Beberapa tokoh teologi mengemukakan bahwa gerakan bhakti yang memusatkan pemujaan kepada Sri Krishna baru dimulai sekitar tahun 1000 – 1800 Masehi yang dipicu oleh masuknya penjajah Islam dan Kristen ke India. Mereka beranggapan bahwa gerakan ini muncul akibat proses adaptasi dalam usaha merebut simpati masyarakat yang mulai condong memilih agama-agama non Vedik. Celakanya, ternyata sebagian orang juga ada yang berpandangan bahwa gerakan bhakti dan pemujaan kepada Sri Krishna adalah barang baru yang muncul pada era 70-an yang dipelopori oleh Srila Prabhupada dengan organisasi ISKCON-nya. Apa benar konsep bhakti kepada Sri adalah barang baru?

Jika memang benar asumsi gerakan bhakti baru muncul akibat tekanan dari agama-agama non Vedik, khususnya Islam dan Kristen di India, maka seharusnya sejarah harus membuktikan bahwa tidak ada konsep bhakti yang serupa yang berkembang di luar India sebelum atau dalam kurun waktu yang sama dengan masa masuknya Islam dan Kristen di India. Tetapi kenyataannya konsep bhakti dan khususnya pemujaan kepada Krishna ternyata sudah berkembang pesat di Indonesia setidaknya tepat pada saat Islam dan Kristen mulai masuk ke India. Kenyataan ini dapat kita lihat dari berbagai macam karya sastra dan artefak peninggalan bangsa Indonesia.

Pada kekawin Ramayana sarga XXVI, irama jagaddhita disebutkan; “saksat manmatha sila sang raghusutamenuhi wisaya dharma ring sarat ngka Ramayana bhadrawadanira mengha mawangi rumeseo teke hati Sang Yogiswara sista sang sujana suddha manahira huwus mace sira byaktawasucapanta ring julungadhomuka pinaka nimittaning lepas”. Berdasarkan kutipan ini kita dapat mengetahui bahwa dikatakan penulis kekawin Ramayana versi bahasa jawa kuno adalah Empu Yogiswara yang memiliki kepribadian sempurna. Tahun penulisannya ditunjukkan dengan Candra Sangkala: sista (6) Sujana (1) Suddha (0) Manah (1), sehingga menjadi 1016 Saka atau tahun 1094 Masehi. Dalam kekawin Ramayana ini dengan sangat jelas menunjukkan Mpu Yogiswara melakukan pemujaan bhakti kepada Sri Rama sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini salah satunya ditunjukkan dengan salah satu sloka kekawinnya yang menyebutkan: “dharma lawan arthottama kama nyang tiga yekawas ya temunta sestining ambek byakta katemwa Sang Raghuputrawas sira karsa, Dharma (kebaikan), artha (kekayaan) dan kama (kepuasan indriya), ketiga ini pasti anda dapatkan, segala keinginan akan menjadi kenyataan jikalau anda menyembah Sri Rama (Raghuputra)”. Dalam sargah-sargah yang lain juga terdapat setidaknya 25 sloka pujian para Rsi kepada Sri Rama yang mengagungkan Beliau sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Sloka-sloka tersebut tercantum dalam Sargah XXI, sloka 125-148 Kekawin Ramayana.

Kekawin Mahabharata merupakan kekawin yang tidak kalah populernya dengan kekawin Ramayana. Hanya saja sayangnya penulis kekawin Mahabharata dalam bahasa Jawa kuno tidak begitu jelas tercantum dalam kekawin itu sendiri. Yang disebutkan hanya waktu penulisan yang bertepatan dengan masa kekuasaan Raja Dharmawangsa Teguh Ananta Wikramottunggadewa pada tahun 991 – 1007 Masehi. Dikatakan bahwa beliaulah yang memerintahkan para Rakawi menyalin kitab Mahabharata aslinya ke dalam bahasa Jawa kuno. Disamping itu, pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh juga disusun kekawin Uttara Kanda, Arjuna Wijaya, Astikasraya, Parthayana/Subhadra Wiwaha, Bharata Yuddha, Rama Kanda, Hari Sraya, Hari Wijaya dan Krsnandhaka. “……sira ta Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama ngraranira umilwa manggalaning mangjawakna Byasamata…….mwang parampara karengo tekeng anagatakala”. Sungguh suci perintah Dharmawangsa – “mangjawakna Bhyasamata” – “tulisan-tulisan, wejangan, buah pikiran Bhagavan Vyasa diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa kuno. “parampara karengo tekeng anagatakala” – disebarluaskan secara turun-temurun dari yang berhak kepada yang lain (parampara). Ternyata pada saat itu sistem Parampara (garis perguruan) sebagaimana yang ditegaskan untuk bisa menguasai Veda dengan benar masih terpelihara dengan baik. Pada salah satu penggalan kekawin yang mengisahkan perang Bharata, disebutkan; “Sajna haji, kadi ling patik haji nguni, tar keneng upalaksana kamahatnya I Sang Pandawa, apan hana Maharaja Krsna ri sira, maharaja Krsna ngarania, saksat Wisnumurti, wenang salaka jagat Wyapaka, sidha gawe wigraha. Icca nira ngkana ktang Tri Lokya Mandala, mwang manahakna. Sira humyang ing Bhur Bhwah Svah. Sira summing ing catur Yuga. Paramarthanya, sira wasitwa pramana ring sarwwajanma, ndya ta margga Sang Pandava tan lewiha?”. Disini dikatakan bahwa kebesaran dan kehebatan Pandawa tidak dapat diperkirakan. Ini disebabkan karena Sri Krishna ada di pihak mereka. Krishna sejatinya adalah Visnu Murti. Beliau meresap dan menguasai seluruh alam semesta dan mampu mencerai-beraikan ala mini. Tenaga Maya Beliau-lah yang mengerjakan semua ini. Atas kehendak Beliau Tri Lokya Mandala terwujud dan inilah pendapat Udyoga Parva. Krishna adalah Hyang atas Bhur Bhuvah Svah dan Beliau adalah penguasa roh setiap mahluk. Dalam 48 B diuraikan ratap tangis Drupadi sehingga keluarlah kata-kata: “Trahanam Pundarikaksah, tatan hana saranasrayaning hulun waneh, tabeda sangke Parameswara”. Parama berarti tertinggi, Iswara berarti pengendali sehingga arti penggalan ini adalah Krishna merupakan pengendali tertinggi.   Trahanam Pundarikaksah artinya O Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna yang mata-Nya bagaikan bunga padma, mohon melindungi hambamu yang rendah ini. Dalam lampiran 53 A dikatakan bahwa dewi Kunti juga menyebutkan hal yang sama. Beliau mengagungkan Sri Krishna sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Dan masih banyak lagi penggalan-penggalan kekawin Mahabharata yang mengarahkan pembacanya untuk senantiasa ingat dan menumbuhkan cinta bhakti yang murni kepada Sri Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.

Mpu Panuluh adalah salah satu penulis berbagai macam kesusastraan Jawa Kuno pada masa Raja Jayabaya. Salah satu karya beliau yang terkenal adalah kekawin Hariwangsa. Dalam kekawin tersebut beliau mengatakan bahwa tujuan beliau menulis kekawin tersebut adalah untuk mempersembahkan sujud bhakti di bawah kaki padma Sri Krishna (puspanjalya ri jong Janardana juga). “tan sangke wihikan mara nghulun apan manggeh kaciryan tiwas puspanjalya ri jong janardana juga nghing don iki tan waneh hetunnya Hariwangsaparwa wangunen tuten lalangwakena cihna ning winuruk wuruk tekap ira sri lung lango ring lango, Bukanlah disebabkan hamba merasa mampu melakukan tugas ini, sesungguhnya hamba bodoh sekali. Tujuan hamba tiada lain adalah untuk berbhakti mempersembahkan bunga hanya di bawah kaki Janardana. Oleh karena itu hamba mengarang cerita Hari Wangsa yang sangat menarik. Sesungguhnya ada yang hamba anggap guru, beliau sudah ahli dalam hal mengarang”.

Dalam kekawin Bomantaka diawali dengan pujaan atas Sang Hyang manobhu, Dewa Kama agar beliau berkenan menjiwai karangan tersebut. Dilanjutkan pujian kepada Sri Visnu dan Sang Hyang Basuki yang dikatakan perwujudan dari Tuhan Yang Maha Esa sendiri, Sri Krishna dan Baladewa. Dalam kekawin ini inti yang ingin disampaikan adalah perihal Sri Krishna membinasahkan raksasa Bhoma, perusuh Tri Bhuwana dan perusak Dharma. Sehingga setelah terbunuhnya raksasa Bhoma, para dewa secara bergiliran datang memberikan sujud sembah kepada Sri Krishna dengan berbagai macam doa-doa pujiannya. Pada penggalan cerita pembangunan istana Dvaravati dalam kekawin ini disebutkan juga mantra pujian penyembahan kepada Sri Bhagavan (Krishna) yang dikatakan sebagai Bhagavan Vesnava, raja para yogi dan hanya karena karunia diri-Nya para yogi bisa mencapai kesempurnaan. Krishna-lah yang senantiasa distanakan dalam hati setiap orang. “Om Om Sadnya Sang Nrpati kunang ike Sang hulu siddha yogi, mangken sampun katon byakta ring dadi Bhagawan Wesnawa Sri Narendra, Sangkweh Sang Siddha Yogiswara kita sarananyeki sthananaken mungwing swacitta”.

Setelah Sri Krishna membunuh raksasa Bhoma, semua dewa bergiliran datang menyembah dan mengagungkan Sri Krisna sebagai sumber segala ciptaan, pemelihara dan pelebur alam material

Disamping berbagai macam kekawin yang tersebar luas di Indonesia, secara mengejutkan kekawin Niti Sastra yang diperkirakan ditulis oleh Dang Hyang Dwijendra / Nirartha yang selama ini lebih dikenal sebagai seorang pendeta Siva ternyata dalam kekawin tersebut mengagung-agungkan pemujaan kepada Sri Hari sebagai yang tertinggi dan pengendali semua dewa. Niti Sastra yang asli ditulis sekitar 2300 tahun  yang lalu oleh seorang politisi hebat bernama Kautilya/Chanakya Pandit/Visnu Gupta. Beliau sangat terkenal karena keahliannya dalam ilmu politik melalui tulisan berbahasa sansekertanya serta nasehat praktis yang diberikan kepada Raja Candra Gupta Maurya dalam mengendalikan pemerintahan. Meski tidak dikutip secara total, kitab Jawa kuno yang mengutip beberapa sloka-sloka aslinya dalam bahasa Sansekerta sangat menarik untuk dibaca. Kebanyakan orang beranggapan bahwa Niti Sastra adalah sebuah kitab ilmu kepemimpinan, namun sejatinya kitab ini lebih mengarah kepada kepemimpinan pada diri sendiri agar memiliki budi pekerti luhur dan bijaksana dalam mencari kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Pada pengantar kekawin Niti Sastra dituliskan; “Sembahninghulun ing Bhatara Hari sarwajhatmabhuh nityasa sang tanseng hrdayanta tikta tulisangke supratisthe namer, ring wahyastuti sembahninghulun I jong Sang Hyang Sahasrangsuman, dadya prakreta Niti Sastra hiniket lambing winakteng praja, Sembah hamba di bawah kaki padma Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari, jiwa seluruh alam semesta beserta semua mahluknya. Anda yang begitu merasuki batin hamba sekarang akan hamba ikat, hamba stananakan dan hamba pelihara. Secara pujaan nyata hamba sujud kepada Sang Hyang Sahasrangsuman. Hamba menyusun karangan Niti Sastra dalam wujud kekawin untuk menyebarkannya kepada masyarakat”.

Dari secuil kutipan karya sastra leluhur kita tersebut, sudah memperlihatkan cukup bukti bahwa penyembahan dengan jalan cinta bhakti kepada Sri Krishna, Sri Rama, Sri Hari, Narayana dan ribuan nama-nama Beliau yang lainnya sudah ada dan berkembang di luar India bahkan sebelum masuknya penjajah Islam dan Kristen ke India yang dikatakan menjadi roda penggerak evolusi Hindu. Apa lagi dengan tuduhan penuhanan Sri Krishna yang dikatakan baru terjadi sejak pergerakan ISKCON oleh Srila Prabhupada pada tahun 70-an. Hal itu sama sekali tidak benar. Leluhur bangsa Indonesia sejak awal mereka mengenal Hindu sudah terbisa dengan melakukan penyembahan kepada Sri Krishna dan Sri Rama sebagaimana yang dilakukan oleh gerakan Hare Krishna dewasa ini di seluruh dunia.

Om tat sat

%d bloggers like this: