Guru Belog Megandong, Krama Bali Angkih-Angkih – Bagian 1

Beberapa tahun yang lalu di sebuah stasiun radio bergema sebuah statemen unik dari seorang Bali yang sudah “diselamatkan” dan saat itu bahkan menjadi Pendeta di komunitasnya. Dia berdoa kepada Tuhan Yesus agar suatu saat Yesus bisa di stanakan di Pura Tanah Lot. Bagi saya, ini adalah sebuah statemen yang sangat keras. Tetapi anehnya hampir tidak satupun umat Hindu Bali yang bergeming dengan pernyataan ini. Seolah-olah mereka mengamini statemen tersebut.

Begitulah dari waktu ke waktu Bali “digempur” habis-habisan. “Pura” yang sengaja dibangun untuk menstanakan Yesus dibangun di mana-mana. Padmasana dimodifikasi dengan mengukir lambang salib di atasnya. Pelangkiran tidak lagi bersimbol Swastika, Ong Kara atau Acintya, tetapi sengaja diganti dengan lambang salib. Kidung-kidung wargasari yang mengagungkan Sang Hyang Widhi juga diganti dengan Tuhan Yesus. Tapi meskipun begitu gencarnya aksis ini dilakukan, tetap saja warga Bali hanya terdiam lemah. Sebagian orang Hindu Bali bangga dengan apa yang dilakukan para misionaris tersebut karena menurut mereka para misionaris menghormati adat istiadat setempat sehingga meskipun agama berganti, tetapi budaya Bali tetap ajeg. Sebuah kebanggaan yang menarik untuk dikaji. Apa benar dengan tetap mempertahankan “ornamen kebalian” tetapi dengan mengganti “jiwa” ajaran Hindu tersebut akan membuat Bali tetap ajeg? Apa benar tradisi Bali yang ada saat ini memang karena Bali itu sendiri dan bukan karena didasarkan pada filosofi Veda? Harusnya warga Bali yang memiliki kebanggaan semu seperti itu menyadari bahwa pelangkiran, pelinggih, padmasana, ukiran yang umumnya berkisah pada Ramayana dan Mahabharata serta berbagai macam tari, seni tabuh dan sebagainya yang sangat adiluhur tersebut tidak akan pernah ada jika tidak dijiwai oleh ajaran Veda. Jika ada usaha merubah budaya yang sarat dengan ajaran Veda, apakah itu artinya secara tidak langsung mereka juga sedang berusaha mendistorsikan ajaran Hindu? Mari gunakan hati kecil kita masing-masing untuk mencari jawaban masalah ini.

Krama Bali di tanah kelahirannya sendiri memang sedang terdesak baik dari segi agama, budaya, ekonomi dan bahkan pemukiman. Fakta di lapangan memperlihatkan sebagian besar hotel-hotel, restauran, dan sarana pendukung pariwisata yang ada di Bali adalah milik kaum pendatang. Orang Bali hanya menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Mereka hanya topeng monyet yang sedang asyik menari demi sebuah pisang. Sementara penikmat sebenarnya adalah tuannya. Servei terakhir memperlihatkan bahwa krama Bali Hindu yang tinggal di Denpasar saat ini hanya sejumlah 40% saja. 60%-nya adalah pendatang dan non-Hindu. Menurut data yang lain yang sering didengungkan di beberapa milis muda Hindu nasional dikatakan bahwa 40% penduduk pulau dewata saat ini bukanlah Hindu. Nilai 40% ini terdiri dari komposisi warga pendatang dan krama Bali yang sudah hijrah dari Hindu. Umumnya krama Bali yang pindah agama memilih untuk menjadi Kristen atau Katolik. Jadi sudah sangat jelas bahwasanya krama Hindu Bali saat ini sudah sangat terdesak dari segala lini kehidupan.

Lalu apa penyebab krama Hindu Bali kalah bersaing dengan kaum pendatang? Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekalahan ini. Secara umum ada 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang bersumber dari diri kita masing-masing antara lain adalah karena kita lengah, manja, apriori, terbuai oleh sanjungan (belog ajum) dan jaga gengsi. Sedangkan penyebab dari luar setidaknya ada 2, yaitu para pendatang yang jauh lebih militan, tanah banting dalam menghadapi hambatan; dan adanya oknum-oknum tertentu di kalangan krama Bali yang mementingkan diri sendiri mengeruk keuntungan melalui upacara agama.

Oknum-oknum pengeruk keuntungan ini kita sebut saja sebagai istilah “Guru Belog Megandong”. Disebut “Guru” karena beliau gigih mengajarkan berbagai upacara yang meriah dan hura-hura. Disebut  “Belog” (Bodoh) karena tidak tahu atau tidak mampu mengentaskan kemiskinan, malah sebaliknya menyebabkan Krama Bali semakin banyak jatuh miskin. Disebut “Megandong” karena memberatkan Krama Bali, yaitu dengan menarik keuntungan melalui upacara keagamaan. Krama Bali didorong-dorong agar tulus berkorban, berkorban dan berkorban untuk Sang Hyang Widhi katanya. Tetapi oknum itu sama sekali tidak pernah ikut berkorban, malahan dia mengorbankan Krama Bali itu sendiri.

Guru Belog Megandong yang telah diberi kedudukan terhormat oleh Krama Bali, semestinya gigih menolong Krama Bali yang miskin agar bisa hidup layak. Tetapi nyatanya beliau tidak pernah peduli dengan orang miskin. Semiskin apapun Krama Bali jika mohon petunjuk untuk melakukan upacara, maka Guru Belog Megandong selalu mendorong agar upacaranya meriah. Sebab dengan upacara yang meriah ada alasan untuk menarik “daksina” yang lebih besar. Mirip seperti makelar tanah, jika tanah yang dimakelari lakunya lebih mahal, maka persenan “daksina”-nya pun tentu lebih besar pula. Krama Bali yang polos dan lugu tidak mengetahui politik ini karena dikemas dengan rayuan yang muluk-muluk.

Krama Bali masih saja tunduk kepada Guru Belog Megandong ini karena Krama Bali terlalu baik, polos dan lugu. Kepolosan Krama Bali dimanfaatkan sebagai budak turun temurun. Agar Krama Bali rela diperbudak, maka Guru Belog Megandong memakai dua senjata yang cukup ampuh, yaitu “indoktrinisasi dan intimidasi”.

Indoktrinisasi adalah suatu cara memasukkan ajaran kepada orang lain untuk mencuci otak orang yang mendengarkannya. Orang-orang yang diindoktrinisasi lama kelamaan akalnya tidak berfungsi sehingga mereka percaya membabi buta terhadap ajaran itu. Guru Belog Megandong biasanya memakai mitos atau dogma yang dikaitkan dengan agama Hindu agar umat Hindu cepat menerimanya.

Sedangkan intimidasi adalah menekan dan menakut-nakuti agar mental orang yang diintimidasi jatuh, tidak percaya diri, rendah diri (minder), ketakutan dan menurut seperti kerbau yang dicolok hidungnya. Orang-orang yang diintimidasi menjadi amat ketergantungan dengan Guru Belog Megandong. Guru Belog Megandong dianggapnya dewa penyelamat oleh mereka yang pikirannya selalu dihantui oleh bayang-bayang ketakutan. Dengan demikian, setiap mereka akan melakukan upacara pasti mohon petunjuk kepada Guru Belog Megandong. Pada waktu mereka memohon petunjuk, disitulah Guru Belog Megandong merekayasa “politik daksina” dimasukkan pada upacara dengan cara menggelembungkan tingkatan upacara. Upacara yang semestinya boleh dilakukan dengan biaya hanya Rp. 300.000,- dimarkup menjadi Rp. 3 juta. Karena umat ketergantungan dengan beliau, ya mau tidak mau menurutinya walaupun dengan jalan berhutang berupacara.

Salah satu contoh indoktrinisasi dari Guru Belog Megandong sebagai berikut; “Jika anda mau berkorban suci melakukan upacara yadnya dengan tulus iklas untuk Sang Hyang Widhi maka anda akan mendapatkan pahala kemakmuran, keselamatan, ketentraman, dan kedamaian. Semua dresta, gering dan penyakit niskala akan hilang dari pekarangan rumah anda”. Karena dikatakan untuk Sang Hyang Widhi dan dengan iming-iming niskala maka dengan sendirinya Krama Bali bersemangat mengorbankan apa saja yang dimilikinya. Ada yang mengorbankan tanah, ternak, perhiasan, bahkan ada dengan jalan pinjam kredit di Bank untuk biaya upacara dengan harapan mendapat pahala seperti yang disebutkan oleh Guru Belog Megandong. Tetapi “lacur”, setelah upacara selesai, lama menunggu-nunggu yang datang bukannya pahala, tetapi tagihan hutang dan kesulitan ekonomi.

Semua ini terjadi karena korban suci yang dilakukan “nyaplir”, melenceng dari apa yang seharusnya. Guru Belog Megandong mengatakan untuk Sang Hyang Widhi, tetapi prakteknya untuk para Bhuta Kala, untuk memuaskan panca indria, untuk pameran kebaktian dan sekian persen untuk Guru Belog Megandong berupa daksina. Bahkan tidak jarang Guru Belog Megandong malahan meningkatkan pendapatannya dengan jalan jualan banten. Sehingga otomatis sebenarnya korban yang dilakukan Krama Bali sebagian besar untuk si Guru Belog Megandong itu sendiri. Apa benar banten seabrek yang dipersembahkan dan akhirnya hanya menjadi sampah itu untuk Sang Hyang Widhi atau para dewa? Dalam Upanisad disebutka; “etad evamrtamdrstva trpyanti, para dewa sudah puas hanya dengan melihat “tirta amerta” yang ditempatkan pada mangkuk tanah kecil”. Kalau banten itu ternyata salah tujuan, pantes kalau Krama Bali hanya bisa “angkih-angkih” tanpa hasil. Banten dibuat dengan mengekspoitasi alam dan dengan berbagai hutang. Pohon kelapa dipangkas habis daunnya, tanaman dan binatang langka malahan dikorbankan tanpa ada usaha konservasi, tetapi ujung-ujungnya hanya dijadikan makanan ulat dan bakteri di tempat sampah. Bukankah ini sebuah bentuk menyia-nyiakan mahluk hidup lain? Katakanlah bahasa kasarnya sebagai “pembantaian”. Padahal kitab suci sudah mengatakan kalau tujuan yadnya adalah untuk kesejahteraan seluruh mahluk hidup dan bukan manusia saja, apa lagi hanya untuk Guru Belog Megandong. Jika manusia membunuh binatang dan membabat tumbuh-tumbuhan tanpa tindakan konservasi, apakah dapat tindakan itu dikatakan meyadnya? Bukankah itu sebuah tindakan kejahatan bahkan kepada Hyang Widhi sendiri karena Hyang Widhi adalah Isvarah sarva bhutani, ada pada setiap mahluk hidup. Beliau lah ayah seluruh mahluk hidup.

Kata yadnya berasal dari bahasa daivivak atau bahasa dewa. Guru Belog Megandong tidak mengerti bahasa dewa, sehingga dengan salah mengerti, dia juga akhirnya salah melaksanakannya. Krama Bali yang pada umumnya juga tidak mengerti dengan bahasa dewa, menyangka Guru Belog Megandong sudah tahu bahasa dewa, sehingga dengan lugu mengikuti Guru Belog Megandong yang salah. Disini letak melencengnya pengorbanan Krama Bali yang menyebabkan mereka payah tertatih-tatih. Nafasnya “angkih-angkih” (terengah-engah) menggendong sang Guru Belog Megandong.

Menganai contoh masalah intimidasi yang dilancarkan oleh Guru Belog Megandong untuk melancarkan aksinya adalah sebagai berikut:

  1. Jika anda tidak melaksanakan upacara ngenteg linggih 30 tahun sekali, maka tidak ada dewa atau bethara melinggih di merajan anda”. Orang yang otaknya sudah dibius dengan dogma-dogma menjadi ketakutan mendengar penjelasan itu karena mereka merasa sudah lebih dari 30 tahun tidak melaksanakan upacara ngenteg linggih. Dengan demikian mereka memaksakan diri melakukan upacara ngenteg linggih dengan biaya ratusan juta rupiah. Bahkan di salah satu desa pekraman ada yang menghabiskan biaya sampai 2,6 Milyar rupiah. Secara terpaksa mereka menjual apa saja yang dimiliki. Beberapa diantaranya bahkan berhutang dengan harapan agar “Dewa malinggih di Merajannya”. Tetapi Krama Bali yang cerdas dan mengerti dengan “tattva vyapi vyapaka nirvikara” dan “sarva jagat pratistanem” yang artinya Sang Hyang Widhi ada di mana-mana dan hadir di semua tempat seantero jagat raya ini, maka mereka tertawa geli mendengar pernyataan Guru Belog Megandong yang nyatanya tidak ada “Dewa malinggih di Merajan”.
  2. Kalau kurang banten-nya, saya tidak berani muput. Kalau ada orang lain yang berani muput, silahkan risikonya ditanggung sendiri”. Orang yang otaknya sudah dicuci oleh Guru Belog Megandong menjadi ketakutan, sehingga terpaksa memaksakan diri membuat banten sebanyak yang disuruh oleh Guru Belog Megandong. Walaupun dengan jalan berhutang membuat banten demi mau disahkannya upacara tersebut oleh Guru Belog Megandong. Namun apa yang terjadi setelah upacara selesai? Pikiran sang empunya upacara tidak pernah tentram karena dihantui oleh bayang-bayang hutang. Hutangnya belum lunas, istri melahirkan, dan anaknya sakit sehingga memaksanya menambah hutang baru. Hutang kedua belum lunas, tiba waktu saat sang anak yang baru dilahirkan harus melaksanakan upacara satu bulan tujuh hari, tiga bulanan, otonan, potong rambut, odalan di Merajan, odalan di pura Dadya, odalan di pura Desa, lalu Galungan, Kuningan, Buda Wage Kalawau, Pagerwesi, Nyepi dan sebagainya. Dapat dibayangkan kondisi Krama Bali yang perekonomiannya pas-pasan. Apa jadinya jika beragama hanya diajak melaksanakan upacara melulu? Apakah tidak akan membuatnya miskin materi dan juga miskin pengetahuan spiritual? Tentu saja Krama Bali yang cerdas dan memahami Widhi Tattva tidak mau tunduk dengan gertak sambal guru belog mabet ririh. Krama Bali yang cerdas mengerti bahwa seberapapun umat mampu membuat banten asal dilandasi dengan sikap pengorbanan yang tulus iklas atas dasar cinta kasih bhakti, maka Sang Hyang Widhi Wasa akan menerimanya. Sang Hyang Widhi tidak ada mengharuskan manusia membuat banten yang banyak. Seberapapun kemampuan umat, maka sejumlah itulah yang seharusnya dipersembahkan. Yang penting adalah sikap bhakti yang tulus. Banten yang dibuat dengan perasaan tertekan sama saja menghaturkan racun dan tidak akan diterima oleh-Nya. Guru Belog Megandong mengatakan takut muput karena bantennya kurang tujuannya adalah agar daksina-nya bisa lebih banyak. Tentu saja lebih masuk akal menarik daksina lebih besar jika bantennya banyak bukan?
  3. Kamu orang Sudra tidak boleh muput upacara. Sang Brahmana baru boleh. Sekarang memang banyak orang pintar, tetapi bukan berarti boleh”. Krama Bali yang akalnya sudah terbius oleh dogma ini rela dirinya direndahkan sehingga tidak berani menyelenggarakan upacara jika tidak dipuput oleh Guru Belog Megandong. Mereka mengira upacaranya tidak akan diterima oleh Sang Hyang Widhi jika tidak dipuput oleh sang Guru Belog Megandong. Bahkan karena cap Sudra yang diberikan, Krama Bali sampai kehilangan kepercayaan diri, minder dan menganggap diri rendah sehingga mau saja diremehkan, dikata-katai kasar dan dijadikan budak oleh Guru Belog Megandong. Tetapi tentu saja hal ini tidak berlaku bagi Krama Bali yang cerdas. Mereka sudah pasti tidak mau tunduk pada politik akal busuk seperti itu. Mereka berusaha membaca lontar-lontar dan kitab suci Veda yang ada. Berusaha mengerti tentang banten, cara melakukan upacara dan puja-mantranya. Setelah tahu caranya, maka mereka mampu melakukannya sendiri. Mereka ingin merdeka dalam berhubungan langsung dengan Sang Hyang Widhi tanpa harus dikekang oleh Guru Belog Megandong. Jika Guru Belog Megandong atau oknum Krama Bali lainnya merendahkan soroh “jaba” dan meninggikan soroh “ida bagus”, maka oknum ini sebenarnya dibenci oleh Dewa Bayu karena melanggar hukum agama yang salah satunya tercantum dalam Manawa Dharmasastra VII.20. Veda sendiri mengatakan “vasudaiva kutumbakam, semua mahluk hidup bersaudara”. Jadi mereka yang melakukan diskriminasi seperti itu pada dasarnya adalah orang yang durhaka terhadap Veda. Mereka adalah orang-orang sok pintar tetapi sujatinya sangat bodoh. Sistem wangsa yang ada di Bali bukanlah buah dari ajaran Hindu, tetapi buah ajaran feodalisme tokoh-tokoh Guru Belog Megandong ini. Veda tidak pernah mengatakan kedudukan Brahaman, Ksatrya, Vaisya dan Sudra ini berasal dari keturunan. Berkali-kali Veda menegaskan bahwa hal ini muncul dari guna (sifat) dan karma (pekerjaan) orang yang bersangkutan. Mau dia keturunan Brahmana atau Kesatriya, kalau tingkah lakuknya hanya judi dan mabuk-mabukan, sejatinya dia hanyalah kaum candala yang kedudukannya lebih rendah dari keempat golongan (catur varna) yang diakui Veda. Banyak tokoh-tokoh kita yang memiliki kedudukan terhormat, diakui sebagai Brahmana, duduk di Parisada, di Departemen Agama atau di organsiasi adat yang mengaku mampu “ngalinggihan Veda” tetapi perbuatannya sangat sering melanggar sloka-sloka suci Veda. Inilah para tokoh “musang berbulu ayam”. “Politik daksinanya” ibarat musang, Veda ibarat bulu ayam dan soroh sudra adalah ayam. Walaupun si soroh sudra dilecehkan oleh si Guru Belog Megandong tetapi mereka tetap setia dan hormat kepada Guru Belog Megandong. Jadi sebenarnya soroh sudra inilah yang berbudi pekerti luhur, yang berusaha mempraktikkan Veda meski tidak tahu isinya. Sementara si Guru Belog Megandong adalah soroh licik, prikik dan menjadikan Veda hanya sebagai kedok.
  4. Jika Krama Bali tidak melakukan pecaruan tertentu, maka Bali akan hancur”. Pernyataan Guru Belog Megandong yang berlagak maha tahu akan masa depan Bali membuat Krama Bali yang tidak tahu-menahu ajaran kitab suci Veda amat ketakutan mendengar kata “Bali akan hancur”. Mereka mengira Bali ini akan benar-benar hancur lebur jika pecaruan seperti yang disuruh Guru Belog Megandong tidak dilaksanakan. Padahal pernyataan itu hanya akal-akalan agar proyek politik daksinanya Guru Belog Megandong jalan terus. Karena jika Krama Bali mengadakan caru besar-besaran, tentu daksinanya juga lumayan besar. Proyek seperti ini menguras banyak tenaga, waktu dan biaya sampai milyaran. Akibatnya perekonomian Krama Bali semakin payah, belum lagi menghadapi tantangan global yaitu antara lain; tantangan perekonomian yang semakin mencekek leher; tantangan kesehatan yang biayanya mahal; tantangan pendidikan yang semakin tidak terjangkau; dan tantangan moral yang semakin amburadul. Sungguh amat kasihan kepada Krama Bali yang mendapat tekanan dari dua arah, yaitu dari dalam oleh Guru Belog Megandong dan dari luar oleh para pendatang yang merampas sumber-sumber rejekinya bersamaan dengan tekanan tantangan global diatas. Tantangan dua arah yang menjepit inilah yang mungkin menyebabkan kasus bunuh diri di Bali semakin banyak terjadi. Ada yang bunuh diri karena tidak mampu membayar hutang, ada yang bunuh diri karena tidak mampu membayar biaya pengobatan, bahkan ada yang gantung diri karena tidak sanggup membayar biaya sekolah. Koran daerah seperti Bali Post dan Radar Bali hampir setiap hari menghadirkan kasus bunuh diri, percekcokan, perkelahian, sengketa, pembunuhan dan kejahatan Krama Bali yang dipicu oleh masalah ekonomi. Jadi pembunuhan dan kehancuran Bali pada dasarnya bukan karena Bhuta Kala, tetapi oleh tingkah polah Krama Bali itu sendiri yang telah dicekoli sang Guru Belog Megandong.

Dampak buruk indoktrinisasi dan intimidasi Guru Belog Megandong menyebabkan mental Krama Bali miskin. Dari mental yang miskin menyebabkan mereka miskin harta benda. Setelah miskin menjadi susah, kecewa, menyesal, menggerutu, jengkel, marah campur aduk. Kondisi seperti itu membuat frustasi, depresi, mudah salah paham, mudah diasut, akalnya lumpuh bahkan sampai ada yang struk. Akal yang lumpuh tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kehidupan yang terdesak menimbulkan persaingan kepentingan yang menimbulkan percekcokan dan berbagai bentuk sengketa. Pada umumnya bersengketa merebut harta warisan, tanah orang lain bahkan dewasa ini sampai pura dan kuburan pun ikut disengketakan. Inilah akibat tanah yang terus dijual kepada pendatang hanya untuk menutupi biaya upacara yang mencapai lebih dari sembilan digit angka. Hanya karena penggunaan nama “Bagus, Gusti, Agung” dan sejenisnya oleh orang yang dicap sudra diributkan sampai tega mengusir saudaranya sedharma. Padahal pemberian nama itu tidak akan merugikan masyarakat. Inilah yang disebut “kirik marebut entut” (mentog berebut kentut). Begitulah sebagian kecil dampak buruk ajaran-ajaran Guru Belog Megandong.

Karakter Krama Bali sebenarnya baik dan sudah terkenal ke manca negara. Orang Bali dikenal ramah, jujur, mudah senyum, sosial, kreatif dan produktif. Tapi itu dulu. Jaman sekarang karena telah terindoktrinisasi dan terintimidasi oleh Guru Belog Megandong, akhirnya mental Krama Bali merosot menjadi “belog ajum, belog mabet ririh, belog pengkung, apriori, prejudis, lengit dot begak, manja, tidak produktif dan konsumtif”. Mereka yang mengalami degradasi moral seperti ini tidak menyadari dirinya semakin jauh dari Sang Hyang Widhi yang secara otomatis juga menyebabkan mereka semakin mudah terkena tipu, baik oleh Guru Belog Megandong maupun oleh para penipu lainnya.

Memang tidak semuanya demikian, masih banyak orang Bali yang baik. Tetapi apa daya, rusak susu sebelanga hanya karena nila setitik. Salut untuk Krama Bali dan para “surya”-nya yang masih bagus. Semoga mereka yang membaca tulisan ini tidak ikut tersinggung.

Kritikan yang ditujukan kepada beberapa oknum pemimpin spiritual kita di Bali ini mungkin terkesan pedas. Tapi kritikan ini saya tulis bukan karena dilandasi perasaan benci kepada tokoh Guru Belog Megandong ini, tetapi murni karena cinta dan prihatin. Pada jaman dahulu, saat sistem pendidikan tidak seperti saat ini, bapak ibu guru kita selalu membawa garisan kayu atau bahkan cemeti rotan. Murid yang tidak serius belajar dan mengakibatkan tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan guru harus menerima pukuran garisan kayu atau rotan tersebut. Memang terkesan menyakitkan, tetapi faktanya hampir semua murid berhasil lulus dengan memuaskan. Jaman sekarang sistem mengajar seperti itu sudah tidak dipakai lagi dengan alasan HAM. Tapi nyatanya saat ini kasus nyontek saat ujian malah merebak. Padahal jaman dulu tidak ada murid yang berani menyontek. Meski dikatakan saat ini murid-murid dikatakan lebih pintar karena terekspose teknologi, tapi nyatanya setiap kali ujian nasional, berita satu sekolah muridnya tidak ada yang lulus sudah biasa. Inilah akibat sikap yang terlalu memanjakan. “Pintar” karena teknologi boleh saja, tapi kalau “educare” yang bisa menumbuhkan moralitas tidak terbangun akhirnya korupsi, penipuan dan kejahatan lainnya merajarela. Begitu juga kritikan pada Guru Belog Megandong ini mungkin bagaikan cambukan kepada murid-murid tadi. Tetapi tujuannya murni agar membuat mereka sadar dan tidak terus-menerus minta digendong. Agar tidak terus menerus memberatkan Krama Bali.

(Bersambung….. ke artikel: “Guru Belog Megandong, Krama Bali Angkih-Angkih – Bagian 2“)

Ditulis ulang dengan sedikit perubahan berdasarkan tulisan Jero Mangku Wayan Suwen dalam karyanya berjudul: “Gurunya Belog Megandong, Krama Bali Angkih-angkih – Kiat Pan Lagas: XVII”


43 Comments

  1. Yan Mus /

    tulisan yang menarik prabu!
    makanya semua krama bali harus segera kita HARE KRISHNA-kan!!
    lalu tendang guru guru palsu lain ke pinggir jurang!!!

  2. De Gede /

    tulisan ini walau disampaikan dengan nada keras, tapi dia memiliki sari sari yang baik. dipisahkan sari itu dari ampasnya, maka tersisa perenungan untuk introspeksi diri.

    perilaku segelintir oknum memang menarik untuk diblow-up, tapi tak berarti mengecilkan peran para pandita yang sujati. memang kenyataannya demikian, kami pun dengan cerdas sudah bisa membedakan mana cangak meketu, mana yang sujati.
    masyarakat sekarang tidak bodoh-bodoh amat, dan kami bisa membedakan, dengan sendirinya yang palsu akan terkena seleksi alam, atau jadi pergunjingan di masyarakat.

  3. De Gede /

    ya kalau Beliau berkehendak, tentu cita cita rekan Hare Krisna pasti akan terjadi, jika tidak bagaimanapun rekan2 berusaha mewujudkan misi, tidak akan berhasil. Yang penting jangan sampai ada perang urat syaraf diantara kita, jangan ada dendam kesumat, sentimen negatif, dan rasa paling baik sendiri.

  4. top markonyos /

    di india masyarakatnya malah lebih parah, lebih mudah berbuat anarkis, pertikaian antardesa, lebih bodoh, dan terbelakang, Sedangkan orang orang kayanya di perkotaan lebih hedonis, lebih glamor, lebih gengsian dan lebih tidak punya kesetiakawanan sosial.
    apa itu berarti guru guru di India juga belog megandong walaupun mereka hapal bhagawan gita kok tega teganya berkonspirasi ingin mendirikan negara berasaskan hindu melalui gerakan Hindutva, yang mengerdilkan keberadaan agama lain.
    inilah jika spiritualitas dicemari mental mental fasis. agama Hindu apapun sekarang ini sudah cemar, tidak murni lagi, misi Buddha yang sebenarnya adalah untuk memurnikan Dharma dari sampah sampah doktrin palsu sampradaya2, sayangnya Buddha malah dituduh mengajarkan filsafat palsu untuk menipu orang orang bodoh yang benci Tuhan
    Kalau mau mencari sanatana Dharma yang murni belajarlah agama Buddha! buka pikiran, jangan takut!

  5. De Gede /

    @Top: memang di bali katanya adalah perpaduan saiva-siddhanta, blend antara filsafat kasaiwan dan kasogatan. saya rasa yang perlu dilakukan generasi muda hindu saat ini adalah menggali kembali filsafat-filsafat kasogatan atau kebuddhaan yang selama ini kita lupakan/tinggalkan.
    media internet saat ini tentu akan memudahkan kita dalam pencarian itu. selamat mencari kesunyataan yang sunyata, melampaui doktrin dan dogma.
    selama kita gigih dan terus membuka pikiran, pencarian kalian akan membuahkan hasil. tapi berhati hatilah kepada para tukang hasut, dan mereka yang kadung tercuci otaknya

  6. Yan Mus /

    jangan ikut filsafat nastika mayavadi BANGS*T ITU!!! atau kalian akan masuk neraka lalu terlahir sebagai hewan, selamanya tidak akan tahu cinta bhakti kepada Krshna!!

  7. De Gede /

    @Yan Mus: saya tidak suka anda menggunakan kata BANGS*T dalam kalimat yang berisi nama suci Krisna awatar yang agung dan perkasa

  8. Wisanti /

    kami sudah lama berpacaran, saya dipaksa ikut hare krishna oleh pacar saya, jika saya tidak mau ikut saya diancam tidak akan dinikahi!!!! apa salah jika saya ingin mempertahankan agama leluhur??? inikah ajaran guru guru mereka????????????? siapa yang belog megandong sekarangg!!!! saya sedih sekali

  9. Made aja /

    apa buktinya anda tidak mengarang cerita? jangan memfitnah disini! seorang yang cinta bhakti kepada Tuhan, tidak akan memaksakan agama kepada orang. Pacar saya saja beragama kristen, tapi tidak pernah saya pengaruhi atau ancam untuk ikut HK, biarkan kesadarannya tumbuh sendiri.

  10. Ya Tuhan, saru sekali mana yang HK asli, mana yang Buddhis asli, mana orang Hindu Bali asli. Sarat sekali dengan fitnah dan adu domba nih. Saya jadi khawatir. Apa perlu ada moderasi komentar ya?

    Saya harap menulis komentar di sini tidak SARA, tidak mengadu domba dan fitnah.

  11. OM NAMAH SHIVA YA /

    wah saya sangat setuju.
    dunia material ini memang gak perfect.
    hanya dua yang sempurna di dunia ini yaitu tuhan dan rokok.

  12. Yan Mus /

    betul sekali saya setuju dengan saudara Rama
    kebenaran yang tidak menguntungkan pihak kita memang perlu disensor, karena bisa membahayakan eksistensi doktrin dan institusi kita
    kalau perlu komentar komentar yang menentang kita hapus saja.
    mohon pada admin segera menerapkan moderasi

  13. @Yan Mus

    Saya yakin anda hanya pengacau… kalau anda seorang Vaisnava, harusnya anda tahu arti kata “Hare Krishna” dan tujuannya. Tujuannya tiada lain agar setiap orang selalu ingat dan tidak lupa pada Tuhan. Tidak memandang suku, agama, ras, golongan, kelompok atau apapun.

    Harusnya anda dalami filsafatnya dan tangkap maksudnya.

  14. OM NAMAH SHIVA YA /

    @yan mus
    nah yan….. ci gen be masuk vrindavan didin cang kangoang mepanggang di neraka cang kan mayawadi

  15. @Wisanti

    Siapa nama diksa pacar anda itu? Kalau pacar anda benar-benar memahami filosofi ajarannya, maka dia tidak akan pernah memaksakan pemahamannya. Dia harus mengerti bahwa setiap manusia memiliki “Guna dan Karma”-nya masing-masing yang menentukan ajaran apa yang cocok untuk dirinya.

    Saya tunggu konfirmasi anda dan saya akan bantu memecahkannya. Saya juga seorang wanita dan kalau anda memang jujur, saya pasti bisa membantu.

  16. @ Yan Mus
    Anda itu yang adu domba. Anda yang menyebar fitnah. kalau anda orang Gaudya Vaisnava dan pengikut ajaran prabhupada, maka tunjukkan nama diska anda dan siapa guru anda. Kecuali anda hanyalah seorang murid yang DO

  17. OM NAMAH SHIVA YA /

    anda tidak terlahir di keluarga belog megandong makanya anda ngomong kayak gitu.

  18. Saya sama seperti mbok GV.
    Justru Anda yang saya amati,
    sehingga saya menulis komentar
    di atas.

  19. ngarayana /

    Aduh…. saya jadi geli membaca komentar-komentar di sini karena setelah saya lihat record access-nya berdasarkan IP address, jenis operating sistem dan browser yang digunakan ternyata satu orang menggunakan beberapa user name yang berbeda yang seolah-olah berasal dari orang yang berbeda.

    Jadi teman-teman yang membaca comment-comment di atas harap berhati-hati, setidaknya 3 username di atas adalah orang yang sama.

    Untuk artikel ini saya tegaskan sekali lagi, penulisnya bukanlah orang Hare Krishna. Saya hanya melakukan penggubahan dari bahasa percakapan menjadi prosa. Penulis aslinya adalah seorang pemangku di Bali. Beliau bisa dihubungi di:

    Jero Mangku Wayan Suwena
    Jl. WR. Supratman Gang Gunung Batur No. 2 Kesiman, Denpasar Timur.
    Telp: 0361 – 223873

    Semoga yang masih penasaran bisa konfirmasi langsung ke beliau.

    Salam,-

  20. Yan Mus /

    OK saya buka, sebenarnya saya ini seorang atheis yang menyamar sebagai HK
    tujuan saya adalah untuk menyebar komentar yang berisi fitnah, kebencian, dan SARA
    mengapa? ada sebab ada akibat, komentar saya yang berisi kebencian, SARA, dan fitnah adalah akibat dari artikel artikel blog yang berisi kebencian, SARA, dan fitnah
    intinya… what you get is what you give
    yang saya inginkan dari rekan2 HK adalah jujur mengatakan apa misi kalian, bagaimana konsep Hindu yang seharusnya, bagaimana seharusnya krama Bali, bagaimana seharusnya antaragama berinteraksi? babarkan itu poin per poin dengan bahasa yang sejuk dan membangun keharmonisan
    selamat terkompori wehwehehehe
    you made me, but sorry for the trick

  21. OM NAMAH SHIVA YA /

    yang jelas cang jleme bali asli plus mayawadi asli.
    cang bisa bahasa bali terutama bahasa bali kasar.
    puas ….puas…….puas
    KEMBALI KE LAPTOP…..

  22. Yan Mus /

    btw bung Nara bagaimana kabarnya dengan pacar anda yang kristen itu? apa sudah berhasil dibujuk? atau sudah putus?
    salam buat prabu2 muda yang sebagian besar adalah penjahat wanita!!!
    jangan bicara tentang Tuhan dan agama semasih kita hidup munafik dan pamrih!
    saya benci manusia bigotry, saya lebih benci lagi manusia munafik

  23. OM NAMAH SHIVA YA /

    wakakkakakakakakaaka.
    lucu lucu lucu.
    @yan mus :kalo ga berbau sara siapa yang coment?gimana trafict blog ini meningkat.
    saya aja baru coment kalau ada yang berbau sara(kayak sekarang ini). yah bantu2 dikit biar trafic blog ini meningkat biar lebih banyak yang baca.ga pa pa saya menanggung dosa dibilang gila
    wakakakaakakaka.

  24. Yan Mus /

    satu lagi.. KRISHNA bukanlah properti ISKCON!!!! catat itu, DIA milik semua golongan manusia! semua mahluk!
    i’m quit from the hipocrisy, thanks

  25. OM NAMAH SHIVA YA /

    wah yan mus gak boleh gitu…..
    saya kasian ama anda
    saya mau nangis sekarang.
    saya bukan seorang HK
    yang jelas hidup saya ga merugikan orang lain
    kalau kamu mau sharing ama saya aja
    saya orangnya tidak membeda bedakan asal ada imbalannya

  26. OM NAMAH SHIVA YA /

    @yan mus
    wah jangan keluar dong siapa yang aku ajak berantem di blog ini.
    ardhani dah jarang nongol.

  27. Yang bilang Krishna hanya milik ISKCON siapa mas?
    Sepertinya Anda saja yang baru telat bergabung di sini.
    Apa yang dilakukan oleh orang ISKCON di Indonesia bukan menggambarkan apa tujuan ISKCON sesungguhnya.
    Saya sendiri milih-milih mengajak umat Hindu untuk berbicara tentang Krishna. Sebab Krishna sendiri yang mengatakan bahwa: BG 18.67: Pengetahuan yang rahasia ini tidak pernah boleh dijelaskan kepada orang yang tidak bertapa, tidak setia, dan tidak menekuni bhakti-ataupun kepada orang yang iri kepada-Ku.
    Hanya orang dengan taraf-taraf kecerdasan tertentu yang mampu menerima ajaran Krishna. Jadi jika diajarkan kepada yang kurang mampu menerima, mereka pasti mencemoohnya. Makanya pendiri ISKCON sendiri mengajarkan kepada ilmuwan, negarawan, profesor2, pokoknya orang dengan intelektual tinggi. Mereka sebenarnya yang mampu menerima dan memahami ajaran Krishna. Saya sendiri menyayangkan juga kalau ajaran Krishna ditawarkan dengan orang yang terlalu kurang memahami.
    Lebih baik mengajarkan kepada tokoh besar, pengikutnya otomatis mengikuti tokoh itu.
    BG 3.21: Perbuatan apapun yang dilakukan orang besar, akan diikuti oleh orang awam. Standar apa pun yang ditetapkan dengan perbuatannya sebagai teladan, diikuti oleh seluruh dunia.

  28. Kalau saya lebih benci manusia pengecut seperti anda

    Sudah pembohong, munafik, berlindung dibalik anonim :p

  29. OM NAMAH SHIVA YA /

    @RAMA
    beh……. pilih kasih san krisna puk.
    dalam siwa purana saya membaca dewa siva menerima siapa pun yang ingin mendekatkan diri padaNya walaupun mahluk terendah sekalipun, tidak usah menunggu jadi profesor ataupun negarawan apalagi ilmuan yang suka buat senjata untuk perang seperti senjata nuklir (kayak ngarayana yang doyan mempelajari nuklear)
    wakakakakaakakaka

  30. Saudaraku mari belajar kendalikan pikiran, perkataan, perbuatan apapun agama kalian untuk jadi lebih baik.
    komentar kalian disini mencerminkan bagaimana diri kalian sendiri……..

    Salam…….

  31. Yang kita bicarakan beda, yang saya bahas tadi adalah mengajarkan kepada orang. Kalau mereka inisiatif sih bagus sekali. Mengajak dan inisiatif itu beda mas. Tolong bahasanya dipahami sedikit. Biarpun pemulung tidak tamat SD, tanpa diajak tapi dia inisiatif sendiri sih bagus sekali.

  32. OM NAMAH SHIVA YA /

    @yan sen.
    wah comentnya standar and datar banget

  33. OM NAMAH SHIVA YA /

    @rama
    Inisiatif???????
    “Makanya pendiri ISKCON sendiri mengajarkan kepada ilmuwan, negarawan, profesor2″

    saya pernah membaca satu kisah tentang Srila Prabupada waktu beliau di amerika, dikisahkan Prabupada diundang oleh seseorang untuk datang ke rumahnya memberikan pencerahan tapi ketika prabupada sampai di rumah itu pemuda tersebut sedang mabuk bicaranya ngawur akhirnya beliau pergi meninggalkan rumah pemuda itu. itu sedikit cerita yang saya ingat.
    jadi kenapa Prabupada tidak menanyakan apakah orang ini profesor, ilmuan, atau negarawan sebelum memenuhi undangan pemuda ini?

    tapi maaf sekali buku ini saya baca waktu sma jadi saya tidak ingat judul bukunya.

  34. Test comment

  35. Menarik sekali tulisan anda sodaraku. Membacanya seolah saya membaca isi hati sendiri, karena sudah sejak lama bahkan sejak saya masih dibangku sekolah sudah muncul rasa tidak terima dengan pola yadnya yang dijalani oleh para senior kami, boros tapi miskin makna. Namun saya tidak memiliki ketrampilan menulis seperti anda sdr ngarayana.
    Saya memang tidak paham agama juga tidak banyak tau istilah2 bhs sansekerta apalagi bhs india, juga tidak mengerti berbagai aliran kehinduan yang ada termasuk hk. Saya memang tidak mau pusing dengan itu. Saya hanya melihat saat ini Bali memang sangat perlu ditata kembali khususnya dalam hal ke hinduan dan adatnya. Harus ada pihak secara organisasi yang menjalankan Misi ini sehingga cepat berdampak luas. Saya berharap ada diantara kita disini mampu membawa isu ini menjadi bahan diskusi secara luas hingga mendapat solusi demi ketentraman umat hindu dan bali.

  36. Dan bila anda tidak keberatan saya ingin sebarkan tulisan2 anda melalui blog ato social network saya.

  37. Seperti yang tadi saya bilang, karena orang itu sendiri yang mengundang, itu berarti dia inisiatif. Orang berinisiatif itu sudah tidak perlu lagi diperhitungkan intelektualitasnya.

  38. Tulisan yang menarik, namun jika seandainya kita kembangkan lagi pola berfikir kita agak lebar lebar, kita akan menemukan frame berfikir yg jauh berbeda.
    lihat saja tulisan yg ditampilkan diatas mengenai sesosok seorang Guru `belog` yg menyebabkan rakyat menderita oleh tindakan `megandongnya`. penulis menilai seorang guru dari sisi materialistis, secara logik (manah), dan didasari dengan rasa hedonisme yg tinggi. jikalau kita sudah `menilai` seorang guru dengan frame berfikir tadi, sampai kapanpun kita tidak akan menemukan sorang guru, karena setiap guru yg akan kita temui/ikuti akan selalu muncul frame berfikir diatas : egoisme,materialisme,logika,hedonisme.

    kisah dalam mahabharata utamanya bagian adi parwa, banyak menceritakan bagaimana hubungan yg harmonis antara sisya dan guru. seperti halnya Bagawan Dhomya, yg memiliki 3 murid, bernama: Sang Utamanyu, Sang Arunika, dan Sang Weda. disana diceritakan bagaimana kesetiaan seorang murid kepada guru tanpa syarat (unconditional love).
    berkaitan dengan Guru Belog Mengandong, coba bandingkan dengan cerita dimana Sang Arunika merebahkan dirinya sebagai pengganti pematang yang jebol untuk menahan air agar padi gurunya tidak rusak.

    apa yg saya coba sampaikan disini adalah frame berfikir yg berbeda, karena kita semua dalam proses pencarian sosok guru dalam hidup, yg seyogyanya dilandaskan dengan bhakti, kerendahan hati, ikhlas, tunduk, tanpa pamrih, kesetiaan atau unconditional love. kita tidak dibenarkan menilai/merendahkan seorang guru. kekuatan bhaktilah yg akan menyelamatkan seorang murid. seperti halnya Ekalawya yg dengan tulus mempersembahkan ibu jarinya sesuai permintaan Guru Drona. apakah pernah diceritakan Ekalawya mengatakan bahwa Drona adalah Guru Belog Megandong ?? tidak sama sekali ! beliau tetap pada penghormatannya pada sosok guru.
    Kemudian ada lagi dalam tradisi Buddha seorang murid bernama Milarepa. Dia berguru pada seorang master. Apa pun yang dikatakan oleh gurunya, dia jalankan dengan penuh keyakinan. Dengan menyebut nama gurunya, ketika gurunya sendiri menyuruhnya terjun ke laut, maka tidak ada rintangan, sama sekali. Gurunya sempat shock melihat kehebatan apa yang dipunyai muridnya. Gurunya bertanya, “Mengapa bisa selamat?” Milarepa menjawab, “Hanya memanggil namamu, segalanya bisa kuatasi dengan baik”. Karena demikian gurunya pun malu dan terjun ke laut. Dikabarkan gurunya tidak pernah kembali lagi.

    Lalu apakah penting guru yang berkualitas demi kemajuan murid? Itu pertanyaan buat guru dan tugas seorang guru, bukan pertanyaan untuk murid atau murid yang mempertanyakannya. Kalau murid yang mempertanyakan kualitas guru, maka dipastikan, dia bukan seorang murid, sebab jauh di hatinya tidak ada rasa bhakti, tidak ada tunduk hati. Murid seperti itu adalah murid yang egois, murid yang pamrih. Murid seperti itu tidak akan pernah bisa belajar, sebab pikirannya disibuki oleh keraguan, kebimbangan. Tanpa rasa bhakti, humble, rendah hati, kesadaran spiritual tidak akan pernah muncul. Siapa pun yang membimbingnya tidak akan penah mendatangkan hasil.

    jangan salah tanggap jika komentar saya ini terdengar membela guru belog mengandong dalam cerita penulis. saya lebih condong pada sisi kita sebagai seorang murid. jangan sampai kita menjadi `manusa tan pa guru`, dengan pemikiran logika kita, dalam hal hubungan murid dan guru adalah bhakti tanpa syarat yg utama.

    teman2 sekalian mari kita sadarkan diri untuk lebih berbhakti pada Guru dengan rasa rendah hati, karena saat timbul pertanyaan seperti pertanyaan apakah ada guru yang tidak sejati itu merupakan pertanyaan buat guru itu sendiri. Jika yang telah menjadi guru menyatakan ya, maka masih ada guru yang tidak sejati. Tetapi dari sisi murid, guru yang tidak sejati tidak pernah ada dan tidak akan ada.

    Dari sisi murid yang ada adalah murid yang tidak sejati. Kalau pertanyaannya apakah ada murid yang tidak sejati? Jika jawaban kita ya, maka masih ada murid yang tidak sejati.

    Salam,-

  39. OM NAMAH SHIVA YA /

    @ kidz
    wah kamu senang juga ya dengan cerita ekawalya
    saya juga suka dengan cerita itu.
    mungkin kita ada kesamaan.

    tapi bagaimana kamu menyikapai berita di Televisi dulu tentang guru ngaji yang mencabuli muridnya?
    menurut KIDZ apakah orang murid ini harus membiarkan sang guru ngaji untuk terus membasuh vagina murid2nya?

  40. @Ngarayana
    @Penulis
    @Kidz
    @OM NAMAH SIVA YA

    Tidak ada yg salah dgn pemaparan sdr Kidz. apa yg beliau sampaikan sepenuhnya benar. yg justru saya pertanyakan adalah klarifikasi dari Ngarayana. kok prabhu tdk memberikan sedikit statement apa2? prabhu kan berguru juga. harusnya yg berguru lebih memahami perasaan orang berguru lainnya, dibandingkan yg tidak berguru, mudah saja bagi mereka memandang ini salah itu salah pada suatu perguruan (yg dilihat hanya dari luar jendela pesraman). malah statement ini muncul dari sdr. Kidz, yg kita tdk tahu berguru apa tidak (tapi dari pola pikir beliau, nampaknya beliau murid sejati).

    Satu lagi yg ingin saya kritisi adalah tulisan ini ngambang. yg mana yg dimaksud guru belog megandong? siapa? perguruan apa? atau kalau dirasa tidak etis, plng tidak beri definisi guru belog itu yg seperti apa? yg mengajarkan yoga, atau yg membasuh vagina?

    kalau saya punya blog, saya tidak akan langsung memuat tulisan spt ini, kenapa? karena dgn sikap spt itu, seolah2 semua perguruan di bali adalah guru belog megandong.dan kekeliruannya adalah menyamakan antara guru sekolah (dgn pengaris dan pemukul rotan), guru spiritual, pedanda, pemangku, dan sri empu.

    Pandangan penulis :
    pendeta = Guru
    Banten = Ajaran Guru
    Masyarakat = Murid Guru

    apakah orang2 yg masuk di koran2 itu (bunuh diri, perang banjar) adalah murid dari suatu perguruan?

    dgn memanfaatkan jasa pedanda untuk muput, apakah disebut kita berguru? dan guru mendidik murid agar murid bisa jadi guru bagi yg lain. apakah kita diajarkan spt itu?

    apakah dogma2 ttg banten yg ketat (spt ditulis diatas) bisa disebut sbg “ajaran” guru yg harus kita ikuti? pengetahuan apa yg kita dapat dari “ajaran” banten itu?

    Jika jawabannya adalah YA dan YA, inilah yg kemudian memunculkan polemik.

    ada koruptor, preman, memanfaatkan jasa pedanda, lantas mereka disebut murid pedanda itu dan kesalahan2 mereka buat otomatis mencoreng makna suci dari “perguruan Hindu” dan apakah jika seorang pedanda mengatakan harus buat banten/harus ngeteg linggih, itu termasuk dlm “ajaran guru” (ajaran guru bermakna suci dn mulia juga spt perguruan)

    —–

    kerancuan pandangan2 pada tulisan ini adalah makna “guru” dan “perguruan” di bali sudah bergeser jauh. Yg disebut “Guru” dlm tulisan diatas bukanlah guru/semuanya guru. kalau yg disasar adalah pendeta2 bali, jgn lantas menuduh guru, dan masyarakat2 bali yg anarkis adalah muridnya(karena jgnkan parampara, pengaliran pengetahuan pun tidak terjadi antara keduanya). ini konyol, dan mencoreng kesakralan kata “Guru” spt yg dimaknai oleh Milarepa.

    pesan yg ingin disampaikan, masalah yg diangkat, sudah benar. namun sasaran dan konteksnya sama sekali salah. untuk mengatasi masalah2 masyarakat bali itu, kita justru harus berguru!! (dlm konotasi “guru” yg sebenarnya, bukan spt pandangan penulis sblmnya) mau dgn guru agama, guru spirtual, guru yogi, pedanda, pemangku. yg jelas kita harus bisa bertanya dan mengkritisi(dgn tujuan menyesuaikan dgn pemahaman kita), itu baru namanya berguru!!

    Namun karena penulis salah mengkonotasikan “guru” dgn “yg bukan guru” justru membuat masyarakat lari dari mempelajari Hindu melalui garis perguruan (padahal ini yg paling tepat menurut kitab suci).

    INILAH YANG TERJADI DAHULU, SEHINGGA KINI PESRAMAN MENJADI ASING DI BALI. ISTILAH GURU TIDAK ADA LAGI, YANG ADA ADALAH PEDANDA, DAN PENGAJARAN VEDA DIGANTI DGN BANTEN.
    penulis membangkitkan kesadaran/kebencian thd banten dan pendeta komersil, namun sebenarnya mengulang sejarah yg sama. ketika dulu sistem perguruan/persaman masih ada di Bali, sistem Guru kerajaan belum diganti menjadi pendeta kerajaan. hingga pada suatu ketika seorang guru dari Bhujangga Waisnawa menikah lagi dgn muridnya, sehingga menimbulkan antipati raja dan masyarakat terhadap semua guru2 Hindu!

    Antipati yg sama dapat muncul dari pemahaman yg salah pada tulisan ini.

    Satu2nya cara untuk menghindari itu adalah MENCERDASKAN MASYARAKAT HINDU. dan bagaimana cara mencerdaskannya? ya dengan BERGURU! salah menyampaikan pesan dapat memberi dampak yg sebaliknya. jadi tolong bung Ngara sampaikan sedikit pada sang penulis agar dikoreksi.

  41. ngarayana /

    @Niwyna

    Silahkan… tulisan di sini bisa disebarkan seluas-luasnya. Kecuali beberapa tulisan yang saya anggap masih prematur dan saya rencanakan akan saya edit lagi di kemudian hari memang sengaja saya protect sehingga tidak bisa di copy, tetapi hanya bisa di print. Semoga tulisan-tulisan di web ini bisa berguna buat kita semua.

    Salam,-

  42. ngarayana /

    Pada prinsipnya saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan saudara Kidz. Itulah sikap bhakti yang memang harus dimiliki oleh seorang murid.
    Namun saya pikir, dalam proses Aguron-guron, baik kita sebagai calon murid dan beliau sebagai calon guru tentunya harus memiliki syarat-syarat dan kualifikasi tertentu. Sama seperti kita mau kuliah. Kita melihat grade universitas yang kita tuju dan universitas juga melihat grade kita dengan melakukan test. Sehingga pada dasarnya kita akan mendapatkan seorang guru yang “setipe” dengan kita. Atau istilah yang biasa saya dengar, yang memiliki “guna dan karma” yang serupa.

    Sehingga permasalahannya di sini, bagaimana kita bisa mencari guru yang benar-benar bonafide itu sehingga tidak terjebak dalam lingkaran Guru Belog Megandong? Saya tidak mengingkari bahwasanya Krama Bali yang meskipun ternyata terjebak dalam oknum Guru Belog Megandong masih tetap menunjukkan bhakti yang tinggi dan bahkan mungkin karena saking bhaktinya, mereka malahan selalu sukses dalam hidup dan spiritual seperti yang disampaikan dalam cerita saudara Kidz di atas. Contoh kongkrit mengenai kasus ini saya saksikan sendiri terjadi pada paman jauh saya. Kebetulan keluarga dia beda “surya” dengan saya. Dan “surya”-nya dia ternyata memiliki karakter yang kurang lebih seperti cerita Guru Belog Megandong dalam artikel ini sampai-sampai menjadi pergunjingan di masyarakat. Sayangnya masyarakat di sana tidak berani ngapa-ngapain karena takut “tulah”. Nah… karena tahu paman adalah pengusaha sukses, maka surya ini selalu mencari-cari cara agar mendapatkan daksina dalam jumlah besar. Bahkan tidak tanggung-tanggung pada saat-saat tidak ada upacara pun dia masih tetap “minta”. Mungkin karena paman ini masih memiliki bhakti yang tinggi, maka sampai saat inipun dia tetap sukses dan bahkan secara material semakin kaya.

    Andaikan yang “diperas” tokoh Guru Belog Megandong ini adalah orang menengah ke bawah yang level bhaktinya setengah-setengah, apa yang akan terjadi? Belum tentu dia lulus uji kan?

    Lagian menurut saya, kewajiban seorang Guru juga tidak hanya yadnya dan yadnya terus… tapi harus ada transfer ilmu ke sisya seperti yang dilakukan Pedanda Made Gunung akhir-akhir ini.

    Semoga kritik ini bisa kita ambil sisi positifnya… jika memang ada sisi negatifnya mohon diluruskan dan mari kita perbaiki bersama-sama.

    Salam,-

  43. ngarayana /

    @ Saudara S

    Untuk artikel ini sudah saya posting bagian ke-2nya… memang dalam tulisan pertama masih sepenggal sehingga saya harap tulisan kedua bisa melengkapi.
    Mengenai guru juga sedikit disinggung 8 jenis guru yang dijabarkan penulis. Saya sendiri sebenarnya hanya bertindak sebagai editor yang mengolah tulisan penulis yang aslinya dalam bentuk tanya jawab menjadi prosa.

    Kalau saya sendiri memandang guru secara global. Guru dalam rangkaian Catur Guru, dan dalam hal ini tentunya minus Guru Swadiaya. Jadi oknum Guru Belog Megandong ini bisa saja orang tua kita sendiri, para pinandita dan para tokoh agama serta tokoh pemimpin Bali dan pemimpin adatnya. Dalam artikel ini istilah Guru Belog Megandong sudah didefinisikan sebagai:

    Disebut “Guru” karena beliau gigih mengajarkan berbagai upacara yang meriah dan hura-hura. Disebut “Belog” (Bodoh) karena tidak tahu atau tidak mampu mengentaskan kemiskinan, malah sebaliknya menyebabkan Krama Bali semakin banyak jatuh miskin. Disebut “Megandong” karena memberatkan Krama Bali, yaitu dengan menarik keuntungan melalui upacara keagamaan. Krama Bali didorong-dorong agar tulus berkorban, berkorban dan berkorban untuk Sang Hyang Widhi katanya. Tetapi oknum itu sama sekali tidak pernah ikut berkorban, malahan dia mengorbankan Krama Bali itu sendiri.

    Guru Belog Megandong di sini yang lebih banyak dibidik memang oknum pedanda dan tokoh pemimpin Bali yang sering kali salah menerapkan kebijakan, tetapi tentu saja tidak menutup kemungkinan pada Guru manapun…Sampradaya apapun yang ada di Bali. Pada dasarnya semuanya bisa dan berpotensi menjadi Guru Belog Megandong jika mereka menyimpang dari sastra Veda. Penyebutan oknum pedanda sebagai Guru Belog Megandong dan istilah “sisya” yang dipakai pada dasarnya bertolak dari pemahaman bahwasanya seluruh wilayah Bali terbagi dalam beberapa Desa Pekraman di mana masing-masing desa pekraman yang dikonsep Mpu Kuturan memiliki grya yang merupakan surya dan ditempati seorang Guru di dalamnya serta masyarakatnya dapat dipanggil sebagai sisya (murid) sang guru. (Konsep Desa Pekraman atau mungkin asal katanya Desa Pasraman ditengarai merupakan kelanjutan dari prinsip Guru Kula, sistem perguruan Veda jaman dahulu – Sumber: Thesis Suryanto). Sehingga pemahaman global ini menganggap semua Krama Hindu Bali sebenarnya memiliki Guru, yaitu “Surya” mereka sendiri. Sehingga pada dasarnya penyimpangan baik Guru atau Murid yang terjadi adalah permasalahan dalam “Perguruan” dalam Desa Pekraman ini.

    Saya pribadi sebenarnya punya mimpi ingin melihat sistem Desa Pakraman ini bisa hidup lagi dan menjadi perguruan Veda yang sama seperti aslinya. Pedanda bisa kembali aktif menjadi guru yang memberi transfer ilmu kepada sisyanya. Jadi tidak hanya sibuk memimpin upakara. Apa lagi hanya sebagai oknum Guru Belog Megandong. Menurut saya, saat ini banyak Krama Bali secara tragis harus pindah agama dan yang lainnya agak beruntung masih tetap di Hindu tapi harus mencari guru ke Parampara dari luar sistem Desa Pekraman karena lumpuhnya sistem Desa Pekraman yang diawali dengan tindakan Guru Belog Megandong ini. Coba seandainya para pedanda yang merupakan guru sistem desa pekraman bisa berlaku ideal dan menggerakkan sistem perguruan secara benar sesuai prinsip Catur Varna dan Catur Ashrama, saya yakin para sisya-nya akan terpuaskan secara material dan spiritual sehingga mereka akan solid dan tidak perlu melirik keyakinan atau perguruan yang lain.

    Sehingga sekali lagi saya katakan, semoga tulisan ini bisa dipandang dengan sebaik-baiknya dan dipetik sisi positifnya. Jika ada yang masih ambigu atau sulit dipahami secara mentah-mentah, mohon didiskusikan lagi dan luruskan. Sehingga niat dan kecintaan penulis, yaitu Bapak Jero Mangku Wayan Suwena bisa tertangkap oleh segenap Krama Bali dimanapun berada.

    Salam,-

Leave a Comment

Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: