bhakti dan Para Bhakti. Apara bhakti adalah cinta kasih yang perwujudannya masih lebih rendah, dan dilakukan oleh mereka yang belum mempunyai tingkat kerohanian atau kesucian tinggi. Dalam tingkatan Apara Bhakti orang memuja Tuhan dengan penuh pengharapan atau permohonan-permohonan. Sedangkan Para Bhakti adalah cinta kasih kepada Tuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tingkat kerohanian lebih tinggi. Dalam tingkatan Para Bhakti seorang yang memuja Tuhan tidak lagi memohon atau mengharapkan balasan dari Tuhan atas bhakti yang dilakukannya. Pada tahap ini bhakti yang dilakukannya didasari pada keiklasan berkorban tanpa pamrih (Wiana, 1993 :42).

Oleh: Wirabhadra Prabhu

%d bloggers like this: