BALI (Baang Anake Liang Ingkel-ingkel)

Mengapa orang Hindu gampang sekali pindah agama?

Mari kita simak…

Berbaik hati kepada setiap makhluk adalah ajaran yang sudah dimulai dari sejak jaman majapahit. siwa-buddha, agama ini begitu toleran sekali sehingga memungkinkan peluang besar terhadap syiar-syiar agama lain. Itulah sebabnya kenapa Islam bisa berkembang dengan baik di Indonesia. Semuanya oleh karena toleransi ini. Sebuah starting point yang bagus untuk agama pendatang.

Cinta itu kuat berupa kepedulian yang juga universal. Ketika cinta adalah raksasa mega yang diktator, setiap insan akan menjadi lupa akan hal lainnya. Cinta dan kelicikan adalah dua hal yang sangat tipis perbedaaannya. Ketika cinta kembali berkata,”turuti saja nuranimu” agama atau apapun tak akan bisa berkata apa-apa. Pernikahan pun terjadi dalam kebimbangan yang kuat meskipun seolah di luar terlihat begitu yakin. Well ternyata karena cinta kita terhadap seseorang ,kita pindah keyakinan. Pertanyaannya, bisakah keyakinan kita dipindahkan? Keyakinan semacam apa yang bisa dipindahkan begitu saja? Selera Atau keterpaksaan?

Dan Kemudian Menjaga?

Apa yang akan kita jaga? Agama kita? Atau adat?

Kebanyakan di Bali khususnya yang cenderung paling dikenal adalah adat, bukan agama. Agama adalah bagian kecil dari adat. Itulah kesimpulannya. Ketika kita sudah berkumpul dan membicarakan adat, orang Bali takut sekaligus begitu intens membicarakannya. Mengapa? karena adat  telah mengalihkan perhatian masyarakat Bali dari agama.

Adat di Bali seperti ajaran agama Islam di Indonesia. Seandainya saja kekuatan adat di Bali bisa disulap menjadi penjaga kehinduan serta hukum yang membuat keselarasan dan keharmonisan Bali, maka saya pastikan Hindu pun bisa menjadi kuat. Tapi yang saya maksud bukan kekerasannya, tapi semangat kehinduan kita. Masalahnya adalah adat di Bali terlalu jauh dari jangkauan agama. Agama di Bali bisa dijadikan ajang pariwisata. Turis-turis datang ke Bali menganggap Pura adalah tempat yang unik, bukan tempat yang sakral. Karena itu mereka serin masuk areal Pura dengan santai dan mengabadikannnya dalam memori kameranya.

Memang dari sudut pandang Hindu, kebudayaan atau local genius di setiap daerah harus diperhitungkan. Artinya agama merasuk kedalam local genius tersebut tanpa merusak tatanan yang ada. Namun kini masalahnya lain. Karena agama yang diartikan salah inilah maka perkembangan adat dan tradisi tidak sepadan dengan perkembangan agama. Agama Hindu di Bali menjadi abu-abu. Agama Hindu seperti titik kecil dalam kehidupan Bali. Sebagai contoh ketika kita ditanya apa agama kita. Tentu kita menjawab Hindu. Selanjutnya pertanyaannya adalah,” apa kitab suci mu? “ pasti gampang kita menjawab “Veda”. Terus pertanyaan berlanjut, “mana Vedamu ? bolehkah saya baca? “. Antara tertegun, tidak tau, tidak mau menjawab dan lain sebagainya ekspresi kita.

Setelah kita buta terhadap Veda, orang lain yang berbeda keyakinan bisa menginjeksikan doktrin-doktri baru kepada kita dengan mengatakan bahwa ikutlah jalan baru ini. Tuhan memberikan banyak jalan dan tujuannya adalah sama. Pelik sekali masalah ini. Umat Hindu yang berkitab sucikan Veda, sebagian besar belum pernah membaca sloka-sloka Veda. Belum menerima Veda secara utuh tetapi hanya sebatas tradisi Bali dijadikan tolak ukur Hindu yang sejati.

Saya sendiri heran mengapa mesti bangga jika konsep tri hita karana dipakai oleh bangsa di Eropa , sementara sejarah-sejarah Hindu dan Kristen selalu tak pernah mulus. Pernah terbisik di telinga saya mengapa mereka tidak masuk Hindu saja? Kembali saya menjawab, apa mungkin? Mungkin orang bali-lah yang akan memeluk Kristen.

Disatu sisi bangga minta ampun ketika ajaran Hindu menjadi universal karena telah diadopsi oleh penduduk dunia. Namun apakah belum pernah terpikir kalau itu pencurian “hak cipta”? Disisi lain karena toleransi pula lah, maka lahirlah kitab-kitab bajakan agar memudahkan usaha gospel Kristen. Tak terasa bahkan di wilayah canggu, Kuta utara perlahan tapi pasti kristenisasi berjalan dengan mulus lewat jalan perkawinan. Adopsi tradisi Bali kental sekali. Lengkung-lengkung ambu dipakai penghias perayaan hari raya mereka. Prosesi “ngidih” / meminang pun digunakan media “gebogan”, namun di barisan terdepan lambang salib besar membuat mata terbelalak. Pakaian yang digunakan juga pakaian adat bali. Bahkan tempat pernikahan pun dirangkai sedemikian rupa dengan hiasan khas perkawinan adat bali dan di lini depan lambang Ongkara juga digunakan. Wow, whats wrong with them? Sungguh hebat upaya penyusupannya sampai-sampai penggunaan Om Svastyastu sepertinya tak lebih dari sebuah karya seni saja.

Sekarang  giliran Budaya yang dirasuki. Hemm…

“Bali memang unik. Saking uniknya, tradisi, adat istiadat dan budaya Bali yang kental nuansa teologis menyatu dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Meski semuanya berakar pada agama Hindu, namun tak sedikit dari tradisi, adat istiadat dan budaya itu dijadikan perekat keberagaman dan mutikulturalisme di pulau yang tersohor seantero dunia itu.”

Diatas adalah kutipan dari Viva news tentang upaya luar biasa Kristen dalam menjalin kerukunan antar umat beragama di daerah ubung kaja. Dan saya kutipkan lagi, “Romo Servasius I Nyoman Subhaga SVD menjabarkan, gereja yang dibangun di atas lahan seluas 3.700 meter persegi itu bukan sekadar bangunan belaka. Gereja Katolik Yesus Gembala Yang Baik didesain penuh dengan falsafah. “Semua mengacu pada filosofi Asta Kosala Kosali (filosofi Hindu) yang merupakan acuan arsitektur dan tata letak bangunan di Bali. Selain itu juga mengadopsi filosofi Tri Mandala (tiga konsep tata letak bangunan Bali),” katanya“. Dan lagi  “Bahkan, terdapat kulkul (kentongan) di gereja tersebut yang umumnya hanya ada di pura dan banjar-banjar di Bali.” Next  “Semakin unik manakala gereja ini juga di-melaspas–upacara tradisi umat Hindu Bali untuk menempati bangunan baru dengan dipimpin pemuka agama Hindu–lengkap dengan sarana dan perlengkapan persembahyangan ala umat Hindu Bali.”

Ternyata konsep-konsep  Budaya Bali pun digunakan disini. Terus apa manfaatnya bagi Hindu? Apa tidak pernah terpikir 50 tahun kemudian? Bisa-bisa Pura akan beralih fungsi menjadi gereja.

Bali yang terlalu toleransi, Budayanya dicuri begitu saja. Taktik yang sangat jitu, cerdik, dan hasilnya dipastikan dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama orang Bali tidak akan bisa bedakan antara Pura dan Gereja .

Berikut saya sampaikan tentang kemerosotan Budaya bali terkait dengan kutipan tadi.

“hal yang lebih parah lagi saat rehab pura, ternyata bahan lama dibuang dan diganti dengan material yang baru, sehingga menghilangkan nilai sejarah, artinya melupakan makna kerja keras dan spiritual saat leluhurnya membangun bangunan tersebut.” [Beritabatavia]

Nah, sudahkah kita terbangun? Ada apa dengan Bali? Masihkah bangga menjadi masyarakat Bali jika menghormati kerja keras para pendahulu kita saja kita tidak bisa. Malah yang Kristen berbondong-bondong membuat Gereja bercorak Budaya Bali, dan kita sang pemilik budaya meninggalkan seni-seni Bali. Uniknya, saya sendiri semakin sering melihat bangunan-bangunan di Bali semakin modern dan semakin meninggalkan seni ukiran Bali. Masyarakat sekarang kebanyakan membuat rumah dengan konsep minimalis.

Selain memanfaatkan peluang diatas, Apa penyebab Kristen bisa melaju dengan cepat? Jawabannya mudah, karena Kristen memang sedang menikmati keadaan. Kristen adalah agama misionaris aktif, sedangkan Hindu tidak seaktif Kristen menyebarkan agama. Ditambah lagi orang Hindu merasa berat di adat jika tetap memeluk Hindu. Alhasil Kristen benar-benar bisa menenangkan Hindu yang terluka karena adat dan mengikuti “ajaran kasih”. Disinilah letak titik kekalahan kita. Ketika Dharma di move menjadi kasih, ajarannya terasa tak jauh berbeda. Apalagi biaya untuk hari-hari besar Kristen relatif lebih murah dan hebatnya lagi ada biaya-biaya yang dijanjikan jika mau memeluk Kristen. Misalnya jaminan sekolah untuk anak. Miris memang, keyakinan dialih pindahkan begitu saja. Sepertinya keyakinan itu kini bukan seperti arti sebenarnya, namun lebih condong kepada selera. Jika mau ruwet pilih Hindu, jika mau gampang pindah saja. Bukankah begitu?

Karena pemberontakan hati mereka lah, maka mereka memilih. Semakin aktif bujuk rayu itu menghampiri, maka semakin cepat pula otak kita yang sedang mumet menerima ajakan itu. Sayang sekali, memang mereka sedang menikmati keadaan. Mereka pasti bersyukur dengan keadaan ini karena merasa sudah membantu sesama manusia untuk diajak dijalan yang benar.

Lihai sekali memang mereka meyakinkan orang. Pada suatu kesempatan mereka dikatakan penjual kecap, namun mereka bisa memberi  jawaban, ”mengapa tidak? Saya terusik untuk membantu sesama manusia untuk berjalan bersama-sama di jalan Tuhan, itu kami lakukan karena kasih Tuhan yang begitu mulia”. Kata-kata ini begitu indah bukan? Di Bali masalah-masalah pindah agama selalu bukan topik yang wahh, tapi kalau menyangkut adat, sampai kesepekang beritanya sangat heboh. Bagaimana mau memberi solusi yang bijak, jika HAM tidak dijalankan? Yang ada malahan kerusakan psikologis yang diderita. Inilah betapa kuatnya adat di Bali, sangat buas, buas terhadap sesama Hindu, tapi lemah untuk para pedagang agama. Dalam hal ini yang saya harapkan bukan jalan kekerasan, tapi solusi terhadap ketakutan masyarakat terhadap adat.

Sesekali mulailah bertanya pada diri kita sendiri, apa kita lebih tega melanggar HAM ketimbang saudara kita akhirnya meninggalkan agama Hindu? Apa jadinya Bali 50 tahun kemudian jika tanpa Hindu? Sementara Bali berarti Bebali, bebanten. Terus apa artinya Hindu di Bali tanpa Banten? Sama saja kehilangan identitas bukan?

Semoga kedepannya adat di Bali bisa memberikan nilai positif terhadap perkembangan agama Hindu. Saya sedih dan merasa terpuruk dalam batin ketika telinga saya sering mendengar ,” si anu sube dadi Kristen jani, nuutin agama kurene” ( si anu sudah jadi Kristen,mengikuti agama suaminya). Lama-lama bisa jadi beban berat bagi Hindu jika Sradha kita kurang dan menganggap agama adalah semuanya sama. Sungguh suatu slogan masyarakat yang saya rasa kurang mengerti tentang agama dan dengan gampangnya menyatakan demikian. Apakah ini akibat “nak mule keto” ?

Referensi :

http://nasional.vivanews.com/news/read/246546-gereja-bernuansa-bali-diresmikan

http://www.beritabatavia.com/berita-8614–bali-alami-kemerosotan-budaya.html

64 Comments on BALI (Baang Anake Liang Ingkel-ingkel)

  1. wah ternyata bli ngarayana langsung memberikan pemaparan tentang gereja yang beraksitektur bali. saya sempat baca juga di vivanews.com. memang tolenransi yang baik, menghormati sesama dan lain sebagainya. tapi jika semua gereja beraksitektur bali, mungkin masyarakat bali juga bingung mana pura mana gereja. pernah saya lihat juga di buleleng ada gereja beraksitetkur bali, orang yang kesana berpakaian adat bali. kata temen sekarang ada agama hindu-kristen apa ini aliran baru apa agama baru?

    namun pura di jawa semuanya beraksitetkur bali, kemudian apa jadinya jika misalnya di bali mesjid harus mengikuti budaya bali dalam hal aksitekturnya, apakah nanti dijawa sebagian besar umat muslim, orang hindu akan menerima pura harus mengikuti budaya jawa khusunya muslim pura itu berkolaborasi aksitekturnya dengan mesjid? wong katanya dimana bumi di pijak disitu langit dijunjung…pikir saya.

    namun dibenak saya lagi, memang kita ini adalah manusia yang semuanya bersumber dari satu tuhan. yang jadi masalah adalah orang yang pindah agama tidak mempunyai wawasan tentang filsafat agama dan veda. setidaknya pernah membaca dan menguatkan dirinya agar tidak mudah dibujuk rayu.

  2. Kalau ini bukan tulisan saya :D Ini kontribusi seorang rekan di sini… Kalau Sugix mau nulis di sini juga boleh…

    Ironis memang… misionaris di Bali begitu getolnya… banyak atribut Hindu dan budaya digunakan demi misionaris. Cepat atau lambat Bali akan dengan mudah dipindahagamakan. Pertanyaannya, bisakah Bali bertahan jika orang-orangnya pindah dari pondasi ajaran Veda? Orang Bali sibuk berseteru dengan sesamanya. “mengkafirkan” Hindu yang tampil dengan “pakaian” berbeda. Tetapi sangat toleransi dengan “tetangga yang mau berbaju sama”. Tidakkah mereka sadar bahwa “musuh” yang bisa berkamuflase itu yang paling berbahaya?
    Bali.. Bali… riwayatmu kini…

  3. Ada sebuah kutipan berbunyi: “Ketika para misionaris Kristen datang ke Afrika, mereka punya Injil dan kita punya tanah. Mereka mengatakan, ’Mari kita berdoa.’ Kita menutup mata. Ketika kita membuka mata, kita memiliki Injil dan mereka memiliki tanah kita.” ~ Bishop Desmond Tutu. Ada yang mengatakan bahwa kutipan itu adalah sebuah lelucon atau guyonan, mungkin benar karena Bishop Desmond Tutu sendiri adalah seorang tokoh Afrika yang merupakan bagian dari golongan pendeta Kristen [http://en.wikiquote.org/wiki/Desmond_Tutu]. Walau demikian, sesungguhnya ini bisa menjadi pelajaran berarti bagi kita. Terutama di Bali, hal yang paling sering didengungkan adalah “orang Bali jual tanah untuk beli bakso orang Jawa, orang Jawa jual bakso untuk beli tanah di Bali”. Yang lama-kelamaan orang asli Bali memiliki Al-qur’an dan Injil, sedangkan pendatang non-Hindu memiliki tanah Bali.

    Semua permasalahan berakar dari “terlalu”, termasuk terlalu toleransi. Majapahit runtuh karena terlalu percaya pada pendatang. Apakah Bali akan menyusul? Tentu, jika masih “terlalu toleransi”. Hal ini pun bisa terjadi pada masyarakat Hindu di luar Bali yang mayoritas namun bersikap “terlalu toleransi”.

  4. Subha_Karma // September 13, 2011 at 11:35 am //

    ini adalah taktik halus dari misionaris,bukan suatu bentuk toleransi,tapi suatu cara agar antara Hindu dan Kristen hampir tak ada bedanya.dengan cara inilah Kristen mendapat jalan mulus menyebarkan agama.ingat dulu apa yang menyebabkan Majapahit runtuh,Toleransi kebablasan.

    Jayalah Hindu

  5. Subha_Karma // September 13, 2011 at 11:37 am //

    Dalam Veda memang sudah dinyatakan (sayang lupa slokanya),intinya bahwa apapun yang berlebihan itu tidak baik,bahkan toleransi sekalipun.akibatnya bisa dilihat langsung .

  6. sayang sekali ….
    lembaga Hindu di Bali dan juga para pemuka agama, sulinggih yg berpengaruh malah tutup mata akan hal ini, semuanya sibuk memperjuangkan kepentingan golongan dan pribadi, saling gesek satu sama lainnya …. dimanakah peran mereka ??

  7. wah bner banget para misionaris nampaknya dengan mulus menjalankan misinya, sehingga dengan mudahnya masyaarakat hindu bali terpengaruh,… wahai para pemuka hindu dibali bertindaklah dengan tegas agar kita tidak mudah diadobsinya….prihatin sekali.. jayalah hindu..

  8. Subha_Karma // September 13, 2011 at 2:42 pm //

    yang saya sayangkan sama pak,mereka terlalu sibuk sama kepentingan lain,tanpa memperhitungkan tujuan utamanya.saya sedih karena di Bali sampai sedemikian rendahnya pengetahuan tentang agama,dengan mudah mereka melancarkan aksi mereka.
    saya menjadi agak lemah mengetik, “jayalah hindu”
    semoga tulisan ini bermanfaat dan tepat sasaran..

  9. Oiya, ada teman dari Bali barusan komentar lewat sms perihal gereja tersebut. “Biasalah Ram, pasti dapat uang tuh. Coba peresmian Pura, pasti diwakilin, soalnya gak mau me-dana punia.”
    Hahaha, ada-ada aja komentarnya…

  10. kalau tidak salah kan katanya ada PDHB/PHDB ? (auk ah gelap)… yg notebene salah satu visinya menjaga keajegan Bali, dikenal dengan istilah agama Hindu Bali yg `hanya` mengayomi umat Hindu yg menggunakan tradisi Bali. bagaimana sepak terjangnya ya? kok bisa terjadi seperti ini ? dimana letak pengajegannya ??

    dalam artikel dikatakan umat Kristen `menghormati` budaya lokal… bentuk `penghormatan` seperti ini terus dilakukan, mana ajeg nya ?? Bali menjadi tidak punya identitas dan jati diri.
    sekali lagi sangat disayangkan sekali …..

  11. bli ngarayana, jika kita merujuk kembali ke zaman majapahit yang runtuh disebabkan oleh toleransi yang begitu “terlalu” dan kemudian juga rencana terselubung dengan cara mengawinkan wanita cantik dari negeri seberang kepada raja, saya rasa akan sama yang akan di alami bali. bali sudah terlalu toleransi, kemudian perkawinan beda agama yang harus mengikuti agama kekasihnya, arsitekturnya disamakan, justru tanda salibnya diatas…belum lagi generasi muda sekarang sudah pada gengsi. dulunya pura seribu pura, sekarang gelar itu semakin terpuruk…wah ga habis pikir saya….apa jadi bali kedepan…?

  12. Klo menurut saya pribadi..
    BA.LI = Banyak Libur
    jika kita amati, pekerja di bali yg memang org Bali beragama Hindu lebih banyak minta ijin terutama mereka yg me-banjar dikampungnya. dalam 1 tahun kita sudah bisa Hitung berapa kali org Bali yg Hindu ijin, dg alasan ada upacara adat. Bisa dibayangkan jika sebuah manajemen akan mngurangi pnggunaan org bali (yg Hindu) sbg karyawan karena selalu minta ijin. Jadi tak mnutup Kemungkinan kedepannya org bali justru malah susah mncari pkerjaan di kampung sndri karna disibukkan dg “adat” atau bahkan “medesa” (ngayah). Bagi sbgian bsar org bali memang abu2 mmbedakan antara Hindu vs adat.

    Masalah Toleransi..
    kita memang wajib bertoleransi dg umat lain. mngkin dlam hal ini klo mnurut sy toleransi malah tidak berlaku untuk ssama org Hindu. Yang prnh sy liat jika org bali yg tak ikut “ngayah” (misal karna merantau, dsbg) maka akan dikenakan denda, atau bahkan lbh kejamnya di dikucilkan di masyarakat. Lalu bgmana dgn mreka yg pendatang?? justru malah bebas berleha2. Ingat jaman ini adalah jaman srba sulit, betapa sulitnya lagi jika sesama Hindu justru mndapat tekanan batin, bahkan materi. misal saja untuk “peturunan” ini dan itu bahkan hingga jutaan rupiah, upakara yg kadang habiskan ratusan juta rupiah.. apakah itu bukan pmborosan?? bukankah lbih bermutu Kehinduan kita itu andaikata ratusan juta itu kita pakai mmbantu umat yg msih banyak yg jauh dri ksejahteraan?? apakah Brahman akan marah?? sy kira itu prlu dipikirkan..

    yg terpenting lagi adalah Pondasi Hindu..
    sperti kita ktahui, adat boleh dibilang 90% sedang Hindu yg memang mmpelajari weda mungkin hanya 10%. apakah kita takut mnyederhanakan hindu dengan meningkatkan Tatwa kita??
    Jika Ke-Hindu-an dari umat itu sudah kuat, apapun coraknya misionaris2 itu meng-kamuflasekan dirinya, maka kita akan bisa mnjawab dgn cerdas. Bukan dg “Nak mulo keto” atau “tanya aja yg ahli”.. namun ironisnya, ketika ada Hindu yg mnerapkan Weda, justru malah dibilangin keindia-indiaan.. sayang sekali..

    Jangan Mem-BALI-kan Hindu..
    trus trang saja selama saya besar dluar bali, paling tidak suka mndengar kata2 “Agama Bali” atau “Lebarannya Org BAli” atau kalau ditanya “agama kmu apa, ketika jawab Hindu, maka org tsb akan berkata “org Bali ya??” hee.. aneh bin ajaib dah..
    jika Hindu itu selalu diidentikan dg org Bali, itu akan mengkerdilkan Hindu itu. Apa lagi pernah sy dengar adanya pembentukan PHDB (parisada Hindu BAli)whaatt?? Bukankah ini langkah mundur?? Dimana keuniversalan itu?? dan bgmana org “Non Bali” akan bisa mnemukan Hindu ketika dalam sbuah pernikahan pasangan akan diajak ikut Hindu??
    Sejak dini harusnya bisa membaca sansekerta itu dgn benar, misal saja kata:
    SIWA jangan dibaca “SIWE”
    KARMA jangan dibaca “Karme Pale”
    bgitu pula dgn bait2 TRI SANDYA yg hampir keseluruhan akhiran “A” itu djadikan “e”. Bukankah ini akan mnjadi aneh di lidah org Non Bali yg masuk Hindu??? contoh saja suku “Makassar” kalo dlam dialek mereka tidak ada “e”(sprti mmbaca EMPAT) namun mereka yang ada adalah “E”(sprti mmbca EKO)
    So harusnya kita Hidupkan kmbali Sansekerta itu..

  13. Ada lho satu pabrik dupa di Bali yang akhirnya tidak mau mempekerjakan orang Bali tapi malah mempekerjakan orang Jawa yang Islam atau Kristen. Tahu alasannya kenapa?

    1. Orang Bali Hindu Banyak libur
    2. Orang Bali Hindu juga perlu dupa sehingga mereka sering kedapatan nyolong dupa

    Akhirnya pihak managemen memilih mempekerjakan non Hindu karena mereka tidak banyak libur dan tidak perlu dupa.

    Cape dehh..

  14. Subha_Karma // September 14, 2011 at 8:37 am //

    1. Orang Bali banyak libur

    saya : iya,kebanyakan slogan kebanyakan orang memang seperti itu,saya juga belum mengerti mengapa seperti itu,soalnya relatif sih..saya sendiri rajin kerja. :) ,tapi menurut pengamatan saya,orang Bali kebanyakan gengsi dan kurang “lagas” (tegas) mengerjakan sesuatu,sekedarnya saja karena ingat ini itu,ingat adat ingat sangkep nanti dsb.well,itulah salah satu faktor yg menyebabkan terkesan malas bekerja,apalagi ada banyak libur nya memang di kalender,belum lagi rerahinan di Sanggah sendiri.
    marilah kita bekerja yang rajin,jangan gengsi,karena gara-gara gengsi lah,peluang kerja kita di Bali jadi dilahap orang non Bali.
    Tuhan tak suka orang yang malas,pesimis dan selalu mengandalkan berkah tuhan tanpa usaha. masalah slogan Bali=Banyak Libur sedikit demi sedikit dikikis dengan memanfaatkan scedule sebaik mungkin..(jadi ngomongin scedule) :D

    2. Orang Bali Hindu juga perlu dupa sehingga mereka sering kedapatan nyolong dupa

    saya : kalau nyolong ud keterlaluan namanya,masak hasil nyolong dipakai buat sembahyang? hadechh,,

    3. Akhirnya pihak managemen memilih mempekerjakan non Hindu karena mereka tidak banyak libur dan tidak perlu dupa.

    saya : hmmm,kebijakan perusahaan saja,toh setelah itu Kita bisa Introspeksi diri terkait kekurangan kita. :)

  15. Subha_Karma // September 14, 2011 at 8:40 am //

    Suksma komentarnya Wi Agus Divka,sungguh mencerahkan bagi saya.pengalaman Wi begitu luas dan detail.semoga semua Hindu bisa melek dan menerima segala kekurangan dan kelebihan atas apa yg kita ikuti .gejala-gejala sosial dan kemoderen jaman telah mengikis kesadaran manusia.hendaknya dijaman ini kita mesti perkuat benteng,bukannya diam tanpa movement..

    Jayalah Hindu

  16. putratridharma // September 14, 2011 at 9:02 am //

    Tambahan: menjamurnya pedagang asongan dari luar (konon ada yang mendanai: semacam bank rahasia), pedagang bakso, janur dan lain-lain membuat orang Bali (yang kampungan) semakin tampak bego. Sementara para rohaniwan Hindu (yang Bali sentris)sibuk mengurus “bisnis” dan kekuasaan, umat semakin bodoh dan apatis.

  17. Ternyata Hindu di Indonesia dan Bali khususnya sudah terjepit dari 2 sisi. Dari Kristenisasi dan Islamisasi. Saya mendapatkan bocoran WIKILEAK nih yang berjudul “HINDUS LAMENT “ISLAMIZATION” OF INDONESIA
    ” yang bisa dibaca di link: http://wikileaks.org/cable/2007/02/07JAKARTA268.html

    07JAKARTA268 2007-02-01 02:23 CONFIDENTIAL Embassy Jakarta
    VZCZCXYZ0006
    PP RUEHWEB

    DE RUEHJA #0268/01 0320223
    ZNY CCCCC ZZH
    P 010223Z FEB 07
    FM AMEMBASSY JAKARTA
    TO RUEHC/SECSTATE WASHDC PRIORITY 3068
    INFO RUEHKL/AMEMBASSY KUALA LUMPUR 2164
    RUEHNE/AMEMBASSY NEW DELHI 1238
    RUEHJA/AMCONSUL SURABAYA 1639
    C O N F I D E N T I A L JAKARTA 000268

    SIPDIS

    SIPDIS

    E.O. 12958: DECL: 10/31/2016
    TAGS: PHUM PGOV KIRF ID
    SUBJECT: HINDUS LAMENT “ISLAMIZATION” OF INDONESIA

    REF: JAKARTA 01649

    Classified By: POLITICAL OFFICER SANJAY RAMESH FOR REASONS 1.4 (b) and
    (d)

    ¶1. (C) Summary: Several prominent Hindu leaders of the Parisada Hindu
    Dharma Indonesia (PHDI) told us the Hindu community faced increasing
    discrimination at the hands of a rapidly Islamizing Indonesian Muslim
    community and government. In a January 24 discussion, they claimed
    that the “Islamization of the country” had resulted in the 2006
    government decree on building places of worship, which imposed what
    they consider to be difficult conditions for minority religious groups
    seeking to construct new places of worship. The PHDI leaders alleged
    that Hindus in Java seeking government services, including birth and
    marriage certificates, faced widespread discrimination. PHDI leaders
    said that the plight of Hindus received little attention as the Hindu
    community did not have the international support base and financial
    resources enjoyed by the Christians. End Summary.

    ¶2. (C) On January 24, Poloff made a courtesy call on several
    officials of the Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) including
    Chairman Agus Mantik, Director of International Communications A.S.
    Kobalen, Chairman of Daily Affairs Made Erata, and Chief Secretary
    Gusti Widana. (Strictly Protect) The PHDI describes itself as a
    privately funded, non-political, religious body which “represents the
    voice” of Indonesian Hindus and issues religious edicts that it claims
    are widely adhered to by the Hindu community. Chairman Agus said the
    Hindus in Indonesia number close to 10 million, of whom 3 million live
    in Bali. The rest are widely dispersed across the archipelago, with
    concentrations in East Java, South Sumatra, and Sulawesi. However,
    PHDI leaders claimed the Indonesian census deliberately under-counted
    the Hindu population to reinforce Indonesia’s Muslim majority. (Note:
    according to 2004 data from the Ministry of Religion, Indonesian
    Hindus numbered 3.6 million).

    ¶3. (C) Agus said Indonesian Hindus faced “increasing discrimination”
    from a rapidly Islamizing Indonesian Muslim society, including from
    members of “so-called moderate groups Muhammadiyah and Nahdlatul
    Ulama,” as well as from the government. Agus told us that while the
    highest officials in the Indonesian government and moderate Muslim
    organizations talked the language of “tolerance,” partly in order to
    placate foreign governments, this message was deliberately not being
    transmitted to the grassroots level.

    ¶4. (C) Agus and Kobalen alleged that an important manifestation of
    increasing Islamization was the 2006 decree on the construction of new
    places of worship, which took effect in March of that year. (Note: In
    2006, the Ministries of Religion and Home Affairs issued a joint
    decree stipulating that building a new house of worship requires a
    petition signed by 90 congregation members and at least 60 other
    community members. The petition must then be approved by the local
    offices of the Religious Affairs Department and the Communications
    Forum for Religious Harmony (reftel)).
    Agus and Kobalen refuted the government claim that the decree
    prevented inter-religious tension caused by the erection of
    unauthorized places of worship. They asserted that the decree’s real
    effect was to make it extremely tough for non-Muslims to build new
    places of worship. They felt the decree particularly hurt Hindus in
    Java and Sumatra, a widely dispersed minority who found it “extremely
    difficult” to obtain the 90 congregation signatures needed. Agus and
    Kobalen noted that the requirement to get 60 community signatures
    posed an even more insurmountable obstacle; in effect, it meant
    getting 60 Muslim signatures. Kobalen said that even if the Hindus
    managed to negotiate this barrier, their efforts would be thwarted at
    the final “checkpoint,”
    the need for approval from the local offices of the Religious Affairs
    and Communications Forum for Religious Harmony.
    Almost all the PHDI leaders believed the government issued this decree
    in response to demands by “Muslim groups.”

    ¶5. (C) To substantiate their claims about the decree, Agus and
    Kobalen pointed to Cengkareng district in Java where the Hindus have
    been trying to build a temple since 2003. Kobalen said that after
    extensive lobbying efforts last year, the Hindus obtained the
    requisite 90 congregation signatures and
    60 community signatures. However, to date, the local Religious
    Affairs office had not issued a permit to raise the temple. PHDI
    leaders did not foresee a resolution to the problem and appeared
    resigned that a temple could not be built in Cengkareng. (Note: PHDI
    leaders also claimed that Sikhs in Jakarta had been unable to obtain a
    permit for a new temple despite obtaining needed signatures. We will
    follow up with the Sikh community and other minorities on this
    issue.) They also said that radical Muslims from the Islamic
    Defenders Front (FPI) had demonstrated in front of the proposed temple
    to intimidate the Hindus.

    ¶6. (C) The PHDI leaders said another indicator of growing
    Islamization was increasing government and social discrimination being
    reported by Hindus, especially in eastern Java. The PHDI continued to
    receive accounts of Hindus unable to procure birth and marriage
    certificates, identity cards, and other basic local government
    services.
    Consequently, many Hindus simply identified themselves as Muslim on
    government identification cards to escape discrimination. Agus
    asserted that in recent years many Muslims in East Java, influenced by
    local Islamic preachers who characterized Hindus as “idol
    worshippers,” had forced their Hindu neighbors to declare themselves
    Muslim. Kobalen claimed that even local Muslim preachers affiliated
    with Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama preached intolerance against
    minorities. According to him, in some local districts such as Banten
    near Jakarta, strident Muslims had gone a step further and forced the
    rewriting of the local curriculum to de-emphasize Indonesia’s “great
    Hindu past.”

    ¶7. (C) PHDI leaders also claimed the plight of Hindus tended to be
    ignored by the government, media, and diplomats as the Hindus had no
    international support base. They argued that Christian missionaries,
    often based in the U.S., had used their enormous financial wherewithal
    to focus a spotlight on discrimination against Indonesian Christians.
    Indonesian Hindus had little recourse to such resources. Kobalen said
    he had traveled to India and forged links with nationalist Hindu
    parties, but these efforts had not yet translated into financial
    support. Therefore, PHDI was exploring tapping into the wealthy Hindu
    community in the United States.

    ¶8. (C) The PHDI leaders concluded that until now Balinese Hindus had
    escaped discrimination due to their majority status and the island’s
    importance as a tourist destination.
    They did not think the Bali bombings were related to its Hindu
    character. However, they expressed foreboding that the drive towards
    Islamization in Indonesia would inevitably end up impacting Bali.

    Apa keberadaan Hindu di Bali hanya menunggu waktu?

  18. Subha_Karma // September 14, 2011 at 10:28 am //

    Suksma infonya pak made,sangat mencengangkan. :(

  19. Umat Hindu sedharma, Hati saya semakin miris & terenyuh adakah solusi untuk mengatasi persoalan ini, serta maukah di dengar oleh para sesepuh qta yg ada di Bali tentang keadaan Hindu sekarang yg semakin terjepit, sehingga adanya upaya penyederhanaan adat yang membelenggu, tks

  20. @Subha_karma, sama2 dsni sy hanya ingin berbagi, bukan mnggurui.. salam knal yaw..

    @Yan Jhon
    Solusi itu pasti ada, tetapi butuh waktu. mngkin dg bbrapa cara(hemat sy pribadi ya):

    Pemberanian Diri
    selama ini jika trjadi musibah dsbuah kluarga, pasti buntut2nya kita kita nyari balian (org pintar/para normal), lalu dgn istilah “meblanja” maka ketika balian trsbut ksurupan dsitulah umumnya umat kelihatan lebih percaya org yg dbwah alam sadar itu drpd prcaya kpd Tuhan atau khendak alam. Lalu sudahkah kita brani mngatakan “saya hanya Percaya Brahman sbg Roh yg Utama!” bukan malah mngkait2kan karna salah banten lah, leluhur lg marah lah, dbsg..
    contoh sdrhana aja, ketika rumah ditiup angin, lalu rusak, pradigma yg mncul adlh “perlu caru ini dan itu” ini trus trang tdak bsa masuk di nalar saya. mngapa kt sbg org yg sdg mngeyam pnddikan tdak brfkir baha, “manusia sdh trllu bnyak yg srakah, hutan dgunduli shingga hujan angin panas smua brcampur, trjadilah bncana.” so jgnlah dikaitkan dg hal2 aneh.. apakah anda atau kita brani brfkir dmkian?? namun bukan brrti anda harus angkuh dimasyarakat, karna nantiny justru mreka2 yg ingin mnjjukan “kesaktiannya” yg malah sngaja mncelakai. ckup dihati dan dri dri sndri dlu..

    Pencerdasan umat..
    Mngaku Hindu? Mngaku kitabnya Weda? ya terapkan dan aplikasikanlah Weda itu semestinya. yah.. setidaknya jika ssorg itu diajarkan dri kecil (mngkin dri tingkatan yg paling sdrhana)maka kelak ktkika dewasa sudah tak asing lagi. masalahnya adalah di kurikulum SD itu yg ada hanyalah plajaran tulisan Bali. mengapa bkan sanskrit?? Lalu brapa org kah saat ini yg kira2 bsa mngajarkan “Sanskrit”?? baik penulisan atau pmbacaannya? jadi Hidupkanlah Sanskerta sbg bahasa Weda itu. Lebih detail lagi, jangan Latah! misal saja mngenai msalah Dewa2 Hindu. Di masyarakat dari dulu (seingat saya dari sy SD) pemahaman Dewa ada yg mnggap sama dg Malaikat(smacam makshluk super) anak buah Tuhan. (wow, latah lagi) ada jg teori weda mngatakan Dewa = Manifestasi Tuhan (Div yg brrti SinarSuci drpd Tuhan itu sndri), versi lain lagi bahwa: kalau Dewa (yg ditulis dg kata “DEWA” itu adalah ciptaan Brahman, sedang yg penulisannya “DIVA” itu adalah manifestasi(pokok Tugas daripda Brahman/3 Gelar/Tri Murti) ini waktu sy SD prh sy diajarin bgtu. Aneh bukan?? jadi harusnya dipertegas lah..

    Memilih jalan Ilmu pengetahuan.
    di Bali, dari dlu sering mndegar ungkapan kalo kita skolah tinggi2, maka akan diledeK “mau gantiin presiden? akh nu seger presidene” nu seger kok Pak mentri”, dsbg.. maka umumnya org tua pun kadang tak menekan anaknya utk mmntingkan skolah, yg lbih ironis,mnyekolahkan anak Setinggi2 nya sangat berat, namun jor-joran dana untk upakara (konon demi kesejahteraan dan demi keseimbangan alam) lebih diutamakan ketimbang mnyekolahkan anak. Dalam Bg.Gita jelas dikatakan “jalan ilmu pngetahuan lbih bermutu drpda materi”
    artinya apa, jika jman dlu nenek2/kakek2 kita blum mngnal pnddikan, atau bahkan tak bisa mnulis, maka jalan bakti (persembahan brupa materi/sesaji)lah yg paling mudah. karna level Dharma yg setingkat itulah yg mreka bisa.(maaf mngkin karna tdak bisa baca/tulis). dan bukan brrti mreka salah lho..
    Namun jika saat ini pnddikan sudah tidak dijajah lagi dan boleh setinggi2nya, maka mngapa kita harus tetap “stay” pada level Dharma yg paling rendah?? mngapa bukan jalan “Ilmu pengetahuan” itu yg kita smua sama2 tempuh dh pnerapan Hindu (bukan adat lagi) sejak usia dini?? harusnya ini PR para Intelaktual Hindu diatas sana. Saya yakin dan saya sangat bangga mnjadi Hindu ketika mngnal btapa Maha Dalamnya Weda, dan maha tak terbatasnya pngtahuan Weda itu, maka jika umat tercerdaskan justru agama lain akan Ikut ke kita karna Hindu lebih “FILOSOFIS” dan bijak, sedang kbnyakan agama2 Abrahamis brbntuk “DOKTRINAL”.
    Contoh Nyata:
    mantan dosen saya seorg Hindu (yg mmng besar diluar bali) kbtulan dipilih oleh sbuah UNIV. Islam trkemuka untuk mngajarkan salah satu fakultan yakni “Ilmu Perbandingan Agama” tak heran disetiap Tahunnya ada saja yg ingin memeluk Hindu karena kekayaan filosofisnya, dan mreka tak temukan di agama mreka.” So Kitalah Duta Hindu itu..
    ingat Hidu tidak pernah mnyempitkan Tuhan hanya kedalam sbuah kitab yg konon sudah koplit dan paling smpurna. Arti kata WEDA sndri bukanllah kitab, akan ttapi ILMU PNGHTAHUAN, brbicara Ilmu pngetahuan brrti,tak akan ada batasnya, namun kapasitas manusialah yg terbatas untuk mnerimanya. Bgtu pula keagungan BRAHMAN..

    Mnghilangkan Images BAli dalam Hindu
    (selebihnys sdh sy bahas di koment sy diatas)sehingga Hindu akan dianut oleh smua suku, ras, golongan. karna ada unsur balinya lagi, pasti mreka dah kbingungan di awal. kini ada Bali TV, siarkanlah intisari2 ajaran Weda dg Dharmawacana. Tapi harus benar2 Universal, jngann hnya bali dan bali melulu.. tapi tampilkan lah Hindu yg ssguhnya..

    Menghilangkan “KASTA” ALA BAli itu..
    ingat kasta bukan warisan, tetapi diperjuangkan. walo saat ini anda hanya anak petani/pemulung, maka jika anda brjuang dan mnjadi BIG BOSS, bukankah itu artinya anda telah brjuang untuk drajat hidup anda??
    jadi yg aneh lagi mnrut saya mngapa karna dahulunya mngkin nenknya nekek, dan nenek punya nenek lagi, dan masih ada ktrunannya skrg justru malah dibesar2kan sehingga kita harus mnggnakan bahasa yg lbih halus ?? silahkan saja dipake gelarnya, AGUNG, GUSTI, dsbg, namun janganlah itu djadikan level/darah biru. saat ini banyak kok yg pnya gelar2 itu toh jg jadi kaum pekerja/karyawan. maaf bukan mnyinggung, tapi harusnya hapuslah pnggolongan ini. mari kita mnyatu dg satu kesamaan sbg umat yg mrupakan sama2 ciptaanNYa.
    perlu diingat, misionaris agama lain mnggunakan ini sbg snjata dg brkata “di Hindu itu manusia digolong-2kan” ehh jangan masuk Hindu”

    Penggunaan SIMBOL yg Tepat.
    jika sy pribadi lbih mnyukai simbol suci Hindu yg brsifat Internasional(yg mirip angka 3), ktimbang yg OM Kara ala Bali (maaf itu trllu sempit mnrut sy).
    nb: jika kita prhatikan simbol HIndu yg Intr.itu mirip juga dg simbol agama Islam. hanya saja posisinya berbeda, hmm ada apa yah??)

    dan masih banyak cara lagi untuk solusi masalah ini..
    Tapi saya yakin bagi sbgian besar org Bali jika anda brbicara smacam ini, maka mreka akan bantah mntah2..
    Ironis bukan.. marilah buka fikiran kita.. demi kejayaan Hindu, yu mulai skrg kita sbg generasi yg sudah sdkit melek..

    Maaf jika ini agak blak-blakan, tak ada maksud provokasi, tapi hanya sbuah kecemasa sy mlihat kmerosotan Hindu,dan kemudahaan berpaling ke agama lain. marilah saling introsveksi diri.

    SALAM “SAMBEL” BUAT SMUA
    MAKIN DICOLEK MAKIN “PEACE..”
    DIVKA.HD

  21. @ All

    Sangat tidak adil tulisan di atas, karena perkembangan kristen di Bali sangat pesat, kalian menyalahkan mereka, cobalah berfikir mengapa ummat Hindu banyak yang pindah ke kristen? sudahkah selama ini kalian telah mempraktekkan Cinta kasih secara Nyata pada sesama umat Hindu?

    indonesia adalah negara demokrasi, jadi siapa saja boleh meyakini dan berpindah pada keyakinan yang diyakininya.

    menurut saya, salah satu faktor seseorang pindah ke agama lain adalah karena reinkarnasi masa lalunya. karena masa lalunya kristen maka akan mudah diseret ke dalam ajaran yg pernah diyakininya.

    sebetulnya perpindahan keyakinan agama seseorang hal itu adalah lumrah dan biasa terjadi dimanapun saja.
    sekarang coba renungkan berikut ini:
    1. semua agama yg ada di Indonesia adalah Impor, kayakinan asli lokal adalah animisme dan dinamisme.
    maka aneh sekali jika “melarang” sebuah agama menyebarkan ajaran pd sebuah komunitas dg alasan merusak tatanan asli, pdahal aslinya bangsa kita tdk punya agama aperti skarang ini.

    2. andaikata perkembangan Kristen di bali dilarang, karena merusak keyakinan asli bali, lalu bagaimana dengan perkembangan Hindu dan missi mrk di Eropa dan Amerika, bukankah juga “merusak” agama lokal mereka ?
    pdhal dalam webset ini banyak sekali tema yg menjelaskan tentang kemajuan agama Hindu di Amerika dan eropa.

    Cobalah kita bertanya pada diri kita sendiri, sudah berapa kali kita pindah agama? bukankah kita pernah hidup berulang kali….?

  22. Maaf, saya mewakili yang lain. Ini topik intern. Fokus utama kami bukan tentang bagaimana orang Kristen menyebarkan agamanya di Bali. Tetapi yang kami bicarakan adalah bagaimana bodohnya orang Bali dalam menyikapi agamanya sendiri sehingga mudah dipengaruhi umat lain. Jadi tidak ada istilah melarang Kristenisasi di Bali. Makanya, bacalah dulu komentar-komentar yang ada juga agar diskusinya nyambung.

  23. Subha_Karma // September 15, 2011 at 9:03 am //

    mungkin bapak sendiri belum mengerti apa maksud tulisan ini.tulisan ini adalah bentuk kebodohan kami yang “belog ajum” mengijinkan apa saja termasuk “memberikan budaya” kami kepada orang2 diluar hindu.anda pahami sendiri,kami pinter apa bodoh? nah,tulisan ini diharapkan bisa menjadi alarm bangun buat hindu yang masih tertidur pulas..masalah pindah keyakinan itu memang bukan hal yang buruk bagi mereka yg agamanya terus bertambah,tapi bagi kami yg notabene sudah kecil,dikuliti sedikit demi sedikit..coba saja bapak ada di pihak kami,pasti sama saja.dan diingat pula,sejarah Hindu dan Kristen memang tak pernah mulus .semoga bisa dipahami tanpa adanya tanggapan miring apapun.kami toleransi berlebihan memang saya akui.

    di nuansa hijau utama,daerah perumahan sempit yang kebanyakan adalah Hindu dari luar wilayah ubung,teman saya pernah didatangi misionaris(2 ibu-ibu),dan mereka menjanjikan sorga. teman saya mumpung pegang laptop,lalu teman saya surfing internet dan menyuguhkan mereka beberapa artikel,tak tau kenapa mereka akhirnya pamit pulang,mau dibuatkan teh ga mau,katanya mau pulang cepat

    faktor pindah agama itu banyak pak,bukan masalah reinkarnasi,tapi pakai logika saja,yang bodoh bisa dibujuk,yang pintar belum tentu..
    :)

    salam kenal ya.

  24. @ Nyoman Rama

    “Tambah Tidak Adil Lagi”

    artikel di atas tidak ada penjelasan yg menyatakan topik ini internal. coba anda baca komentnya Sugix dan Subha_Karma, yg sangat jelas sekali mengaitkan dg Kristen….

    di saat orang bali sendiri”mengkafirkan” Hare Krisna, justru orang-orang eropa dan Amerika malah toleran & menyambut gembira. sehingga umat Hindu menjadi bangga dan menjadikan momentum kebangkitan Hindu di Barat.

  25. orang kritis dadakan (sengkuni) // September 15, 2011 at 9:13 am //

    saya sangat prihatin mendengar berita wikileak terutama tentang diskriminasi hindu di indonesia oleh para onta dan kambing sialan

    bagi saudara saudara saya yang kesusahan membangun tempat suci di luar Bali mungkin kata kata bijak di bawah ini sedikit mencerahkan

    The most beautiful altar in the world is the altar abiding in your own heart.
    The most powerful prayers in the world are the prayers offered there in your heart-temple with sincerity and simplicity.

    kalau tidak salah saya mengartikan terjemahannya seperti di bawah (kayaknya)

    altar atau pura terindah di dunia adalah altar yang ada di dalam hatimu
    Doa yang paling dasyat di dunia adalah doa yang dilantunkan dengan ketulusan dan kesederhanaan di pura yang dibangun di dalam hatimu.

    jadi saudara2 hinduku di luar bali sama sekali tidak masalah tidak diberikan izin membangun tempat suci oleh onta dan kambing karena dengan selalu mengingat tuhan dan mengucapkan nama suci beliau yang jumlahnya ada ribuan anda telah menstanakan tuhan didalam hatimu.

    Bukankah Krishna sendiri telah bersabda bahwa di zaman kali ini tiada jalan lain mencapai tuhan dengan berjapa (mengucapkan nama suci tuhan)

    bila perlu kalian pakailah peci,sarung dan baju koko seperti orang muslim tapi ucapkan nama suci tuhan dalam hatimu
    ingatlah selalu tentang kebesaran dan lila Narayana dan Mahadewa.

    ingat kata2 bijak para biksu
    kalian boleh membakar patung budha di wihara tapi kalian tidak bisa membakar budha yang ada di dalam hatiku

    Begitu juga kata bijak dari sengkuni yang tiba2 menjadi kritis : hai para onta dan kambing kalian bisa melarang kami membangun pura di luar bali dan merusak pura kami di lombok tapi jangan harap kalian bisa merusak pura kami yang adA di dalam hati

    OM NAMAH SHIVA YA………………………………………………….

  26. Subha_Karma // September 15, 2011 at 9:31 am //

    @ xarel x : pertanyaan saya singkat saja,apa bapak sudah mengakui kebodohan kami? dan yang saya paparkan tadi adalah fakta,sama seperti di media,siapapun berhak tau.karena sebuah fakta tidak boleh ditutup2i..karena kejujuran itu bagian dari Dharma.

  27. Subha_Karma // September 15, 2011 at 9:33 am //

    hemm..mengapa ya yang minoritas selalu jadi yang paling sengsara? padahal cuma agama Hindu saja yang masih menggunakan Animisme dan Dinamisme. :(

  28. orang kritis dadakan (sengkuni) // September 15, 2011 at 10:32 am //

    woi…………… xarel x
    orang Eropa ma Amerika aja loe bilang menyambut Hare Krishna dengan gembira

    Loe kapan dong pindah ke Hare Krishna?

  29. orang kritis dadakan (sengkuni) // September 15, 2011 at 10:42 am //

    @Pak Subha_karma
    wah gak selalu kok pak yang minoritas jadi yang paling sengsara
    buktinya islam dan kristen di bali minoritas hindu di bali Mayoritas

    Coba tebak enakan mana hidupnya?
    yang minoritas apa yang mayoritas?

    malahan orang hindu di bali sendiri yang merasa hidupnya tertekan oleh adat yang kaku
    orang hindu bali hanya di jadikan museum hidup biar jadi tontonan bule dan tourist.

    salam kenal pak subha karma
    sorry kalau saya orangnya agak sedikit stres

  30. @penulis

    Apa motivasi anda dlm menulis artikel ini, kami semua pembaca sebenarnya belum jelas.

    Di awal artikel anda menganggap bali sudah salah, bali adalah budaya, bali tidak beragama (Hindu).
    namun di terakhir anda menghujat gereja2 yang bercorak budaya bali. bukankah anda sendiri yang mengatakan budaya bali itu tidak sama dengan agama Hindu? anda disini ‘marah’ mewakili agama hindu atau orang bali?

    Hindu : Tidak usah marah, karena Hindu dahulu juga menyebarkan ajarannya dengan masuk ke budaya2 daerah (tidak merusak budaya), dan karena Hindu itu ajaran luhur, bukan suatu budaya, Hindu tidak bisa dicuri.

    Bali : dan tidak usah marah juga karena memang Bali sendiri yang memberikan budayanya pada orang lain. (lihat tempat2 suci Hindu di JAWA/kejawen dijadikan bercorak BALI oleh ORANG BALI sendiri)

    Pertanyaannya sekarang, APA YANG ANDA INGINKAN DARI BALI?
    Dan ANDA INGIN KRISTEN???

    Dengan menjawab hal ini dgn tulus, barulah kami semua mengerti, motivasi dan apa yg ingin anda sampaikan di tulisan anda ini.

  31. Ralat

    Pertanyaannya sekarang, APA YANG ANDA INGINKAN DARI BALI?
    Dan ANDA INGIN KRISTEN???

    maksud saya:

    ANDA INGIN KRISTEN BAGAIMANA?

    Maksudnya anda ingin kristen bagaimana? merusak budaya daerah yg dikonversi dan mengganti dgn budaya timur tengah/yerusalem?

    suksme

  32. Subha_Karma // September 15, 2011 at 12:26 pm //

    1. anda : Di awal artikel anda menganggap bali sudah salah, bali adalah budaya, bali tidak beragama (Hindu).
    namun di terakhir anda menghujat gereja2 yang bercorak budaya bali. bukankah anda sendiri yang mengatakan budaya bali itu tidak sama dengan agama Hindu? anda disini ‘marah’ mewakili agama hindu atau orang bali?

    saya : arti kata Bali adalah Bebali atau bebanten pak,banten adalah sarana persembahyangan Siwa Budha.terus apakah bapak masih bersikukuh bilang saya mengatakan Bali tidak beragama?
    tentang gereja penekanan saya bukan terhadap Kristen yang pintar dalam hal ini,tapi kami introspeksi diri “mengapa kami bodoh?”
    lambang Om Svastyastu dipakai dalam prosesi pernikahan seorang Kristen.
    di budaya mana bapak temukan penggunaan “Om Svastyastu” ?

    Pengertian Om Swastyastu yang dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan.

    Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.

    Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.

    Menurut ajaran Hindu alam semesta ini berproses dalam tiga tahap. Pertama, alam ini dalam keadaan tercipta yang disebut Srsti. Kedua, dalam keadaan stabil menjadi tempat dan sumber kehidupan yang membahagiakan. Keadaan alam yang dinamikanya stabil memberikan kebahagiaan itulah yang disebut swastika. Dalam istilah swastika itu sudah tersirat suatu konsep bahwa dinamika alam yang stabil itulah sebagai dinamika yang dapat memberikan kehidupan yang bahagia dan langgeng. Dinamika alam yang stabil adalah dinamika yang sesuai dengan hak asasinya masing-masing. Ketiga, adalah alam ini akan kembali pada Sang Pencipta. Keadaan itulah yang disebut alam ini akan pralaya atau dalam istilah lain disebut kiamat.

    Kata astu sebagai penutup ucapan Swastyastu itu berarti semoga. Dengan demikian Om Swastyastu berarti: Ya Tuhan semoga kami selamat. Tentu, tidak ada manusia yang hidup di dunia ini tidak mendambakan keselamatan atau kerahayuan di bumi ini.

    Jika Bapak adalah seorang Kristen,apakah Bapak setuju Tuhan Bapak adalah Brahman?

    san saya tambah kutipan dari Vivanews :
    “Romo Servasius I Nyoman Subhaga SVD menjabarkan, gereja yang dibangun di atas lahan seluas 3.700 meter persegi itu bukan sekadar bangunan belaka. Gereja Katolik Yesus Gembala Yang Baik didesain penuh dengan falsafah. “Semua mengacu pada filosofi Asta Kosala Kosali (filosofi Hindu) yang merupakan acuan arsitektur dan tata letak bangunan di Bali. Selain itu juga mengadopsi filosofi Tri Mandala (tiga konsep tata letak bangunan Bali),” katanya.”

    2. Pertanyaannya sekarang, APA YANG ANDA INGINKAN DARI BALI?
    Dan ANDA INGIN KRISTEN???

    Saya : saya inginkan Bali tetap bisa seperti Bali yang dulu yang tidak “belog ajum” over toleransi tidak baik,soalnya Bali itu bagi saya sakral.
    saya : untuk kristen saya salut. speechless dach..:)

  33. Subha_Karma // September 15, 2011 at 12:27 pm //

    mohon dibedakan antara Budaya dan Agama.biar jelas

  34. Subha_Karma // September 15, 2011 at 12:40 pm //

    ohy,kalau anda penasaran apa itu Asta Kosala Kosali,bisa dibaca disini [http://www.babadbali.com/astakosalakosali/astakosala.htm]

  35. Subha_Karma // September 15, 2011 at 12:51 pm //

    jika ingin lebih mendalami,saya tambahkan tentang Asta Kosala Kosali

    Hampir setiap orang sudah mengenal istilah Feng Shui, yaitu aturan-aturan tata letak bangunan yang dipercaya berasal dari Cina. Feng Shui memberikan aturan-aturan tentang peletakan pintu utama, kamar, kolam dan pernak-pernik peralatan rumah sehingga dengan menerapkan aturan ini diyakini akan membawa keberuntungan bagi para penghuninya.

    Prinsip yang dimiliki oleh Feng Shui ternyata juga terdapat dalam salah satu manuskrip tertua Veda yang disebut sebagai Vastu Sastra (Vaastu). Vastu Sastra adalah turunan dari bagian Catur Veda, yaitu pada Yajur veda yang mempelajari tentang ilmu struktur dan tata bangunan. Terdapat tiga puluh dua manuskrip Vastu sastra yang ditulis oleh Vishwakarama dan juga terdapat sebuah manuskrip utama lainnya yang disebut Mayamata. Manuskrip-manuskrip ini juga dituliskan sejaman dengan pengkondifikasian Veda oleh Maha Rsi Vyasa, yaitu sekitar 6000 tahun yang lalu. Dengan demikian Vastu Sastra pada dasarnya jauh lebih tua dari Feng Shui.

    Vastu Sastra diterapkan secara turun-temurun dalam setiap bangunan suci, bangunan publik, rumah dan juga gedung sebagian besar penganut Veda di dunia. Prinsip-prinsip Vastu dapat kita jumpai pada bangunan-bangunan kuil suku Inca dan Maya di Amerika, kuil-kuil di Thailand, Myanmar dan berbagai daerah Asia lainnya. Prinsip-prinsip tata bangunan yang masih hidup di Bali yang diatur dalam Asta Kosala-Kosali juga kemungkinan besar merupakan turunan dari Vastu Sastra. Dengan demikian, apakah Feng Shui adalah turunan dari Vastu Sastra juga?

    Hanya saja pada beberapa hal, Vastu dan Feng Shui saling bertolak belakang. Contohnya pada tata ruang perumahan, jika menurut Vastu, rumah yang baik akan menempatkan area terbuka dan lebih rendah pada bagian utara dan timur, hanya menempatkan sumur/tempat air di timur laut, dapur di tenggara dan wc/kamar mandi di barat laut, namun aturan Feng Shui tidak demikian halnya. Menurut Feng Shui, area terbuka sebaiknya di sebelah barat serta bagian utara dan timur adalah bagian yang lebih tinggi sebagai simbol bukit dan gunung.

    Menurut A.R.Hari.B.Sc.,B.E, seorang konsultan yang melakukan kajian tentang Vastu dan Feng Shui, ternyata Vastu memperlihatkan perhitungan yang lebih tepat dari pada Feng Shui tata letak ruang terbuka dan ketinggian. Lebih lanjut lagi dia menjelaskan bahwa Feng Shui lebih memberikan manfaat secara individual dari pada secara global sehingga akan sangat tepat jika membangun rumah sesuai dengan Feng Shui dengan memperhatikan waktu kelahiran orang yang akan menempati rumah tersebut. Feng Shui juga lebih memperhatikan aspek-aspek kecil seperti tata letak perabotan, akuarium, lukisan dan sebagainya di dalam rumah. Sementara Vastu berlaku secara lebih global dan tidak terbatas pada bangunan kecil atau yang berbentuk persegi saja, tetapi dapat diterapan dalam berbagai jenis dan aspek bangunan. Penggunaan prinsip-prinsip Feng Shui akan memberikan hasil positif jika digunakan para bangunan yang memiliki nilai perhitungan Vastu yang netral atau positif, tetapi tidak akan berpengaruh signifikan terhadap bangunan yang memang secara Vastu negatif.

    Dalam manuskripnya, Vishwakarama menuliskan; “Pengetahuan utuh dan lengkap. ini dapat membawakan kebahagiaan kepada setiap manusia di atas bumi ini. Terdapat empat tipe kebahagiaan yang akan diperoleh dengan penerapan pengetahuan ini, yaitu kebahagiaan dalam harta benda, kebahagiaan hidup, pemenuhan keinginan duniawi, dan anugrah. Dengan pengetahuan dari Tuhan ini, orang akan menjadi penuh dengan rasa bhakti kepada-Nya”.

    Apakah pernyataan diatas dan aturan-aturan yang terdapat dari Vastu Sastra dapat dibuktikan secara ilmiah? Tentu, tapi belum semuanya, mengingat beberapa aturan Vastu termasuk kedalam metafisika yang belum dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuan ilmiah saat ini.

    Salah satu aturan dalam Vastu Sastra menganjurkan agar posisi tempat tidur dengan bagian kepala mengarah ke selatan dan kaki di utara. Vastu Sastra menjelaskan bahwa medan magnet bumi bergerak dari selatan menuju utara (kutub positif magnet bumi terletak di kutub selatan bumi dan kutub negatifnya di kutub utara) dan tubuh manusia juga memiliki medan magnet yang kutub positifnya terletak di kepala dan kutub negatifnya di kaki sehingga dengan tidur dengan posisi kepada menghadap ke selatan, medan magnet tubuh kita yang relatif kecil tidak akan bertentangan dengan medan magnet bumi yang besar.

    Saat ini, sains sudah mengakui akan besarnya medan magnet bumi yang fungsinya bukan semata sebagai kompas, tapi juga diindikasikan memiliki pengaruh yang besar bagi mahluk hidup. Burung-burung pengembara seperti flamingo, blibis, camar dan sejenisnya ternyata dapat menjelajahi dunia berkat kemampuannya mengenali arah medan magnet bumi dan menjadikannya alat navigator yang sangat akurat. Hal inilah yang memungkinkan mereka kembali lagi ke tempat yang sama setiap tahunnya.

    Saat ini medan magnet juga digunakan untuk terapi, seperti terapi memperlancar peredaran darah, meredakan sakit kepala, pegal dan ganggunan kesehatan lainnya. Jika medan magnet yang kecil dari alat-alat terapi ini saja berguna untuk kesehatan kita, kenapa kita tidak mengindahkan pengaruh medan magnet bumi yang berpengaruh global sebagaimana yang disampaikan Vastu Sastra?

    Hal positif yang lain yang dapat diperoleh dengan penerapan Vastu Sastra yang dapat dilihat secara konkrit adalah dalam hal keteraturan tata ruang suatu daerah. Coba saja kita bandingkan lingkungan masyarakat Bali yang masih kuat menerapkan aturan asta kosala-kosali dalam pembangunan rumahnya dengan masyarakat Bali atau pendatang atau daerah lainnya di luar Bali yang sudah tidak peduli dengan prinsip-prinsip asta kosala-kosali. Lingkungan masyarakat yang menerapkan prinsip asta kosala-kosali akan terlihat lebih indah, sehat dan nyaman. Sangat berbeda dengan masyarakat yang tidak mengindahkan aturan aturan itu.

    Beberapa prinsip Vastu utama dalam mendirikan bangunan yaitu antara lain;

    1. Bagian utara dan timur dijadikan sebagai ruang terbuka, seperti taman dan pekarangan
    2. Bagian selatan dan barat diajdikan ruang tertutup
    3. Ketinggian lantai atau halaman di bagian utara dan timur lebih rendah
    4. Bagian barat dan selatan lebih tinggi dari lantai di utara dan timur
    5. Tempat penampungan air diletakkan di timur laut
    6. Dapur di tenggara
    7. Tempat tidur di barat dan di selatan
    8. Tempat tidur utama di barat daya
    9. Jika setiap kamar memiliki toilet, sebaiknya di letakkan di timur laut atau barat laut dari kamar tersebut
    10. Tangga rumah diletakkan di bagian sudut tenggara atau barat laut
    11. Wajib terdapat satu pintu di sebelah timur laut
    12. Pintu yang lain dapat diletakkan di arah mana saja, tetapi setidaknya harus pada arah netral
    13. Kemiringan atap harus ke arah utara atau timur
    14. Suatu struktur haruslah uniform pada setiap sisinya atau kalau tidak, bagian barat dan selatan harus lebih berat dari bagian utara dan timur

    Bagaimana jika bangunan kita bertentangan dengan prinsip-prinsip Vastu Sastra? Beberapa efek yang mungkin terjadi jika bangunan kita tidak sesuai dengan aturan Vastu yaitu antara lain;

    1. Jika tempat tidur utama terletak di tenggara dan dengan toilet di timur laut maka kemungkinan yang tinggal di kamar tersebut dapat terkena kanker payudara
    2. Jika kamar tidur utama terletak di barat daya dan dengan toilet di barat daya maka dapat mengakibatkan gangguan hati atau kematian
    3. Jika ketinggian di timur laut lebih tinggi dari yang lain maka dapat diserang gangguan hati atau masalah keuangan.
    4. Jika kamar tidur utama di timur laut dan dengan toilet di timur laut maka dapat diserang kanker otak
    5. Jika kamar utama di barat laut dan dengan toilet di timur laut maka dapat mengakibatkan kanker paru-paru
    6. Jika kamar tidur utama di barat dengan dengan toilet di timur laut, maka ada kemungkinan dapat mengakibatkan gangguan pada pencernaan

    Meskipun demikian, jika kita memiliki bangunan yang sudah terlanjur tidak sesuai dengan aturan-aturan Vastu, bukan berarti bangunan kita harus dirombak total. Sebagaimana halnya aturan-aturan dalam Feng Shui, Vastu Sastra juga memberikan beberapa metode penetralisir energy negatif, yaitu antara lain dengan meletakkan suatu benda dengan elemen tertentu pada arah yang tepat, melakukan yajna / upacara-upacara tertentu dan dengan memasang Yantra atau sejenis simbol-simbol suci.

    sumber : http://www.hukumhindu.com

  36. Kita tidak perlu membawa pembicaraan ke ranah agama/perbedaan agama. coba cari apa yg terbaik. Hal ini sederhana saja.

    Kenapa pertama saya mengatakan :
    Di awal artikel anda menganggap bali sudah salah, bali adalah budaya, bali tidak beragama (Hindu).

    karena anda berkata:
    “Kebanyakan di Bali khususnya yang cenderung paling dikenal adalah adat, bukan agama. Agama adalah bagian kecil dari adat. Itulah kesimpulannya.”

    “Masalahnya adalah adat di Bali terlalu jauh dari jangkauan agama. Agama di Bali bisa dijadikan ajang pariwisata. Turis-turis datang ke Bali menganggap Pura adalah tempat yang unik, bukan tempat yang sakral.”

    “Karena agama yang diartikan salah inilah maka perkembangan adat dan tradisi tidak sepadan dengan perkembangan agama. Agama Hindu di Bali menjadi abu-abu. Agama Hindu seperti titik kecil dalam kehidupan Bali.”

    Jadi anda menganggap perkembangan agama di Bali hanyalah menjadi suatu budaya saja, ‘hampir’ kehilangan agamanya.
    bahasa kasarnya, anda menganggap bali salah.

    namun pada paruh ke2 tulisan anda malah membela, dan melindungi budaya yang salah itu dari kristen, seolah2 itu milik hindu (diluar Om Swastyastu, ini kita bahas nanti bisa. ya anggaplah saya membicarakan dari segi fisik gereja yg berbentuk pura, itu saja dlu)

    Anda tidak setuju dengan perkembangan agama bali, namun anda juga tidak rela hal itu digunakan oleh kristen. lalu apa yang anda inginkan dari kristen/anda ingin kristen itu bagaimana? itu juga anda tidak katakan..

  37. Subha_Karma // September 15, 2011 at 1:32 pm //

    karena tak sadarkan diri,orang Hindu Bali tak tau apa yang dia terapkan dalam adat Bali adalah sebagian besar berasal dari Hukum Hindu.
    Hukum Hindu ada dalam Veda Smerti,seperti Manawa Dharmasastra .
    nah,so ternyata peraturan2 adat itu diambil dari hukum Hindu artinya adat bersumber dari Veda bukan?

    permasalahannya adalah pandangan Masyarakat kini.apakah sadar dalam adat ada yang lebih tinggi? yaitu agama.tak ada yang salah,tepatnya keliru karena “belog ajum”,kurang pemahaman.

    makanya menjadi bias,mana yang mesti diutamakan,adat atau agama? padahal adat bersumber dari agama Hindu. yang Orang Bali fokuskan adalah adat nya saya lihat,makanya ketika ada hal-hal yang berasal dari Veda,dipakai atau diadopsi,kebanyakan buta.

    tentang kajian Vastu sastra itu sudah saya sampaikan,apa benar itu adalah budaya? mohon dibaca dengan baik.
    apakah budaya Bali tidak bersumber dari Veda?siapa bilang saya tidak setuju dengan agama bali? kritikan yang membangun itu baik,malah sangat baik. karena saya orang Bali lah makanya saya mengkritik demi kemajuan bersama.

    saya cuman geleng-geleng kepala pak,ketika ditanya “apa yang anda inginkan dari kristen?” itu pertanyaan yg terlalu susah saya jawab.saya sudah speechless,apalagi setelah membaca bocoran Wikileaks.[di komentar awal] .

  38. orang kritis dadakan (sengkuni) // September 15, 2011 at 2:36 pm //

    wah pak made saya jadi ingat
    dulu saya pernah nganggur lama sekali
    setiap interview di tanya anda kan orang bali
    apalagi sudah nikah bagaimana anda mengatur jadwal anda di banjar (soalnya orang bali sering libur)

    wah kayaknya orang bali sudah tidak diharapkan lagi

    ayo dong orang bali jangan libur aja kerja dong yang rajin

  39. sesungguhnya apa yg anda paparkan banyak benarnya, namun dalam diskusi ijinkan kiranya saya ikut `sekedar` mengomentari statement anda, mungkin anda masih ingat kalau Hindu bukanlah/tidak sama dengan ajaran kaum abrahamik yg bersifat dogmatis, sehingga diseluruh dunia agama tersebut pasti `berwajah` sama. anda jg pasti sudah menyadari bahwa tradisi/ adat pasti ada salam kehidupan beragama, namun tidak menutup kemungkinan pada akhirnya terdapat cara umat (baca:adat) untuk beragama menjadi berubah2 sesuai kebutuhan, masalahnya ketika cara tersebut sudah melenceng jauh dari esensi Veda, baru patut untuk kita luruskan, namun meski cara umat Hindu `nampak` aneh di mata kita, sebelum kita berkomentar baiknya kita kaji terlebih dahulu makna/esensi dari apa yg mereka lakukan, jika memang betul diluar kendali Veda, silahkan berkomentar.
    Hindu universal, Tuhan tidak pernah mengajarkan umatnya untuk wajib berpakaian seperti orang India, seperti orang Bali, seperti orang jawa, dll. yg diajarkan Veda adalah umat harus perpakaian. dan ketika pakaian yg digunakan tidak layak (robek, hancur, kotor, tidak senonoh) disitu kita komentar/kritisi. saya hanya mengingatkan anda yg sudah paham bahwasanya kritisi isi nya bukan kulit luarnya.
    kadang tanpa mantram sanskerta sekalipun, namun dengan hati yg tulus dalam memujaNYA, itu jg sudah lebih dari cukup. bukankah begitu ?

    Salam,-

  40. dengan kalimat anda ini :
    “`…adat Bali adalah sebagian besar berasal dari Hukum Hindu…..` `..Manawa Dharmasastra…so ternyata peraturan2 adat itu diambil dari hukum Hindu artinya adat bersumber dari Veda bukan?`…”

    “`..padahal adat bersumber dari agama Hindu. yang Orang Bali fokuskan adalah adat nya saya lihat,makanya ketika ada hal-hal yang berasal dari Veda…`”

    dapatkah disimpulkan bahwa anda jg membenarkan adat di Bali ? bahwa Hindu yg `diterapkan` di Bali jg adalah Hindu universal?

    menurut saya adat/budaya akan berjalan bersamaan dengan agama. agama dilaksanakan dengan adat/budaya, dan adat/budaya dilakukan salah satunya untuk menerapkan agama.

    sekarang saya yg bertanya pada anda dan teman2 yg lain : mungkinkah manusia beragama tanpa budaya(dipisahkan) ? atau mungkinkah budaya beragama Hindu harus sama(berbicara adat yg salah dan adat yg benar) seperti halnya kaum abrahamik?

  41. Kesimpulannya, adat tidak 100% salah, tetapi tidak 100% benar juga.

  42. anda berbicara adat yg benar dan salah lg… semua itu kembali lg pada individu masing2 yg menjalankan …. agar tidak terlalu jauh, lebih baik kita membahas esensi yang terkandung dalam adat. untuk menemukan titik temu.
    adat jg dapat kita katakan sebagai `cara` dalam melakukan kegiatan, idealnya kita tidak perlu membahas `cara` tersebut terlebih dahulu, yg lebih utama adalah makna/tujuan/esensi nya. karena kita memiliki standar `cara` kita yg berbeda, jgn samakan `cara` orang lain dengan kita (inilah tindakan yg memancing kerusuhan), biarkan orang menikmati `cara` mereka dalam beragama, `hala ayu` atau baik buruknya mereka yg menjalani, kalau kita tidak sesuai dengan `cara` tersebut, `go out and do it with your own way`. contoh upacara ngaben (kremasi); orang yg tidak sesuai dengan `cara` ngaben di Bali (baca:menghamburkan uang) akan mencibir dan menilai sangat terbebani. disisi lain mereka yang menikmati budaya ini, mereka akan berkreasi seindah mungkin dalam menjalankan kegiatan keagamaan tersebut (meski terkesan menghamburkan uang) dengan kesadaran mempersembahkan yang terbaik menurut `cara` mereka. hanya saja yg perlu ditingkatkan sekarang adalah pembelajaran umat tentang filsafat/makna `cara` yg mereka terapkan agar keindahan beragama tersebut dapat dipahami lebih mendalam lagi, jadi menurut saya mereka tidak salah dalam berbudaya, dan bagi mereka yg memahami tatwa dan budaya bali sekaligus akan menilai bahwa adat Hindu di Bali sungguh indah (di luar adat yg tidak memiliki esensi yg jelas/keliru). dan mari kembali pada diri sendiri, ketika kita sibuk memikirkan dan mengkritik `cara` orang lain, apakah kita sudah menerapkan `cara` kita denga maksimal sesuai dengan makna/tujuan yang kita harapkan ???

    Salam,-

  43. salam.
    mohon maaf
    adakah @mertamupu ada disini?
    terkait dengan fitnah yang beliau sebarkan
    http://www.hukumhindu.com/2011/08/siapakah-dan-dimanakah-tuhanku/

    mohon utk memberi penjelasan atas pertanyaan saya disana…
    salam

    ##siapapun,saya mohon bantuan utk memberitahu mertamupu atas pencarian saya.

    trims

  44. nunut nimbrung bro,

    agama dan budaya itu dua hal yg berbeda.
    agama itu isinya berupa nilai2 dan tujuan2 yg ingin dicapai
    budaya / adat adalah perikehidupannya itu sendiri

    jadi agama dan budaya seharusnya bukan merupakan ancaman bagi satu sama lain, justru harus disinergikan.
    budaya yg tidak sesuai dengan nilai2 agama sudah pasti harus diminggirkan
    budaya yg sejalan dengan nilai2 agama, dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan jaman

    membaca artikel diatas, sebenarnya tidak salah jika orang2 Kristen mencoba mem-Bali-kan Kristen di Bali, selama itu tidak bertentangan dengan nilai2 Kristen itu sendiri.
    itu modal mereka untuk menarik perhatian publik Bali.
    Bukankah agar pembicaraan kita mudah dimengerti oleh orang lain, kita perlu menyesuaikan tingkat pembicaran kita sesuai dgn pemahaman orang yg diajak bicara ?
    jadi itu cara yg cerdas dan kreatif dari orang Kristen di Bali.

    masalahnya adalah beberapa orang Hindu disini iri hati dengan kesuksesan Kristen Bali dalam menarik minat penduduk Bali.
    mungkin itu sesuatu yg tidak bisa mereka lakukan saat ini.
    Sebenarnya mereka hanya perlu meng-Hindu-kan orang Bali dan tidak usah mencoba meng-India-kan orang Bali.
    Bali bukan India !

    sama dengan para pendakwah Islam tempo dulu yg sukses meng-Islam-kan Indonesia, bukan meng-Arab-kan Indonesia.
    sehingga saat ini secara umum Islam di Indonesia dikenal sebagai Islam yg lebih sejuk dibandingkan dengan di negara asalnya sendiri.
    itu karena agama disinergikan dengan budaya, yg akhirnya antara agama dan budaya saling memberi warna.
    budaya Indonesia tentu beda dengan budaya Arab, dibandingkan dengan Arab, Islam Indonesia secara spirit sama, tetapi performancenya berbeda
    begitu juga antara Hindu di Bali dengan Hindu di India
    antara Kristen di Indonesia dengan Kristen di Palestina

    jadi kalo ditanya kenapa orang Bali cenderung gampang pindah agama ?
    jawabnya karena orang2 Hindu tidak bisa mem-Bali-kan Hindu mereka kepada orang Bali, sehingga orang Bali menjadi tidak / susah memahami Hindu
    jadi kalo ada tawaran yg lebih baik dan sesuai dengan pemahaman mereka, mengapa tidak pindah saja ??

    Wassalam

  45. orang kritis dadakan (sengkuni) // September 19, 2011 at 5:35 pm //

    wakakakkakkaka
    wah memang benar pada coment sebelumnya artikel ini memang masalah internal
    hanya orang bali yang mungkin gampang memahami isi artikel ini

    kayaknya si ardhani kurang memahami artikel ini comentnya ngacau

    dia bilang “sama dengan para pendakwah Islam tempo dulu yg sukses meng-Islam-kan Indonesia, bukan meng-Arab-kan Indonesia.
    sehingga saat ini secara umum Islam di Indonesia dikenal sebagai Islam yg lebih sejuk dibandingkan dengan di negara asalnya sendiri”

    gak salah ?????
    bukannya agama loe yang mencoreng wajah bangsa indonesia kayak sekarang ini
    negara kita dikatain negara kandang teroris

    siapa yang membantai ahmadyah ? orang hindu?? goblok……
    siapa yang melakukan pengeboman di bali?? orang hindu???
    goblok?
    siapa yang merusak warung makan yang buka waktu bulan puasa??orang hindu??

    hee onta….. islam berhasil mengislamkan indonesia karena caranya yang penuh tipu muslihat kayaknya sudah sering disinggung di web ini bagaimana liciknya islam dalam mengalahkan majapahit
    tapi salah majapahit juga yang terlalu tolerant dengan onta

  46. orang kritis dadakan (sengkuni) // September 19, 2011 at 5:50 pm //

    @ARDHANI:SEJUK PALA LOE PEYANG?

    HARUS SAYA AKUI UMAT HINDU SANGAT JUJUR
    SEKALI LAGI SANGAT JUJUR DAN SANGAT BERANI MENGAKUI KEBURUKAN JIKA MEMANG BENAR ADA YANG MELENCENG

    BUKTINYA DI BLOG INI ORANG BALI TIDAK MALU MENGAKUI BETAPA BODOHNYA KITA MAU DI TIPU DAYA KARENA KEPOLOSAN KITA

    BEBERAPA ARTIKEL DI BLOG INI TIDAK MALU MEMPUBLIKASIKAN KEKELIRUAN YANG TELAH ADA DI MASYARAKAT BALI

    TIDAK SEPERTI UMAT AGAMANYA ARDHANI : SANGAT PANDAI BERSILAT LIDAH TIDAK MAU MENGAKUI AGAMANYA TERORIS

  47. mnrut saya ini kritikan bagus.
    inilah yg sedan org Hindu bicarakan dalam halaman ini.
    Kelemahan Hindu (terutama di Bali) memang sangat riskan, karena mreka polos dan hampir jauh dari ajaran Hindu yg ssguhx. (karna slama ini condong ke adat).

    BAgi saya mlalui diskusi inilah kami mncoba mncarikan jalan untuk umat Hindu kami, kepd mreka yg masih polos.
    Jikalo sy pribadi, maaf2 saja, jikalo sy tak tertarik dgn ajakan anda. (bukan brrti karna sy sok Pintar) tapi Hindu masih lebih baik drpda kyakinan anda.

    Buat rekan Hindu yg lain, kita tak usah Iri, tetapi dstulah tantangan kita, serta kedewasaan kita diuji untk brani merubah apa dan bgamana Hindu kita slama ini, yg sangat dangkal, dan begitu tipis dari Weda yg maha luasnya.

    so, Agama anda (abrahamis) sy rasa jauh dari Budaya. bbrp hari lalu saja, ketika Patung dibangun di sebuah kota, digempur habis2an, dgn mnyebut nama Tuhan. KArna dianggap Melanggar akidah?? inikah ajaran anda?? Musyrik?? harusnya anda sadar bahwa anda mnyembah berhala (ka’bah, atau PAtung Yesus) atau apalah yg ada di agama anda. atau Anda Hormat ke bendera Merah Putih?? why?? bukankah itu scarik kain saja yg kbetulan dijahit?? bahkan disebuah Pesantren bbrp bulan lalu sy lihat muridnya tidak diperkenankan Hinrmat ke merah putih.. hmm..

    artinya budaya Indonesia slama ini sdh hendak diarabkan, namun sayang blom brhasil. karna sansekerta kita masih lebih baik yakni “BHINNEKA TUNGGAL IKA”. Bahkan Ironisnya, anda dijanjikan Sorga yg konon banyak bidadari2 cantik yg selalu perawan. atau yg sering sy dengar, bagi mreka yg banyak mnjalankan syariat, maka JATAH “tanah” di sorga anda akan lebih luas. (hmm.. bisa bkin kontrakan donk bro?) hee.. satu lagi, kira2 anda brapa lama ya roh2 itu antri untuk tnggu pengadilan?? artinya roh itu mati suri, lalu nnti dibangkitkan dan diadili di Padang MAsyhar??
    (sori2 jack, ini jauh dari teori ttg Roh dalam Hindu)
    mnrut sy agama Abrahamis terlalu Doktrinal, tanpa Pilosofis. Bagaikan menakut2ti anak kecil ajah.. terlalu kekanak2an.. Think about That my bro..

    SALAM SAMBEL DEH BUAT LOE!
    MAKIN DICOLEK MAKIN “PEACE”
    MAKIN DIKOREK KEIMANAN HINDU
    MAKIN KAMI MNCARI KEMAHALUASAN BRAHMAN..
    SO.. KRITIK AJA TERUS BRO, MARI SALING MNGKRITIK..
    ILIKE IT..

  48. salam.
    mohon maaf
    adakah @mertamupu ada disini?
    terkait dengan fitnah yang beliau sebarkan
    http://www.hukumhindu.com/2011/08/siapakah-dan-dimanakah-tuhanku/

    mohon utk memberi penjelasan atas pertanyaan saya disana…
    salam

    ##siapapun,saya mohon bantuan utk memberitahu mertamupu atas pencarian saya.

    ##atau saya sedang berurusan dengan siapa ?

    trims

  49. orang kritis dadakan (sengkuni) // September 20, 2011 at 7:22 am //

    iya saya juga bingung mencari abu hanan untuk memberikan klarifikasi di link di bawah ini
    http://wirajhana-eka.blogspot.com/2011/05/selangkangan.html
    saya mohon abu hanan untuk memberikan klarifikasi di link di atas

  50. orang kritis dadakan (sengkuni) // September 20, 2011 at 7:53 am //

    @Divka
    iya benarkan apa yang saya bilang orang islam sangat mahir dalam bersilat lidah
    mereka tidak mengakui ingin mengarabkan indonesia
    malahan dia bilang mengindonesiakan islam.

    padahal indonesia kaya akan seni dan budayanya salah satunya patung
    ehhh… malahan di purwakarta patung dirusak masa dengan alasan yang sangat cerdas yaitu patung katanya merusak keimanan.wakakakakakaka………..

    dan hebatnya lagi MUI mengecam tindakan itu
    yang berarti sesama islam juga belum sinkron
    sama kayak menetapkan hari raya aja ga sama
    ehhh…. malahan ikut2an ngurusin internal hindu bali di sini

    satu lagi masalah menghormati bendera,
    dalam pembelaan mereka yang tidak mau menghormati bendera yang saya tonton di salah satu TV swasta, begini katanya:
    nanti kalau saya sudah mati dan di akhirat saya ditanya bahwa saya pernah menghormati bendera dan saya dikatakan syirik / musrik yang bertentangan dengan islam siapa yang mau bertangggung jawab?apakah pemerintah bertanggung jawab di akhirat.

    divka menurut kamu statement di atas statement yang cerdas atau briliant?

    di sebuah blog saya juga membaca bahwa ajaran untuk tidak menghormati bendera dia dapat waktu belajar di pakistan

    so apanya yang mengislamkan indonesia?

  51. @sengkuni
    maaf……akan menghabiskan waktu saya jika merespon tulisan EW.
    saya tidak merasa perlu memberi klarifikasi,yang sesat biarlah sesat dan menikmati kesesatannya.

    @admin/ngarayana
    mohon maaf,pencarian saya uda kedua kali tampil disini.
    sesuai etika islam,jika telah 3 kali ketuk pintu dan tidak ada respon dari ybs (mertamupu) maka wajib bagi saya utk tidak mengetuk lagi…

    salam hangat semuanya

  52. orang kritis dadakan (sengkuni) // September 20, 2011 at 10:53 am //

    @abu
    tolong pencerahannya
    apakah semua ayat yang dia sebutkan sesat dan memang tidak ada dalam alquran?

  53. Ada perbedaan mendasar antara Hadis dan Mahabharata. Hadis memuat segala kebaikan yang ada dalam diri nabi Muhammad, sedangkan Mahabharata memuat kebaikan dan juga keburukan yang ada dalam diri Panca Pandawa dan dari pihak Korawa.

    Tentu saja mencari nilai lebih (esensi) yang ada dalam budaya tersebut itu bagus. Tetapi apabila yang ditonjolkan hanya kebaikannya saja, maka kita tidak akan pernah tahu kekurangan atau keburukan yang ada (tidak ada perbandingan). Sehingga kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

    Akuilah bahwa dalam budaya ada kesalahan juga. Bukan berarti kesalahan-kesalahan itu dipertentangankan atau dihina, tetapi diangkat untuk dibahas kelanjutannya apakah akan tetap seperti itu atau mau berubah.

    Dalam hukum agama Hindu, memang kita memiliki semacam hak asasi yang disebut atmanastuti. Mungkin Bapak sudah tahu artinya, yaitu kepuasaan hati dalam memilih cara. Tetapi apa yang terjadi di lapangan? Ada garis tipis antara atmanastuti dengan pendapat pribadi. Banyak orang beragama Hindu menurut pendapatnya pribadi yang bertentangan dengan beberapa prinsip Veda, tetapi mereka menyebutnya bahwa itu adalah atmanastuti. Sering istilah atmanastuti dijadikan sebagai alat untuk membenarkan pendapat pribadi dalam beragama Hindu.

  54. @sengkuni
    silahkan menghadiri “sedikit” ttg roh dan rasa di http://isyfatihah.wordpress.com/2011/09/19/hijab-dan-sumur/

    saya tidak akan menanggapi tulisan EW,kecuali anda copas dan anda bawa ke tempat saya.

    ketika seseorang membutuhkan pencerahan,akan menjadi indah ketika dia datang orang yang tepat.
    ketika seseorang mempercayai dari org yg kurang akal,maka kebinasaan adalah alamat terakhir bagi yg mempercayai.

    saya tanya ttg hindu di web ini dan membaca PHDI.
    saya tanya budha ya di web resmi budha.
    saya tanya kristen,saya kunjungi web mereka.
    saya tanya islam,saya buka AQ dan hadits dan mendatangi para ustadz.

    salam

  55. pertama ; dalam komentar saya diatas setidaknya saya tidak ada menyampaikan bahwa adat/budaya beragama di Bali 100% benar, dan mengakui `rwa bhineda` itu ada serta perlu dalam proses pembelajaran

    kedua; tujuan komentar saya diatas adalah mengembalikan mind set teman2 yg kritis ttg adat/budaya di Bali agar lebih bersifat konstruktif, tidak hanya sekedar menampilkan permasalahannya saja, namun hendaknya menyumbangkan ide dalam solusi (ini jarang terlihat disini)

    berkaitan dengan atmanastuti pandangan pribadi yg anda paparkan, sesungguhnya mudah dalam mengukur `tipis` nya garis tsb, yaitu sadhu, guru, dan sastra.

    serta kalimat anda yg menyampaikan bahwa perbedaan / kekeliruan adat/budaya yg dipaparkan disini bukan untuk di hina namun untuk perubahan yg lebih baik —> saya sangat setuju,

    Tetapi …..

    ternyata saya juga menemukan garis yg tipis antara “mempertentangkan/menghina adat yg berbeda” DENGAN “diangkat untuk dibahas kelanjutannya apakah akan tetap seperti itu atau mau berubah.

    sesungguhnya kalau anda baca dengan baik lagi komentar saya sebulumnya, ada hal penting yg saya sampaikan dari pada membahas(mempertentangkan..menghina…dll) masalah `kulit luar` (baca:adat/cara), namun bagaimana menyatukan, menyelaraskan antara tatwa,susila,upacara…… kalau kita perduli dan menghormati `local jenius` yg masih sesuai dengan esensi Veda, sebaiknya kita telusuri apa yg mereka lakukan dalam adat berkaitan esensi Veda, tentu saja diawali untuk diri sendiri, agar kita mampu mengerti mereka, dan akhirnya kita mampu membantu mereka yg belum paham.

    Salam,-

  56. waduh salah reply nih, kenpanjangan komen diskusi, komentar saya terakhir buat @ Nyoman Rama

  57. weleh2…. ternyata banyak yg kepanasan nih ye ??

    lagi gerah mikirin Islam radikal di Indonesia ya mas2 ?
    yg namanya radikalisme itu ada di semua golongan, gak di Islam, gak di kristen juga gak di Hindu sendiri
    orang nasionalis ada ada yg kelewat radikal, kayak si hitler itu.

    pernahkah anda2 mensurvey berapa persen orang radikal Islam di bumi Indonesia ini ? apakah mereka mayoritas ??
    percaya saya deh kalo mereka mayoritas, anda2 sudah pasti diusir dari negara ini kalo mau tetap jadi Hindu.
    untunglah mereka bukan mayoritas, bersyukurlah bro2 sekalian.
    ucapkan “Alhamdulillah”

    udah ya, selamat meng-Hindu-kan Bali dan mem-Bali-kan Hindu di Bali,
    harap diingat ya bro2 sekalian, anda berada di wilayah Indonesia bukan di India, jadi ber-Hindu-lah dengan cita rasa Indonesia bukan rasa India.
    wong martabak aja udah gak rasa India lagi lho bro, sudah di-indonesiakan !

    kayak saya ini lho menikmati berlebaran ala (khas) Indonesia asli, bukan ber-Idul Fitri ala Arab.
    jadinya bisa mudik, berhalal bihalal, makan kupat,sungkem, salam2an, makan kue tetangga, angpao-an, dll yg di negara aslinya Islam sana malah gak ada.

    jadi, apakah agama2 Ibrahamic anti budaya lokal ??
    tentu Nehik lah…..
    :=) , :=) , :=)

    Wassalam

  58. oh ya…..
    hati2 lho ya kalo anda2 gak keburu sukses mem-Bali-kan Hindu di Bali, umat anda bisa dicolongin sedikit demi sedikit oleh orang2 Kristen yg kreatif dalam mencari member baru.
    mereka bisa mengiming2i banyak hal, karena dukungan modalnya kuat.
    dan anda gak usah mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang2 yg pindah agama itu, atau menyalahkan orang2 Kristen,
    karena yg salah sebenarnya adalah anda2 sendiri,
    kalo masalah persaingan mah wajar, ini jaman globalisasi.
    he..he..

    kalo orang Islam mah gak bakal bisa menyaingi meraka dalam hal ini,
    wong islam cuma modal iming2 surga dan bidadari aja kok.
    tul nggak ?

    kesimpulannya : orang Hindu harus se-kreatif orang Kristen jka ingin Bali tetap Hindu.
    selamat bekerja !

    wassalam

  59. Salam Semua,

    Ada beberapa poin pendapat dari saya :

    1. Jangan salahkan sikap toleransi/baik hati

    Apakah toleransi itu merupakan suatu object yang bisa di-pointkan mulai dari 1 s/d 10 ?. Atau apakah toleransi merupakan object biner 0 & 1 ?. Maksud dari pernyataan diatas tidak ada salahnya dengan toleransi, sebab tidak ada yang dimaksud dengan “toleransi berlebihan”. Jika dipandang berlebihan itu bukan toleransi, tapi adanya perasaan bahwa diri ini sudah menjadi budak. Toleransi diwarnai dengan menghormati kepentingan luar dengan tidak mengurangi makna kepentingan sendiri, dan budak diwarnai dengan menghormati kepentingan luar dan mengabaikan kepentingan sendiri (baca : agama hindu itu sendiri).

    Makna Bali sebagai Pulau dewata yang selalu “senyum” seolah-olah menyuruh, menetapkan dan memaku setiap diri orang Bali untuk selalu menerima apapun dari luar asal diberi pujian godaan yang sebenarnya tak seberapa alias “hati sudah kecolongan”. Kondisi itu membuat setiap jiwa diri orang bali menjadi “budak senyum” dan selalu menyetujui bahwa “setiap agama itu sama”, “tak usah beragama mendalam, toh juga dilindungi dewa & leluhur”, “cukup orang2 kasta tinggi saja yang belajar weda”, dsb dsb. Yang pada intinya hal ini bukanlah masalah toleransi. Agama lain mudah masuk justru bukan karena hati orang bali yang terlalu baik (toleransi) tapi karena pikiran/kesadaran orang bali yang kurang kritis atau menghayati dalam mendalami ajaran agamanya yang kemudian mempengaruhi semua sistem kehidupan berbudayanya.

    Jangan salahkan toleransi, karena yang sebenarnya ini adalah surga perbudakan pariwisata yang terselubung (menurut saya). Hal ini lantaran di Indonesia sangat haus akan toleransi akan SARA, kalau ada bacaan/tulisan “karena berbaik hati/toleransi kita menderita” maka sangatlah ironis.

    2. NakMuleKeto-isme (pembiasaan vs pengetahuan mendalam)

    Saya pada point (1) tidak bermaksud menyalahi atau mengecewakan spiritual setiap diri orang bali, tapi yang saya sayangkan adalah SISTEM yang dibentuk & dijalani oleh orangtua2 dulu, di Bali tentunya. Setiap orang sangat pasti bisa memahami kitab suci agamanya (meski tidak 100%), namun bila ada kondisi seperti di Bali ini jangan mempermasalahkan ke individu2 generasi tapi pada sistem kehidupan yang lama atau bahkan sistem ke-agama-an yang sedang dijalani. Seperti yang dipaparkan sebelumnya, sistem yang lama sangat TOURISM BANGET (menurut saya). Permainan alat musik, kegiatan2 desa, tari-tarian, upacara2 keagamaan dan kegiatan2 pemujaan, sampai mistis2 merupakan pembiasaan diri orang bali untuk menjalani keagamaan sehari-hari dan apalagi bernilai international. Tapi kegiatan2 seperti perdebatan keagamaan, latih yoga, penjelasan/penjabaran arti ajaran kitab Weda dalam desa-keluarga, dan sejenisnya sungguh minim bukan..?. Mungkin saja dulu orang2 disana menganggap cukup pembiasaan ibadah saja dilakukan setiap hari, pengetahuan mendalam tidak perlu dipentingkan, percuma pintar tapi tak rajin ibadah (ada benernya juga, tapi tetap saja salah). Sehingga generasi mudanya kini haus akan ajaran agama (malah melupakan teknis budaya).
    Seperti sebuah intermezo keturunan 1st menghasilkan, keturunan 2nd memanfaatkan dan keturunan 3rd menghancurkan. Entah sekarang sistem di Bali dalam keturunan keberapa.

    3. Seperti Organisasi yang ambruk kemudian perlu diperbaiki

    Minoritas, dipandang sebelah mata, disalahartikan, terdesak, tidak diperhatikan membuat psikis manusia manapun untuk keluar jalur lupa daratan. Tentunya ini mempergoyah iman, sudut pandang serta kehati-hatian dalam berpikir berpendapat, agar jangan sampai menjadi budak apapun. Usaha penulis ini tentunya jangan didasarkan hanya pada spiritual semata, tapi juga pada pariwisata-pemerintah-adat-kesenian dsb yang sudah tertanam selama ini karena tentunya pasti akan sangat saling bertentangan (saya ibaratkan dengan organisasi). Kan sudah banyak contoh dimana kehidupan agamanya top tapi negaranya hancur atau sebaliknya. Kali ini saya bermaksud agar jangan sampai pembaca (terutama umat hindu di Bali) berpikir instan (seperti orang2 berkain putih yang slalu benar itu) bahkan sampai menyalahartikan ajaran agama lain, seperti orang ketakutan.

    (ngambil dari google)
    Bali : Belog (sistem-nya)
    Ajum (terbuay periwisata & kedewataan)
    Lengeh (banyak pindah agama)
    Inguh (seperti penulis wacana di website ini)

    Salam

  60. lha kelihatan munafiknya si penulis artikel, nuansa ketika dia bicara bahwa tentang desain kubah persis sama ketika dia bicara dengan tendensi keberatan perihal gereja yang pakai arsitektur bali.
    sembuhkan dulu penyakit SMS-mu “Susah Melihat orang lain Senang” dan “Senang Melihat orang lain Susah” baru bicara cinta bhakti kepada KRISHNA
    you know nothing about divine love, about universal compassion, you just a flock of hypocrite. cure your self then back to His lotus feet

  61. lha kelihatan munafiknya si penulis artikel, nuansa ketika dia bicara bahwa tentang desain kubah persis sama ketika dia bicara dengan tendensi keberatan perihal gereja yang pakai arsitektur bali.

    —> menurut anda yg nulis artikel ini siapa?

    —> dan bagi Hindu sendiri jelas ga suka donk kalau identitas itu dibajak. mestinya pakai identitas sendiri donk.bener ga? kita mesti percaya diri lah.

    sembuhkan dulu penyakit SMS-mu “Susah Melihat orang lain Senang” dan “Senang Melihat orang lain Susah” baru bicara cinta bhakti kepada KRISHNA
    you know nothing about divine love, about universal compassion, you just a flock of hypocrite. cure your self then back to His lotus feet

    ——> artinya contek mencontek legal? hmm

  62. He..he…. Pak Makmur jangan hanya lihat kulitnya dunk ya… Web ini dikelola tidak hanya oleh saya. Memang sebagian besar tulisan berasal dari saya, tetapi tidak semua tulisan adalah tulisan saya. Maka dari itu, bacalah tulisan ini dengan baik. Tulisan ini hasil karya seorang pemuda Bali yang luar biasa… resapi dan cerna maknanya. Comment lah berdasarkan apa yang ditulis. Sanggah dan beri comment terhadap isinya… bukan orangnya.

    Thanks saudara Subha Karma atas tulisan yang bagus ini..

    Salam,-

  63. Bli Bagus // February 1, 2012 at 1:53 am //

    Swastiastu, Kulonuwun, Sampurasun …

    Pertama, kita harus bisa membedakan antara Bali dengan Hindu. Bali mulai jelas identik dengan Hindu pada tahun 50an, ketika masa pengKTPan dan pembentukan parisadha. Sebelumnya, Orang Bali tidak pernah memusingkan apa agamanya. Sama seperti masyarakat nusantara lainnya yang tidak menganut agama impor dari luar seperti Kejawen, Badui, Kaharingan, Parmalim, dll.
    Bali berkembang dari tradisi animisme yang kemudian dipengaruhi oleh orang-orang suci dari Jawa yang dipengaruhi oleh India (Markandya). Berkembang lagi seiring kedatangan Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirartha. Semua itu dengan tetap mempertahankan kebaliannya sampai ada istilah Hindu pada tahun 1950an.
    Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu adalah agama yang didatangkan dari luar dan salah satu itu yang harus ditulis di KTP. Orang Bali memilih Hindu karena asimilasi tradisi Bali dengan Jawa dan pengaruh Hindu India.
    Nah, bangunan pura, upacara, gamelan, dll yang dibicarakan di atas adalah budaya Bali, bukan Hindu. Kalau ada orang Bali yang tidak beragama Hindu tetapi berbudaya Bali bagi saya adalah wajar. Malah membangun bangunan apapun di Bali bagi saya memang harus menyesuaikan dengan budaya Bali.
    Saya sendiri sebagai seorang Hindu Bali. Bukan India. Dan saya menjaga teguh tradisi bali saya dalam beragama dan menghormati para leluhur.
    Kalau saja agama-agama lokal diakui, itu lebih baik lagi. Biarkan orang nusantara beragama sesuai warisan leluhurnya dengan menjaga budaya asli dan mengasimilasi kebaikan-kebaikan dari luar. Agama Bebali, Agama Kejawen, Agama Sunda Wiwitan, Agama Parmalim, Agama Dayak, dll yang semua itu menjaga tradisi budayanya tanpa menjadi India, Eropa, atau Arab.

  64. Yah… selama budaya Bali yang dipakai untuk usaha kristenisasi dan islamisasi tidak mengandung budaya Hindu ga masalah lah mas. Cuman kalau pake bagaimana? Harus bertindak dunk, jangan cuman bengong kayak kebo.

    Lihat sekarang, ada berapa orang yang pindah agama di bali? Dan lihat berapa orang yang masuk sampradaya atau aliran yang notabene masih Hindu? Jumlah yang pindah agama dengan yang mengikuti suatu aliran sepertinya jauh lebih banyak pindah agama. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya Gereja dan Mesjid di Bali. Sementara jumlah ashram ada berapa sih? Cuman segelintir dan itupun ashrama kecil. Tapi kok orang Bali ribut dengan saudaranya yang mengikuti suatu sampradaya atau aliran meski mereka masih Hindu ya? Kalau sauradanya pindah ke agama lain kok ga diributkan seperti mereka ribut dengan pihak sampradaya? Orang Bali memang aneh. Untung saya Bali KW bukan Bali asli. :p

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



%d bloggers like this: